All For Dreams

All For Dreams
Jangan sakiti



.


.


.


"Pintu ini aneh" Ucap Alfi hendak meraih ganggang pintu sebelum satu tangan menghalanginya.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Vion mengintimidasi.


"Darmawisata (berbalik) YA NYELAMATIN Nanda LAH GOB*LOK!! ( berbalik tepat ke arah Vion) Awas lo sebelum gua tendang bersama ni pintu" Jerit Feron langsung mengambil ancang-ancang mundur.


"Jang-"


Brakkk!!!!


.......


.......


.......


.......


.......


...All For Dreams...


...Jangan sakiti...


.......


.......


.......


.......


.......


Pintu langsung terlempar jauh, namun Feron tidak akan menunggu scan asap bermunculan.


"Anwar, lu liat sesuatu?" Tanya Feron menatap ruangan yang begitu gelap gulita.


"Ck! Kagak" Desis Anwar kesal.


(Tes boleh di coba tes)


Suara Theo berhasil memasuki gendang telinga ketiga pemuda.


Feron langsung menyentuh earphone yang melekat di telinganya "Dengan siapa di mana? Boleh di sebutkan kodenya mas?"


(Mau kaya tanpa kerja keras dan ngepet namun tetap slay!? Ya jadi koruptor jawabannya!!!)


Balas Theo semangat.


"Wah selamat, 1 juta di bayar pajak 1 juta dan upah ongkir di tanggung sampai rumah sebesar 500 ribu, hemat kannnn.... Mau rejeki yang lebih melimpah? Saatnya ke kuis selanjutnya" Ucap Feron memperagakan gerakan pembawa acara kuis pagi selepas sahur.


(Waahhh... Gak sia-sia pinjam telpon tetang-Eh tunggu bentar!? Feron taek! Ini darurat malah lo ajak becanda, bukan saatnya. Si Nanda dalam keadaan genting woy!)


Teriak Theo dari seberang sana hingga suara nginggg yang begitu keras terdengar.


Bangsul, sakit bat


Inner Anwar mencopot earphone.


Sementara Vion hanya memperhatikan dalam diam sambil melirik ke segala arah mencari keberadaan Yuna.


Dimana dia? Padahal gua sengaja bawain makanan kesukaan dia yang kemaren dia minta.


Benar-benar bocah ber kepribadian luhur


Inner Vion kala melihat Feron mengetuk pintu seraya mengucap salam lalu menanggalkan sepatu dan langsung meletakkannya secara rapi di tempat yang telah di sediakan.


Kembali ke waktu terkini.


Vion menyilangkan tangan di dada "Mungkin aja yang punya rumah lagi keluar"


Anwar memandang Vion sinis "Gak mungkin! Gua yakin banget masalahnya gak bakal ada orang keluar jam segini"


Vion mendengus "Bisa aja, karna yang punya rumah lagi ham-" Vion langsung menghentikan ucapannya.


Hampir saja ia membeberkan rahasia yang sudah ia simpan rapat-rapat bersama Yuna itu.


"Kesebelah sini kawan-kawan," Ucap Feron tanpa memperdulikan perdebatan ringan Vion dan Anwar.


"Gua udah cukup penasaran sama pintu di sudut ruangan itu sedari tadi, agak aneh dan penuh misteri," Lirih Feron tanpa basa-basi langsung mendobrak pintu itu hingga jebol.


"Hmph! Rupanya benar disini." Lanjut Feron menatap Daffa sinis.


"Heh! Waw Waw Waw... Kita kedatangan tamu di saat gua pengen motong kaki gadis imut ini" Balas Daffa melirik Feron dengan senyuman yang begitu menyeramkan.


"Lo...." Desis Feron menatap Daffa geram.


Pandangannya beralih pada Yuna yang sudah lemas kemudian beralih menatap Nanda yang tangannya terikat kuat di atas kepalanya dengan rantai besi sebagai pengikat terhubung ke bawah tempat tidur, sementara kakinya sudah di lebarkan dan diikat di masing-masing sudut tempat tidur operasi yang sudah penuh dengan darah kering.


Feron beralih menatap wajah Nanda "Ck! Bang*sat sekali," Geram Feron mengepalkan kedua tangannya.


"Apa yang lo lakuin sama mulut sahabat gua ha!?" Teriak Feron.


Daffa menepuk pipi Nanda yang sudah berlumuran darah kering milik gadis itu sendiri "Gua cuma buat dia tambah cantik aja dengan jarum dan benang, lagian kalau dia diam itu lebih manis." Daffa langsung menoel pipi Nanda gemas.


Pandangan Daffa benar-benar aneh, mata itu selalu memperhatikan tetes demi tetes darah Nanda layaknya Film kegemaran, menatap dalam tenang setiap desisan yang di keluarkan oleh mulut terkatup benang operasi sungguh membuat birahi Daffa naik.


"Shiitt... Ini benar-benar menyenangkan" Desis Daffa menggelatukkan giginya.


Setelah puas menatap Nanda yang tak berdaya, kini Daffa memilih menatap Feron.


"Tidak buruk Feron (menyeringai sambil membersihkan tangannya dari darah) Namun apapun yang terjadi, Nanda tetap akan menjadi mainan gua sampai apa yang 'diinginkan' tercapai." Ucap Daffa.


"Hoy! Disini yang pacar dia itu gua, seharusnya lo permisi dulu, jangan seenaknya aja bangsa*!" Teriak Anwar marah.


Daffa melirik Anwar remeh "Lo? Pacar dia? Tapi kenapa yang di gumamin nama 'Feron'? Gua kok jadi aneh gini ya?" Ejek Daffa.


Anwar langsung menatap Feron yang bermuka masam menatap air muka Daffa yang begitu senang mengejeknya.


"Sudahlah, berhenti membuat hal konyol. Gua mau ngambil sahabat gua sebelum polisi datang buat nangkap elu."


Feron langsung berjalan mendekati Nanda, tidak ada gurat khawatir dari wajahnya menatap Daffa dengan pisau silet di tangannya.


Setelah mencapai Nanda, Feron langsung membelai wajah yang sudah berlumuran darah itu, menyeka sedikit anak rambut Nanda lalu berbisik Lirih tepat di telinganya.


"Sekarang jangan khawatir ya Nand, gua udah di samping lo." Bisik Feron dan langsung melepaskan ikatan yang membelenggu Nanda.


Sementara Daffa sendiri, ia ber-Smirk tangannya sudah gatal ingin membuat adegan penuh darah yang menyenangkan. Tanpa basa-basi Daffa langsung menikam punggung Feron.


.......


.......


.......


.......


.......


...TBC...