All For Dreams

All For Dreams
Keluarga (flashback)



Afni


Inner Feron seraya berjalan pulang menuju rumah. Feron yang tidak memiliki motor seperti teman lain hanya bisa pasrah mengandalkan kaki pemberian dari tuhan sebagai alat transportasi. Ibunya yang hanyalah seorang pekerja serabutan bahkan tidak dapat menjemput Feron kesekolah.


Sungguh malang, namun Feron yang sudah mengalami pedihnya hidup sedari kecil bahkan sudah melupakan arti dari putus asa. Selagi ia dan sang ibu bersama, bagi Feron kata-kata pantang menyerah dan selalu semangat harus selalu ia pertahankan.


Namun terkadang Feron juga merasa iri, ia sebenarnya juga menginginkan motor mahal dan sepatu baru karna sepatu yang kini ia kenakan sudah mulai bolong dan tapaknya juga sudah menipis hampir jebol.


Tapi karna mengingat perjuangan sang ibu yang menafkahinya membuat Feron sadar diri untuk meminta lebih rasanya terlalu kurang ajar, hasilnya cara lain akan ia lakukan seperti bekerja menjadi penjual lemang di lampu merah atau mengamen dijalanan semua ia lakukan demi membantu perekonomian sang ibu.


Tapi....


Gua pengen tampil keren, punya kulit putih mulus dan rambut jabrik tampan maksimal agar bisa menarik perhatian para gadis, punya rumah bagus dan makan makanan yang lezat dan mahal setiap hari. Tapi boro-boro punya penampilan keren, uang jajan aja kadang ada kadang enggak.


Sadar dengan fikirannya yang terlalu menyalahkan hidup, Feron langsung menggelengkan kepalanya kuat.


"Bodoh! Feron bodoh! Lo tu harus sadar diri Feron harus!" Inner Feron menjambak rambut botaknya. Ya, Feron memang bisa dikatakan botak dengan melihat bentuk potongan rambutnya yang begitu pendek hampir menyentuh kulit kepala, ia sengaja melakukan itu semua agar tidak menghabiskan uang lagi hanya untuk membeli minyak rambut atau pomade mahal yang dapat merapikan rambut ijuk nan susah diaturnya. Ia sudah memilih membotakkan rambut sejak kecil hingga sekarang.


Semua kembali lagi karna ekonomi keluarga Feron yang susah. Semenjak kedua orang tuanya berpisah, hak asuh Feron dimenangkan oleh sang ibu sementara sang kakak dimenangkan oleh sang ayah dengan pengajuan banding yang begitu besar.


Sebenarnya ibu Feron sudah berjuang demi mendapatkan hak asuh kedua putranya, namun mau berkata apa? Uang adalah segalanya, mendapatkan Feron saja sudah bersyukur luar biasa.


Untuk kisah singkatnya Ibu Feron hanyalah seorang mualaf, seorang wanita bangsawan tionghoa yang dilahirkan dalam keluarga kaya raya memilih untuk berpindah agama diusianya yang sudah menginjak dewasa.


Tentu saja pemberontakan sang putri sontak membuat kedua orang tua dari ibu Feron menjadi sangat murka dan hampir membunuh sang putri karna beralih dari agama yang sudah diwariskan turun temurun oleh nenek moyang mereka.


Beragam penyiksaan sudah pernah dirasakan oleh sang ibu, dimulai dari sayatan di kedua paha, cacian Serta hinaan, dan kekerasan hingga menusukkan besi panas ke punggung sang ibupun sudah pernah keluarganya lakukan.


Namun keyakinan ibu Feron tidak goyah, hingga sang kepala keluarga memutuskan mencoret nama sang putri dari kartu keluarga hingga ia yang terancam tidak akan mendapatkan harta keluarga sepeserpun sebagai hukuman.


Tapi, jika sang ibu mau mengaku salah dan kembali kepada ajaran nenek moyang, maka semua hal akan dicabut beserta sanksi dari harta warisan yang kembali akan didapat.


Tapi dengan penuh keteguhan hati sang ibu lebih memilih pergi dari rumah tempat ia dibesarkan. Merelakan semua keindahan dunia untuk agama yang ia anut hingga saat ini, namun penderitaan silih berganti selalu menyertai langkah sang ibu.


Sampai ia menikah dan memiliki anakpun masih penuh penderitaan. Kehidupan pernikahan yang hanya disetujui satu pihakpun menjadi kendala bagi ibu Feron yang notabenenya hanyalah wanita pendatang bagi ayah Feron yang sudah melabuhkan hati kepada seorang gadis harus mau menerima, karna tak kunjung menemukan sang pujaan hati yang merantau entah kemana, ayah Feron terpaksa memilih untuk menikahi sang ibu karna paksaan kedua orang tuanya yang takut jika sang putra lebih memilih menjadi bujang lapuk ketimbang menikah dan memiliki keturunan.


Karna ketidak inginan oleh sang ayah yang merasa terpaksa pada akhirnya, keduanya sepakat untuk memilih berpisah. Ayah Feron dengan kehidupan lamanya, dan ibu Feron dengan kehidupannya pula. Untuk masalah biaya hidup dari sang ayah, jujur Feron tidaklah begitu mengetahuinya. Semua hal selalu diurus sendiri oleh sang ibu tanpa ingin memberi tau Feron.


Bolehkah... Bolehkah gua merasakan hidup enak tanpa kekurangan uang?


Celetuk hati Feron tiba-tiba, namun karna mengingat semua hal itu seketika langsung membuat Feron menghentikan langkah panjangnya, ia menatap kelangit yang tinggi. Kehidupannya benar-benar telah diuji.


"Gua gak boleh bersedih, gua harus trus semangat. Iya, gua harus semaaaaaaa-" Ucapan Feron menggantung tatkala melihat Afni dan pacarnya berboncengan dengan mesranya, astaga anak kelas 2 SMP.


Mulut Feron seketika langsung menganga melihat Afni yang kian jauh.


" A-"


Ttiiiiiiiiitttttttt!!!!


" Minggir oi! Ni jalan buat lewat bukan buat meratap" Tiba-tiba suara Alfi mengintrupsi slow motion Feron, membuat sang empunya langsung menatap pelaku datar sedatar papan penggilasan.


"Lu bisa diam gak sampah masyarakat!?" Ucap Feron kesal.


"Ha!? Ape lu bilang?G-" Alfi langsung menghentikan ucapannya dan beralih melirik kebelakang. Dibelakangnya, Lino tengah menepuk pelan dan membisikkan sesuatu hal.


"Kita lewat jalan aspal aja, susah juga lewat di pinggir jalan kalau ada hama seperti ni orang" Lanjut Alfi langsung melajukan motornya kejalan raya dan meninggalkan Feron dengan muka yang teramat masam memperhatikan Lino yang tersenyum remeh kearahnya.


"Awas aja lu Lino, suatu saat keadaan pasti berubah. Gua yakin Alfi bakal kembali berteman ama gua" Monolog Feron kesal menatap punggung Lino yang kian menjauh.


*****


Setelah menempuh perjalanan yang cukup mengeluarkan keringat, akhirnya Feron sampai kerumah kayu sederhana tempat ia dan sang ibu tinggal.


Tidak ada yang istimewa dari tempat ini, rumah yang terbilang cukup terisolir. Mungkin hanya itu yang dapat Feron jabarkan dari rumah kayu mungilnya yang sangat butuh perbaikan ini. Namun setiap kali Feron hampir merasa minder, sang ibu akan berkata


'Rumah ini adalah harta, selagi tidak menyewa kita patut bangga nak. Apalagi tanah ini adalah milik kita yang didapatkan dari hasil titik keringat sendiri, walaupun rumah kita seperti ini keadaannya namun ibu yakin suatu saat kamu dapat membangun jingsi yang indah disini hingga ibu dapat melihat bunga teratai kembali bermekaran indah'


Ucap sang ibu yang selalu diingat oleh Feron dan ia berjanji akan mewujudkan impian sang ibu suatu saat, tentunya dengan uang hasil dari titik keringatnya sendiri.


"Assalamualaikum ibu, ibu dimana?" Tanpa membuang waktu, setelah sedikit mengingat impian akhirnya Feron memilih masuk kedalam istananya dan sang ibu.


"Waalaikumsalam, ibu didapur nak" Jawab sang ibu.


Feron langsung membuka sepatu dan merapikannya ditempat yang sudah disediakan kemudian langsung bergegas cepat kedapur.


Saat sampai didapur ia melihat sang ibu yang tengah memasak air panas menggunakan kayu yang ia kumpulkan dari hutan di belakang rumah. Melihat sang ibu yang sedang memasak membuat Feron sedih.


Sebenarnya mereka memiliki kompor gas, namun karna gas yang sudah habis dan sang ibu yang tidak memiliki uang untuk membeli gas kembali akhirnya membuat sang ibu harus putar otak agar tetap bisa memasak makanan untuknya dan sang putra.


"Anak ibu sudah pulang, bagaimana hari kamu nak?" Tanya sang ibu beralih menatap sang Putra yang duduk disampingnya.


Feron tidak langsung menjawab, ia memilih diam dan menatap sang ibu lamat.


Muka ibu belakangan ini sering pucat, kenapa?


"Nak?" Tanya sang ibu kembali seraya mengelus pipi Feron yang berisi.


"Ibu sakit?" Celetuk Feron bertanya.


"!" Sang ibu langsung terkesiap, satu katapun tak dapat ia keluarkan didepan sang putra yang langsung memegang tangan sang ibu yang masih setia menempel pada pipinya.


Lama termenung akhirnya membuat Feron langsung berfikir logis bahwa benar sang ibu sakit.


"Sejak kapan?" Tanya Feron lagi.


"Kamu tidak usah memperdulikan hal itu, yang penting kamu harus sekolah yang rajin agar bisa meraih impian yang kamu cita-citakan" Ucap sang ibu langsung melepas genggaman Feron dan beralih berjalan kekamar bersiap untuk berangkat kerja.


"Ibu a-"


" UHUK... UHUK.... UHUKKK...!! "


Mendengar suara batuk sang ibu sontak membuat Feron langsung berlari kekamar untuk melihat keadaan, namun ia malah mendapati sang ibu yang pingsan dengan darah yang selalu keluar dari mulutnya.


"IBU!!!"


...TBC...