All For Dreams

All For Dreams
Gelud



Tes..


Nanda langsung menyeka darah yang mengalir dari keningnya, mencoba untuk menghindar dari serangan Yuna malah berimbas pada pelipisnya yang tergores oleh high-heels wanita itu.


"Hmmm.. Sepertinya gua harus memberi ruang buat acara gelud gratisan" Gumam Feron di antara kerumunan seraya memakan keripik singkong.


...110...


...Gelud...


.......


.......


.......


"Ck!" Gumam Nanda memandang Yuna.


Bugh!


Prank


Satu tendangan berhasil dilayangkan Nanda, dan tepat saat itu langsung dihindari Yuna, namun malah berimbas pada prasmanan yang langsung berserakan terkena tendangan nyasar.


"Aaaaaaaa!!!" Teriak gadis-gadis yang berdiri dekat dengan prasmanan.


"Ish... Lebay" Ucap Feron dan Daffa kompak dalam posisi berbeda menatap para gadis yang berteriak dalam kerutan kening yang dalam.


Yuna melirik dan langsung memberikan dengusan "Hmm.. Cuma segitu? Lemah" Ejek Yuna menjetikkan jarinya.


Dan dalam persekian detik ia menghilang dari hadapan Nanda.


A-apa?


Inner Nanda terkejut dan sontak langsung mendapatkan pukulan keras dibagian pangkal lehernya.


"UHUK!"


"Hahahahaha" Tawa Yuna memandang bangga Nanda yang langsung pusing.


Kemudian ia memilih untuk memutari Nanda yang bersimpuh menahan sesuatu yang hampir keluar dari mulutnya "Sakiit? Atau apa, hmmm? Tenang, itu belum seberapa" Ucap Yuna langsung menjambak rambut Nanda.


"Cuih!"


Nanda langsung meludahi muka Yuna.


"Lu pikir serangan begitu bisa melukai gua? KAGAK KEPA*RATT!!!" Teriak Nanda langsung menarik tangan Yuna yang menjambak rambutnya.


"Haaaaaaaaaa!!!!!"


Bughhh!!!


Sementara itu,


"Astaga, ada apa ini?" Tanya Neti yang baru saja berganti pakaian.


Ia menghampiri kerumunan orang-orang dalam ekspresi kesal.


"Permisi aku mau lewat," Ucap Neti meminta jalan kepada orang-orang yang langsung menunduk memberi ruang.


"Ini kenapa sih sebenarnya, perasaan aku ngak pesan acara wayang (terkejut) Eh? Apa kak Abdi yang pesen karna dia tau acaranya terlalu creapy? Ngak nyangka kakakku yang satu itu so sweat juga, jadi terharu deehh" Dumel Neti seraya melewati kerumunan.


"Oh, mungk-Astaga!!!" Teriak Neti menatap dua orang gadis yang sudah berlumuran makanan saling menyerang satu sama lain.


"Ck! Apa-apaan ini!! Berhenti kalian berd-" Sebelum Neti menyelesaikan kalimatnya, tendangan Nanda malah mengenai perut Neti hingga sang korban terpental dan menubruk para tamu yang lainnya.


"Oh astaga, salah sasaran" Ucap Nanda kaget.


"An*jay, flamshoot" Komentar Feron memandang sang tante, bukannya menolong, Feron hanya memandang seberapa lama sang tante akan pingsan.


"Hahahahahahha.... Tendangan macam apa itu? Sangat tidak bergay-" Ejek Yuna seraya menarik kuda-kuda sempurna namun terhalang oleh kecepatan tendangan Nanda.


BUGH!!!!


Tanpa memberi jeda, Nanda langsung memukul dada Yuna berkali-kali hingga wanita itu terpental jauh.


"UHUK!" Yuna langsung mengeluarkan seteguk darah dari mulutnya. Yuna kembali berdiri sempurna, menutup mata dan membuang nafas perlahan.


"Bedeba- hah!!!" Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Nanda sudah lebih dulu melancarkan serangan beruntun.


SWIIINNGGG!!!!


"Kau tau, jika kau gegabah maka kau tak akan pernah menang"


Seketika kalimat Daffa singgah di benak Yuna yang langsung membelalakkan matanya.


Daffa..


Bisik hati Yuna memandang Daffa yang juga memandangnya dengan senyuman mengejek, membuat Yuna seketika tersentak.


Aku.....


Yuna memperhatikan gerakan bibir Daffa seraya menghindari serangan Nanda.


...Aku mengajarimu bagaimana caranya tenang, jika kau tenang maka kau akan menang...


Kira-kira begitulah isi gerakan bibir Daffa pada Yuna yang seketika menatap Nanda berbeda.


Nanda berhenti,


Ada apa dengannya?


Tanya hati Nanda, namun dalam sekejap ia mengabaikan perasaan mengganjal di dalam hatinya. Memandang Yuna yang sudah oleng membuat semangat Nanda semakin terpacu untuk segera menumbangkan Yuna.


Namun,


Mata Yuna begitu tajam, seketika saat ia tenang gerakan Nanda langsung mudah dibaca.


Mematahkan serangan lengan Nanda dalam sekali serangan hingga membuat suara retakan pada lengan gadis itu.


"Aaaa~" Lirih Nanda langsung berlutut.


"NANDA!!!" Teriak Feron langsung menghampiri sang sahabat.


"Hmmm... Lemah" Bisik Yuna berlalu ke arah Daffa yang seketika tersenyum senang menatap Yuna.


*Daffa Pov*


Akhirnya gua tau


Inner gua menatap gadis itu yang menahan rasa sakit pada pergelangan lengannya yang patah.


Tapi itu belum cukup, gua masih punya kejutan lainnya.


Gua akhirnya melangkah pergi, namun sebelum itu satu suara berhasil menghentikan langkah tegas gua.


"TUNGGU BENTAR!! LU GAK ASING" Teriak pemuda itu menunjuk gua bengis.


Gua melirik dalam Smirk meremehkan.


"Ya? Siapa ya?" Tanya gua memancing.


"Luuu... Hmmmmm??? (menyentuh pangkal hidung berpikir) luuuuu....." Ujarnya menunujuk gua seraya berfikir keras.


Gua kembali berbalik dengan ekspresi yang sama, mengejek.


"Hmmm! Ya, Kita pernah jumpa. Lu yang kemaren di bioskop! Dan yang ngaku pacar cewek itu" Tunjuk pemuda itu pada gua dan Yuna yang menatap dalam.


"Hoo... Rupanya lo masih ingat ama gua" Ucap gua menyilangkan tangan didada.


"Tentu, lu DAFFA MUHAMMAD" Tegas pemuda itu menatap gua emosi.


"Oh! Dan lu kalau gak salah Feron kan? Hmmm.... Sorry, gua lupa nama lengkap lo karna menurut guaaa yaaahhh. Gak penting" Ujar gua pongah seraya mengangkat kedua bahu tak perduli.


"Ba*bi lu!" Sarkas Feron.


"Thanks you" Ucap gua berlalu tanpa memperdulikan sumpah serapah Feron.


*Daffa Pov End*


"Baji*ngan" Geram Feron menendang angin.


.


.


.


"A-auauau..." Lirih Nanda.


"Tahan sebentar ya, ini hampir selesai, " Kata Luna menutup bekas luka di pelipis Nanda.


"Ok sudah selesai" Lanjut Luna mengelus pipi Nanda seraya tersenyum dan pergi.


Setelah kepergian Luna Nanda terdiam membisu, tangan kanannya patah, penampilannya juga penuh luka.


Apa yang harus ia ucapkan pada sang Papa setelah ini?


Kriieettt


Pintu terbuka, menampilkan Feron dengan muka kesalnya.


Feron memandang Nanda kemudian mengambil duduk di depannya.


Mereka terdiam sejenak, tidak ada yang memulai pembicaraan. Baik itu Feron maupun Nanda.


"G-guaa..." Gumam Nanda, membuat Feron langsung memalingkan mukanya pada Nanda.


"Ya?"


Nanda yang canggung mencoba untuk menguatkan mentalnya, mengambil nafas Nanda langsung berbicara dalam satu tarikan nafas kencang "Gua minta maaf karna udah ngancurin pesta pertunangan Bunda Neti Ron, gua benar-benar menyesal dan mengaku salah karna dengan mudahnya terpancing emosi oleh gadis menjengkelkan itu, gua... Gua... Gua bener-bener marah kalau udah liat tu muka. Hah.. Hahh..."


Feron terperangah mendengar teriakan Nanda, untuk persekian detiknya ia hanya menatap gadis itu.


"A-Ahahahahahahahahahahaha,"


Nanda langsung bingung.


"Hahahahahahha... Gak apa-apa kali, biasa aja. Semua udah di atasi oleh ayah gua kok, jadi lo tenang aja, ok" Ucap Feron menenangkan perasaan Nanda.


"Keluarga gua itu kaya, untuk urusan sepele seperti tadi uang mereka banyak buat pesan perbaikan kok"


Feron menatap Nanda seraya memberikan senyuman teduhnya. Ia berusaha meyakinkan Nanda.


"Makasih" Ucap Nanda di akhir, membalas senyuman Feron dalam kebahagiaan.


Namun sebenarnya.....


"Ck! Aku selalu membenci jika Feron berdekatan dengan gadis kumuh itu, apalagi teman-temannya," Geram Vein Memandang acara sang adik yang berantakan.


"Kakak sudahlah" Ucap Yuna lemah.


Vein melirik "Tidak akan, aku tidak akan memaafkan diriku jika tidak bisa menjauhkan Feron dari gadis itu. Akan kupastikan keluarganya menerima dosa karna sudah berani berdekatan dengan penerus Adidjaya"


Dilain sisi.


Daffa membelai rambut Yuna, tatapan sendu dilayangkan Daffa untuk wanitanya itu.


"Yaaa... Meskipun lo bisa digantikan oleh banyak gadis fresh lainnya (tersenyum aneh) Tapi setidaknya, biarkan gua memberikan kenangan manis dulu buat lo" Ujar Daffa tersenyum.


...Tbc...