
Nanda tidak ingin berkata satu katapun pada tindakan Feron yang rupanya tidak memarkirkan motornya di dalam sekolah, melainkan di kantin Janda yang tepat berada di depan kampus tetangga.
"Bisa jelaskan kenapa?" Tanya Nanda menuntut.
"Kalau gua bilang rahasia, lu bakal mukul gua jadi gua bakal jawab secara singkat aja. Buat pelarian" Feron menaiki motor dan menyalakannya.
Feron melirik Nanda yang malah diam saja memperhatikan motornya.
"Lu mau naik sendiri atau harus gua gendong? Pilih!" Bentak Feron.
Kenapa ama ni orang?
Fikir Nanda masih tidak mengerti maksud Feron.
Karna tak mendapatkan respon dari Nanda, Feron pun langsung men-standar motornya, berjalan kearah Nanda dan menggendong Nanda naik ke motornya tanpa perlawanan apapun oleh yang digendong.
"Emang putus cinta buat orang tolol"Monolog Feron menghela nafas gusar.
"APA!?" Teriak Nanda.
Tanpa menggubris teriakan Nanda "Nan, lo bawa jaketkan?" Tanya Feron langsung mengalihkan topik.
"Ha? I-iya gua bawalah, jakentnya ada didalam tas" Jawab Nanda menunjuk tasnya sendiri.
Feron melirik kebelakang "Pake" Ucap Feron yang juga memakai jaketnya.
"Boleh tanya kenapa?" Tanya Nanda disela dia mengenakan jaket.
"Karna akan sangat tidak lazim jika gua ngajak lo jalan-jalan pake seragam sekolah dijam belajar" Komentar Feron tersenyum miring.
.......
.......
.......
Diperjalanan, hanya berisi keheningan diantara mereka. Feron memilih mengajak Nanda mengelilingi kota dan berhenti di suatu tempat yang sangat diketahui Nanda.
"Kenapa kita malah kepasar?" Tanya Nanda bingung.
Feron berjalan lebih dulu "Gua ingat seseorang memiliki jadwal mengisi dapur kosnya hari ini" Lirik Feron yang berjalan didepan nanda dengan senyuman.
"Ha? AN*JING BENER, YA ALLAH GUA LUPA!" Nanda berlari kecil mengejar Feron yang sudah masuk kepasar.
Didalam pasar Nanda hanya bisa kagum melihat Feron sahabatnya yang begitu lihai dalam tawar menawar atau lebih tepatnya mencaci?
"Apa! Abang ini sudah ambil untung diambil lagi! Mana ada harga ikan teri 20ribu satu onch!" Cerca Feron pada si pedagang.
"Ya mau gimana lagi, memang harga sekarang sedang naik-naiknya. Bagaimana saya bisa menjual 15 ribu coba?! Melaut aja sana kalau gak mau mahal!" Sarkas sang penjual pada Feron yang langsung pergi setelah mendengar cacian sang pedagang padanya.
"Yok Nan, gak dapat ikan kering keriput itu, telur ayampun jadi" Dengus Feron kesal. Sementara Nanda dibelakangnya hanya bisa terkikik geli.
Ditengah perjalanan mereka mengelilingi pasar, Nanda teringat masalah yang benar-benar masalah baginya.
"Ron, uang yang gua bawa cuma 10 ribu ny*ing!" Nanda kalut dibelakang Feron, sementara Feron malah santai ingin memilih cabe.
Feron melirik Nanda "Apakah kamu melihat muka kere pada diriku ini?"
"Ya mana gua tau?" Jawab Nanda cepat.
"Haaaah~ Rupanya dari tadi lo gak sadar kalau gua yang bayarin?" Hela nafas Feron gusar.
"Ya gua pikir lo tanggulangi dulu, entar gua yang bayar, Kan selalu kek gitu konsepnya" Jawab Nanda mengingat.
Feron kembali mendengus kesal "Untuk hari ini gua pake sifat 'LAKIK' (menunjuk diri sendiri bangga) Jadi biar gua yang traktir semuanya termasuk belanjaan lo" Ucap Feron yang kembali keaktifitasnya memilih cabe.
Setelah berbelanja dipasar tradisional, Feron kembali mengajak Nanda mengelilingi kota.
Nanda yang berada dibelakang Feron kini tengah kesusahan memegang barang belanjaan, namun ia tetap senang karna uang sakunya aman.
Sedang tersenyum indahnya, Feron malah berhenti tiba-tiba disebuah minimarket, membuat Nanda yang tidak siap dengan rem motor yang mendadak jadi nyungsep kedepan.
"Kenapa berhenti?" Tanya nanda sedikit jengkel.
Feron melirik kebelakang "Gua haus, lo gak haus? " Tanya Feron.
Nanda menyentuh kerongkongannya "Serek si" Ucap Nanda.
"Ya udah, cus" Balas Feron berjalan lebih dulu.
.......
.......
.......
Saat ingin memasuki minimarket, Feron tak sengaja melihat motor seseorang yang cukup membuat seorang Feron menjadi frustasi sendiri, hingga tanpa disadarinya mereka sudah masuk dan mengitari minimarket.
"Ron" Panggil Nanda yang langsung membuyarkan pikiran Feron.
Seperti ada yang mengawasi
Batin Feron melirik kiri dan kanan waspada.
"Hmmm.... Enaknya beli rasa vanilla apa stroberry?" Tanya Nanda menunjukkan 2 botol minuman berbeda varian pada feron yang sedang tidak fokus memandang dua botol itu.
"Ron!" Bentak Nanda.
"Iya nanda cantik, ada apa?" Ucap Feron menekankan kata cantik yang terdengar tak ikhlas.
"Lu dengar gak sih?" Tanya Nanda.
"Gua dengar kok, lu pilih aja rasa coklat" Ucap Feron langsung memfokuskan matanya pada Nanda.
"Benerkan lo gak fokus" Marah Nanda.
"Gua ambil kopi aja kalau gitu" Lanjut Nanda kesal mengambil kopi kaleng.
"Jadi buat apa lo tanya rasa vanilla sama stroberry kalau lo pilih kopi, Nanda pa*ok!" Maki Feron tak terima.
"Cuma tes lo doang" Sungut Nanda kesal.
Nanda berjalan cemberut, tidak ingin menatap Feron yang mengikutinya menuju rak lain.
Dari balik rak minimarket, Feron dapat melihat seseorang yang sedang mengawasinya sedari tadi.
Satu langkah
Dua langkah
Tiga langkah
Slap! Buukk!
Dengan cepat Feron menangkis pukulan itu.
"Fyiiuuuuiittt~ boleh juga lu!" Ucap suara itu bersiul seraya tersenyum culas menatap Feron.
"Alferon Adidjaya~" Lanjutnya dengan nada sing a song.
"Reo Alman!" Desis Feron.
Melihat kuda-kuda lawannya yang longgar, Reo langsung menendang pinggang Feron yang tidak sempat menghindar.
Brrrukk!
Feron terjatuh dan berdesis sedikit merasakan sensasi nyeri di area perut kirinya.
"Hmph... Lemah!" Masih dengan senyumnya yang menatap Feron, kini Reo beralih menatap Nanda yang terdiam menatap Feron dan Reo yang saling bertarung atau lebih tepatnya hanya Reo yang memukul dan Feron yang bertahan.
"Huhuhu~ siapa ni Ron? Gandengan baru ya?" Ucap Reo berjalan pelan menuju Nanda yang menatapnya sinis.
"Kayaknya otaklo kurang rinso" Sindir Feron bangkit.
Reo berbalik, menatap Feron yang hanya menampilkan wajah biasa.
"Ck! Sudahlah" Gumam Reo kembali berjalan ke arah Nanda.
"Jangan dekati Nanda kalau lu masih pengen hidup" Peringat Feron yang tidak bergeming Sedikit pun dari tempatnya.
Reo tidak mengindahkan peringatan Feron "Pelit lo Ron, cewek semanis ini masak mau ama lo? Gua yakin lo pasti santet ni cewek, tapi kalau buat gua si...." Reo mengusap dagunya, sementara Feron hanya bisa tepok jidat di tempat.
Tadi gua bilang apa ya masalah hubungan ini?
Inner Feron tiba-tiba bingung sendiri.
Reo yang sudah sampai didepan Nanda kini ingin menyentuhnya, tangan kanannya dengan pelan ingin merasakan garis lengkung wajah ayu itu. Namun sebelum niatnya tercapai, sebuah tendangan keras berhasil mengenai wajah Reo yang langsung terpental menabrak tiga rak sekaligus.
Dengan santai Feron menghampiri Reo dan berjongkok tepat disampingnya.
Feron menatap Reo yang sudah tersungkur tepat di sampingnya "Kan dah gua bilang, lu ngeyel si" Ucap Feron berjongkok seraya menoel pipi Reo yang tertidur diatas rak minimarket.
Darah segar mengalir dengan deras dari hidung Reo yang sudah kembali berdiri dari posisi tidurnya, Reo menyeka darah itu.
Reo bangkit untuk duduk "Sakit bat dah, dasar cewek tomboy" Dengus Reo menyeka darah di hidungnya.
"Lu-nya aja yang gak sopan, main mau nyentuh-nyentuh anak orang sembarangan lagi!" Maki Nanda marah menunjuk Reo yang malah terkikik geli.
"Selera lu boleh juga Ron, hahahahaha!" Ucap Reo tertawa puas.
Entah apa yang merasuki Reo, yang jelas Feron tidak ingin tau dan peduli, lebih baik Feron lanjut memilih makanan.
"Ron" Bisik Reo yang langsung memegang pundaknya.
Tanggal 20, jangan kabur atau Nanda Triasla yang bakal jadi pengganti lo
Bisik Reo pada telinga kiri Feron yang sontak terkejut mendengarnya.
"Lo bajingan juga," Desis Feron menatap Reo "Selain itu gua heran, kok lo bisa tau nama Nanda sih?" Tanya Feron pada Reo.
Bagaimana bisa kutu keset ini menargetkan Nanda yang tidak tau apa-apa sebagai pelampiasannya?
Inner Feron kesal.
Reo bersmirk "Karna gua tau segalanya Ron, dan juga (Reo menyentuh pundak Feron) lu itu sering banget lalai ama peringatan gua kalau lagi pen gelud" Ucap Reo tersenyum pada Nanda namun kalimat yang ia ucapkan diajukan pada Feron.
Setelah mengucapkan kalimat itu Reo langsung berlalu pergi tanpa ingin melihat ekspresi Feron selanjutnya.
“REO ALMAN! SEPERTINYA PERINGATAN LO NGAK BAKAL GUA WUJUDKAN, MOOD GUA LAGI BURUK JADI LAIN KALI AJA BA*NGSAT” Teriak Feron.
“LO CARI MATI YA!!!!!” Teriak Reo membalas teriakan Feron dari parkiran.
“SMA 1 ITU LEMAH!!! KALAU LO INGIN BERTARUNG MAKA datang kekandang musuh lo langsung” Tantang Feron mengakhiri kalimatnya dengan suara pelan, ia berpikir Reo tidak akan mendengar karna dia sudah berlalu pergi.
Nanda yang berdiri jauh dari Feron sedikit berlari kecil menghampirinya yang masih menatap punggung Reo dengan senyum remeh.
"Siapa dia ron?" Tanya Nanda.
"Reo" Jawab Feron singkat seraya berlalu pergi menuju kasir.
Disaat pembayaran...
Kasir awalnya ragu menyebutkan total harga, namun daripada dia yang dipecat lebih baik dimaki siswa ini saja lebih baik "Totalnya..... 500 ribu mas" Ucap kasir menelan ludah kasar siap mendengar makian Feron.
Feron yang tengah merogoh saku celananya seketika berhenti, ia langsung syok memegang dada mendengar nominal harga.
"HAH!!!? KOK BISA SEGITU?!" Dengan gesit, Feron langsung melihat layar komputer sang kasir.
"Kenapa lo menambahkan tagihan krim caramel, popcorn, coklat dan tissue kedalam belanjaan gua? Gua rasanya ngak pernah ngambil barang itu?!" Maki Feron tak terima.
Sang kasir langsung menelan ludah kasar "I-ini sudah prosedur mas, karna mas sudah merusak fasilitas minimarket" Ujar Kasir itu berusaha menerangkan dengan senyum kikuk.
Feron menatap sang kasir tajam "Ck! Ya sudahlah, tapi bungkus semua yang lo hitung itu!" Tunjuk Feron pada rak yang sudah rusak.
Sang kasir tak bergeming, membuat Feron yang sumbu kesabarannya hanya sepanjang bulu ketek harus kembali menatap kasir itu tajam "Kalau ampe lu kagak bungkusin semua, gua bakar ni minimarket. CEPAT BE*NGO!!!" Teriak Feron menggebrak meja, membuat sang kasir mau tidak mau harus bergegas menyelesaikan pekerjaan ini.
.......
.......
.......
"Tega bener lo Ron marahin tu kasir" Ucap Nanda memimpin jalan, sementara Feron dibelakangnya tengah susah payah mengangkat 2 kantung belanjaan.
"Sekarang kita kemana?" Tanya Feron membuang muka.
Nanda melirik Feron maklum "Hmmm? Aha! Mari kita bermain game koin" Seru Nanda semangat.
"Koin yang anda sebutkan sekarang sudah berubah menjadi gesek" Ucap Feron datar, sementara Nanda hanya bisa tertawa hambar menahan ke-kudetannya.
.......
.......
.......
Setelah bermain game koin yang sekarang menjadi gesek, kini mereka mengakhiri perjalanan dengan melihat pengamen jalanan yang tengah bernyanyi merdu, namun sudah beberapa jam tidak ada yang datang sekedar melirikpun tidak.
Feron yang gatal ingin mencoba peruntungan-pun akhirnya meminjam gitar sang pengamen untuk membantunya.
"Ekhem...!!!" Feron memandang sekitar, cukup merasa malu akhirnya Feron memilih menutup kepalanya dengan kupluk jaket.
JRENG! JRENG! JRENG! JRENG!
Beberapa pasang mata seketika memperhatikan Feron yang menggenjreng gitar dengan kasar, membuat beberapa pasang mata langsung memperhatikannya.
.
.
.
Feron melihat koin dan uang kertas yang berhasil ia kumpulkan" Sedikit sekali" Gumamnya kesal.
Setelah beberapa kali bernyanyi hingga kerongkongan kering, Feron hanya mendapatkan beberapa rupiah saja, ohhhh men.
"Benar-benar penampilan segalanya" Desis Feron langsung membuka penutup kepalanya dan mengganti dengan tanjak kebanggaan. Ia menatap sekitar dan mulai dengan helaan nafas terlebih dahulu sebelum kembali bernyanyi.
Tidak lama setelah itu, mulai banyak pasang mata yang berhenti untuk melihat.
"Ganteng memang beda" Monolog Nanda tanpa sadar.
Tidak ingin menjadi patung hidup. Nanda langsung mengambil kerincingan dan mulai berduet dengan Feron yang sangat lihai bermain gitar.
Tak terasa pertunjukan mereka pun berakhir, banyak sekali penonton yang melihat mereka, walau mayoritasnya adalah kaum hawa yang melihat dan mengagumi Feron.
"Wah lumayan juga uangnya" Ujar Nanda menghitung uang.
Plak!
"Jangan sampai lu kantongin tu uang" Sarkas Feron memukul pundak Nanda pelan dan menasehatinya.
"Ia... Ia.. Gua tau kok" Jawab Nanda cemberut, niat aslinya malah ketahuan sebelum bertindak.
Setelah menghitung nominal uang tersebut, dengan senyum teduh Nanda memberikannya pada pengamen yang hanya bisa terpaku ditempatnya berdiri. Seumur hidupnya mengamen, belum pernah ia mendapatkan uang sebanyak ini.
"T-terima kasih banyak" Ucap pengamen itu kikuk menerima uang pemberian Nanda.
"Sama-sama pak, semoga berkah ya" Ucap Nanda kembali tersenyum senang.
Sementara Feron yang sudah menaiki motornya hanya menatap Nanda yang sedang senang. Ia juga jadi ikut senang, namun dering smartphonenya membuat semua adegan itu harus diselesaikan dengan cepat.
"Yok Nan, kita berangkat" Titah Feron menyerahkan helm pada Nanda yang diterima dengan semangat.
"Daaaa~" Lambai Nanda yang juga dibalas ramah oleh pengamen itu.
.......
.......
.......
Mendung bukan berarti hujan, setidaknya kata itulah yang selalu dianut Feron, namun kali ini sepertinya dia harus beralih anutan.
Feron sudah basah kehujanan setelah mengantar Nanda ke kostnya, sementara Nanda benar-benar sangat senang dengan jalan-jalan mereka apalagi semua jajanan yang dibayar Feron sampai syok itu ia berikan semua pada Nanda, membuat semua teman kost Nanda secara terang-terangan mengucapkan kalimat iri pada Nanda yang beruntung mendapatkan Feron , eh?
Walau jujur setelah melihat ekspresi Nanda yang begitu semangat berkat tawaran jalan-jalan sederhana bagi Feron sendiri, ia masih merasa bersalah karna belum membawa gadis itu ketempat yang sangat menarik, mungkin nanti?
Sampai dirumah, semua pakaian Feron basah kuyup mulai dari jaket sampai segitiganya juga ikut terkena air hujan.
Oh shitt, dingin banget njir
Inner Feron menyatukan kedua tangannya seraya menghembuskan nafas panas mencoba menetralkan suhu tubuh yang mulai mendingin.
Dan berakhir malamnya Feron menggigil dan mulai mengigau, membuat Neti sigap menyiapkan pertolongan pertama dengan mengkompres dan memberikan Feron obat penurun panas namun panasnya tidak kunjung turun hingga Feron harus dirawat dirumah sakit sampai tanggal 20 kedepan, ujar sang dokter pada Neti yang langsung syok ditempat.
"Ibu.... Nghhh... " Igau Feron sedih dalam tidurnya yang tak nyaman.
...TBC...