All For Dreams

All For Dreams
Theo Story (Sadar posisi)



...All For Dreams ...


...Theo Story...


...(Sadar posisi) ...


.............


.......


.......


"Tertulis pemenang lomba cireng sebagai berikut" Ucap gua membaca isi dari pesan bang Darjot yang tidak punya modal. Kertas HPS bekas di tulis tangan dan di tempel pake nasi aking di depan kaca mading.


Sungguh pintar otaknya.


"Lu juga lulus ya The, coba gua liat lu urutan berapa hmm...." Lulba mendekati kertas dan membaca dengan cermat.


"Asik! Lu peringkat 30 dari 30 peserta Theo, selamat ya. Bagi-bagi kepintaran dong ama gua yang dapat peringkat 4. Hmph! Dikit amat angkanya, Lulba jadi kesel deh" Ucap Lulba kesal.


Kenapa? Kenapa gua bisa peringkat terakhir?


Drap


Drap


Drap


"Ron Ron, udah ada pengumumannya nih" Ucap suara itu, Alfi memegang tangan Feron yang bermuka lemas.


"Biarin aja napa Fi, biar yang lain liat dulu. Palingan kita di diskualifikasi gegara gak dapat rendang" Balas Feron memilih menyandar nyaman di tiang perpus.


"Ah mane teh, kita tu harus termotivasi supaya bisa dapat opor ayam dengan liat ni kesek" Balas Alfi langsung merobek kertas pengumuman bang Darjot dan membawanya ke hadapan Feron yang malah tidur.


"Hmmm... Biar gua liat lu dapat peringkat berapa....."


Setelah memperhatikan cukup lama "Idih, kasian banget lu Ron, cuma dapat satu poin. Masih mending gua dapat dua poin. Tapi kayaknya kita gak bisa menang opor ayam dah. Baik gua balikin aja ni selembaran sebelum yang lain ngeroyok" Ucap Alfi kembali menempel kertas dengan air ludahnya dan menarik Feron pergi.


"Baek kita cari cireng ke kekantin kak Sima" Ucapnya sebelum benar-benar hilang di persimpangan ruang koperasi.


"Itu beneran Feron yang kemaren kan!?" Ucap Lulba syok.


"Kok calm?" Tanya Lulba lagi dengan tatapan ketakutan.


"Gak tau dan gak perduli" Jawab gua berlalu pergi.


Tapi kenapa bisa Feron yang ranking satu?


...***...


Di kedai Janda, pukul 07.30 WIB.


"Baiklah, kali ini gua sengaja nyuruh lu semua buat ngumpul dimari. Alasan gua gak lain dan gak pengen cari muka adalah mengetes mental kalian menghadapi pak Puad dan Pak Ibram serta Pak Beno sebagai guru undangan dalam kegiatan ini" Ujar bang Darjot seraya menghisap rokok sem*purnanya dengan khidmat.


"Kami pen lihat dan ingin mencari bibit unggul sebagai penerus kami kelak" Lanjut bang Jamet berwibawa.


"Karna kami tau, kelulusan akan mendatangi kami tidak lama lagi" Imbuh bang Tomi melipat kedua tangan di dada.


"Jadi untuk sesi kali ini gua pengen lu pada kerja sama atau apalah terserah, buat jebak para guru supaya mereka gak bisa ngejar kita ampe masuk pagar yang kuncinya di sembunyikan oleh Ical. Lu juga harus hati-hati sama anggota Passus yang berjaga di sekitaran area sekolah. Jadi misinya adalah, jebak para guru, temukan kunci pagar dan buka supaya para anggota senior dapat masuk" Terang bang Jamet di papan tulis mini yang di genggam bang Iwan.


Sepertinya misi ini cukup sulit


Inner gua melirik sekitar hingga gua menatap muka datar Feron kembali.


Dia aneh dan misterius, apakah gua bisa minta tolong ama dia nantinya?


...****...


Misi dimulai pukul 08.49 WIB


Semua sesuai dengan apa yang di ucapkan bang Jamet, posisi para guru juga.


"Apa rencana yang haru gua buat?" Tanya gua mengintip dari balik semak-semak.


"Kalau mau saran The, gua punya" Tiba-tiba Lulba nimbul dengan alat penyamaarannya yang berupa.


"Ngapain lo pegang ranting pohon?" Tanya gua melirik Lulba yang berusaha serius memperhatikan keadaan.


Duagh


"Sejak kapan Sherlock Holmes ngucapin itu be*go" Ucap gua marah pada Lulba.


"Sejak gua yang ngomong" Jawab Lulba.


"Gua pura-pura budeg aja deh" Akhir gua kembali memantau keadaan.


"Hmmm? Stevan? Berani sekali dia"


Stevan Anggara, panggilan Stevan. Orangnya rada cuek dan tertutup. Kayaknya dia orang yang ambis.


Kini si Stevan malah berjalan santai menemui Bang Ical yang lagi nongki di pos jaga.


"Sepertinya mereka terlibat perdebatan" Gumam gua semakin menajamkan pendengaran dan pandangan.


"Wihhhh, keren Stevan. Dia berhasil dalam satu kali percobaan. Go Stevan Go!" Bisik gua menyemangati.


"Errrrrr... Kayaknya lo harus pake ins*to dah" Ujar Lulba menunjuk Stevan.


Gua langsung menatap Lulba malas "Ngapain sih lo Lul, syirik banget liat kesuksesan orang. Lu liat tu perjuanga- HUAAAAA!!!!!" Teriak gua menatap Stevan.


"Sesat tu orang, dia ketangkep anying! Kayaknya kita harus tolongin dia dari Mr. Puad!" Tegas Lulba keluar dari persembunyian.


Disisi Stevan.


"Tertangkap juga kamu. Baru juga seminggu masuk SMK udah sok mau jadi berandalan tukang cari masalah!" Marah pak Puad menarik kerah baju Stevan yang berusaha melepaskan diri.


"Ck! Gua punya tujuan pak. Ini semua gua lakuin untuk hal tersebut" Balas Stevan mencoba meraih tangan Pak puad yang menghalangi langkahnya.


Drap!


Drap!


Drap!


"LEPASIN KOMPLOTAN GUA!!" Teriak Lulba berlari ke arah Pak Puad yang tidak sempat menghindari pukulan.


GEDEBUG!


"Lari Stev! Selamatin kuncinya" Perintah Lulba yang menghadang pak Puad.


Sementara Stevan hanya dapat melihat dengan tatapan nanar perjuangan Lulba yang berusaha melindunginya.


"Ck! Makasih" Ucap Stevan berlalu pergi.


"S-sial!" Gumam pak Puad.


"Bapak main ama gua dulu ya" Ucap Lulba tersenyum.


...***...


"Fer, kita gak nolong?" Tanya Alfi memperhatikan Stevan dan Lulba.


"Biarin aja, entar kalau udah genting baru kita bantu" Balas Feron tak perduli.


"Dasar pahlawan India" Sindir Alfi menatap ke arah Stevan.


"Emang lebih enak jadi yang terbelakang, selalu di sorot dan gak banyak buang tenaga" Balas Feron menyamakan diri tidur di atap rumah singgah SMK.


"Boleh juga lu" Jawab Alfi.


"Gak perlu komen buat tau gimana prosesnya" Lanjut Alfi bergumam.


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


...TBC ...