All For Dreams

All For Dreams
It's wrong



"Rumah lu jauh juga ya kalau malam" Ucap Nanda memandang sekeliling.


Feron melirik spion motor "Pfttt... Emang ada kalau malam jarak rumah jadi jauh? Gua rasa kagak" Jawab feron turun dari motornya yang sudah di standard.


Berjalan masuk ke dalam rumah.


"Eh, aden udah pulang. Mau dibuatin apa den?" Tanya bi Asih tiba-tiba nongol seperti setan.


Nanda sudah memeluk Feron erat, sementara Feron sudah syok duluan.


"Astaga-astaga, ya ampun (mengusap dada) teh manis aja buat tamu kita sama air putih dingin buat saya bi" Balas Feron.


"Ok den" Balas bi Asih lagi berlalu pergi.


"Itu siapa Ron?" Tanya Nanda.


"Itulah bi Asih, pembantu baru dirumah. Kata Vein lumayan buat bangunin gua berangkat sekolah sekalian nemenin dirumah," Ucap Feron berlalu naik ke lantai dua.


"Oh iya, lu duduk aja di sofa ruang keluarga, entar bi Asih pasti nganterin minumnya" Lanjut Feron melangkah naik.


"Lu mau kemana?" Tanya Nanda seraya berjalan.


"Ke kamar, mandi" Jawab Feron.


..........


Beberapa saat kemudian...


Nanda di temani bi Asih akhirnya beralih duduk ke meja makan karna Nanda yang mengaku belum makan malam dan membuat bi Asih langsung berkata "Astaga neng, Sok atuh bibi buatin makanan dulu. Nanti neng sakit bagaimana coba? Bisa-bisa si Aden ketar-ketir nanti" Ujar bi Asih menarik paksa tangan Nanda.


"Gimana Neng?" Tanya bi Asih mengantarkan air putih.


"Enak tante" Jawab Nanda jujur seraya menghabiskan suapan terakhirnya.


"Aduh neng, jangan panggil tante atuh, bi Asih aja udah cukup" Tutur bi Asih mundur setelah meletakkan teko air.


"Loh, kenapa bi Asih gak duduk di samping saya?" Tanya Nanda.


"Mmmm... (menggeleng) bi Asih gak berani, kata tuan besar bibi harus bersikap selayaknya pembantu disini" Ucap bi Asih tersenyum.


"Gak gitu juga atuh bi, bibi kalau mau duduk di kursi ya duduk aja. Lagian bibi itu bukan pembantu, tapi asisten rumah tangga" Ucap Feron duduk di depan Nanda.


Nanda menatap Feron takjub.


Feron yang semula menatap bi Asih seketika risih di tatap Nanda "Apa?" Tanya Feron.


"N-ngak ada" Jawab Nanda menunduk.


Untuk kesekian kalinya gua kembali terpana dengan pesona Feron


Suara hati Nanda tersenyum kikuk.


Skip time...


"Ni kamar lo, udah di bersihin bi Asih juga barusan. Jadiii.. Semoga mimpi indah. Kalau ada apa-apa lo bisa panggil gua atau telfon atau lari ke lantai dua trus dobrak pintu bercat biru di belokan kiri paling ujung. Ada pertanyaan?" Ujar Feron.


"Mandi?" Tanya Nanda.


"Untuk urusan mandi lo tinggal buka lemari ono (menunjuk lemari tanam di samping meja rias) disitu ada pakaian yang mungkin pas buat lu. Ok, selamat malam dan semoga betah" Tutup Feron berlalu pergi.


"Untuk kesekian kalinya gua berucap WOW ke rumah ni orang, super gede" Gumam Nanda menatap ke seluruhan kamar.


.


.


.


Keesokan harinya.


"Nghhh..." Gumam Nanda bangun dari tidurnya.


Tuk.. Tuk... Tukk...


Suara pisau bi Asih memotong berbagai jenis sayuran.


"Bi Asih" Ucap Nanda sudah berganti pakaian.


"Eh, neng Nanda. Sok atuh duduk neng, bentar lagi juga supnya matang" Ujar bi Asih.


"Loh, saya belum nanya atuh bi" Ucap Nanda tertawa setelahnya.


"Hahahaha... Mon maaf atuh neng, bibi kebiasaan disini" Balas bi Asih.


"Maksud bibi?" Tanya Nanda mencomot buah pear yang tersaji.


"Kalau di rumah ini tuh ya neng, emang biasa harus peka. Sebelum di tanya itu udah harus tau duluan apa yang di tanyain, baru tuh pada raden-raden senang" Jawab bi Asih sontak membuat Nanda menghentikan kunyahannya.


"Ck! Selalu gua, selalu gua yang harus peka di dalam persahabatan ini, selalu gua yang harus jadi garda terdepan untuk kalian dalam memahami. Kenapa sih kalian bahkan gak pernah mau tau tentang gua dikittt aja, ah! Percuma ngomong" Geram Feron menendang angin.


Sekilas ingatan itu kembali singgah di otak Nanda.


"Kalau disini itu ya neng, emang keluarganya rada aneh pisan. Kalau teh aden Feron tuh cuma natap aja kita harus udah tau dianya isyaratin apa, dia orangnya gak suka ngomong banyak. Apalagi kalau soal urusan, dia mah orangnya paling gak suka kalau ada yang nanya kenapa, Gak tau, harus dikasih tau, atau tuan muda harus jelasin maksud tujuan dia itu gimana, pokoknya diateh orangnya lebih suka dipahami cepat. Diawal pertemuanteh bibi juga heran sama aden, tapi sekarang bibi teh udah memahami lah istilahnya, " Bibi berhenti berbicara, sepertinya dia melupakan sesuatu pada masakannya sehingga ia terpaksa berhenti berbicara.


"Istilahnyaa?" Ulang Nanda.


Setelah sadar dengan apa yang ia lupakan, akhirnya bi Asih berbalik menatap Nanda "Istilahnya teh si raden itu kesepian, banyak beban hidup, contohnyaaa..... (bi Asih diam) Contohnyateh seperti percekcokan tuan besar dengan aden. Ketidak akuran mereka dan di tambah Raden Adi dan Tuan besar Vein sering tidak di rumah, selain itu bibi dengar kabar kedua orang tua aden juga sudah berpisah. Mungkin itulah yang membuat aden kesepian dan sepertinya lebih butuh perhatian, mangkanya teh, bibi selalu siap untuk satu langkah lebih peka sama aden supaya dia selalu dianggap," Terang bi Asih meletakkan sup buatannya ke atas meja makan.


" Nah, sudah selesai. Sekarang bibi mau bangunin aden dulu ya neng" Ujar Bi Asih.


"Dasar si Feron kebo" Gumam Nanda.


.


.


.


Feron menguap untuk kesekian kalinya, dengan pakaian khas melayu terpakai indah beserta songket yang sudah terlilit rapih dipinggang dan tanjak di genggaman, sepertinya Feron siap untuk sesuatu hal.


"Mau kemana Ron?" Tanya Nanda di sela suapannya.


" Dimana? " Tanya Nanda masih kepo.


" Di dekat rumah pacar lo" Jawab Feron memakan rotinya.


"Eh?"


"Iya, lo mau ikut?" Tanya Feron.


"Boleh" Jawab Nanda antusias.


"Eh, gak usah deh. Gua gak mau bawa buntut" Balas Feron berlalu.


"Maksud lo?" Tanya Nanda tak mengerti.


Feron menghentikan langkahnya, dia melirik kebelakang, tepatnya ke arah Nanda. Dengan helaan nafas gusar akhirnya Feron bersuara "Terserah, kalau mau ikut bi Asih bisa kasih tau lo pakaiannya. Selera humoris sahabat gua rendah" Gumam Feron diakhir seraya berlalu pergi ke halaman belakang.


Dan akhirnya...


Kamar tamu...


"Akhirnya selesai juga, cantik sekali neng Nanda. Ahhh... Saya jadi iri" Ucap bi Asih tersenyum senang melihat kecantikan Nanda saat memakai pakaian melayu, bahkan bi Asih sengaja menata rambut Nanda dan memberikan beberapa hiasan kepala sebagai pelengkap.


"Bagaimana neng?" Tanya bi Asih merapikan sedikit anak rambut Nanda.


Nanda yang ditanya tak dapat berkomentar, dia hanya terus menatap pantulan dirinya di cermin. Dalam benaknya hanya tersebut kata.


Ini beneran gua? Kok cantik?


Isi hati Nanda takjub.


" M-makasih banget bi Asih, saya gak pernah di dandanin secantik ini sebelumnya (berbalik memeluk bi Asih) makasih banget" Ujar Nanda mengutarakan rasa terima kasihnya.


"Ni Amo, jatah bambu buat 5 hari kedepan. Jangan rakus, makannya dikit-dikit aja" Ucap Feron menimang bayi panda gemuk layaknya bayi manusia seraya berjalan masuk ke dalam kamar Nanda, ia tak luput memegang bambu yang di arahkan ke mulut sang panda.


Bi Asih hanya tersenyum menatap kehadiran Feron, namun berbeda dengan Nanda.


"Lucu bangettt.." Sontak ucapan Nanda mengejutkan Feron yang beban hidupnya langsung di ambil alih Nanda.


"Utututututututu siapa namanya Ron?" Tanya Nanda langsung memberikan bambu kecil pada Amo yang langsung memakannya lahap, bahkan dari lima bambu kecil yang di bawa Feron, hanya sisa satu di tangan pemuda itu.


"Amo" Jawab Feron acuh.


"Amo! Waaahhhh gemes banget aaaaaa~" Ucap Nanda memberikan bambu terakhir.


"HA! Amo, gak usah minta lagi ya (menunjuk Amo) Bsok-bsok cari bambu sendiri, udah dibilangin makannya dikit-dikit malah di makan semua mentang-mentang disuapin cewek! Dasar panda mesum"


Gdubak!


Bunyi suara pukulan Feron pada pipi tembam Amo yang langsung menangis dan memeluk Nanda erat.


"Woy ASW! Siniloh! (Feron langsung menarik Amo) kita belum selesai!" Geram Feron menarik badan Amo kesal, namun Amo yang pintar malah semakin menarik pakaian Nanda kuat.


"Feron, pakaiannya" Teriak Nanda panik.


"Oh! Sorry" Ucap Feron melepas Amo yang langsung terlempar ke dada Nanda.


"Dasar panda Mesum" Cibir Feron bersilang tangan didada.


"Gimana den, pakaiannya. Cocokkan pilihan bibi" Ujar bi Asih.


"Hmmm... Bagus juga, pakaian ini udah lama ngak di pake Bunda Neti, masih bagus dan bisa di pakai gini juga lumayan," Komentar Feron meletakkan jari telunjuknya di dagu.


"Ya udah, cus berangkat. Gua gak mau kehabisan prasmanan" Final Feron berlalu lebih dulu.


"Fer Amonya gimana?" Tanya Nanda mengikuti Feron.


"Kasih aja ke bi Asih, kalau dia tetap ngotot ama lu ya udah buang aja di sungai Kampar" Jawab Feron ringan.


.... ***....


Di tempat lainnya.


"Daff, aku cantikkan?" Tanya Yuna antusias.


Daffa melirik "Hmmm..." Gumamnya acuh.


Semenjak kejadian itu, Daffa sedikit kesal pada Yuna, namun setelah mendengar penjelasan gadis itu Daffa malah ikut membenci gadis tomboy yang telah memukul kekasihnya.


"Awas aja lo, gua bakal balas perbuatan lo dua kali lebih pedih dari apa yang lo lakuin ke pacar gua," Geram Daffa memukul stir mobil.


"Kamu ngomong sesuatu Daf?" Tanya Yuna.


"Gak ada, aku cuma mikirin bisnis papa" Jawab Daffa berdusta.


Yuna memilih untuk percaya saja dan kembali menatap kedepan "Asyik, kita udah sampai" Ucap Yuna antusias, namun berbeda dengan Daffa yang menatap siluet incarannya.


Daffa ber-smirk


Sepertinya nasib berpihak ke gua. Awas aja lo Nanda Triasla, gua bakal buat lo beserta keluarga lo gak bakal tau rasanya kenikmatan dunia setelah apa yang lo lakuin ke milik gua


" Daff, ayo turun" Ucap Yuna melepas seatbelt.


"Duluan, gua nelfon dulu" Balas Daffa tersenyum.


"Woke" Balas Yuna lagi.


Setelah Yuna pergi...


"Hallo, Gua ngeliat target yang udah berani merusak milik gua..


Hmm...


Sepertinya ini takdir (Daffa menatap targetnya dalam pandangan lapar)


Ya, gua di acara keluarga Adidjaya, lo bersiap aja buat sekap target di saat yang tepat.. Hmm" Ucap Daffa menutup telfon dalam senyum iblisnya.


...... ****... ...