
"Feroooooonnnnn" Ujar Alfi slow motion dan berlari layaknya Film india di tengah lapangan sepak bola.
Sementara Feron di depannya, malah ikut merentangkan tangan seraya tersenyum ala rajh yang lagi senyum ama angeli pas adegan nyanyi tum ko hamise cupalo. (pasti salah)
"Aaaaaaaahhhh" Mereka akhirnya berpelukan, Alfi sengaja memeluk Feron erat, hingga membuat Feron hampir kehilangan nafasnya namun demi rasa profesional, Feron bertahan.
"Oh Ferongeli" Gumam Alfi merindu, ia menghirup dalam aroma jigong Feron yang jujur bau.
"Ya Alfitrajh" Jawab Feron ikut memeluk dalam.
"Ku pikir kita tak akan bertemu" Balas Alfi menitikkan air mata buaya.
"Aaaaaa jangaann~ katakan begitu Alfitrajh, tolong jangan katakan kalimat jahanam itu aaaaaaa~" Feron berbalik seraya menangis ala wanita yang tak sanggup kehilangan belahan jiwa. Memegang kening seperti sakit kepala dan air muka mengerut layaknya sesak be*rak.
Tap!
"Jangan begitu Ferongeli! Haaaaaaaahahahahahahahahaha hum ko hamise churaa lo dil me-"
Plunk plank!!!!
Bruukkk!!
"Aduuuuhh" Gumam kedua pemuda itu terjatuh dengan kepala yang sudah benjol.
"Nyanyi lagi awas aja lo! Udahlah suara lo pecah, pake teriak lagi! " Kesal Nanda menghembus kepalan tangannya yang berasap.
"Datang dari mana ni makhlukkk? " Tanya Feron mengusap kepalanya.
"Mungkin negeri prindafan" Balas Alfi bangkit.
"Prindafan kepala lu berdua peang, lagian ngapain sih lo berdua keluar di jam pelajaran seperti ini? Mana buat adegan ho*mo lagi jijik ASW!" Kesal Nanda masih ingin memukul kepala kedua pemuda idiot ini namun refleks di hindari oleh Feron dan Alfi yang masih merasakan sakitnya pukulan gadis bar-bar itu.
"Bukan begitu maksudku Prinanda, makssss (menciut dan mengalihkan pandangan) maksudnya kita berdua cuma pengen melepas rindu gitu lo Nannddd, lagian tiap gua telpon ataupun chat si Feronnya gak pernah jawapin" Balas Alfi alay seraya mengerucutkan bibir ingin imut.
"Tapi gak gitu juga anak gen*deruwo! Lu bisa kan gaya santai ala cowo pada umumnya gitu, gak usah alay ala film india juga (frustasi) untung cuma gua yang liat, sempat yang lain apa lu berdua gak malu?" Tanya Nanda menggebu,
Kedua pemuda itu melirik kelas SM, diikuti oleh Nanda yang langsung syok di tempat.
" WOY! BELAJAR LU NGAK!? BELAJAR LU ANJ*ING! GAK USAH MERHATIIN ADEGAN BEGOK INI ASW!!!! " Nanda langsung melempar batu pada kelas itu, membuat semua pemuda kelas SM langsung kembali duduk, meninggalkan jendela tempat mereka merekam adegan tiga sahabat bobrok namun jenaka ini.
Nanda kembali menatap kedua sahabat itu dalam perasaan marah.
" Apa lu gak malu ha?"
Atensi Nanda mengatakan jika mereka akan diam saja, namun anggukan tiba-tiba dari kedua sahabatnya seketika membuat Nanda langsung pingsan di tempat.
" Eh! Nand, Nand! Jangan tidur di lapangan ini juga kali Nand. Hey.. Heeeeeee........... "
Suara panggilan Feron semakin melemah dalam pendengaran Nanda yang semakin tak jelas.
.
.
.
"Nghhhh.. Dimana gua?" Tanya Nanda dengan suara serak.
"Di kantin, ya di UKS lah!" Balas suara itu, Feron. Datang dengan nampan berisi makanan lezat.
"Eiihhh, gak nyangka gua. Cewek setangguh Nanda juga bisa pingsan" Ucap Alfi tersenyum jenaka.
"Ya bisalah ASW! Gua juga manusia kali" Balas Nanda ketus.
"Adduuuuuhhhhh, tajam banget dah omongan cewek pms" Lanjut Alfi mengerucutkan bibirnya seraya melempar satu bungkus softex ke arah dada Nanda.
Nanda menatap dalam diam, softex dan dua sahabatnya. Softex dan dua sahabatnya terus seperti itu hingga Feron berbicara.
"Tadi lu pingsan, selain karna maagh lu yang kambuh kata ibuk uksnya lo juga lagi nyeri pms. Saran dari ibuk uksnya, lo di suruh istirahat dulu dari kegiatan jaga gawang, dan banyakin istirahat aja di kelas. Oh iya, Btw nyeri pms tu gimana si?"
Tanya Feron dan muka Alfi yang langsung cerah ingin nimbrung mendengarkan.
"Bukan urusan para belalai sinting seperti lo berdua, btw kayaknya gua belum pake ni barang deh" Ucap Nanda di akhiri gumaman menatap bungkusan softex yang ia angkat tinggi.
Mereka berdua tersenyum mesum menatap Nanda yang langsung berwajah suram.
..
"!"
"KELUAR LU BERDUA! DASAR PRIA MESUMMM!!!"
Plakkk!!!
Blammm!!!!
Pintu di tutup dengan kencang, menyisakan dua pemuda yang sudah terduduk paksa di lantai koridor. Mereka berdua saling bertatapan, hingga pak Ibram datang mengintrupsi.
"Ngapain kalian berdua cosplay jadi pengemis gitu?" Tanya Pak Ibram menatap aneh kedua pemuda yang ikut menatapnya dalam tanda tanya.
Cklek!
"Yok pergi, udah bosan gua di UKS mulu-eh pak Ibram, yooo~" Ucap Nanda menunjuk Pak Ibram ala swag dan berlalu pergi.
"Kenapa tu anak?" Tanya pak Ibram.
"Biasa pak, lagi palang merah" Jawab Alfi berlalu diikuti Feron yang berlari mengejar Nanda.
"Nan, Gua belum videoin lu lagi gan-"
Brukkk!!!
Satu sepatu Nanda berhasil mengenai Kening Feron hingga ia terjatuh ke lantai dengan keadaan mengenaskan.
"Jangan sampai sepatu berikutnya nganterin lo ke UGD dasar sahabat saraf!" Teriak Nanda marah.
"Woke sayaaanggggg" Balas Feron mengacungkan ibu jarinya seraya bangkit mengikuti Nanda ke kelas mereka.
Di perjalanan.
"Nand" Panggil Feron serius.
"Hmmm apaan?" Tanya Nanda membuka chiki-chiki rahasia dari kantung roknya.
"Tadi pak Ryou ngomongin masalah magang, " Jawab Feron memandang ke arah berbeda, sementara Nanda dan Alfi malah berebut chiki di tangan Nanda.
"Pelit lu Nan" Ucap Alfi mengerucutkan bibirnya
"Serah gua lah, orang ini chiki-chiki gua" Ketus Nanda.
Feron melirik mereka berdua, dan hanya dapat memandang dalam kebosanan.
"Dia rekomendasiin gua di Pekanbaru-"
Nanda langsung membeku bersama Alfi yang langsung menatap Feron, mereka berhenti berjalan. Chiki-chiki Nanda tak luput terjatuh saat pandangan mata itu seketika menyendu.
"Pasti lo terima kan" Ucap Nanda lemah, ia langsung membuang chiki-chikinya yang hanya tinggal bungkusan saja dan berjalan pelan untuk bersandar di tiang bengkel MM.
Sementara Alfi langsung menyilangkan tangannya, berwajah serius seraya berkata.
"Gak apa-apa Nand, kalau si Feron ke Pekanbaru, gua masih di BKN kok buat nemenin lo" Ujar Alfi menepuk punggung Nanda yang langsung menatap Alfi dalam senyum sendunya.
"Eits dah! Jangan langsung ambil kesimpulan kalau gua nerima dong, gua gak bakal nerima kalau lu gak ada Nand, tadi pas lo lagi kegiatan passus gua langsung menolak penuturan si Ryou itu. Gua bilang kalau gua di Bkn aja sama lo. Biar aja, walaupun tu tempat paling recomended se-Indonesia, kalau gak ada lu di samping gua, gua pastiin bakal nolak kok, tenang aja ok" Tutur Feron langsung menggandeng Nanda dan mengajaknya untuk lanjut berjalan, meninggalkan Alfi yang tersenyum seraya melambai masuk ke Bengkel MM.
"Lagian gua punya harta warisan yang bisa ngehidupin masa depan gua kok, hehehehe" Ujar Feron masih menggenggam tangan Nanda.
Dalam genggaman tangan Feron, Nanda menyembunyikan senyum bahagianya. Ia tidak menyangka Feron akan seperhatian ini terhadapnya. Apakah maksud perhatian ini? Nanda jadi bertanya, namun enggan untuk mengungkapkan.
Biarlah episode selanjutnya yang menjawab
Inner Nanda menutup episode ini.
Sekian semua.....
...Tbc...