All For Dreams

All For Dreams
Theo Story (Jadi narator)



Hi semua, Theo disini. Kali ini gua akan mengambil alih kisah ini untuk beberapa episode kedepan, semoga dapat di baca dengan khidmat.


.......


.......


.......


.......


...All For Dreams ...


......Theo story......


...(Jadi Narator) ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


Hari ini adalah hari pertama gua sekolah di SMK 1, jujur gua merasa sangat senang dapat bersekolah disana.


"Semoga teman-teman gua pada bodoh semua" Gumam gua mulai melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah seraya melirik kiri dan kanan.


Papa benar-benar terlalu perhatian ampe gua jengah dengan perilakunya.


Inner gua menatap bayangan para penjaga dengan pandangan bosan bercampur geram.


"Baru juga hari pertama kamu sudah membuat ulah, astaga. Mau jadi apa kamu setelah diterima betul di sekolah ini!?" Rutuk salah seorang guru kedisiplinan pada murid gemuk yang keliatan malah asyik memandang tiang listrik.


Langkah gua seketika berhenti mendengar percakapan itu dan pandangan senantiasa menatap ke sumber suara namun tak beberapa saat gua lebih memilih untuk kembali menatap kedepan "Astaga, momen pertama masuk sekolah benar-benar menyenangkan" Ucap gua bosan kembali berjalan.


****


Situasi kali ini, semua murid baru sengaja di kumpulkan di lapangan sepak bola di belakang kelas TSM.


Semua murid baru di perkenankan untuk memakai pakaian MOS yang sudah di berikan oleh panitia sebelumnya.


Setiap murid dikelompokkan menjadi 6 orang satu kelompok. Dan beberapa orang yang ada di kelompok gua semuanya tidak menarik, gak keren, dan sepertinya bodoh.


"Nama gua Agung Setya Pribumi, panggil aja Agung. Jangan sunkan kalau mau nyapa" Ujar Agung mengepalkan tangannya di dada.


Sok keren.


Inner gua sewot.


"Berikutnya!" Seru kakak Passus yang menjadi pemandu kami.


"Namaku Prabu Sri Maharani, panggil Rani. Salam kenal" Suara Rani memperkenalkan dirinya.


Sok polos.


Inner gua lagi kesal.


"Nama gua Wika Anggraini, panggil Wika, makasih"


Sok jutek


Isi hati gua memandang jijik Wika.


"Oiiii, berikutnya kamu cepat!" Suara anggota Passus menyadarkan gua.


"Eh? Gua!? Nama gua Theo Bursya Anggara. Panggil Theo" Ucap gua memperkenalkan diri.


"Berikutnya"


Hmph... Memang gak ada yang menarik kalau udah bahas masalah ospek, apalagi gua yang gak punya teman ini. Sungguh miris tapi ya sudahlah.


"Baiklah, setelah jam istirahat kalian semua akan di tugaskan untuk mencari 10 nama kakak kelas yang akan saya umumkan setelah jam-jam berikutnya" Pengumuman dari pak Ibram yang merupakan salah satu guru pembimbing mos kali ini mengistirahatkan semua anak baru.


"Baiklah, saatnya makan bekal sederhana" Ucap gua pergi mencari tempat dingin.


Di tengah pencarian, gua menemukan dua sosok makhluk aneh dengan tampang kelaparan, rasa iba tiba-tiba muncul dalam hati gua yang sudah beku.


Dengan rasa bangga gua langsung membuang lembaran uang merah pada mereka yang sudah terkapar layaknya pengemis 7 tahun tidak makan.


"Nghhhh...." Bunyi satu suara.


"Ron, sejak kapan di Bangkinang ada ujan uang?" Tanya satu orang yang terduduk lemas mulai mendongakkan kepalanya.


Kembali satu orang itu mendongak dan langsung menutup matanya dengan punggung tangan.


"Silau sekali, jin apa yang menghampiri gua?" Ujarnya membuat kedua tanduk imajiner sontak berada di kepala gua.


"Anjir! Dasar dua orang Tunawisma. Udah di kasih rejeki malah yang ngasih di hina!!!!" Marah gua memukul kepala kedua pemuda itu.


"Ngh... Sakit bat dah" Satu sosok tengkurap itu bangkit dan langsung


Bugh!!!


"Jangan pukul kepala orang sembarangan, dasar makhluk manja" Tukasnya menunjukkan tinju pada gua yang sudah tersungkur di rumput.


"A-auch!" Ucap gua kesakitan.


"BERANINYA KAMU MEMUKUL TUAN THEO!!!" Tiba-tiba penjaga yang sengaja bersembunyi akhirnya keluar dan langsung menghunuskan tinjunya ke badan dua pemuda yang baru saja gua kasih kenikmatan uang.


Gua langsung menghela nafas gusar.


Selesai sudah, mereka berdua pasti sudah babak belur dan lari tergesa meninggalkan gua. Hmph! Apa peduli gua? Pastinya mereka akan menerima balasan yang setimpal karna sudah berlaku jahat pada tuan Theo yang terhormat.


Pikir gua menutup mata seraya mencoba bangkit dari posisi kemudian berbalik untuk meninggalkan tempat ini.


Bugh!!


Bragh!!!


Bugh!!!


Drap.. Drap... Drap...


Bugh!


Sudah gua duga, pastinya sel-


"Haaaaaaaa!!!!!!!!!!!!" Teriak suara yang cukup berat di pendengaran gua. Gua langsung membalikkan badan dan sontak terkejut saat apa yang gua ekspetasi kan tak sesuai dengan realita.


"Cuma segitu aja? Cemen bat dah. Padahal gua masih belum mulai" Ujar pemuda tengkurap (nama samaran sementara) mendetakkan kedua jari tangannya bergantian.


"Hmph!!! Ron lu berlebihan, semuanya lu embat gak sisan buat gua" Degus pemuda lemas (nama samaran) tidak terima jadi penonton.


"Heh!? Masih syukur lo gua kasih nendang anu-nya, kan lumayan buat kenang-kenangan hari pertama masuk sekolah udah nendang anu satpam" Balas pemuda tengkurap berucap bangga.


"Serah lu dah" Balas pemuda malas lagi kembali duduk dan bersender di bawah pohon rindang.


"H-hey!! Apa yang sudah lu lakuin ama penjaga gua ha!?" Tanya gua langsung mengecek semua penjaga.


"Kayaknya matanya rabun Ron, lu kasih tau gih. Gua rada malas juga bicara ama makhluk bau uang" Ujar pemuda malas langsung memakai kaca mata hitam seraya menyamankan diri untuk kembali tidur.


"Kok gua si Fi, elu lah. Kan lu tadi bilang kalau pen buat sesuatu yang berkesan pas hari pertama Ospek" Balas pemuda tengkurap langsung melepas kaca mata pemuda malas.


"ASEM DAH RON, LU AJA!!!" Teriak pemuda malas bangkit untuk meraih kacamatanya kembali.


"LU AJA!!!" Teriak yang satunya berlari menjauh.


"LU!" Teriak satunya.


"LU!" Balas satunya tak terima.


Gua terus menatap dua pemuda yang saling bertengkar untuk hal yang menurut gua sumpah gak penting lagi, gua memilih untuk bangkit dan berdiri di antara mereka berdua seraya menampilkan wajah bosan "Hmmm.... Udah-udah. Gua udah gak pengen tau kenapa para bodyguard gua bisa kek gini. Denger gak lo berdua!? Oh ****! Woy dan ok udah!!!" Teriak gua langsung menjewer telinga mereka berdua.


"Auauauauauaua Sakit... Sakit.... Sakit!!! " Ucap keduanya melepaskan tarikan pipi masing-masing.


"Hmph!" Balas gua hendak berjalan namun di tahan oleh sebuah tangan.


"Tunggu bentar" Tarik pemuda tengkurap.


"Ya ada apa?" Tanya gua langsung menaikkan sebelah alis bertanya.


Pasti minta duit


Inner gua hendak mengeluarkan uang kembali.


"Ni uang lo jatuh" Balas pemuda itu memberikan uang yang sengaja gua tabur ke mereka.


"Ha? Udah ambil aja, itung-itung buat jajan lu berdua. Kalau gak buat beli tas baru" Jawab gua menolak uang yang dia kasih.


"Gua ama Alfi gak butuh, kita emang sering cosplay jadi pengemis supaya ngurangin rasa malu orang tua kok, jadi lo gak usah kasihan karna kita belum Yatim" Ucap pemuda tengkurap dengan pandangan tajam menatap gua agar gua mau mengambil kembali uang yang ia sodorkan.


...TBC ...