All For Dreams

All For Dreams
Ayah gua



Setelah melewati hari yang cukup menguras air mata, akhirnya Denada dan Imel yang baru sadar langsung beranjak pergi tanpa menoleh lagi.


Mereka berfikir untuk bodoh saja dengan kejadian selanjutnya dan fiks Denada dikhianati Anwar karna nanda, dan Imel yang kalah sebelum berperang karna Nanda.


Ya, semuanya karna Nanda.


Di fikiran kedua gadis labil itu kini hanya berisi muka menyebalkan Nanda.


***


Sementara itu...


"Fer, lo kenapa dari tadi pagi aneh banget. Lebih-lebih si Alfi juga ikutan bersikap OOC" Protes Nanda kepada dua sahabatnya yang dipaksa untuk duduk.


"Ini bukan sesuatu yang harus lo tau Nan" Tiba-tiba Feron berucap.


"Apa karna gua? Lo marah karna gua aduin sama pak Ibram? Atau lu marah karna rambut lo dipotong sama pak Bino? Kasih gua jawaban gaes, gua selalu kepikiran kalau lu berdua gak jawab kayak gini" Tanya Nanda mulai frustasi.


"Hadeuh~" Alfi menepuk jidatnya lelah.


"Gak ada apa-apa nan, suer deh ah! " Ucap Alfi beranjak dari sana dengan membawa kamera yang sudah di non-aktifkan.


Sementara Feron dan Nanda hanya memperhatikan kepergian Alfi dalam diam. Feron beralih menatap Nanda, ia mulai berinisiatif untuk membocorkan kejadian karna melihat ekspresi nanda yang semakin merasa bersalah.


"Tu anak cuma lagi ada masalah keluarga aja, bsok juga balek ke semula tu anak" Suara Feron menyadarkan Nanda dari lamunannya.


Feron berdiri dan menepuk pelan bokongnya yang berdebu.


"Lu gak usah terlalu ambil pusing ama sikap kita berdua, lain kali anggap aja kalau gua ama Alfi lagi kehabisan batrei rusuh" Sambung Feron menatap Nanda.


"Gak paham gua nyi*ng" Celetuk Nanda.


"Hadeuh~ kayaknya hardisk lo dah suak deh Nan, upgrade ke SSD biar rada up to date supaya penyimpanan memory lo trus kebaca di otak" Cerca Feron malas, namun Nanda malah tambah pusing dibuatnya hingga menampilkan wajah polos nan bodoh.


"Lu ngomong pake bahasa apaan si n*jing, kagak paham gua. Ya udahlah, daripada lo ama gua makin gak nyambung lebih baik lo antar gua pulang ke kos, cepet! " Final Nanda menggeret Feron yang pasrah-pasrah saja.


.


.


.


Sesampainya di kos Nanda, Feron tidak menyangka akan begini jadinya.


" Mau ini? " Ucap pria itu menyodorkan sekaleng minuman tepat didepan mata Feron, hingga Feron dapat merasakan dinginnya kaleng tersebut.


" N-ngak om, makasih" Tolak Feron halus mendorong Kaleng itu menjauhi mukanya.


"Padahal enak gini" Ucap pria paruh baya tersebut lanjut meminum bir kalengannya.


Tak lama Nanda datang menghampiri Feron dan pria paruh baya di samping bagasi mobil tengah duduk santai.


"Nih pa kain kotornya, bsok jangan lupa bawain 10 botol lagi birnya pa yang kemaren habis diminum nindi" Ucap Nanda menyerahkan bungkusan pakaian kotor miliknya.


"Serakah sekali kau, pake pesen 10 botol. Makanya kalau mau minum itu nikmati bukan menikmati" Seru sang papa mengambil bungkusan pakaian sang anak.


"Bodo amat dah" Seru Nanda merotasikan matanya malas.


"Eh! Gak sopan sama orang tua ya" Protes sang papa memukul punggung Tegap sang putri.


"Selain itu jangan bilang kalau ini bir nanda paok! Ini bintang Amazon nol alkohol, jadi enak kalau diminum walau ada kecut-kecutnya, dan perlu lebih ditekankan ini bukan ALKOHOL sekali lagi bukan ALKOHOL you know!? Ini hanyalah air beras yang di diamkan begitu lama hingga menjadi minuman dengan harga Rp. 17.000" Lanjut sang papa menatap kaleng botol minuman tersebut yang sudah tandas lalu membuangnya kearah bak sampah terdekat.


Kalau ni papa si Nanda tau itu cuma air beras yang di diemin kenapa gak coba buat sendiri? Heran? Udahlah belinya mahal pasti di gebuki istri juga kalau tau dia ngajarin anaknya juga


Inner hati Feron tidak habis fikir, rupanya ayah dan anak sama saja. Sama-sama aneh dan tidak dapat ditebak isi otaknya.


"Enak kali papa bilang aku paok! Pintar aku ni pa, 10 besar juga aku di sekolah ni papa tau!" Sombong Nanda membanggakan diri didepan sang papa dan juga Feron yang berwajah keheranan.


"Nah lagi satu ni orang, kenapa lo?" Tanya Nanda langsung memukul Feron hingga sang empunya yang tak siap malah langsung mengikuti gravitasi tersungkur ke jalan.


"Lo kenapa makin hari makin aneh si!? Marahlah lo paok! Gua rindu lo yang cerewet nj*ir bukan yang kayak orang TO*LOL gini" Protes Nanda membantu Feron membersihkan pakaiannya yang kotor karna jatuh dalam posisi telungkup.


"Sorry... Sorry... Gua lagi gak fokus aja Nan. Oh iya, gua pulang dulu udah sore juga, pamit juga om" Ucap Feron menyalami papa Nanda terlebih dahulu lalu beralih mengusap sayang kepala Nanda.


Adegan seperti itu sebenarnya cukup ganjil bagi sang papa namun cuma ditatap.


Dilihat dulu, libas kemudian


Seru hati sang papa menatap interaksi Feron dan Nanda.


"Gua pamit Nan, Om" Setelah mengucapkan kalimat itu, Feron pergi dengan motor maticnya.


Setelah Feron sudah tak terlihat ditikungan gang kos, akhirnya sang papa angkat suara.


"Hubungan kalian terlalu dekat sehingga sensor imajiner negatif aktif dikepala papa" Kata sang papa yang masih menatap kearah hilangnya Feron.


"Emang papa pikir kami pacaran" Nada Nanda tidaklah berunsur pertanyaan, namun lebih kearah pernyataan. Dan itulah yang membuat sang papa langsung menatapnya syok bukan main.


"Nanda!" Seru sang papa agak berteriak.


Nanda langsung memutar bola matanya pada sang papa, ia dapat melihat gurat terkejut dan terheran-heran dari wajah itu.


"Mantap! Sepertinya pemuda itu kaya raya, sikapnya juga lumayan selera papa. Pasti dia pemuda berandalan yang hampir di skors karna tawuran. Hmmm... Sepertinya juga terpelajar dan punya ilmu panco yang bisa menjadi saingan papa disaat sudah menjadi mantu" Terang sang papa dengan ibu jari yang senantiasa berada di dagu mengusap dengan perlahan seraya menampilkan gurat berfikir yang seperti serius sekali, namun bagi Nanda.


Kayaknya papa gua dah mabok ni, baek gua pergi


"Yaudah, kalau gitu papa aja yang nikah sama si Feron itupun kalau dia mau" Ucap terakhir Nanda kemudian langsung berjalan pergi meninggalkan sang papa masuk kedalam kosnya. Dari pada mendengarkan guyonan lainnya, lebih baik Nanda membuka smartphone dan mulai menulis cerita menarik yang sudah ia fikirkan sedari tadi.


.


.


.


Diperjalanan pulangnya, Feron selalu berfikir bertapa senangnya nanda memiliki papa sehangat dan seperhatian itu. Sementara ia,


"Astaga, gak boleh gitu Ron. Lu juga harus ingat kalau yang ngebebasin lo dari penjara itu ayah" Peringat Feron menyadarkan diri.


"Bunda sudah pergi pagi tadi, dan dengan kata lain gua bakal sendirian lagi menunggu anggota lainnya pulang, haaaaaahhhhhh~"


Feron benar-benar jengkel dengan dirinya yang selalu sendirian ini sejak sang ibunda telah meninggalkannya.


*****


"Assalamualaikum" Ucap Feron membuka pintu utama yang tidak terkunci?


Lampu ruang keluarga menyala terang, aroma sedap juga tercium oleh hidungnya yang sedikit mampet akibat udara luar. Rumah juga dalam keadaan rapi dan bersih.


Apa bunda Neti tidak jadi pulang kampung?


Relung hati Feron bertanya. Ia senantiasa melangkahkan kaki jenjangnya mengikuti aroma harum hingga sampai ke meja makan. Dan disana, dikursi utama telah duduk sang ayah dengan memakai kaus santai tengah asyik memakan buah anggur hitam kegemarannya.


"Duduk Feron, ada yang mau ayah bicarakan sebelum makan" Kata sang ayah yang masih tenang berbicara.


Feron menurut, ia memilih random tempat duduk. Setelah Feron duduk, sang ayah serta merta langsung melempar buah Pear yang untungnya dapat ditangkap Feron dengan sempurna.


"Tangkapan bagus" Puji sang ayah dengan muka datar.


"Jadi, ayah mau berbicara apa?" Tanya Feron langsung to the point.


"Hmph! Tidak sabaran" Smirk sang ayah tersenyum remeh.


"Baiklah, kenapa kamu berkelahi dengan Bruno Ferdinand Brahma, dan kenapa kamu bisa masuk penjara? Dan kenapa kamu kabur dari rumah sakit padahal neti sudah susah payah merawat kamu tapi kamu malah menambah masalah" Ucap sang ayah langsung menatap Feron penuh kesal.


"Itu ehmmm......"


...TBC...