
Di dalam rumah sunyinya, kini Yuna hanya bisa menatap nanar dua garis merah itu.
Ini gak mungkin, ini pasti gak mungkinkan? Pasti gua mimpi
Inner Yuna kalut.
"Pasti gua mimpi, baiknya gua tidur aja dulu dan besok baru gua bangun lagi. Gua yakin ini pasti mimpi karna gua yang kecapean" Gumam Yuna langsung berjalan ke tempat tidur dan menutupi diri dengan selimut.
Sementara tamu Daffa baru saja memasuki rumah gelap itu dalam pandangan bertanya pada satu kotak alat test pack.
"Siapa yang memakai alat ini?" Ucapnya membolak balikkan alat itu.
.......
.......
.......
.......
...All For Dreams...
...Cinta kita...
.......
.......
.......
"Feron" Panggil Vein berdiri tepat di depan Feron yang sedang tertidur.
Tidak mendapatkan jawaban akhirnya Vein memilih untuk mengguncang pelan tubuh sang anak.
"Feron bangun, hari ini bukannya kamu sudah masuk sekolah?" Tanya Vein mencoba untuk membangunkan Feron yang semakin menutup diri dengan selimut.
"Ck! Kamu ini kenapa sih? Sudah dua hari ayah perhatikan selalu seperti ini, seperti tidak ada gairah hidupnya" Komentar Vein yang tak habis fikir dengan kelakuan Feron yang baginya ganjil.
"Ngh... Nanti, bentar lagi" Lirih Feron menjawab dari dalam selimut.
"Apa kau yakin?" Tanya Vein.
"Aku yakin pada diriku sendiri" Jawab Feron ketus.
"Baiklah, kalau begitu ayah akan langsung berangkat saja ke kantor. Hati-hati di jalan, uang jajan sudah ayah persiapkan di nakasmu" Balas Vein berlalu pergi meninggalkan kamar Feron.
Setelah Vein pergi, Feron langsung menyembulkan kepalanya. Memperhatikan sekitar yang sudah sunyi serta tak ada suara tambahan di lantai satu, akhirnya Feron pun beranjak dari kasurnya.
Namun belum sempat untuk berjalan lebih jauh, smartphone Feron lebih dulu berbunyi, menampilkan nama Alfi yang langsung membuat Feron tertarik untuk menjawabnya.
"Hallo"
^^^[Fer, cepat kesekolah. Lu pasti gak bakal nyangka dengan berita yang bakal gua sampaiin ini]^^^
Feron langsung menatap layar smartphonenya lagi.
"The-"
^^^[Lulba! Ini Lulba, cepetan ke sekolah lu! Gak usah mandi, gosok gigi sama basuh muka aja udah cukup, ini genting banget Ron]^^^
.
.
.
Tap!! Tap!! Tap!!
Trankkk!!!!!!
"Sarapan" Bentak Yuna hingga membuat Nanda sedikit terkejut.
Nanda menatap Yuna perlahan, wanita itu sudah mengenakan pakaian sekolah lengkap.
"Habisin makanan lo, jangan kayak kemaren. Lo pikir beras turun dari langit apa!? Pake di buang kayak gak berharga" Ucap Yuna marah. Ia juga langsung menendang besi yang memisahkan mereka cukup keras hingga membuat Nanda sedikit terganggu.
Namun sekali lagi, Nanda hanya menundukkan kepala hingga membuat Yuna menjadi tertarik untuk menatap wajah itu secara langsung sebelum ia berangkat sekolah.
"Hei!" Panggil Yuna berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan Nanda yang masih diam membisu.
"Ck! Keras kepala" Yuna yang geram akhirnya memaksa wajah itu untuk menatapnya. Tangan lentiknya berhasil menjambak rambut Nanda yang sudah lepek.
"Pandang gua Nanda Tria-"
Krakk!!!
"A! aa! aaaa!" Teriak Yuna menjauhkan tangannya dari sel Nanda.
"Bang*sat! Berani - beraninya lo patahin lengan gua!" Geram Yuna menyentuh lengannya yang sudah lemas.
Nanda menunjuk Yuna dendam.
"Asal lo tau ini semua FITNAH!!!!" Teriak Nanda menggetarkan sel tahanan "Racun apa yang lo kasih ke Daffa itu ha!? Kenapa dia sampai sebegitu tololnya dengerin ocehan sampah lo yang gak ada faedahnya itu!?"
Yuna yang mendengar ucapan Nanda sontak tersenyum miring "Hmph! (bersedekap dada) gak ada yang spesial sih, cuma gua bilang aja kalau Nanda mencoba memfitnah gua ngerayu Anwar yang sebenarnya cuma anterin gua pulang karna kaki gua yang telkilir, namun karna baru di terima jadi pacar Anwar sontak membuat Nanda langsung E M O S I dan hampir menampar gua, namun Anwar yang cekatan langsung melindungi gua untuk menerima pukulan dari pacar 'kampungannya' " Desis Yuna menjawab semua rasa tanya di hati Nanda.
"Apa? Bangs*t Lu!!!"
Krankkk!!!!
Prankk!!!
"Hahahahahahahahahahah, apa? Gak bisa keluar? Gak bisa pukul gua? Hahahahahahha, syukurin dasar gadis hina" Maki Yuna pergi meninggalkan tempat itu.
"Oh iya" Yuna berbalik "Nih hp butut lo, sumpah jelek banget, gua masih heran kok masih ada orang yang pake smartphone sebutut ini di dunia +62" Ujar Yuna melempar smartphone Nanda hingga batreinya terlempar keluar.
"Ck! Anj*ink!" Gumam Nanda memukul lantai geram.
Setelah kepergian Yuna, Nanda lekas mengambil smartphone miliknya. Ia berharap smartphone itu dapat dinyalakan, sekedar untuk meminta pertolongan.
Namun nihil "Aaaaahhhh!!! Bangsul" Desis Nanda geram.
Ia hanya bisa meratapi smartphone mati dan penuh retak rambut itu di pangkuan bergetarnya.
Kenapa? Kenapa ini bisa terjadi ama gua? Padahal gua ngak ngelakuin sesuatu hal yang merugikan sebelumnya, namun kenapa ini semua malah menimpa gua?
Inner Nanda menangisi nasipnya yang begitu aneh.
.
.
.
"Lu liat ini" Ucap Theo menunjuk layar PC.
Sementara Alfi yang ikut menatap layar hanya bisa mengangkat alisnya penuh tanya "Gua cuma liat mobil CIV*IC, trus apa yang salah si The?" Tanya Alfi tak paham.
"Dasar be*go" Desis Stevan menimpali.
"Apa lo bilang ha!? Ulang lagi gua gantung lu di cucian pak Ibram" Ucap Alfi marah.
Sementara Stevan hanya melirik tak minat.
"Mobil ini.... Mobil ini seperti mobil si Daffa yang tempo hari, lo ingatkan Fi?" Tunjuk Feron pada layar PC sementara wajahnya menatap Alfi.
Alfi mencoba mengingat, takut-takut otaknya mampet seperti kemarin, namun sepertinya kali ini bisa sedikit termaafkan "Ah! Yang waktu itu bukan, yang pas kita intilin si Anwar ke PKU. Yups, gua ingat Fer tapi kenapa? Kenapa cowok mirip Karakter Ace itu ehm.... (menggoyangkan tangan seolah mencari sesuatu) ya ehmmmmm.... Ehmmm" Alfi mengarahkan pandangannya liar mencoba mencari jawaban yang pas.
"Menculik Nanda, apa penyebabnya?" Tiba-tiba Regas menyambung ucapan Alfi.
"Engh....?" Semua hening.
Tiiiiiitttt.... Tiiiittt..... Tiiiittt...
"Smartphone lu bunyi Ron" Ucap Lulba menatap saku celana Feron yang bergetar.
"Ehm ya, di saat genting kenapa selalu smartphone yang berbunyi sih, aneh lama-lama" Gumam Feron merogoh saku celananya.
"Ya! Hallo!" Bentak Feron sebelum pandangannya nanar.
"Ap-"
.......
.......
.......
.......
.......
...TBC...
.......
.......
.......
.......
...Chapter bonus keluarga Adidjaya......
...Fun World with Adiniata...
Hari ini Adi sengaja pulang cepat karna suatu alasan yang bisa dikatakan tidak penting juga.
"Bi Asih nanti bawakan air segalon ke rumah kaca ya" Perintah Adi berjalan pergi ke pintu belakang.
"Siap Aden Adi" Balas bi Asih semangat seraya hormat pada Adi yang langsung terkikik geli.
Sesampainya di rumah kaca.
"Hari ini aku akan menanam bibit terong yang pastinya berkualitas premium, kemaren sudah tanam cabai dan bawang merah, sekarang tinggal tanam bibit terong di tempat yang sudah aku sediakan sedari kemaren" Gumam Adi mulai menanam satu persatu bibit ke dalam wadah busa khusus miliknya.
"Baiklah, sekarang tinggal menunggu bi Asih membawakan air dan kita tinggal menyiram anak-anak malang ini" Ucap Adi semangat.
.
.
.
Beberapa hari kemudian....
Adi kembali datang ke taman mininya di dalam rumah kaca. Beberapa penyemaian bibit sudah berhasil ia kembangkan dan pagi ini saatnya kegiatan rutin Adi untuk menyiram dan menyanyikan lagu pertumbuhan.
"Ekhem!! Ekhem!! Baiklah A~ ekhem!! Ekhem! Aaa tes.. Boleh di coba tes satu dua tiga cek!! Wokee!!!" Teriak Adi seraya berpose layaknya penyanyi favoritnya, mas Arial.
"Hoooo~ tanamanku cepatlah besar, cepatlah besar~
Karna cabai dan bawang sudahlah mahal ooo~ sudahlah mahal~~
Bahan pokok di rumahku sudah menipis ooo~ sudah menipis~
Ku mohon ku mohon~ cepatlah besar ooo~ cepatlah besar~ jeng jeng jeng jeng!!!!! Eh-!" Adi langsung menghentikan nyanyian 'pertumbuhannya' saat melihat sebuah rumput tumbuh di antara media tanam terong premiumnya.
"Rumput macam apa yang mengisi media tanam terongku!!!? Sungguh tidak bisa di maafkan, aku harus segera mencabutnya sebelum terlambat,"
Tlik!
"Akhirnya tercabut juga hama ini, Hmph!" Adi langsung membuang tumbuhan itu tanpa mengecek apa yang sebenarnya ia buang.
Dua hari selepasnya.
"Bi Asih liatin apa?" Tanya Adi mendekati bi Asih yang tersenyum sumbringah.
"Waaahhh~ Aden berhasil menumbuhkan banyak bibit dalam waktu singkat ya, bibi bangga" Ucap bi Asih menepuk punggung Adi yang langsung tersenyum malu.
"Ah bibi bisa aj- Astaga!!!! Kenapa rumput ini selalu mengelilingi bibit terong ku ya ampun ak-" Saat Adi hendak mencabut 'rumput' itu, tiba-tiba bi Asih menyela.
"Aden, kenapa tunas terongnya di cabut?" Tukas bi Asih menjauhkan tangan Adi dari bibit terong yang sudah bertunas.
"Tunas?" Tanya Adi tak paham.
"Ia Aden, tunas, ini tuh tunas terong masak den Adi gak tau sih" Ucap bi Asih sedikit heran.
"APA? TUNAS? (Adi langsung Flashback) Berarti tunas yang ku sangka rumput kemaren itu berarti tunas terong dong!? Aaaaaaaaaaaaa~ gob*log bat gua aaaaaaaaa" Sesal Adi menjambak rambutnya sendiri sambil mulai meneteskan air mata.
Ia tidak habis fikir mengapa ia tidak bisa membedakan antara tunas terong dan rumput liar, padahal ia sudah semangat ingin menjadi petani cekatan seperti layaknya harvestm**n. Tapi mengapa membedakan keduanya saja sangat sulit bagi Adi?
"Sepertinya Aden harus lebih banyak melihat foto bibit-bibit sebelum mulai menggarap kebun kembali" Saran bi Asih di selingi senyum menahan tawa.
.
.
.
.