
Peta figure ground, terpampang jelas di antara dua orang yang kini saling memandang dalam ekspresi berbeda satu dan yang lainnya.
Dan entah mengapa itu membuat Robert menjadi jengah sendiri, berdiri di antara dua orang yang saling memandang ke arah pantulan in focus tapi malah tembus melewati tembok presentasi.
"Jadi, tuan Adidjaya," Panggil Robert memberi jeda kalimatnya, ia menatap Vein dalam sudut pandang yang berbeda.
Kaki yang menyilang angkuh dengan rokok yang mengapit apik di antara dua belahan bibir tipis pria dewasa itu menjadi pelengkap bertapa kini pikirannya entah melayang kemana.
"EHEM!" Deheman Robert berusaha se-profesional mungkin untuk menyadarkan rekan bisnis di depannya ini.
"Ah, hmm ya. Silahkan di lanjutkan" Ucap Vein langsung merapikan duduknya, debu rokok yang sudah terkumpul di ujung batang rokoknya pun bahkan telah di buang Vein begitu saja ke asbak rokok hingga sepuntung rokoknya sekaligus.
"Baiklah (melirik Vein sejenak) dalam tender kali ini kita akan membahas lebih lanjut mengenai peruntuhan bangunan lama yang telah menempati lokasi pertambangan dengannnn......."
Bsok adalah hari di mana aku akan mencatat arah dan lokasi magang anak-anakku, semoga saja ini langkah yang benar
Inner Ryou memperhatikan presentasi Robert dalam fikiran bercabang, dan semua ekspresi serta fikiran itu juga tak luput membuat Robert jadi menyesal untuk presentasi dengan di kacangin dua orang petinggi sekaligus.
.
.
Rumah keluarga utama Adidjaya.
"Aku ingin Feron langsung yang hadir oma" Dengan suara manis sang cucu bergelung manja mengutarakan keinginannya.
Sementara sang oma hanya bisa menenangkan dengan tangan yang menepuk pelan punggung tangan sang cucu dalam posisi menyandar pada sang oma.
Sang oma beralih menatap ke arah wanita paruh baya di depannya.
"Itulah Jeng, Jeng Miya tau kan kalau Nayla sudah lama menyukai cucu Jeng Miya" Ujar Oma gadis itu bermuka memohon, sementara 'Jeng Miya' yang ia ajak bicara hanya dapat memberikan senyuman pasrah dan langsung mengangguk.
"Pelayan, tolong hubungi Vein. Aku ingin membicarakan masalah pertunangan Cucuku Feron dengan Cucu nyonya Tifanni" Perintah Miya melirik pelayan yang berdiri tak jauh di belakangnya.
"Baik nyonya" Jawab sang pelayan patuh.
.
Rumah Feron.
Pukul 03.00 WIB
"Nghhhhh..." Mata itu terbuka secara perlahan, aroma kamar dan suasana gelap benar-benar membuat perasaan Feron semakin tak nyaman.
"Ini pasti kamar gua" Gumam Feron mencoba duduk seraya memegang keningnya yang berdenyut nyeri.
"Anj*ing memang, bagaimana bisa gua begitu lemah" Ucap Feron menyentuh tengkuknya yang sedikit nyeri.
"Ck! Gua gak perlu nuduh orang, positif thinkhing pasti kerjaan bokap nih!" Geram Feron menatap pantulan dirinya di depan cermin meja rias yang berada tepat di depan kasurnya.
"Vein bang*sat! Anji**innggg sakit bat dah nghhhhh! (menikmati rasa sakit yang makin menjadi di saat kesadaran semakin penuh) Cek smartphone dulu, udah hari apa ni" Inisiatif Feron timbul setelah mencium bau obat bius di bantalnya.
Meraba nakas dengan asal, Feron tak merasakan smartphonenya, aneh ni.
Setelah merasa cukup baik, Feron langsung bangkit dengan perlahan dari kasur. Merasakan sensasi telapak kakinya yang menyentuh lantai marmer secara langsung dalam buaian malam. Namun pikiran mengarah pada smartphone.
"Dimana Smartphone gua?" Tanya Feron mencoba mencari smartphonenya di tempat biasa ia meletakkan smartphone tersebut, namun tidak membuahkan hasil. Feron sampai harus menyorok ke kasurnya untuk meraba kolong penuh debu dan hal-hal yang tak bisa di jelaskan.
Hingga suara telapak kaki yang mendekatinya membuat Feron seketika mendongakkan kepalanya.
"Kamu mencari ini" Ucap suara itu menyodorkan smartphone milik Feron tepat di depan wajah pemuda itu.
"Kenap-"
"Eits!"
Vein langsung menjauhkan smartphone itu dari raihan tangan Feron yang langsung bermuka masam.
"Apaan sih Yah!" Ucap Feron kesal.
Sementara Vein hanya tersenyum, ia berjalan pelan ke arah jendela kamar Feron yang menampilkan taman mawar yang indah. Membuka lebar jendela itu, yang langsung membawa masuk seluruh udara segar.
"Kamu mau ini?" Tanya Vein melirik Feron seraya tangannya memainkan smartphone mahal itu.
Feron mengangguk, matanya yang tajam semakin tajam tatkala menatap Vein dengan Smirk menyebalkannya.
"Mohon maaf anakku sayang, tapi ayahmu ini sudah tidak percaya lagi dengan barang yang selalu kau bawa ini (memandang smartphone Feron jijik) kau tau? " Tanya Vein meremehkan "Selain ituuuu, ups! Kelepasan" Ucapnya ringan.
Dengan sengaja Vein langsung melempar smartphone Feron keluar jendela hingga membuat suara smartphone yang hancur begitu nyaring, Feron tak dapat mengantisipasi kejadian itu dan hanya dapat ternganga di tempatnya.
"Malam anakku, besok tidak usah bangun pagi karna ayah lebih suka kau tidak ke sekolah itu lagi, selamat tidur putra kecil ayah" Ujar Vein berlalu seraya menyentuh ubun-ubun sang anak, mengusapnya dalam belaian sayang dan berlalu pergi dengan senyum kemenangan.
Feron melirik Vein dalam diam dan berlari ke arah jendela untuk melihat smartphonenya yang sudah hancur tak berbentuk di bawah sana.
"Fu*ck you! BI*TCH! Arghhhhhhhhhhhhh!!!!!" Raung Feron kesal memukul-mukul kusen jendela dan langsung berlari keluar rumah untuk mengumpulkan serpihan smartphonenya yang sudah bertebaran.
"Ambil kartu seluler Feron sebelum anak itu sampai ke taman" Perintah Vein pada seseorang di seberang telfon.
.
.
.
Keesokan harinya,
SMK 1,Bengkel DPIB.
"Biasanya kalau pak Ryou datang kayak gini, pasti ni, pasti..." Gumam Adam menatap ke depan kelas.
Dapat terlihat jelas wajah Ryou yang tengah serius memperhatikan layar Ipad apel tergigitnya dalam suasana suram mencekam.
Niat hati ingin bertanya malah di urungkan Adam menjadi hanya menatap dalam diam.
Hingga suara ketukan pintu membuatnya langsung menoleh pada Feron yang bermuka masam, keringat membasahi baju putih pemuda itu hingga menampilkan lekukan otot-otot terlatih.
"Assalamualaikum" Ucap Feron langsung masuk dengan tatapan tajamnya.
"Waalaikumsalam, kok telat Ron?" Tanya Ryou mencoba berbasa-basi. Langkah Feron terhenti tepat didepan Ryou, ia langsung menatap Ryou tajam.
"Kok lo yang masuk!?" Tanya Feron dan langsung melanjutkan jalannya menuju ke kursi di sebelah tas Nanda.
Anwar diam saja, namun pandangan tajam tak sukanya selalu ter-arah pada Feron yang langsung mendudukkan diri di kursi yang sudah di sediakan Nanda, tak perduli jika beberapa hari lalu Anwar ingin duduk di sana malah di Usir, dengan alasan 'bau Feron akan hilang jika kursinya di duduki orang lain'
Alasan bodoh macam apa yang di buat oleh gadis yang mulai di sukai Anwar itu? Tidak mungkin bukan, jika kursi itu menyimpan aroma seseorang yang mendudukinya? Lagi pula, setiap kursi disini selalu berganti penduduknya, apalagi kursi yang sedang di duduki Feron itu. Ah! Sudahlah, Anwar jadi kesal jika mengingat bertapa perhatiannya Nanda pada berandalan seperti Feron yang kini malah di dekati Fiona itu.
Eh, Fiona?
"Shuttt.. Ron" Bisik Fiona mencolek lengan kiri Feron.
"Hmmm" Jawab Feron melirik Fiona dalam suasana hati yang masih marah.
"Kamu sakit apa Ron, sampai mukanya pucat gitu? (modus menyentuh muka Feron yang tengah berkerut kesal) kalau kamu gak datang rencananya hari ini kami pengen berkunjung" Ucap Fiona lemah lembut.
Mendengar kata berkunjung, Feron langsung kaget.
"Jangan, jangan berkunjung. Gua bakal selalu satu langkah supaya lu pada gak bisa jenguk gua" Ucap Feron refleks langsung memandang ke arah depan.
"Nghh-"
"Baiklah, tanpa memperpanjang waktu karna pak Dimas juga ingin memulai pelajaran maka bapak langsung saja ke topik kita," Jeda Ryou menatap seluruh muridnya.
"Karna 2 bulan lagi kita akan menjalani yang namanya Praktek Kerja lapangan atau Magang, maka bapak, atas persetujuan seluruh staff maka akan mencatat dan merekomendasikan tempat magang untuk kalian semua. Di mulai dari perusahaan xxxxxxxxx, mereka menerima 3 orang terbaik, dan disini bapak sangat merekomendasikan 3 orang yang bapak anggap layak dan kepintarannya tak lagi diragukan, yang pertama Adam, Anwar, dan yang terakhir (melirik Feron yang malah asyik mencet keyboard pc) FERON! "
" UHUK! I-iya pak Ryou, kenapa dan apa gerangan?" Tanya Feron langsung memandang Ryou yang air mukanya sudah menunjukkan gurat kesal.
" Kalian bertiga akan bapak sepak ke Pekanbaru dan akan terdampar di sana selama tiga bulan agar kehidupan sekolah guru-guru lainnya dapat aman dan tentram selama pembuat onarnya hibernasi ke pekanbaru, dan maafkan bapak bagi Adam dan Anwar karna menjadi korban, next.....!"
Bahaya ni, Nanda sama siapa coba? Kalau gak ada gua di samping Nanda, tu anak bakal jadi monster berjalan jika gak ada pawang ganteng macam diriku yang super kiyowo ini! Bahaya, si Ryou harus diinterupsi
Inner hati Feron khawatir.
" KEBERATAN HAKIM RYOUICHI YANG TAK TERHORMAT! " Teriak Feron langsung mengacungkan tangannya tinggi.
"Apa!?" Ketus Ryou menatap Feron.
"Bagaimana dengan sahabat sehidup tak sematiku Nanda pak!? Kalau saya magang di sana, nanti Nanda yang cuma bisa magang di sekitar daerah sini pasti bakal kesepian dan gak bisa tidur kalau abang gantengnya jauh dari pandangan pak" Ucap Feron.
"Oh iya, si Nanda (tepuk jidat) bapak lupa kalau dia gak bisa lepas dari kamu, tapi Feron. Tempat magang kamu ini merupakan salah satu tempat magang favorit dan sangat bergengsi lo, yakin kamu relakan demi seonggok gadis bernama Nanda?" Tanya pak Ryou.
"Ngghhhhh.... Itu.... (Feron melirik kiri kanan) ituuuu.... Ngmmmm!!! Ya, saya rela kehilangan tempat magang favorit itu demi teman saya pak, jadi cocokkan saja tempat magang daerah ini untuk kami berdua" Ucap Feron mantap.
"Ya woke kalau gitu, sahabat penuh bubuk cinta ini memang susah untuk di renggangkan" Racau Ryou mengetik sesuatu di ipadnya.
Anwar, di kursinya. Geram, marah, dan kesal. Kenapa dia tidak kepikiran coba.
ASW! Bener juga, kenapa bisa gua gak kepikiran untuk magang bareng Nanda
Isi hati Anwar menjerit kesal.
Sementara Feron, ia memandang ke arah tas Nanda, mengingat jika gadis itu masih dalam tugas passusnya menjaga gawang (pagar utama) ke bahagiaan. Sementara si walas malah langsung menentukan tempat dan teman magang tanpa menunggu Nanda.
Gua gak bakal pernah ninggalin lo Nand, gua janji. Kita bakal selalu bersama.
...***Tbc...
...'Teman magang***'...