
Ya gua cemburu lah, dan sejak kapan gua mulai tertarik sama cucian basah macam Feron!?
****
Sudah kubilang jangan terlalu yakin
Mulut lelaki banyak juga tak jujur
Bila sakit hati wanita bisanya nangis
Sudah ku bilang jangan terlalu cinta
Kalau patah hati siapa mau nolong
Seperti langit dan matahari tak bersatu lagi" Suara nyanyian feron menggema.
Hey ladies jangan mau di bilang lemah
Kita juga bisa menipu dan menduakan
Bila wanita sudah beraksi dunia hancuuuuuu-
Plak!
Plak!
Plak!
BRAK!!
"BERISIIIIKKK!!! LU BERDUA BIKIN MALU AJA NYANYI SAMBIL GAYA MACAM BANCI GITU!" Emosi Nanda memukul punggung Feron dan Alfi bergantian.
Saat ini mereka sedang istirahat, menunggu acara dimulai. Namun belum sampai 30 menit mereka disini, Feron dan Alfi malah membuat ulah dengan meminta alat make up Fiona dan bergaya ala banci bermaksud untuk menghibur diri malah jadi ajang bully.
Mereka semua (Kelas 11 DPIB) malah membuat games yang mengharuskan siapa yang kalah di dandan dan harus bernyanyi di tengah-tengah lingkaran yang mereka buat, dan bodohnya malah kedua sahabat ini setuju.
Dan alhasil, setelah mengumpulkan dua peserta yang gagal menjawab kuis, mereka (Feron dan Alfi) diharuskan untuk bernyanyi seraya didandani layaknya badut.
Selain itu, lagu yang mereka nyanyikan seperti menghina Nanda. Oh God! Nanda langsung saja memukul dan menarik rambut kedua pemuda itu dan memaksa mereka untuk duduk kembali.
"MAIN YANG BENAR!!" Protes Nanda kepada kedua sahabat.
"Baik ratu" Ucap kedua pemuda itu kompak.
Setelah beberapa menit dan Nanda yang selalu dibuat emosi dengan kekalahannya, berakhir ia menyeret Feron dan Alfi untuk pergi meninggalkan lingkaran permainan.
***
Feron, Nanda dan Alfi kini tengah menyudut sambil jongkok memandang sampah lidi bekas bakso gulung mereka. Acara fashion show sudah berakhir 10 menit yang lalu namun 3 sahabat ini masih betah berlama-lama disana.
"Btw anyway busway, kenapa kita masih dimari? Padahal semua orang dah pada minggat?" Tanya Nanda mengeluh kepada kedua sahabatnya.
"Ehehehemmmhemhemhem...." Cengiran Feron menghadap kearah Alfi yang juga ikut menyengir membuatkan firasat Nanda semakin aneh.
Kayaknya gua salah tanya
Inner Nanda menyesal.
"Karna Nanda sudah bertanya, alangkah tidak baiknya jika aku dan Alfi tidak menjawab" Ujar Feron berdiri dengan senyuman.
"Gua punya rencana buat nembak Afni disiniiiii!!!!!!" Teriak Feron semangat.
"Hore...... Akhirnya sahabat gua ngak jomblo lagi, selamat Feron, selamat!!!" Sambung Alfi menghujani
Feron dengan kelopak bunga yang ia petik dari kebun sekitar.
"Belum tentu diterima juga nying" Tukas Nanda sewot.
Nanda yang diperhatikan langsung mengarahkan atensinya pada Alfi dan Feron yang menatapnya aneh.
"APA?!" Teriak Nanda.
"G-gak.. ada kok Nan..." Balas Feron terbata.
"Si Nanda belakangan ini sering sewot, apa jangan-jangan lagi PMS ya Ron ?" Bisik Alfi mengawali ghibah.
"Iya Fi, apa jangan-jangan otaknya lagi liburan?" Bisik Feron bertanya balik.
"Mungkin aja Ron, karna biasanya dia pasti sleding gua kalau kesal" Balas Alfi.
"Dan permintaan lo bakal gua turutin Fi!!!! " Jawab Nanda yang sudah panas berdiri diantara Feron dan Alfi.
"Eh!?" Gumam Feron dan Alfi.
"AMPUN NANNNNNNNNN......."
Bruk
Prank
Zuinnngggg!!!!
"Aduuhhhh~" Alfi selalu meng-aduh seraya mengikuti Nanda, ia mengikuti mereka secara perlahan karna punggungnya seperti akan patah jika berjalan terlalu cepat. Tidak berbeda dengan sahabatnya Feron yang juga bernasib sama sepertinya.
"Aw.."
Reflek Feron langsung menggenggam tangan gadis itu agar tidak jatuh.
"Kau tidak apa-apa?" Ucap Feron memapah gadis itu untuk duduk dikursi yang ada.
"Aku baik-baik saja, terima kasih-" Gadis itu membersihkan pakaiannya seraya berbicara dan tanpa ia sadari saat ia mendongakkan kepalanya ia menjumpai pemuda yang selama ini ia mimpikan.
"Feron!" Ucap Afni terkejut.
"!" Ekspresi Feron juga sama terkejutnya dengan Afni, namun ia berusaha untuk menetralisirnya dengan berdeham.
"Kamu gak apa-apa kan afni?" Ujar Feron.
"Ngak apa-apa kok, makasih ya" Balas Afni tersenyum.
"O-ok" Tanpa disadari oleh mereka semua, kini Nanda malah menampilkan ekspresi kesal.
Feron yang salah tingkah dihadapan Afni seketika langsung mengalihkan atensinya, hingga ia menatap kearah lutut Afni . Roknya dihiasi warna merah, Reflek Feron langsung berjongkok dan menghadap kearah luka Afni.
"Lutut lo terluka Af, sini gua obati" Ujar Feron meminta izin, dan ajaibnya Afni malah mengiyakan seraya tersipu.
Dengan cekatan Feron membalut luka Afni hingga luka itu tertutup oleh andiplas membuat Afni sangat berterima kasih.
Namun rasa berbunga itu hanya sebentar hingga Bruno datang mengganggu suasana mereka.
Akhirnya datang juga
Inner Nanda.
"Widih! Ngapain lo Afni ?" Tanya Bruno.
"Enggak ada Bruno, aku cuma habis ditolong sama Feron. Tadi aku jatuh" Ujar Afni.
"Hoooo~" Tanpa fikir panjang Bruno langsung menarik pergelangan tangan Afni hingga ia sedikit mengaduh sakit.
"Ayo pergi, jangan berdekatan sama musuh Afni" Peringkat Bruno menatap Feron nyalang dan akhirnya mereka pergi dengan Bruno yang menggandeng atau lebih tepatnya menarik Afni.
Feron berdiri dari jongkoknya, pandangannya tidak beralih dari Bruno dan Afni yang kian menjauh.
Sementara Nanda malah menatap Feron yang berwajah sendu.
...*skip time*...
"Sakit juga ni pantat kalau terus duduk tanpa pergerakan berarti" Lirih Alfi mengusap pantatnya sendiri.
"Sssstttt.... Diam bentaran Fi, gua sedang fokus" Peringat Feron.
"Udah keliatan gak?" Tanya Alfi yang sedikit menggeser duduknya dan ikut melihat ke arah pandangan Feron.
"Belum" Jawab Feron.
"Hmmm..." Gumam Alfi.
Feron mengedarkan pandangannya ke segala arah, berharap menemukan sosok itu namun nihil.
Sudah 30 menit ia dan Alfi duduk di kursi tunggu tukang tambal ban ini. Niat hati hanya sekedar lewat disekolah pujaan hati, eh malah tuhan ngasih rejeki lebih.
Feron yang sudah bosan memandang sekolah itu beralih memperhatikan ban motornya yang hampir selesai diperbaiki. Tak ada niatan di hati untuk pulang kerumah, mungkin singgah di taman kota lebih menarik, fikir Feron meraba.
Disatu sisi ada rasa ingin pulang segera kerumah, namun Feron sadar, itu semua percuma saja karna yang Menunggupun hanyalah perabotan mati.
Tuk
"Ron ron, itu Afni Ron...." Ucap Alfi semangat menunjuk sma dua.
"Mana mana!?" Ucap Feron menggebu.
"Itu ditangga" Seru Alfi antusias menunjuk tangga.
Feron langsung memfokuskan pandangannya, dan benar disana Afni sedang berjalan terburu menuju lantai tiga. Peluh diwajahnya menjadi daya tarik lebih bagi Feron untuk lebih lama memperhatikan sang pujaan hingga menghilang di balik dinding bata.
"Hadeuh... Bentar amat" Kesal Feron.
"Emang pertemuan yang gak direstui itu sebentar ron" Celetuk Alfi.
"Sekate-kate lu, gin-"
" Waw waw waw..... Kalau mau kelahi jangan dibengkel ini masbro" Lerai suara lainnya.
Atensi kedua sejoli itu teralihkan kepada sesosok pemuda tegap dengan kulit sawo matang menentang mataharinya.
"Hmph! Gak usah natap gua dengan ekspresi jelek gitu, ni motorlu dah sehat wal afiat, cepetan bayar sebelum gua jadiin busi motor lu berdua" Ancam tukang bengkel mengarahkan kunci T kehadapan Feron dan Alfi.
Karna tidak ingin membuat tontonan gratis, akhirnya Feron meminjam uang Alfi sebesar Rp 20.000 karna uangnya tidak cukup biasalah, muka miskin.
"Nah bang" Ucap Feron memberikan uang.
"Makasih" Balas tukang bengkel.
"Asyik, akhirnya ni motor selamat juga" Ujar Feron bahagia.
Setelah mengantar Nanda kembali ke kosnya, tanpa disadari motor Feron mengalami bocor ban. Karna otaknya sedang encer, jadi ia sengaja memilih untuk menambal di depan SMA 2.
Padahal ada Regas di sekolah yang siap membantu masalah kecil seperti ini, namun karna sudah ada niat bersih dihati akhirnya Feron rela berkeringat cukup lama untuk sampai kesini demi mengintip Afni.
Ditengah aksi menunggunya, tak sengaja berjumpa dengan Wilda yang sedang menunggu jemputan yang tak kunjung datang, alhasil sebagai umat tuhan yang baik Alfi menawarkan diri untuk mengantar wilda, karna rumah mereka yang juga searah.
Brummm
Cklik
Bruuummm
Bruuummmm
"Sumpah ya, tu Bruno gak pernah gak buat onar" Celetuk Alfi.
Bruno yang tak sengaja melihat Alfi dan Feron langsung mengalihkan stang motornya yang hendak belok menjadi lurus.
"Kenapa no?" Tanya Afni yang duduk di jok belakang.
"Gak apa-apa ni, cuma pengen nyapa teman lama" Lirik Bruno memberi penjelasan.
"Ok"
Feron sudah memakai helmnya begitu juga Alfi, karna suasana yang sudah sore dan ditambah Wilda teman semasa SMP mereka juga ikut menumpang bersama Alfi maka mereka harus cepat pulang.
"Udah siap Wil?" Tanya Alfi yang hendak meng-stater motornya.
"Udah Ron" Jawab Wilda.
Baru saja ingin tancap gas, motor mereka langsung dihadang oleh motor V *ction milik Bruno.
"Eits.."
Alfi menatap tidak suka Bruno, sementara Feron malah fokus pada Afni.
"Perasaan kita berdua kagak cari masalah ama lu dah?" Tanya Alfi tak suka.
"Tapi gua yang cari ribut" Jawab Bruno tersenyum miring.
...TBC ...