All For Dreams

All For Dreams
Ehe! Walas



Hari perlombaan,


Rumah Feron.


Setelah matahari kembali datang, Feron dengan gerakan cepat diikuti papa Nanda keluar dari PT angker tersebut. Tidak ada kata seindah terimakasih di sertai kecupan pagi Feron berikan kepada papa Nanda yang dengan sukarela mengantarnya sampai ke kota.


Oh~ terima kasih.


.


.


.


Pagi pun tiba, suara kokokan ayam bergelantungan di atas pemikiran absurb Feron yang sedang menatap naskah di depannya serius. Bahkan mukapun belum sempat Feron basuh karna Adam yang sudah menelfon ingin pemeran segera datang dan bersiap di sekolah. Sementara Feron malah lupa naskah dialog. Bagaimana bisa tampil kalau dialog saja Feron lupa.


"Astaga, kenapa dialognya berbelit seperti ular di kepala gua yang cuma 64 GB ini" Ucap Feron menatap frustasi kertas lecek Di depannya.


Drrrrtttt!!!!


Drrrrtttttt!!!!


"Pura-pura lupa aja kalau gua punya smartphone" Racau Feron membalikkan naskah ke halaman selanjutnya.


Drrrtttttt!!!!


Drrrrttttttt!!!


Drrrrrrttttttt!!!!!


Getaran pada smartphone Feron semakin lama semakin menjadi-jadi hingga sang pemilik sampai menggaruk kepalanya frustasi menyumpahi siapa gerangan si penelfon jahanam yang tengah mengganggu konsentrasi mendadak Feron.


"Iya Hallo! Siapa gerangan penggagu jam sibuk gua yang berkah ini!" Bentak Feron langsung memarahi sang penelfon yang entah siapa itu.


^^^[Ooooo, gitu cara kamu ngomong sama ayah ha! Udah berani ya!]^^^


Ah salah sasaran.


Inner Feron langsung beranjak dan pergi ke toilet untuk bersiap kesekolah.


Di ruang makan.


"Iya, saya akan menjemput. Tapi tidak bisa secepat itu. Apa?" Ucap Vein menelfon seraya bolak balik seperti setrika di depan Feron yang kini memperhatikannya dalam diam dengan sesekali menatap sarapan pagi khas buatan sang ayah tercinta.


Feron menusuk telur ceplok kemudian mengangkatnya tinggi.


"Sarapan telur ceplok gosong lagi" Gumam Feron bosan.


Feron mencoba mengenyahkan rasa negatif dari lidahnya dan mulai menggigit perlahan telur gosong itu.


Ctak!!!!


"BERAPA SENDOK GARAM YANG AYAH TABURKAAAAAAAAAAAANNNNNNNNNNNN!!!!!!!!" Teriak Feron melepeh kembali telur ceplok yang baru saja ia makan.


Vein langsung menggaruk tengkuknya canggung "Ehmmm..... Begini, tadi tanpa sengaja semua garam di toples kecemplung ke wajannya (mengusap kedua tangan) jadiii..... Ya..... Gi-gitu deehh hahahahhahahahahahhaha"


"Aaaaaaaa!!!!!!" Teriak Feron tak habis fikir.


Berakhir, lidah Feron sudah berakhir mengenaskan.


...***...


"Ok ok ok. Semua segera pakai atribut mulung seadanya yang sudah kalian pungut di jalan. FERON, LU PEMBUKAAN. JANGAN LUPA PAKAI JASNYA!!!" Teriak Adam mengintrupsi Feron yang tengah mengenakan jas milik sang ayah yang begitu pas dengan badannya.


"Gua gak nyangka, jas bapak gua cukup kecil" Gumam Feron memperhatikan dirinya pada pantulan cermin kecil yang tersedia di kelas 11 DPIB.


"Ron, liat gua" Ucap Nanda.


Feron langsung berbalik, menatap Nanda yang langsung berpose memperlihatkan gaunnya yang begitu indah.


"Gua cantik kan?" Tanya Nanda seraya tersenyum.


"Lebih cantik lagi kalau lu gak pakai ni baju, sepet mata gua liat lu feminim Na-"


Braaaaakkkkk!!!!


"Apaan tu?" Tanya Adam berjalan ke arah Feron dan Nanda.


"Ada ap- HUAAAAAAAAAAA!!!!!!!! NANDA JANGAN KDRT SEKARANG, DRAMANYA BELUM DI MULAI, bagaimana kalau Feron gak bisa tampil?!" Omel Adam membantu Feron berdiri.


"Makasih Dam" Ucap Feron seraya mengusap tengkuknya.


"Sama-sama" Balas Adam.


"Ok semuanya, yok siap-siap kita ke depan. Kita sebentar lagi tampil" Perintah Adam berjalan pergi.


"Lu si! Ngomongnya dijaga dong. Gua udah berpenampilan cantik begini malah di katain yang ngak-ngak" Sungut Nanda menatap Feron marah.


"Iya deh iya, dasar cewek" Balas Feron menepuk pantatnya membersihkan diri dari sisa debu.


.


.


.


"Wah sangat menarik sekali penampilan dari kelas SM, dengan mas Regas tentunya, mmmmhhhhhuuuuuu~" Host langsung melirik Regas yang memberikan ciuman angin padanya dan berkedip sebelah mata memberikan godaan manja hingga sang Host sampai salting sendiri di Podium.


"EKHEM!!!" Dehem pak Kepsek menunjuk jam tangannya memberikan gekstur durasi.


"Oh iya benar juga, ekhem. Maaf-maaf uhuk uhuk!!! (pura-pura batuk) kita akan lanjutkan ke peserta berikutnya. Silahkan tampil kelas 11 DPIB!!!!!!" Teriak host memberikan panggung dan tempat.


Adam berjalan ke atas panggung, mengambil mic dan berdiri di hadapan semua penonton serta juri yang terdiri dari kepsek, buk Rara, buk Olif, serta pak Rizka yang tengah menatap Adam yang langsung bergetar.


Adam kembali mengedarkan pandangan sampai ia menatap sang walas yang berjalan mendekati panggung dengan outfit yang sedikit yaaahhh~



"Jasnya kayak hari ini bersalju aja, apa ngak panas tu badan?" Gumam Adam yang sayangnya malah terdengar oleh semua orang. Mic yang Adam dekatkan pada mulutnya tanpa sadar membocorkan gumaman absurb sang ketua kelas.


Semua sontak langsung mengikuti arah pandangan Adam. Mereka ikut menatap Ryou yang langsung menjadi pusat perhatian semua orang, dengan tampang bertanya Ryou mengedarkan pandangan.


"Apa?" Tanyanya mengedikkan kedua bahu.


"Buk Rara buk Olif, itu guru yang di bicarakan di gosip pagi dua minggu lepas itu kan?" Bisik Rizka pada Rara yang hanya terpelongo menatap pahatan tuhan paling tampan itu.


"Sepertinya benar pak Rizka, itu guru DPIB yang di gosipkan itu, suatu hal aneh baru melihatnya sekarang" Bisik buk Olif tak mengalihkan perhatiannya dari Ryou yang malah tersenyum tampan seraya mengulurkan jempol bangga pada Adam yang langsung balik memberikan jempol.


"Tampan" Lirih kedua guru muda itu, membuat Rizka sontak menatap kedua sahabatnya, Olif dan Rara kaget.


"Hi!? Kalian kenapa? Dia biasa-biasa aja pun" Bisik Rizka tidak terima.


"Ora uruslah pak Rizka" Ucap Rara tanpa sadar malah berdiri dari posisi duduknya dan berjalan ke arah Ryou yang malah asyik mendengarkan Adam yang sudah mulai berbicara di depan panggung.


"Aku bangga pada kalian nak" Gumam Ryou menatap lekat anak-anaknya.


"Permisi" Ryou langsung mengalihkan pandangannya.


"Iya?" Tanya Ryou menunduk menatap Rara yang jauh lebih pendek se-dadanya.


"Sepertinya berdiri disini terasa panas, bagaimana kalau bapak ikut duduk bersama kami di kursi juri saja?" Tanya Rara mulai mengambil tangan besar Ryou dan mengajaknya untuk duduk di kursi juri.


Ryou yang polos malah ikut-ikut saja.


"Bagus Ra" Gumam Olif bangga. Sementara Rizka malah bermuka masam.


"Waw, jadi lebih jelas nonton disini ya" Ucap Ryou senang.


"Tentu aja be*go! Ini kan kursi juri, ya harus jelaslah" Sungut Rizka merotasikan matanya bosan.


"Hahahahahah, di makan pak. Maaf cuma gorengan dingin yang ada" Tawar Olif memberikan gorengan kesukaan Rizka pada Ryou yang langsung menolak secara halus.


"Maaf buk saya tidak makan produk yang di goreng dari minyak jelantah" Tolak Ryou halus.


"Ah benar juga ya hahahahahahha" Ucap Olif meletakkan kembali gorengan itu dan tertawa malu-malu.


Sementara kepsek.


Darah muda rupanya juga di rasakan guru-guru jomblo ini


Inner pak kepsek memaklumi.


Rizka, dia malah menggelantukkan giginya kesal. Bisa-bisanya orang itu merendahkan Makanan kesukaannya.


Dan apa tadi? Minyak jelantah?


Rizka langsung mengambil gorengan itu dan menatapnya, menatap Minyak yang turun perlahan.


.


.


.


Kembali pada 11 DPIB.


"Kisah ini dimulai dari Feron, seorang kepala keluarga yang sudah berisitri dan beranak. Pria sukses yang sudah menjejaki kancah internasional sebagai salah satu Arsitek sukses dengan karya-karya terkenalnya.


Namun seperti kebanyakan manusia brengsek lainnya, ayah dua anak ini, sudahlah punya istri cantik dan dua orang anak tampan dan cantik malah mendua. Sambutlah kisah kami!!!! " Ucap Adam berjalan ke pinggir panggung, mempersilahkan Para pemeran untuk memulai drama.


Feron dan Fiona datang, dengan Feron yang menarik tangan Fiona yang sudah memegang pipi kirinya dan berusaha menahan isak tangis di tarik paksa oleh Feron yang tidak memperdulikan kaki Fiona yang sudah tidak ingin berjalan lagi.


"Mas udah mas, jangan lakuin ini sama aku mas, sama anak-anak! Mas kenapa???? Aaaaaaa!!"


Bruk!!


Dengan tanpa perasaan atau menghayati peran, Feron malah kelepasan melempar Fiona hingga ia nyungsep ke pinggir panggung.


Dajjal si Feron, kalau pengen ngelempar pelan dikit ngapa? Gua kan bisa lebay juga pura-pura jatuh putar-putar.


Inner Fiona mengusap lengannya yang sedikit lecet.


"Fiona! Aku talak kamu!" Ucap Feron menunjuk Fiona bengis.


"Kenapa Mas?" Tanya Fiona langsung berdiri dan berjalan ke arah Feron.


"Apa mas udah gak cinta dan sayang sama kami?" Tanya Fiona menuntut.


"Benar, aku lebih suka makan bakso mang Adi ketimbang ngeladenin kamu ama anak-anak" Ucap Feron ngelantur.


"Ck! Jadi karna mas Adi sering mangkal di mari cinta kamu jadi terbagi, BAIKLAH! KALAU BEGITU MANG ADI GAK BOLEH LEWAT KOMPLEKS INI LAGI! URAAAAAAAAA!!!!!" Teriak Fiona kesetanan.


"Cukup Fio, diam disitu" Bentak Feron malah melempar Jasnya pada muka Fiona yang langsung datar.


"Ak-" Ucapan Feron langsung terjeda menatap Fiona yang kembali berteriak.


"URAAAAAAAAAAA!!!!!"


Fiona tanpa persiapan langsung meloncat ke arah Feron yang tidak siap, mereka berdua langsung ambruk dengan Fiona yang langsung mencekik leher Feron dengan jas yang baru saja ia lempar.


"Bang*sat, gak gitu dramanya Feron ******!" Teriak Fiona semakin mencekik leher Feron sampai sang empunya mengeluarkan lidah.


"KDRT pun terus terjadi di antara suami istri ini. Istri yang tidak terima dan suami yang lupa dialog menjadikan KDRT kita terbalik" Ucap Adam sebagai narator mendekati kedua pemain dungunya dan langsung menginjak tangan Feron yang seketika berteriak kesakitan.


"Dan keesokan hari....." Ucap Adam tersenyum.


"Scan berganti" Lanjutnya dan semua staff (teman-teman) datang untuk mengganti background.


"Feron dimana si? Ditungguin dari tadi gak nyampe-nyampe" Tanya Nanda melirik kiri kanan, bahkan jus yang tengah ia minum kini tandas karna menunggu Feron sampai larut malam.


"Triiingggg"


Suara sound smartphone Anwar di jadikan bel dadakan oleh Adam yang menatap smartphone itu tergeletak santuy di sampingnya.


"Sorry Nan, aku telat" Ucap Feron berjalan dan langsung mengambil duduk di depan Nanda yang sudah menampilkan wajah bosan.


"Telat aja terus, telat" Sungut Nanda merotasikan matanya malas.


"Nan, perhatiin aku deh" Ucap Feron mendekati Nanda hingga jarak muka mereka hanya tinggal 5 inch.


"Kamu harus tau kalau ngelabuin Fiona itu sulit bangetkan? Jadi kamu seharusnya ngasih apresiasi dong buat aku" Ucap Feron manja, membuat ekspresi memohon ampun pada Nanda yang malah langsung luluh dan mengeluarkan nafas gusar, menggaguk dan tersenyum.


"Ok deh, aku maafin. Tapi! (menunjuk Feron) kamu harus janji beliin aku mobil kuda jingkrak keluaran terbaru warna silver baru aku maafin kamu, deal!?" Ucap Nanda, Feron tersenyum dan langsung meraih tangan Nanda dan mengecup punggung tangan itu mesra.


"Deal" Lirih Feron tersenyum.


Sementara itu, Fikri anak Sulung Feron yang sudah mengikuti sang bapak secara diam-diam kini sangat yakin jika sang bapak. BERSELINGKUH!


"Bapak Dajjal, bukannya beliin gua jet pribadi, malah setuju beliin mak lampir mobil kuda jingkrak! Awas aja lu Feron, gua aduin ke mama Fiona lu biar jadi adonan kue lebaran" Bisik Fikri tak terima.


"Gumam Fikri memotret setiap momen Feron dan Nanda" Ucap Adam menjelaskan keadaan.


"Dan begitulah bagaimana Fikri mengetahui perselingkuhan sang bapak, Fikri kesal, Fikri marah, Fikri kecewa, namun demi dapat uang satu milyar, Fikri rela buntuti bapaknya. Saksikan kelanjutan drama gaje ini besok hari karna cuaca semakin panas disini. Terima kasih.... "


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


...TBC ...