All For Dreams

All For Dreams
Sidang



2 hari setelahnya.


"Tuan William Birtrainy" Ucap pak Ibram penuh penekanan.


"Hadir pak Ibram" Balas Ryou menunduk sedih membaca surat undangan bergaris merah dengan tulisan yang hampir membuatnya di panggil malaikat maut.


"Sudah tau berita cuaca hari ini?" Tanya Pak Ibram sekedar basa basi namun di tanggapi serius oleh Ryou.


"Panas dan sedikit berkabut" Jawab Ryou sudah kehilangan semangat hidup.


"Bagus! Tidak sia-sia matamu empat, namun kita tidak sedang dalam pelajaran IPA melainkan tengah dalam masa kritis menghadapi satu muridmu yang selalu membuat SAYA NAIK DARAAAAAAHHHHHH!!!!!!!" Marah Pak Ibram tiba-tiba berdiri dan langsung menggebrak mejanya kesal.


"S-sabar Pak Ibram, kita bisa bicarakan ini dengan fikiran terbuka. Tidak perlu emosi berlebihan seperti itu.... Hahahahahahah" Ucap Ryou mencoba tertawa. Ia juga tak luput memperbaiki letak kacamatanya yang sudah melorot kembali ke tempat semula.


Tok tok tok...


"Masuk" Perintah pak Ibram kembali duduk.


"Assalamualaikum Pak Ibram, "


Ryou berbalik, dan tatapan mereka berdua bertemu.


"Ryou, Hi" Lanjutnya langsung tersenyum ramah seraya melambai.


.


.


.


Kelas 11 DPIB


"Ssssttt!!!"


"Apa?" Tanya Feron malas memperhatikan Nanda yang langsung mengerucutkan bibirnya melihat Feron yang malah bertanya judes padanya.


"Judes banget sih lo, gua kan cuma pen curhat" Ucap Nanda berbisik dengan tangan yang masih asyik menari di atas kertas.


"Iya iya, apa Nanda bidadariku?" Tanya Feron membalikkan kitabnya.


"Si Reyo, udah hampir genap sebulan gak masuk kelas? Kenapa ya Fer?" Tanya Nanda melirik Feron yang langsung menghembuskan nafas gusar.


"Lu yang sering di sekolah masak gak tau si kalau Reyo udah pindah, hmm! Gua jadi bertanya-tanya anak Passus kemana aja? Masak gak tau berita semenggemparkan ini" Ucap Feron meledek Nanda yang langsung cemberut.


"Ya mana gua tau, lu pikir gua wartawan" Ketus Nanda langsung memunggungi Feron, istilahnya ngambek.


"Lah, kok ngambek?"


"Bodo"


"Hehehehehe.... Jangan ngambek dong Nan, nanti cantiknya hilang" Rayu Feron menggenggam kedua pundak Nanda.


"Udahlah Ron! Apaan si, gak usah sok drama, kemaren udah,gak usah di tambah lagi, entar gua bosan" Jawab Nanda melepas kedua tangan Feron yang berada di pundaknya kasar.


"Segitu aja ngambek, gimana kalau d-"


Drrrrtttt... Drrrttt....


Feron langsung merogoh saku celananya, tanpa melihat si penelfon Feron lekas langsung memulai percakapan.


"Hallo" Ucap Feron berbisik, takut ketahuan sedang menelfon di dalam kelas.


"Ron, baek lu kabur dah" Ucap seseorang di seberang telfon, dan tentu saja tanpa melihat nama penelfon tersebut Feron pastinya sudah sadar kalau itu Theo.


Feron melirik pak Rizka yang tengah asyik memeriksa tugas, dan juga menatap Nanda yang masih membuang muka enggan menatapnya.


Feron sedikit menimbang dan juga berpikir.


Untuk apa ia kabur? Dan ia kabur dari siapa?


"Woy tolol! Pergi gak lo?! Ini darurat b*go! Yang lain udah gua hubungi duluan, sekarang tinggal lu ama Lulba doang yang smartphonenya gak aktif! Cepat keluar sebelum pak Sutejo datang nyamperin elu!"


Dan akhirnya Feron sadar dan sangat menyadari.


Grrrkkk!


Pak Rizka sontak menatap ke arah Feron.


"Pak! Izin ke toilet" Ucap Feron menggebu dan tanpa menunggu persetujuan Pak Rizka, ia langsung melesat hilang bagaikan debu.


"S i l a h k a n?" Jawab pak Rizka tercengang lebih terkesan bertanya dengan keterburuan Feron yang ganjil baginya.


Kabur kemana tu anak? Pasti cuma alasan doang ke toiletnya


Isi hati Nanda melirik curiga kepergian Feron yang tak biasanya lewat ke arah bengkel DPIB.


Tak berselang lama, Pak Sutejo datang dengan penampilannya yang sudah seperti korban jambret.


"Huft... Huft.... A-assalamualaikuuuummmm~" Ucap Pak Sutejo kelelahan diambang pintu kelas.


"Waalaikumsalam, wah? Ada apa Pak Sutejo tiba-tiba mampir?" Tanya Pak Rizka menatap ke ambang pintu kelas.


"Haduhai... Uhuk! Uhuk!" Pak Sutejo berusaha mentralkan tenggorokannya sebelum berbicara lebih.


"Gini pak Rizka, saya ingin memanggil siswa bernama Feron. Apa dia ada?" Tanya pak Sutejo memandang seluruh murid 11 DPIB dengan seksama.


"Baru saja permisi pak, ada gerangan apa ya?" Tanya Pak Rizka.


"Aduuuhhh!!!" Pak Sutejo langsung menepuk jidat.


"Lar-pergi kemana pak?" Tanya pak Sutejo mulai panik.


"Arah Bengkel DPIB pak Sutejo, mari saya bantu mencari anak itu" Ucap Nanda langsung menghampiri Pak Sutejo.


"Makasih Nanda, bapak tertolong" Jawab Pak Sutejo mulai mengikuti langkah Nanda.


"Oh iya, pak Rizka. Saya izin menjalankan tugas sebagai anggota Passus dulu" Ucap Nanda sedikit menaikkan nada suaranya dan berlari pergi.


"O-ok" Jawab Pak Rizka terbata.


.


.


.


Kini ia sedang mengintip Lulba yang tengah asyik membuat ulah dengan mengikat ujung sepatu temannya dengan benang panjang yang terhubung dengan seluruh alas meja para siswa.


Dan tentu saja aksi itu tanpa sepengatuhuan teman-teman sekelas Lulba.


"Sssstt!!!"


"Sssstt!!!"


"Sssstt!!!"


"Sssstttttt!!!! Woy Tungkik!!!" Bisik Feron dongkol berusaha meninggikan suaranya agar didengar Lulba yang tepat berada di depannya, mereka hanya terpisah oleh jendela bengkel TAV saja tapi pekaknya telinga Lulba seperti ingin di periksa ke dokter THT, bahkan teman sekelas Lulba sudah menatap Feron dari tadi, tapi temannya sendiri tidak peka dengan aura gelap yang sudah di pancarkan Feron? Benar-benar minta bogem dadakan si Lulba.


"ASW!" Feron langsung berjalan geram menghentakkan kakinya ke arah pintu masuk.


TAK!!! TAK!!! BRAK BRAK BRAK BRAK!!!!!


ASSALAMUALAIKUM WR. WB! PAK PINJAM LULBA AKSARA TUNGKIK BENTAR!!!! " Teriak Feron emosi langsung menarik Lulba yang sontak terkejut dengan kehadiran sang ketua gankyang begitu tergesa.


"Apa-apaan si Ron? Kenapa juga?" Ucap Lulba malah santai di seret Feron pergi.


"SAYA PINJAM DULU SISWA BAPAK!!! MAKASIH! ASSALAMUALAIKUM PAK TUNGKIK!!" Teriak Feron berterima kasih dan lekas menarik kerah baju Lulba pergi dari bengkel TAV.


"Ok" Jawab Pak Tungkir santai.


"Dinto, maju kedepan dan bawa serta alat peraga kamu" Ucap pak Tungkir.


Dinto dengan patuh langsung berdiri serta membawa alat peraganya berjalan ke depan kelas.


"OK P-"


Namun sebelum benar-benar mencapai kedepan kelas...


BRAK!!!


Bram!!


Sssrrrttt!!


BRAK!! Brukkk!


Berhasil, alas meja sekaligus alat peraga semua siswa terjatuh dan rusak tepat di belakang Dinto yang langsung membatu di posisinya, sementara teman-teman yang lain sontak terkejut hingga tak dapat mengeluarkan sepatah kata. Mereka semua mengikuti arah benang yang langsung terhubung dengan sepatu Dinto yang tanpa sadar langsung berwajah sangar menatap ke arah hilangnya Lulba.


"LULBA!!!! AWAS AJA LU!!!!!!" Teriak Dinto mengisi keheningan bengkel TAV.


Disisi Nanda.


"Suara apa itu?" Tanya pak Sutejo melirik ke segala arah.


"Arah bengkel TAV" Ucap Nanda langsung berlari ke arah bengkel TAV.


"Ada ap-" Ucapan Nanda sontak berhenti saat melihat keadaan bengkel TAV yang seperti kapal pecah dengan para siswa yang seperti orang gila, ada Yang menangis tersedu, ada yang tersenyum psiko, bahkan ada yang tak perduli dan malah tidur saja.


"Ada apa ini?" Tanya Nanda dari ambang pintu.


"Pak, ada apa ini?" Tanya Nanda berjalan ke arah pak Tungkir yang sedang membantu para siswanya membersihkan sisa ulah Lulba.


"Pak?" Tanya Nanda lagi mendekati pak Tungkir yang tak bergeming sedikitpun.


"Paaakkk!?" Tanya Nanda sekali lagi, sedikit menaikkan nada suaranya dan menyentuh pundak pak Tungkir yang sedang berjongkok membersihkan beberapa barang.


"Ha?!" Kaget pak Tungkir langsung berbalik menghadap Nanda yang juga ikut terkejut.


"Siapa kamu?!" Tanya pak Tungkir lebih ke nada emosi.


"A-anu? Saya Nanda Triasla pak, saya datang karna mendengar ada suara ribut-ribut, sebenarnya kenapa ya pak?" Tanya Nanda sopan.


"APA?" Tanya pak Tungkir.


Nanda sedikit emosi, namun ia redam dan langsung mengambil nafas panjang kemudian membuangnya.


Nanda tersenyum "Saya tanya ini ada apa ya pak?"


"APA?" Tanya pak Tungkir lagi, kali ini Nanda sabar, suer.


"PAK ada apa ini sebenarnya?" Tanya Nanda lagi sedikit emosi.


"APA? SABUN COLEK!?"


BRAK!!!


"WOY BUDEG! GUA TANYA KELAS LO KENAPA!!!???" Emosi Nanda langsung menampilkan Wajah garangnya. Meja bahkan sudah terbelah menjadi dua hanya dengan sekali pukulan tangan Nanda.


"Oooo~ ini nih, biasalah. Ulah si Lulba tak berkesudahan. Dan juga, lain kali jangan tidak beradab bicaranya seperti anak DPIB itu, dia selalu seenaknya juga, kamu jangan sampai seperti dia, terlebih lagi saya tidak tungkik, saya cuma kurang bisa mendengar suara kecil" Ucap pak Tungkir sedikit tersinggung dengan teriakan Nanda padanya.


"Ya ALLLLAAAAHHHHHHH!!!!! NANDA SABAR, NANDA TABAH!!!!" Teriak Nanda frustasi menendang angin berulang kali.


.


.


.


.


.


"Apaan tu Ron?" Tanya Lulba yang berlari mengikuti Feron dari belakang.


"Entah, anggap aja setan lagi disko" Balas Feron cuek terus berlari meninggalkan area sekolah.


"Emang ada ya? Tapi kok suaranya kayak kenal?" Tanya Lulba melirik atap bengkel TAV.


.......


.......


.......


.......


.......


...TBC...