
"Assalamualaikum dan selamat malam bagi penghuni rumah Vein" Teriak Feron memasuki rumah mewah itu.
Sedangkan di ruang keluarga, sang nenek malah asyik menonton sinetron terkenal, Titanus tenggelam di negri Prindafan bersama 'Amo' panda imut kesayangannya yang baru saja dikirim sang paman dari negri tirai bambu.
"Film apaan tuh?" Gumam Feron mendekati sofa terdekat untuk ikut menonton sang aktor terkenal Reonaldo dafinchi sedang menenggelamkan Juliet ke bak got tetangga.
"Asyik! Mantap adegan trillernya, ini pasti kepalanya bakal di senso ni. Aku yakiiiinnnn karna darahku bergemetar hebat" Semangat sang nenek memeluk Amo erat, membuat bambu yang sudah di telan Amo kembali keluar.
Iuuueee!
"Nek, panda over big size nenek kegencet tu. Kasihanilah makhluk hidup yang tetap ingin mati itu" Imbuh Feron menatap jijik muntahan Amo.
"Apa? Oh astaga! AMOOOOO, tenang sayang tenang. Mami akan segera memberikan kamu pertolongan terakhir" Racau sang nenek panik, berjalan pergi meninggalkan sofa seraya membawa Amo yang sudah tepar di pangkuan sang nenek.
"Nenek kamu kenapa Ron?" Tanya Bunda Neti duduk disamping Feron yang hanya tersenyum simpul.
"Biasalah, peliharaannya pengen dijemput malaikat Izrail" Ucap Feron mengambil sepotong kue dari piring yang baru saja dibawa Bunda Neti.
"Hah?" Gumam Bunda Neti tak paham.
.
.
.
Keesokan harinya, kantin Bude Senem.
"Lu tau gak Lul, salah satu keunikan sekolah kita?" Tanya Feron seraya memandang langit biru nan terang.
"Yang gua tau cuma filosofi baju biru yang di bilang pak Bino setiap penerimaan peserta didik baru, selebihnya memori otak gua penuh" Balas Lulba ikut memandang langit nan biru.
"Sepertinya lo harus beralih ke SSD deh Lul, soalnya lu keseringan update windows pc-nya si Theo trus dan gak pernah perhatian ama kapasitas memori otak lo sendiri" Kalimat Feron sontak membuat atensi malas Lulba teralihkan pada pemuda yang duduk tepat di sampingnya, bahkan goreng pisang yang di genggam Lulba seketika loyo mendengar penuturan pemuda 17 tahun itu.
"Helllo~ maksud lo gua be*go gitu?" Tanya Lulba meng-alay.
"That righ baby, masak sesuatu yang paling ganjil dan paling umum ginian doang lu gak tau. Memang kapasitas ram 2.0 sih lu!" Cerca Feron langsung menoyor kepala klimis Lulba.
"Lagian kenapa ni rambut yang biasanya acak-acakan pake di sisir seklimis dan sekinclong ini ha! Mau jadi apa dunia perberandalan kita kalau ada salah satu anggotanya rapih begini?" Tanya Feron
"Ya baguslah, ada perbedaan penampilan di antara kita. Lumayankan, gua bisa jadi ikon baru" Balas Lulba merapikan rambutnya yang baru saja di acak Feron.
"Mengesampingkan masalah rambut gua, lu tadi mau nyebutin apa masalah keunikan sekolah?" Tanya Lulba.
"Hooo, itu. Karna kelamaan cerita ama lu gua jadi lupa hehehehhehe. Kita belokin aja dah ceritanya jadi kapan-kapan" Jawab Feron tertawa renyah. Muka yang ia tampilkanpun hanya berisi guratan tawa seadanya.
"Lu kenapa?" Tanya Lulba menatap Feron yang tersenyum simpul.
"Gak ada" Balas Feron merapikan bekas plastik makanannya.
"Udah ya Lul, gua mau cabut dulu. Pelajaran berikutnya si Ryou, gua gak bisa telat kalau ama dia" Ucap Feron berlalu pergi.
"Hmmm aneh" Gumam Lulba kembali menyeruput teh pocinya.
"Bude, apakah ada gosip terkini...."
.
.
.
Pekanbaru,
"Selamat siang Tuan Adidjaya," Sapa Guntur menyalami tangan Vein.
"Siang Guntur" Balas Vein dingin.
"Hahahaha, silahkan duduk" Ucap Guntur setelahnya.
"Jadi, mengenai tanah itu. Aku ingin kau segera membuat surat hak kepemilikan, aku ingin segera menjalankan proyek 'kita' ini sesegera mungkin" Ujar Vein tanpa basa-basi.
"Maksudmu tanah yang di puncak itu?" Tanya Guntur mencoba tak paham.
"Aku yakin otakmu masih cemerlang mengenai uang" Balas Vein mengambil teh yang baru saja dihidangkan pelayan di rumah Guntur.
"Hahahahaha, anda bisa saja tuan Adidjaya. Tentu saja mengenai hal yang satu itu saya masih pintar" Jawab Guntur tersenyum lebar.
"Bagus, dan juga Ak-"
"Ayah! Ayah! Ayah!"
Brakk!
Pintu di banting dengan tidak sopannya, bahkan raut wajah Vein yang semula sudah kusut menjadi semakin datar dan mulai menunjukkan gurat kekesalan.
Diambang pintu berdiri seorang pemuda, berkisar 17 tahun. Seumuran dengan Feron, anak Vein. Ia tengah menyilangkan tangan di dada seraya memberikan wajah gaharnya menatap tepat ke arah Guntur yang seketika langsung berwajah panik.
"AYAH!" Bentak anak itu berjalan menuju Guntur.
"Ada apa Daffa?" Tanya Guntur di selingi nada panik, melirik kecil ke arah Vein yang langsung meletakkan cangkir teh kembali ketempatnya dengan gerakan marah.
"Minta uang!" Ucap Daffa ketus, menujulurkan tangan kirinya.
"Ayah tidak punya Daff-"
"AYAH BOHONG!" Potong sang putra.
"Apa maks-"
"Oh! Apa jadinya jika rekaman dan foto ini Daffa berikan ke bunda? Hmmm" Ucap Daffa meng scrool layar smartphonenya, memperlihatkan sedikit kepada Guntur tentang bukti-bukti yang ada.
"Kamu mau berapa?" Ucap Guntur final.
Daffa langsung mematikan layar smartphonenya dan mengembalikannya ke kantung celana.
"Hmmm, 20 juta sepertinya cukup.." Ucap Daffa menimang.
"Haaaaaaaa APA! Untuk apa uang sebanyak itu Daffa!" Bentak sang ayah cepat, membuat Daffa serta Vein sedikit terlonjat kaget.
"Tentu saja untuk mentraktir teman-teman dong yah! Selain itu juga buat belanjaan Yuna" Balas Daffa marah.
"Apa! Mentraktir sampai segitunya?" Tanya Guntur kembali.
"Tentu saja, memangnya ayah pikir hanya ayah saja yang bisa bermain ke 'OTO', Daffa juga bisa. Ya udah, kita sudahi saja perdebatan yang tidak berarti ini, 20 juta atau ketahuan bunda? Pilih salah satu!" Ancam Daffa.
Wajah Guntur seketika kalut, anaknya satu ini benar-benar membuatnya frustasi.
"Maaf mengintruksi" Pandangan kedua ayah anak itu seketika terpusat pada Vein.
"Kau minta 20 juta?" Tanya Vein menunjuk Daffa yang seketika mengangguk.
"Akan kuberikan" Ucap Vein, mengeluarkan selembar cek, dan menuliskan nominal yang diminta oleh Daffa.
Daffa seketika tersenyum kemenangan menatap angka yang ditulis Vein.
"Ini kuberikan, eits!"
Hampir saja, Daffa meraih cek wangi itu, namun Vein langsung menjauhkannya.
"Asalkan ayah mu mau menanda tangani surat ini" Ucap Vein mengeluarkan kertas lainnya.
Ia memandang Guntur dalam senyum jahatnya, memberikan pulpen mahal sebagai penggores nyata dari persetujuan pria paruh baya itu yang seketika bermuka kalut saat melihat Daffa dengan entengnya malah berterima kasih dan ikut andil menandatangani surat tersebut, di samping namanya.
"DAFFA APA YANG KAMU LAKUKAN!?" Teriak sang ayah.
"Tentu saja menandatangi surat ini sebagai pengganti ayah yang begitu lambat. Paman ini berjanji akan memberikan Daffa uang tambahan jika Daffa ikut menandatangi perjanjian" Ucap Daffa ringan.
"DAFFA! KAMU TERMAKAN RAYUAN IBLIS, DASAR ANAK DURHAKA! APA-APAAN INI SEMUA (menunjuk kertas dengan torehan tanda tangan Daffa) KAMU SELALU BEGITU, AYAH BENAR-BENAR MURKA DASAR ANAK GAMP*ANGAN! " Bentak Guntur langsung menampar wajah sang anak.
"Ck! Bagi Daffa yang terbaik itu hanya uang, itu saja" Lirih Daffa, berjalan pergi tanpa ada niatan membalas.
Mendengar lirihan Daffa seketika membuat Vein semakin meninggikan senyumnya.
Setelah kepergian Daffa, Guntur langsung menatap ke arah Vein yang tersenyum kemenangan. Bahkan ia sempat-sempatnya mengirim chat pada seseorang di saat Guntur sedang fokus pada Daffa.
"Jadi Guntur.." Ucapan Vein sengaja ia jeda.
"Sekarang hanya tinggal tanda tanganmu yang belum tertoreh di kertas ini" Lanjut Vein menujulurkan pulpen ke hadapan Guntur yang sudah pucat.
"Aku selalu suka dengan orang-orang yang menggilai uang, dengan begitu... Aku dapat memanipulasi kalian dengan mudah" Bisik Vein memaksa tangan Guntur untuk menanda tangani surat itu, namun yang terjadi malah torehan cap jari Guntur di atas kertas berisikan matrei 10 ribu.
Pulpen seharga 2 juta Vein telah terbelah dua dan memuncratkan banyak tinta hitam kelantai dan juga di kertas penting.
Vein melirik surat yang kini ia genggam "Aku rasa cap tangan pun sudah cukup mewakilkan, terima kasih Guntur" Ujar Vein menatap kertas itu dalam senyuman lebar.
Guntur tidak ingin menandatangi, maka Vein punya solusi lain.
Cap tangan Guntur, lebih menarik untuk di torehkan.
"Hahahahahahha" Tawa Vein menggema di sepanjang lorong rumah Guntur.
"Astaga, apa yang sudah aku lakukan" Gumam Guntur limbung.
.
.
.
"Ada apa Ron?" Tanya Alfi yang tengah membantu Regas mempreteli jari-jari motor pak Ibram hingga menjadi angka 8.
"N-ngak ngak ada apa-apa kok" Balas Feron gagap.
Kenapa ya? Gua jadi keingat ayah?
Inner Feron memandang langit yang sudah berubah menjadi Orange. Gurat wajah itu semakin kesal tatkala melihat pak Ibram mendekat.
"Kabur-kabur gaes!" Bisik Feron ketakutan, menendang pantat Regas dan tulang kering Alfi hingga mereka berdua lari terbirit-biti seraya menahan sakit.
"ASW memang!" Gumam kedua pemuda korban Feron kompak.
Sementara Stevan yang memperhatikan dari jauh.
"Hmmm, kasihan banget (memandang bangunan SMK1) tempat berandalan itu menorehkan kenangan akan segera hilang"
...Tbc...
Nasib pak Ibram.
"Waduh! Siapa yang buat motor saya begini?" Teriak Pak Ibram syok dan hampir saja pingsan kalau saja tak di tangkap pak Puad dengan gaya.