All For Dreams

All For Dreams
Dikejar pengakuan



Kini Regas tengah berdiri jengah, dipepet tiga gadis centil cukup membuatnya risih apalagi Dira yang semakin memeluk lengan Regas kuat bermaksud untuk menunjukkan melon kembarnya pada sang gladiator asmara itu namun bukannya tertarik, Regas malah semakin jijik.


Tidak ingin menggubris, Regas mengalihkan tatapannya ke langit. Ia memilih memandang awan yang disinari cahaya sore.


Kayaknya menjadi Ragas sesekali enak juga


Inner hati Regas.


"Patut di coba" Gumam Regas kembali berjalan meninggalkan Gor.


Sebenarnya bukan niat Regas ingin pergi begitu saja, namun karna melihat Feron meliriknya dan memberikan perintah untuk berjaga diluar saja, akhirnya membuat Regas urung, walau hati ingin mengekori sang ketua, mana tau dapat perhatian dari Nanda.


Begitu juga dengan Theo, Ragas dan teman-teman lainnya. Seharusnya mereka mengamankan area dalam, tapi karna paksaan Feron, bahkan Alfi sampai tidak dapat berkomentar dan hanya bisa mengeluarkan nafas gusar mengikuti yang lainnya berjalan pelan meninggalkan area pertandingan, namun ia urungkan setelah 'melihatnya' datang.


Disisi Afni.


"Kenapa lo bisa disini?" Afni mulai gemetar, rasa tak percaya melihat pemuda ini membuatnya hampir kehilangan gravitasi.


"Emangnya kenapa kalau gua disini? Lo keberatan kah?" Suara pemuda itu mendekati Afni.


Afni yang melihat pemuda itu semakin mendekat sontak mundur tidak ingin didekati.


"Gua peringati supaya lo berhenti" Ancam Afni melangkah mundur.


"Kenapa?" Tanya pemuda itu menyeringai.


"Lo masih nanya kenapa lagi?!" Suara lainnya datang, disana Alfi tengah berjalan pelan menghampiri Afni dan pemuda itu.


"Cih! Hmmm... Alfin Muhammad Hasqi , sudah lama ya" Ucap pemuda itu berbalik menatap Alfi.


"Reno!" Sontak Alfi terkejut .


"Terkejut? Welcome back for me, benarkan?" Reno beralih berjalan kearah Alfi dan meraih kedua pundaknya seraya berbisik.


"Makasih udah masukin gua ke penjara Alfi, berkat lo gua gak bakal bisa sedendam ini sampai rasanya ingin membunuh lo sekarang juga" Bisik Reno dendam.


"Hmmm!!" Reno tersenyum miring, melihat ekspresi wajah Alfi yang langsung mengeras.


"Bagaimana lo bisa?" Tanya Alfi menahan emosi.


"Bagaimana ya~" Reno beralih melirik Afni yang hendak kabur.


"Setidaknya ada satu orang baik hati dengan kekayaan berlimpah memberi gua kebebasan nan menyenangkan ini" Jawab Reno memperhatikan Afni yang langsung kaku ditempat.


"Ck! Jangan berbelit Reno, kedatangan lo kesini saja sudah ganjil! Bahkan untuk mempercayai ucapan lo aja rasanya begitu mustahil" Sinis Alfi menunjuk Reno penuh amarah.


"Ck... Ck.... Ck.... Gua hanya bilang fakta Fi, selebihnya terserah kalian. Dia dekat namun tak terlihat" Satu ucapan terakhir Reno sebelum benar-benar pergi.


"Dan ingat ini Alfi, KATAKAN PADA FERON KALAU RENO KEMBALI UNTUK MENTATO KAKI KANANNYA KARNA NAGA TIDAK BISA SENDIRI, HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!!!!" Dengan berakhirnya teriakan itu, Reno menghilang di antara kerumunan para panitia dan peserta yang keluar.


.


.


.


Reina yang sudah di amankan kini malah tersenyum misterius.


Cklek!!


" HA? " Kedua petugas keamanan sontak memandang kearah pintu yang terbuka.


"Lepaskan gadis itu, dan kalian boleh pergi" Perintahnya menyerahkan dua amplop tebal ke masing-masing petugas yang langsung berlalu pergi.


"Terima kasih banyak bos" Ucap kedua petugas itu kompak.


"Kerjamu cukup bagus Reina" Ucapnya mengambil duduk di depan Reina yang tersenyum masam.


"Ck! Seharusnya gua gak boleh kalah hanya karna tendangan bayi itu" Geram Reina memandang kepalan tangannya.


"Itu kan memang misinya" Balas Reno yang baru saja datang.


"Kakak! Seharusnya kakak melihat bagaimana aku mematahkan tangan gadis itu" Seru Reina marah tidak melihat sang kakak menonton pertandingannya.


"Hmph! Aku melihatnya Rei, itu sangat indah" Balas Reno mengusap kepala sang adik bangga.


"Ekhem! Bagaimana dengan pertandingan yang harus di pending ini?" Tanya juri pertandingan pada pemuda yang duduk didepan Reina.


"Bagaimana menurut anda Maha guru?" Tanya 'pemuda' itu melempar pertanyaan.


"Saya terserah pada anda saja Tuan" Balas maha guru menutup mata.


"Hmph!" pemuda itu tersenyum miring menunjukkan gigi grahamnya yang panjang. Ia berdiri dan memilih untuk keluar ruangan, tapi sebelum benar-benar pergi, ia memilih untuk melirik Reno.


"Baiklah kalau begitu, asistenku akan mengurus sisanya. Menangkan Nanda Triasla dan jebak Alferon Adidjaya, dan tentunya untuk menjebaknya itu urusanmu Reno" Ucapnya menepuk bahu kanan Reno yang meliriknya dengan senyum psiko.


"Tidak masalah" Jawabnya mengekori pemuda itu.


"Hey, bagaimana dengan nasibku?" Tanya Reina berdiri dari kursi.


"Kau akan menerima hadiahmu Reina, lain kali buatlah aku lebih bangga" Ucapnya.


Reina tersenyum bangga dan mengangguk semangat mengantar kepergian pemuda itu dan sang kakak.


Di tempat Feron dan Nanda.


"Sakit anying!" Teriak Feron kesakitan.


"Kalau gak sakit gak luka namanya bego!" Balas Nanda mengomeli Feron yang hanya dapat menggeram menahan usapan kasar Nanda pada lukanya.


Nanda dan Feron kini tengah berada di ruang istirahat, dengan posisi Feron yang memunggungi Nanda. Bajunya kini disingkap hingga memperlihatkan keseluruhan punggung.


Salep senantiasa di oleskan Nanda pada luka memar di punggung putih itu.


"Habis ini lo harus istirahat dulu" Petuah Nanda munurunkan pakaian Feron hingga menutup punggungnya.


"Iye-iye" jawab Feron malas seraya merapikan bajunya.


"Eh, btw lu buat cerita online ya?" Tanya Feron disela Nanda yang membersihkan peralatan P3k.


"Eh? Darimana lo tau?" Tanya Nanda sontak menatap Feron yang juga menatapnya.


"Jangan remehin gua Nan" Jawab Feron memegang dagunya bangga.


Sebenarnya gua bongkar hp lu dan nemuin tu cerita, jadi kebaca dah hahahahah, untung lo dah publish, jadi alasan gua agak real dah jadinya. Dasar, lu hebat banget Feron, gua bangga ama diri gua sendiri


Inner Feron ber-smirk kemenangan.


"Tolong karakter gua buat lebih manly lagi ya, gua kurang suka jadi orang pasrah" Perintah Feron berkacak pinggang pada Nanda yang langsung menatapnya jijik.


"Serah gua lah nying, orang juga cerita gua. Kok lo sewot amat" Balas Nanda memonyongkan bibirnya.


"Bukan sewot, tapi citra kece gua hilang sama tu pacar ajaib lo, anying!" Balas Feron menggaruk kepalanya geram dengan pola pikir sang sahabat.


"Dan-"


"Nanda Triasla, silahkan ke podium untuk pengumuman pemenang pertandingan yang sempat tertunda" ucap seorang panitia pada Nanda dan Feron yang langsung bermuka masam.


"Ck! Cepat pergi sono, entar piala lo hangus" Dengus Feron membelakangi Nanda seraya melipat tangan didadanya, ceritanya ngambek.


"Eh? Iyadeh" jawab Nanda ingin berlalu pergi namun jika bukan sekarang kapan lagi Nanda bisa mengatakannya bukan?


"Oh iya Fer, jangan terlalu dekat ama Afni, kayaknya dia gak pantas dekat sama lo" Ucap Nanda membuang muka dan ingin berlalu pergi.


"Lu cemburu ya?" Tanya Feron masih memunggungi Nanda yang sontak langsung emosi entah karna apa.


"HA!!?" Nanda langsung kembali memperhatikan punggung Feron dengan emosi yang sudah sampai ke ubun-ubun.


"Apa lo bilang!? Cemburu? GUA CEMBURU SAMA KECEBONG MACAM LU!? HELLO~ SORRY YA, ANWAR SAMA REGAS LEBIH GANTENG WALAUPUN CUMA PEMAIN FIGURAN DI CERITA INI, DAN KALAUPUN GUA SUKA AMA LU PASTINYA GUA BAKAL BILANG 'FERON GUA CINTA AMA LU, JANGAN DEKAT-DEKAT AMA TU MAK LAMPIR AFNI KARNA DIA UDAH PUNYA SI BRUNO, JADI TOLONG LIRIK GUA DIKIT NAPA?' ups! " Tiba-tiba saja Nanda keceplosan dan sontak langsung menutup mulutnya rapat.


Ia memandang Feron yang sontak berbalik menatapnya tidak kalah terkejut.


" Ap-"


" LUPAKAN! " Teriak Nanda keluar dari ruangan itu, menyisakan Feron yang langsung loading di tempatnya.


"Ck! Jadi ini yang disebut guntingan dalam lipatan" Gumam Regas berlalu pergi meninggalkan pintu keluar ruangan itu.


******


Reina dan Nanda saling melirik, Nanda disudut kanan dan Reina di sudut kiri. Kini tatapan Reina malah berganti bosan. Sungguh sangat aneh? Kenapa dia bisa berubah secepat ini?


"SELAMAT KITA UCAPKAN, PERTANDINGAN DIMENANGKAN OLEH SUDUT KANAN KITA, NANDA TRIASLA, SELAMAT KITA UCAPKAN!!!" Ucap wasit kepada Nanda yang langsung diserahkan piala dan kalung medali sebagai tanda kemenangan.


Prok!!! Prokkk!!! Prokkk!!!


Semua bersorak dan memberikan tepuk tangan meriah pada Nanda.


Nanda tersenyum atas kemenangannya, ia memandang sekitar, kepada seluruh teman-teman kelasnya, kepada Alfi, Anwar, Regas dkk, dan Feron yang hanya menatapnya geram.


Nanda langsung membuang muka tidak ingin menatap Feron yang seperti ingin melompati Podium kembali.


"Pernyataan lo cukup blak-blakan ya Nanda Triasla" Ucap Reina dengan smirk aneh, membuat Nanda langsung menatap gadis itu.


"Setidaknya pengungkapan lo cukup untuk memulai perang gank berikutnya" Lanjut Reina mengambil tangan Nanda dan menyalami singkat, memberikan selamat atas kemenangan yang disengaja olehnya itu.


"Apa?" Gumam Nanda ingin bertanya lebih, namun Reina sudah jauh di ujung lorong.


Disudut tempat duduk penonton.


"Hmph! Rencana perang gank berikutnya harus memakan korban jiwa Reno, aku tidak ingin menerima kegagalan" Ucap orang itu berlalu pergi dari bangku penonton yang cukup jauh, meninggalkan Reno yang langsung menatap Feron dengan aura membunuh.


"Siap bos" Gumamnya mengepalkan tangan seraya tersenyum psikopat.


"Pastinya dengan tambahan pesta darah" Lanjut Reno ikut berlalu pergi dari tempat itu.


...TBC...