
"Saat itu hujan deras....."
12 Juli.
Lampu merah Jl. Jend. Sudirman
Pak Sabran tak sengaja menatap pemuda Barat dengan style kantor lengkap tengah duduk termenung di pinggir jalan yang penuh kubangan air. Tatapannya kosong, bajunya penuh darah, mukanya juga di penuhi lebam-lebam kebiruan. Sepertinya pemuda ini baru saja mengalami tragedi yang buruk.
Tak lama, pemuda itu berdiri. Melirik kiri kanan dan kemudian berjalan begitu saja ke arah jalanan.
Lampu hijau bergulir, dan pemuda itu dengan santainya masih berjalan hingga......
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...All For Dreams ...
...Guru dan perasaannya...
.......
.......
.......
"Bapak tidak menyangka, demi Feron. Hmph!" Senyum simpul di sunggingkan pak Sabran tatkala menatap wajah Frustasi Ryou.
Krrriiinngg!! (suara pintu cafe)
"Oh! Ryouichi!!!" Ucap suara itu keras memanggil nama Ryouichi yang langsung menatap ke sumber suara.
"KAU LAMA SEKALI DASAR MENYEBALKAN!!!!!" Marah Ryou menunjuk Geo yang malah asyik menggaruk kepalanya seraya tertawa lebar.
"Maafkan aku Ryou, hahahahaha- loh!? Pak Sabran apa kabar?" Tanya Geo langsung berjalan dan menyalami pak Sabran sopan.
"Tentunya baik Geo" Jawab pak Sabran menepuk punggung Geo pelan.
"Gini dong Ryou, salim orang yang lebih tua baru duduk" Ejek Geo melirik Ryou dari acara sungkemannya.
"Grrrrrrrr!!!!! Sudahlah, ayo kita menjumpai anak-anak pembawa 'berkah' itu!" Komando Ryou langsung berjalan pergi.
"Hoy Ryou, aku belum sempet minum dan Flashback juga ni" Panggil Geo sedikit ada nada ejekan pada kalimatnya.
Triiinnggggg
"Flashback bisa lanjut pas mereka semua ketemu, sekarang lu lari dasar pemuda jompo!" Ejek Ryou pedas langsung keluar dari cafe.
"Ohohoho, kau menyakiti jantungku Ryou hohohoho~" Gumam Geo memegang dadanya mendrama.
.
.
.
"Daffa!" Seru suara itu keras, namun Daffa masih belum melirik barang sedikit saja. Daffa masih menatap Stevan garang.
"HUAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!"
Teriak Daffa langsung melayangkan pukulan pada Stevan.
"Terlalu cepat untuk membuat temanku pingsan di masa libur sekolahnya"
Stevan yang sudah menutup mata dan mencoba untuk melindungi diri dengan kedua tangan di depan wajah perlahan membuka matanya.
"Engh!!!" Lirih Stevan memfokuskan pandangannya menatap punggung tegap Feron yang tengah menahan tinju Daffa dalam keadaan hampir marah.
Terbukti dengan urat tangan Feron yang keluar dari persembunyiannya.
Feron ber-smirk.
"Gua mohon maaf bro, mungkin temen gua nyinggung perasaan lo ja-"
Stevan langsung menyela "Kok lo minta maaf sih Fer!? Udah jelas-jelas ni orang yang cari masalah ama gua! Kenapa lu yang harus minta maaf ha!? Seharusnya dia yang ngomong kek gitu, jangan mau minta maaf!" Sungut Stevan berdiri dan menunjuk Daffa menghakimi.
"Ck! Maksud lo?" Ejek Daffa dalam kalimat tanyanya.
Grrkkk!!
"Ha!?" Gumam Feron saat tangan Daffa terlepas dari cengkramannya.
"Mood gua sedang gak baik! Cuih! (meludah) jadi apa salahnya kalau gua cari mangsa!?" Seraya tersenyum iblis Daffa menatap Feron lapar ingin membunuh.
"Huh!" Dengus Feron ikut menatap Daffa.
"Jangan sok keras bang~ kita gak mau cari ribut, jadi kami und-"
Tap!
Zwiiiissshhhh
Slab!!!
Dengan ringan Feron kembali menangkap pukulan Daffa, air muka Feron datar tatkala ia menarik tangan Daffa mendekat ke arahnya.
"Jangan berani-berani cari masalah ama gua" Ucap Feron datar penuh ancaman.
Krak!!!
Bam!!!
Feron langsung membanting Daffa ke paving block hingga sang empunya terbatuk keras.
"Uhuuukkk uhukkkkk!!!" Batuk Daffa tiada henti.
"DAFFAAAA!!" Teriak Vion berlari ke arah Daffa yang sudah tergeletak tak berdaya.
"Batuk pak aji di k-mmmmmmhhh!!! Mhhhhmmm!!!!"
"Suara lu ganggu situasi aja Lul, baek lo makan ni ampas roti gua kemaren" Ucap Theo semakin memasukkan ampas roti kedalam mulut Lulba yang seenaknya berbicara tak pandang situasi.
Setelah memasukkan ampas roti secara paksa, Theo langsung memandang sekitarnya.
"Loh? Kok rame ni?" Tanya Theo menatap banyaknya kerumunan yang berkumpul membentuk lingkaran di sekitar mereka, ada yang memotret dan ada juga yang hanya memperhatikan seraya berbisik.
Sementara Feron, melihat banyaknya orang yang berkumpul melingkarinya membuat perasaan Feron seketika kalut dan langsung menarik Stevan untuk pergi.
"Gaes!!! Kita pergi!!!" Teriak Feron tak lupa dan sempat-sempatnya malah menginjak perut Daffa hingga sang empunya hampir saja muntah.
Feron melirik "Jangan cari masalah kalau gak mau kena masalah" Ucap Feron dengan suara yang hanya bisa di dengar oleh Daffa, Vion, Stevan dan Feron sendiri.
"Ck!"
Di tengah rasa sakitnya Daffa mencoba bangkit.
"Woy anak Doggie, kita bakal ketemu lagi! Dan disitu gua bakal buat lo betul-betul bakal sujud ama gua!!!! Tapi sebelum itu," Feron kembali melirik Daffa.
"Kenalin nama lo kalau lu emang jantan!!" Sanggah Daffa.
"Hmph! Feron, Alferon Adidjaya. Anak SMK 1 B.... Dan satu-satunya orang yang gak pengen liat muka buluklu lagi" Jawab Feron.
"Ck! Feron!!!! Kita bakal berjumpa lagi. Gua janjiin itu ama lo!!!!! Gua Daffa Muhammad! Lawan baru lo!" Teriak Daffa...
"Gak usah drama banget baaaannnggg!!!!" Teriak Theo menjawab Daffa yang langsung kesal.
"Apa lo-"
Krriiiinnnggggg!!!!
Daffa beralih merogoh sakunya dan mengangkat panggilan.
"Hallo Do- Ck! Yuna" Tatap Daffa tajam pada seberang jalan.
.
.
"Cepet pake helm kalian, gua pen turu!" Ucap Feron memasang helmnya.
Garp!
"Jangan kemana-mana dulu!!" Ucap satu suara mengintrupsi kegiatan Feron.
Aura ini!!!
"AMPUN PAK GEEEOO!!! UUUUU!!!! AMPUN!!!" Teriak Alfi menangis bombay.
Pluk!! Pluk!!! (suara helm Alfi di pukul Geo)
"Untung bapak baek jengukin kamu ampe Pekanbaru, coba kalau bapak gak baek. Sudah jadi apa kamu di kota ini ha!? Seharusnya kamu bangga menjadi anak bapak! Jangan bikin ulah dan buat bapak gak laku-laku! (Curhat)" Ujar Geo terus memukul helm Alfi hingga sang empunya sedikit pusing didalam helmnya.
"Huhuhuhu ampun papa Geo yang jones huhuhuhu" Mohon Alfi menyatukan kedua tangannya seraya memberikan gekstur sedih.
Plak!!!
"Singkirkan ucapan jahanam itu!!! Ini semua karna kalian aku malah di panggil duda anak banyak oleh mbak-mbak kasir ind*maret!!! LAIN KALI JANGAN IKUTI BAPAKMU YANG SEDANG ASYIK BERBURU CINTA" Teriak Geo langsung mengeplak helm Alfi lagi, kali ini pukulannya bukan main kerasnya hingga membuat Alfi terjerembab ke tiang parkiran.
Sementara Feron, sudah berkeringat dingin menatap Ryouichi yang sudah bermuka seram menatapnya.
"Gulp! Saya bisa jelaskan" Ucap Feron ketakutan.
"Kalian juga! JANGAN PIKIR KARNA WALAS KALIAN TIDAK HADIR KALIAN BISA HURU-HARA BEGITU SAJA!!! MEREKA MENITIPKAN KALIAN PADA KAMI BERDUA!! JADI BERSIAPLAH DI HUKUM!!!" Teriak Geo menyunggingkan senyum kejamnya.
Sementara Theo yang tak sengaja menatap siluet seseorang kini hanya bisa waspada.
"Ck! Udah gua duga pasti di ikuti" Gumam Theo merasa jengkel.
...***...
Sementara itu.
"Hallo tuan, target dalam radius aman, namun sedang di introgasi oleh seorang pria pemarah" Ucapnya menatap kedepan.
"........."
"Baik tuan, akan saya laksanakan" Jawabnya mantap dan langsung menutup panggilan.
"Tuan Theo, akhirnya anda mau kembali juga" Gumamnya bersyukur.
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
... ...
...TBC ...