All For Dreams

All For Dreams
Bisakah perasaan sahabat berubah?



Dua hari sudah di habiskan Feron hanya untuk menjauhi Nanda. Namun gadis itu memang di akui Feron bar-bar stadium akhir.


Sampai Feron mengatakan berhenti, Nanda malah akan mengatakan sebaliknya. Namun kali ini Fiona menyelamatkannya.


"Makasih ya Fio." Ucap Feron berusaha menelan ludahnya sendiri.


"Masama." Sahut Fiona juga ikut menelan ludah.


Intinya, mereka berdua kabur dari Nanda.


.......


.......


.......


.......


...All For Dreams...


...Bisakah perasaan sahabat berubah?...


.......


.......


.......


.......


Feron mengintip sedikit, mencoba mendeteksi keberadaan Nanda. Namun hati masih enggan untuk sekedar melangkah barang satu gerakan.


"Gua rasa lebih aman di belakang bengkel untuk sementara." Gumam Feron kembali menyandarkan diri ke dinding.


"Huft... (melirik Fiona) Lu baik-baik aja kan? Masalahnya tadi kita kan gak sengaja kepleset." Feron langsung berjalan mendekati Fiona yang jongkok.


"Apa yang sakit?" Tanya Feron melihat kaki Fiona.


Fiona menggeleng, ia hanya menatap Feron sedari tadi hingga Feron merasa seperti di intilin setan PT. Yohanna.


Feron bangkit, ia berjalan memunggungi Fiona yang masih anteng memperhatikannya seraya berfikir kenapa Nanda selalu ingin mengejarnya, apa jangan-jangan Feron lupa bayar hutang? Sepertinya ini patut untuk di luruskan sebelum Fiona menyentuh perut Feron hingga Feron langsung bergedik nyeri.


"Fer, gua mau ngomong." Ucap Fiona serius.


Feron berbalik, ia langsung menurunkan tangan Fiona yang jujur tak nyaman bagi Feron.


"Apaan? Cepet ya, masalahnya gua mau lurusin perkara hutang sama Nanda ni." Sahut Feron.


"Begini," Dengan gerakan cepat Fiona langsung mengunci pergerakan Feron dengan menyudutkannya ke dinding. Tangannya setia berada di sisi kanan dan kiri Feron yang langsung menatap Fiona horor.


"Fi-"


"Shuuuttt.... Gua udah lama nyiapin tekat ini, jadi jangan coba intrupsi, ok."


Feron mengangguk dengan pandangan yang setia memandang Fiona takut.


"Feron,"


"I-iya?"


"Gua suka ama lo, jadi pacar gua yok. Gua kaya kok, jadi uang bensin gak usah bagi dua. Untuk hangout juga gak perlu bagi dua, kita bisa sepakat 1 hari ini elo, besoknya gua. Gimana menurut lo?" Tanya Fiona semakin mendekatkan wajahnya pada Feron.


Feron menelan ludah susah payah "G-gua?"


"Feron gua cuma mau bicara ama l- hah?"


Nanda dengan mata kepalanya melihat Fiona mencium Feron.


"Bangs*t!"


.


.


.


.


Dengan jelas ia dapat melihat adegan ciuman pipi ala Fiona pada Feron yang langsung pingsan.


"Hahahahahahaha, aku tertawa hahahahahahha....."


"FEROOOONNN!!!!!!" Terdengar suara teriakan Nanda dan di susul pukulan dan tendangan, sepertinya anak itu tidak akan pernah berpisah dari yang namanya perban dan PT3K.


Ryou menutup wajahnya dengan sebelah telapak tangannya "Ini menarik, semakin ke sini rencanaku semakin jelas." Gumam Ryou tersenyum memandang plafond dari sela jari-jarinya.


"Buat ini jadi leb-"


Cklek!


"Ah!? Maaf pak Ryou." Ucap Ardi menunduk.


Ryou tak menjawab, alih-alih menyaut Ryou malah menatap Ardi tak bersahabat, hingga pria itu memilih untuk menutup pintu kembali.


"Sepertinya aku harus mengurusnya terlebih dahulu." Gumam Ryou menatap ke arah pintu tak suka.


Brakk!!!


"Wah! Ada apa ini?" Tiba-tiba pintu kembali terbuka, namun kali ini malah murid-muridnya yang baru saja berdrama di belakang bengkel lah pelakunya.


"Pokoknya saya mau bapak mengadili tindakan ini seadil-adilnya!" Seru Fiona tak terima, ia selalu menyentuh bekas sleding Nanda pada pipinya yang langsung lebam sebelah.


"Memangnya ada apa ini sebenarnya?" Tanya Ryou tersenyum ramah.


"Gak usah senyum lo pak! Sekarang kita cuma minta peradilan supaya gua bisa singkirin udel titan ini dari muka bumi." Ucap Nanda geram.


"I-iya, tapi ada apa dulu? Saya gak bisa kasih peradilan kalau masalahnya aja gak jelas." Ucap Ryou mengangkat kedua tangannya seperti menyerah dan di tambah dengan wajah kusut tak bisa berbuat apapun lagi.


...Skip time...


...****************...


"Hmph! Hmph! Jadi begitu rupanya." Gumam Ryou menganggukkan kepalanya.


BRAK!


"Gak usah sok ngangguk pak! Sekarang saya mau bapak selesaikan masalah ini secara 'perperasaan seorang siswi!', saya harus segera membalas perbuatan gadis jejadian ini agar hubungan saya dan Feron tidak di halangi lagi pak!" Bentak Fiona menunjuk-nunjuk muka Nanda geram.


Jantungnya sudah terbakar ingin membejek-bejek Nanda dengan kakinya ini.


"Apa lo! Berani banget lo sok ngomong gitu ke gua ha! Lemah sok keras ini ni orangnya!" Balas Nanda berdiri dan menunjuk Fiona.


"Heh! Mentang-mentang lo yang kepilih ama bang Ical jadi pengibar bendera di 17-an kemaren aja bangga! Sok lagi pas naik pangkat! Sekarang malah ganggu gua mau berduaan sama Feron lagi! Emang gak punya otak lo!" Balas Fiona ikut berdiri dan menunjuk Nanda.


"Apa!? Mantap banget, jadi rupanya lo iri ama gua makanya lo keluar gitu, dan lo nyalain gua karna gua yang kepilih sama bang Ical?! Heh! (menyentil kening Fiona) sadar ya siput darat, itu cuma salah lo. Dan lonya aja yang gak pernah respect kalau lu itu sebenarnya gak berbakat! Coba-coba deketin Anwar juga lagi, padahal dia udah jadi milik gua. Dan sekarang lo mau deketin sahabat gua. Hah! Permainan hijaiah macam apa yang sedang lo buat ama gua ha! Lo gak sadar ya kalau lu itu menyedihkan!? " Ucap Nanda panjang lebar.


Fiona langsung terkejut dan tak percaya dengan apa yang di ucapkan Nanda padanya sungguh menyakitkan.


" Lo...." Desis Fiona "Lo terlalu lancang!"


Plak!!!


Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Nanda, tamparan yang begitu keras hingga meninggalkan bekas di sana.


.......


.......


.......


.......


...TBC...