
"Ada apa om?" Tanya Feron, Beni masih memunggungi Feron, namun badan itu sudah bergetar.
Tangan di kepalkan erat, Beni mencoba menahan emosinya yang sudah sampai ke ubun-ubun.
"Oomm..."
Brukkk...
"Apa... Apa yang terjadi pada putrikuuuu!!?" Raung Beni.
Ia sudah berhasil memberikan satu pukulan hingga pipi Feron lebam.
"S-saya..."
.......
.......
.......
.......
.......
...All For Dreams...
...Bukan...
.......
.......
.......
.......
"S-saya tidak tau om sumpah." Ucap Feron seadanya.
Ia tidak memperdulikan lebam di pipi kanannya, yang terpenting hanyalah menyelesaikan semua kesalahan pahaman ini.
"Lalu kenapa, kenapa kamu bisa tau anak saya di sekap di sana?" Tanya Beni menunjuk rumah Luna, memberikan isyarat putrinya yang sedang tertidur.
"Itu semua karna kerja sama kami om, hasil penelusuran Alfi dan yang lainnya. Hingga kami dapat menemukan Nanda yang di sekap. Tapi saya janji om, saya janji anak om akan kembali seperti semula, tidak perlu memikirkan biaya, biarkan saya menanggung semuanya. " Ujar Feron meyakinkan Beni.
Namun Beni hanya diam, fikirannya langsung melayang pada beberapa minggu lalu di PT.
.......
.......
.......
.......
...Flashback...
"Dan aku ingin kau segera memecat Beni, aku tidak ingin keluarganya, terkhusus putrinya menggagu kehidupan putraku. Kau paham maksudku bukan?" Tanya suara yang berhasil mencuri perhatian Beni untuk mengintip.
Beni yang kebetulan di tugaskan untuk mengantarkan laporan tanpa sengaja melewati kantor pemimpin, namun apa yang ia dengar berhasil membuat Beni mengambil sudut teraman untuk menguping lebih dalam.
"Kau tidak usah khawatir Abdi, semua aman bersamaku, asal kau taulah." Ucap Hermantino seraya menggerakkan kedua alisnya naik turun, tangannya juga ikut bergerak menggesek ibu jari dan telunjuk bergantian.
Vein menatap dalam kedataran "Huh! Belum juga bekerja." Sindir Vein mengusap rambutnya.
"Uang melicinkan segala urusan sahabatku." Balas Hermantino mengusap punggung tegap Vein walau agak sulit mengingat tinggi Hermantino yang hanya sebatas dada Vein.
"Uh... Aku jadi kesal, kenapa kau masih terlihat segar bugar dan memiliki pokstur tubuh ideal, sementara aku malah jadi gendut dan botak begini? Sungguh dunia tidak adil. Padahal semasa SMA dulu tinggi kita setara, dan ketampanan juga tak perlu di ragukan lagi." Keluh Hermantino iri.
"Aku yakinkan itu azab agar kau berhenti bermain wanita." Balas Vein merotasikan matanya.
Di tempatnya, Beni malah menahan tawa mendengar penuturan Vein yang baginya menghibur itu. Namun ia melupakan satu hal yang mungkin ia tidak sadari.
Bahwa Vein sudah menyadari kehadiran Beni.
Mata itur menyipit, senyuman misterius di keluarkan Vein "Baiklah Hermantino, aku ingin kau menjalankan rencanamu. Aku akan transfer uangnya setelah kau menyelesaikan semuanya." Tutup Vein menepuk kedua pundak Hermantino dan berlalu pergi ke arah persembunyian Beni.
Vein melewati Beni yang masih tak menyadari kepekaan Vein padanya yang berusaha mengintip.
Vein berhenti tepat dua langkah setelah melewatip Beni "Apakah tidak terlalu lancang bagi seorang bawahan mendengar percakapan atasannya? " Tanya Vein tanpa menoleh pada Beni yang langsung membeku.
"Ada apa Abdi?" Tanya Hermantino yang hendak menghampiri, namun di tahan oleh Vein yang langsung menaikkan tangan kanan memberikan isyarat tak apa pada Hermantino yang langsung berhenti.
"Baiklah aku pergi dulu, terima kasih." Sambung Vein melirik Beni dengan senyum ramah.
...End Flashback...
...----------------...
Beni sadar, dan langsung memandang Feron kesal.
"Kau!!! (menunjuk Feron) kau anak orang kaya yang kemarin kan!?" Beni langsung mendekati Feron dan meraih kerah baju Feron yang tidak melawan sedikitpun.
"Siapa maksud om?" Tanya Feron tak mengerti.
"Kau... Kau.... Kau anak Abdi si kaya yang kejam itu!" Geram Beni, ia sudah siap untuk melayangkan pukulan lainnya.
Feron terkejut, ia langsung membulatkan mata.
"Apa maksud om? Kenapa, apa yang terjadi? Apa pemecatan om berhubungan dengan Vein?" Tanya Feron lagi, namun kali ini wajahnya langsung kalut.
.
.
.
.
"Makanlah ayah, bi Asih sudah menyiapkan makanan, jangan pikirin Koinya terus, saatnya ayah yang di kasih makan." Ujar Adi menghampiri Vein.
Vein melirik Adi, helaan nafas langsung keluar saat kedua tatapan itu saling bersibobrok.
"Ada apa?" Tanya Adi lebih mendekat.
Vein masih diam, enggan untuk bercerita walau Adi yang bertanya.
Adi yang memandang ekspresi Vein yang masih keras kepala hanya dapat menghela nafas gusar.
"Apa ini masalah proyek sabotase itu?" Tanya Adi.
Vein menggeleng.
"Lalu apa? Jangan bilang ini masalah adikku." Ucap Adi yang membuat Vein langsung memalingkan wajahnya.
"Kenapa dengannya? Apa ia buat masalah lagi di sekolah? Apa dia narkoba? Atau dia ngamilin anak orang?" Tanya Adi beruntut.
"Bukan gob*lok. Ayah mau mindahin sekolah adekmu aja, tapi ini terlalu sulit."
Adi langsung diam "Aku fikir apaan, pigi ah." Adi langsung pergi begitu saja meninggalkan Vein yang langsung bermuka masam.
"Ah! Susah sekali, padahal cuma bilang pindah sekolah padanya saja aku tidak tega."
.
.
.
Bukk...
"UHUK!"
Bukkrrkkk...
Krakkk...
Trakkk
Bukkkk
Buukk...
Jdak!!!
"Apa hanya segitu kemampuan seorang pria!" Seru Beni menarik kerah baju Feron yang tak melawan.
Feron menyeka darah yang mulai menyentuh mata, mencoba mengelap darah itu agar pandangannya tak memudar, namun sepertinya itu hal yang sia-sia saat pandangannya menjadi merah.
"JAWAB AKU!!! " Teriak Beni marah.
Ia kecewa dan marah pada Feron. Entah kenapa, namun ia begitu marah pada bocah ini yang setiap kali menatapnya maka siluet Vein yang tersenyum remeh akan ikut menjadi background pengganti wajah Feron.
"Ck! Tidak bisa di maafkan!"
Buukk..
Zyaannnkkk....
Prank...
Tanpa ampun Beni malah menubrukkan kepala Feron ke pot bunga hingga pecah berkeping-keping.
"Hah..... Hahhhhh....." Beni melepaskan kepala Feron yang sudah berlumuran darah. Ia merasa sedikit lega saat berhasil memberi pelajaran pada Feron.
"Uhuk.... Uhuuukkk..." Feron bangkit perlahan walau rasa tangannya sudah tak sanggup untuk menopang tubuh lagi.
"Apa om puas?" Tanya Feron sedikit tersendat.
"Belum, belum sebelum aku memukul muka ayah kau!" Seru Beni murka.
Ia hampir melayangkan pukulan lainnya sebelum tangan Regas datang mencekal.
"Sudahlah Pak Ben, bapak bisa di tangkap polisi jika sampai membuat anak seorang Adidjaya terluka lebih dari ini." Peringat Regas tegas.
Pegangan yang menahan tangan Beni juga di perkuat oleh Regas hingga urat-urat tangannya menonjol keluar.
"Sudahlah, bagaimanapun dan dengan apapun pak Beni marah, pak Beni tidak akan bisa melawan kekuasaan Adidjaya pak, mereka mengusai semua tempat, melawan bagaimanapun pak Beni akan tetap kalah. Untuk itu, saya harap pak Beni paham dengan apa yang saya ucapkan ini." Seru Regas melepaskan tangan Beni.
Beni menunduk, fikirannya mencoba mencerna ucapan Regas.
"Dan untuk keadaan Nanda kita juga masih belum tau betul apa motif pelaku menyekap anak bapak, tapi sekali lagi, pelaku kebal hukum. Bahkan polisi yang di tugaskan untuk menyelidiki kasus ini sampai geleng-geleng, mengingat status seorang Daffa sebagai anak pejabat."
Semua diam mendengar penjelasan Regas mengenai status sosial Daffa.
"Kau." Tunjuk Beni tepat ke arah Feron " Ku harap kau tidak berdekatan dengan putriku lagi, karna setiap kali ku lihat putriku berdekatan denganmu, pasti dia akan terancam. Paling ringan selalu mendapatkan bekas ruam dan lebam-lebam di tambah dengan surat ancaman dan teror pada keluarga kami. Paling parah adalah ini, putriku sampai mendapatkan bekas jahitan di mulutnya, kau tau, hatiku sakit melihat putriku kesakitan seperti itu. Jadi ku mohon, sebagai papanya aku memohon padamu. Jauhi putriku Nanda sejauh-jauhnya, kalau perlu tak usah kalian satu meja lagi di sekolah itu, aku takut nanti putri ku di teror oleh orang tak di kenal lagi. Atau paling parah sampai menyerang kami sekeluarga ke rumah."
.......
.......
.......
.......
.......
...TBC...