All For Dreams

All For Dreams
That weapons



Sementara di persembunyian Nanda.


"Nand, kita ngapain ngumpetnya deket banget?" Tanya Alfi berusaha menjaga keseimbangannya di atas ban yang sengaja di naiki Alfi agar lebih tinggi dari Nanda.


"Diam Fi, gua lagi berusaha denger nih. Lu lebih baik diam bae di tempat." Bentak Nanda dalam bisikannya.


Nanda memperhatikan serius "Kenapa tu manusia keriput, kayaknya dia adalah the real plot twish sebenarnya." Bisik Nanda memandang tajam.


"Yah, sepertinya dia benar-benar penjahat sebenarnya."


"Ya Fi, kayaknya asumsi lo ben-eh?" Nanda langsung berbalik, menatap ke arah belakang yang semula Alfi kini malah berganti menjadi Ryou yang sedang menatap Nanda dalam senyum simpul.


"Nona muda sedang mengintip masalah keluarga orang lain itu tidak baik lo." Ucap Ryou yang masih belum menghilangkan senyumnya.


"Ayo ikut bapak sebentar, saatnya kamu yang harus di interogasi." Ucap Ryou menarik pergelangan tangan Nanda untuk mengikutinya.


Nanda yang tanpa perlawanan hanya dapat mengikuti langkah lebar Ryou, tapi instingnya mengatakan untuk berbalik.


Dan benar saja, di sana Feron melihatnya dalam pandangan yang sulit untuk di definisikan.


.......


.......


.......


.......


.......


...All For Dreams...


...That weapons...


.......


.......


.......


.......


"Hmm... Hmmm.." Gumam Ryou menatap Nanda dalam senyum.


Pertanyaan ringan sudah di lontarkan, namun gadis itu masih enggan untuk menjawab. Ia tetap berdalih bahwa semua itu merupakan kesalahan Fiona dan bukan dirinya.


Ryou sebagai seorang guru hanya mengangguk kecil sebagai jawaban, tidak memotong ataupun menurunkan perasaan sang siswi. Ia hanya mencoba untuk memahaminya walau permasalahan ini sebenarnya begitu sepele.


"Ceritakan saja." Ryou memberikan sebuah pisang pada Nanda, dengan senyum yang masih merekah, tatapan Ryou lurus menusuk.


Nanda menerima pisang itu walaupun enggan dan untuk persekian detik berikutnya ia seperti mendapatkan sebuah bisikan, tak jelas namun sanggup untuk membuatnya terbuka akan perasaan yang kini ia pendam.


"Saya memang menyukai Feron sedari awal," Ucap Nanda meremat pisang pemberian Ryou.


"Saya sudah lama memiliki rasa ini terhadapnya, namun saya takut, saya takut dia akan menolak saya pak." Aku Nanda memandang Ryou.


Ryou hanya diam, dia masih menyimak dalam ketenangan setiap lontaran kalimat yang di berikan Nanda sebagai ungkapan hatinya.


Setelah itu Nanda diam, dia tidak melanjutkan alih-alih membuat Ryou langsung terbatuk pelan, sekedar untuk meredakan kecanggungan yang mulai muncul di antara mereka.


"Jadi, sebenarnya kasus Fiona men-"


BRAK!


"Saya tidak terima, Bisa-bisanya Fiona mencium Feron tepat di mata saya pak!" Bentak Nanda menggebrak meja dan langsung berdiri.


Tiba-tiba emosi Nanda kembali tak bisa di kendalikan, ia langsung bingung begitu pula dengan Ryou.


Apa dia melakukannya pada Nanda?


Tanya Ryou memandang curiga.


.


.


.


Mobil melaju kencang membelah jalan meninggalkan area SMK. Feron yang duduk bersebelahan dengan Miya kini memilih menjarak, memberikan ruang yang setidaknya dapat menampung satu penumpang lagi, untuk kali ini bukan karna prihatin ataupun ada satu orang yang butuh tempat, melainkan karna sang cucu hanya ingin kembali menjadi durhaka.


"Ayahmu berniat untuk memindahkan sekolahmu Feron." Ucap Miya melirik Feron yang membuang muka, enggan menatap Miya.


Miya menghela nafas, mengakui kebenaran bahwa berbicara dengan Feron memang butuh kesabaran ekstra.


"Aku sudah tau." Balas Feron ketus.


"Hah? Sejak kapan?" Tanya Miya bertanya.


Kali ini dia benar-benar terkejut, tidak biasanya Vein mau terang-terangan memberi tau Feron mengenai hal serumit ini secara langsung.


Feron melirik Miya sekilas "Semenjak dia membentak 'Ama' dan Bunda Neti di rumah sakit, mengatakan bahwa dia mau memindahkanku untuk suatu alasan." Ucap Feron.


"Hmmm... Rupanya begitu." Gumam Miya memandang jalanan.


"Apakah kau menerima semua ini?" Tanya Miya kembali.


"Nenek bercanda? Tentu jawaban warasku...."


.


.


.


"Tidak!" Keluh Nanda.


"Mana mungkin saya mau mengatakannya pada Feron, bapak benar-benar gila!" Bentak Nanda.


"Jadi kamu hanya akan diam dan menatap Feron di rebut oleh gadis lain? Begitu?" Tanya Ryou memancing.


Ia sedikit menikmati cerita telenovela ini, itung-itung menghibur kebosanannya yang sudah jengah dengan aksi diam-diam suka yang di perlihatkan oleh muridnya.


" Tentu saja tid-ah tidak, maksud saya ya-tidak! Tidak! Ahhhh!!!!" Nanda langsung menunduk, ia langsung lemah.


Ryou mendekat, ia menopangkan wajahnya pada telapak tangan menatap Nanda yang sudah kalah.


"Mau bapak bantu untuk mendapatkan hati Feron?" Tanya Ryou menarik turunkan alisnya.


"Oh.. Saya mulai tak yakin." Keluh Nanda.


"Haish.... Bapak benar-benar tulus ingin membantu lo." Balas Ryou menjauhkan wajahnya.


"Apa saya bisa mempercayai bapak?"


"Kamu bisa percaya bapak untuk kesekian kalinya, asal kamu tau saja, bapak ini adalah rajanya pujangga cinta." Ucap Ryou memamerkan diri.


"Kenapa saya mencium aroma keblangsatan cinta darimu? Tapi tak apa, kali ini saya akan percaya." Balas Nanda kemudian.


Ryou hanya tersenyum dan menyuruh Nanda untuk pergi dari ruangannya, setelah keluar Nanda seperti merasa aneh.


"Kenapa gua lurus banget bilang kalau gua suka Feron!!???" Pekik Nanda dalam bisikan kecil "Ini aneh banget." Lanjutnya mengusap kasar kedua pipi, sementara Ryou hanya tersenyum.


"Gak gua sangka kalau ilmu hipnotis ini berguna juga." Bisik Ryou menatap kedua telapak tangannya.


.


.


.


.


.


Keesokan harinya.


Ardi datang lebih dulu dan langsung mengambil kunci bengkel dari saku celananya.


"Aku harus cepat." Gumam Ardi membuka pintu yang sedikit macet.


Cklek.


Ardi masuk ke dalam ruang guru, membuka satu persatu lemari mencari sebuah dokumen yang menjadi tujuan awalnya datang lebih pagi.


"Aku akan menggulingkan kewenanganmu dasar bule aneh." Dengus Ardi memandang dokumen itu senang.


.


.


.


"Dan hal yang harus gua lakuin hanya...." Nanda membuka pesan Ryou kembali "Jual mahal? Bukannya setiap hari gua gitu ama Feron?" Nanda kembali melanjutkan bacaannya hingga pesan berikutnya berhasil membuat jantung Nanda terbakar.


'Dan jika jual mahal masih tidak bisa membuatnya luluh, ya banting harga saja, kalau perlu obral sekalian 😁'


Itulah isi pesan Ryou yang berhasil membuat Nanda langsung menelfon walas anehnya.


"Hallo!" Bentak Nanda memulai telfon.


^^^"Waalaikumsalam.."^^^


Jawab Ryou dari seberang sana.


"Pak! Saya minta tips, bukan tata cara menjadi pelacur. Bapak ini bagaimana sih kasih sarannya!"


^^^"Oh iyakah?"^^^


Tanya suara di seberang polos.


Plak!


"Sudahlah, memang salah gua percaya sama makhluk tuhan macam bapak." Keluh Nanda menggeplak keningnya sendiri, ia benar-benar menyerah, bagaimana bisa ia dengan mudahnya percaya dengan ucapan Ryou, ini salahnya. Seratus persen, serius.


"Sudahlah, terima kasih pak Ryou yang kadar otaknya cuma 5%" Ucap Nanda menutup telfon.


.


.


.


.


Pagi ini seperti hari-hari lainnya, Feron masih menjauhi Nanda. Bahkan diantara meja mereka kini terdapat tas Feron sebagai penghalang bagi Nanda untuk bercengkrama.


"Fer, Feron." Panggil Nanda.


Feron yang sedang serius dengan buku tebal perhitungan bangunan memandang Nanda "Ya?"


"Bisa kita bicara di luar sebentar?" Tanya Nanda.


Feron melirik keluar, melirik sekitar kemudian memandang Nanda "Sepertinya bisa, ayo keluar." Ajak Feron berjalan keluar lebih dulu meninggalkan kelas yang sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tugas RAB dari buk Sinta.


"Oh iya hampir lupa." Feron langsung berhenti berjalan hingga membuat Nanda menabrak punggung tegap itu. Feron melirik ke meja Adam "Adam, gua sama Nanda ijin ke Wc, daaa~" Ucap Feron malas.


"Ngapain lo di Wc? Buat generasi ya? Hahahahahahahaha..." Balas Adam tertawa.


"Iya, kita buat generasi Z buahahahahaha." Sahut Feron namun dengan tawa datar.


Setelah Feron dan Nanda pergi, Adam baru menyadari kejanggalan "Eh? Apa tadi katanya?"


.......


.......


.......


.......


.......


...TBC...