All For Dreams

All For Dreams
Tolong gua Anwar



"Ketemu, tapi..." Gumam Theo langsung berwajah panik.


.......


.......


.......


.......


...All For Dreams...


...Tolong gua Anwar...


.......


.......


.......


.......


Anwar hanya dapat melipat tangan di dada dan bersandar di dinding ruangan memperhatikan Theo yang mulai menjelaskan seluk beluk rumah Daffa.


"Pemilik rumah sebelumnya bernama Gusnandi, namun setelah kecelakaan kerja yang menimpanya ia dinyatakan meninggal di tempat. Setelah kejadian memilukan itu, sang ibu yang syok ikut memeriahkan kematian sang kepala keluarg-"


Plok!!!


"Yang serius ngomongnya" Desis Feron meniup kepalan tangannya yang baru saja menggeplak kepala Theo.


"Hehehehehe sorry dong, daripada tegangkan mending di plesetin diii-i-iya Ron iya, turunin dulu dong kaki lo dari meja kerja gua." Cicit Theo menyempil kaki Feron yang sudah sampai di atas meja.


Feron menurut walau ada sedikit geraman dari mulutnya.


"Ekhem! Ok, sampai mana ya tadi?" Theo langsung menggaruk tengkuknya.


"Emak mau login ke akhirat" Sahut Alfi.


"Nah itu dia (menunujuk Alfi membenarkan) ibu atau nyonya dari pemilik Rumah pun jatuh sakit dan tak lama ikut menyusul sang suami, meninggalkan anak gadis mereka yang masih berusia 12 tahun kala itu. Dan namanya adalah......."


.


.


.


"Yuna Ariany" Gumam Feron membaca tulisan di atas lubang surat.


"Ada yang aneh dengan kondisi rumah ini" Ucap Anwar yang sudah berdiri di samping Feron yang meliriknya dalam sorot menyetujui ucapan sang pacar sahabat.


"Gua dan Ragas bakal memeriksa lingkungan di sekitar rumah terlebih dahulu" Ucap Stevan dan Ragas yang mengangguk tanda setuju dengan ucapan Stevan.


Setelah mereka berdua pergi, Alfi pun langsung memberikan usulan untuk berpencar mengitari rumah.


"Tapi harus ijin dulu dong." Tutur Alfi menunjuk satpam yang sudah memperhatikan mereka sedari tadi seraya memasang tampang curiga, sukses membuat air muka Alfi jadi datar karnanya.


"Permisi mas, punten. Saya teh mau tanya, pemilik rumah ini teh saha?" Tanya Alfi berbasa-basi menunjuk rumah Daffa.


"Oh itu, itu mah rumahnya si Yuna anaknya pak Gusnandi. Tapi pak Gusnandinya udah lama meninggal bang" Satpam kompleks langsung memasang muka mengintrogasi dan meletakkan ibu jarinya di dagu "Kalau boleh saya tau abang-abang sekalian mau apa ya?" Tanya satpam sopan.


"Kami cuma mau berkunjung bang, temen sekolah gitu loh maksudnya" Jawab Feron tersenyum lima jari.


"Loh? Kok datengnya udah larut (memperhatikan jam tangan) ini udah jam 23.45 WIB. Waktu berkunjung ke sini sudah lewat dari 1 jam 45 menit yang lalu." Ucap satpam itu.


"Tapi ini penting pak, kami satu kelompok dalam satu pratikum. Dan kami lupa untuk mengambil bahan presentasi ke Yuna, jadi tadi di telfon si Yuna bilang kami tinggal datang aja ke rumahnya buat ambil bahan-bahannya bang, begitu." Balas Anwar mengambil tempat.


Sang satpam memperhatikan sejenak sebelum mengangguk paham "Oooo begitu, ya sudah tinggal pencet aja belnya. Trus abang-abang sekalian jangan lama-lama ya, nanti penduduk pada curiga ada tamu yang berkunjung larut." Petuah satpam berlalu pergi.


"Ok mas/abang" Balas mereka semua lalu tersenyum ke arah satpam yang masih memperhatikan mereka seraya berjalan.


Brakkk!!


"Hati-hati bang, tiang listrik" Imbuh Feron dengan tangan yang mendadah bahagia.


Sementara satpam yang sudah terjungkal di tanah hanya dapat merutuki dirinya yang begitu menyedihkan di malam ini.


"Apa salahku bisa bertemu mereka tuhan" Lirih satpam berdiri dari posisi terlentang namun belum sempat berdiri dengan sempurna.


"Aucchhhh..." Gumam satpam refleks memegang selangkangannya yang nyilu.


"Awas bang, ada motor saya" Seru Alfi meletakkan telapak tangannya di kiri dan kanan mulut supaya dapat lebih keras tersampaikan pada sang satpam.


"Bang*sat!" Maki satpam kompleks membatin sakit.


.


.


.


"Ki*ak!!" Desis Nanda mencoba melepaskan tangannya dari rantai besi yang membelenggu tangan dan kakinya.


"Daff, maaf in ak-"


Plak!!


Brukk..


"Sudah berapa kali gua sebut sama lo," Desis Daffa geram "Jangan bicara sama dia YUNAA!!!!!" Teriak Daffa langsung menendang perut Yuna kencang.


"Aaaaahhhh...." Pekik Yuna.


...****************...


"Suara apa tu?" Tanya Alfi.


"Arah sana" Anwar dan Feron langsung berlari ke sumber suara, tidak memperdulikan pertanyaan Alfi yang bagi mereka seperti ucapan konyol di saat genting.


.


.


.


"Akkkkhhhhhhh......" Pekik Yuna menyentuh perutnya.


"Hmmm!" Daffa mendengus pergi begitu saja tanpa memperdulikan erangan kesakitan Yuna.


"Biadab! Tega banget l-"


Crangg......


Daffa langsung mengapit mulut Nanda kuat "Jangan banyak bicara, sekarang gua cuma pengen jahit mulut lu dulu sebelum beralih ke kaki dan tangan lu" Desis Daffa menunjukkan jarum operasi ke hadapan Nanda yang langsung membulatkan mata.


"IBLIS!" Teriak Nanda tanpa sadar.


"Heh! Hehehehahahahahahahahahaha terima kasih atas pujiannya" Ucap Daffa membalik kiri kanan wajah Nanda yang sudah tegang.


"Gua suka ekspresi ketakutan lo Nanda (mendekat ke telinga) Itu buat gua Hor*y." Bisik Daffa mengecup pipi Nanda.


"Sekarang gua bakal jahit mulut ini" Tanpa basa-basi Daffa langsung menusukkan jarum berbentuk mata kail ke mulut Nanda.


Rasa sakit yang luar biasa sontak membuat Nanda hampir terpekik, namun dengan gesit Daffa langsung menjepit mulut itu kencang, enggan memberikan waktu bagi Nanda untuk berteriak.


"Sssttt.... Nanti tetangga dengar" Lirih Daffa tersenyum.


Tap! Tap! (menampar pelan pipi Nanda)


Nanda tercekat, untuk pertama kalinya Nanda melihat seorang psikopat secara langsung.


Sementara itu, Yuna yang masih merasakan nyeri di perutnya hanya dapat menahan dalam. Untuk saat ini ia akan mencoba untuk memanggil bantuan sebelum Daffa selesai menjahit mulut Nanda.


Ayolaaahhh...


Inner Yuna mengambil smartphone dari saku dan mencoba untuk mendial nomor pak Rt agar dapat membantu mereka.


"Ck! Kenapa di saat seperti ini Pak RT tidak aktif" Gumam Yuna sedih.


.


.


.


"Pintu ini aneh" Ucap Alfi hendak meraih ganggang pintu sebelum satu tangan menghalanginya.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Vion mengintimidasi.


"Darmawisata (berbalik) YA NYELAMATIN Nanda LAH GOB*LOK!! ( berbalik tepat ke arah Vion) Awas lo sebelum gua tendang bersama ni pintu" Jerit Feron langsung mengambil ancang-ancang mundur.


"Jang-"


Brakkk!!!!


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...TBC...