
Sudah dua kali Feron menelfon Ryou, namun hanya suara wanita operator yang menjawab.
"Lumayan lah Ron ada yang jawab, daripada tiiiitttt doang." Ucap Alfi.
Namun kali ini Feron tidak bisa tertawa karenanya. Ia hanya memandang Alfi sambil memonyongkan bibir kedepan.
"Bisa gak, otak lu sesekali di gunain buat yang cerdas, kita lagi gak bahas bumi datar Fi. Kita lagi bahas masa depan kepintaran gua."
"Ok, sekarang kita harus gimana?" Tanya Alfi mengeluarkan smartphone. Ia mencoba untuk menjadi sedikit berguna walau tak terlalu berguna.
"Ok, sekaranggg..."
Dan pada akhirnya,
"Gak nyangka ya Ron rupanya rumah doi di sebelah rumah lu." Ucap Theo memandang rumah Ryou dan Feron bergantian "Jadi selama ini lo gak tau ya kalau tetangga lu itu walas lu sendiri." Lanjut Theo memberikan wajah mengejek.
"Gak, dan gua juga gak perduli sekitar." Jawab Feron singkat dan langsung melangkah dan mengetuk pintu ber cat gading itu dalam nuansa serius.
Bahkan keningnya sudah berkerut ingin segera bertemu sang walas dan bertanya banyak hal padanya, sungguh Feron sangat ingin untuk menyeret sang blonde untuk kembali mengajar, selain karna sudah pas, Ryou adalah satu-satunya guru yang bisa mengerti dirinya.
Mungkin juga bukan dirinya, karna semua teman sekelas malah ikut nimbrung mengikutinya di belakang.
"Ron, bisa cepat gak sih? Ini kok lama banget, cuma sekedar ketuk aja pake menung dulu." Sanggah Arman maju mendekati Feron.
"Gua perlu berpikir dulu oon, ini gak mudah." Celetuk Feron bermuka sangar.
Ia langsung menyentak Arman dengan kalimat sangar hingga membuat pemuda yang terkenal dengan ocehannya itu mundur.
"Huft... Sekarang gua bisa lakuin dengan sedikit tenang." Bisik Feron dan langsung mengetuk pintu.
.......
.......
.......
.......
...All For Dreams...
...It's Dreams...
.......
.......
.......
.......
.......
Pada akhirnya semua berkumpul di rumah Feron, dengan wajah murung mereka semua hanya dapat menatap ke bawah.
Sampai pada akhirnya Vein pulangpun, mereka masih enggan untuk beranjak.
"Apa yang kalian renungkan?" Tanya Vein bersedekap dada di belakang Feron yang duduk di sofa single.
Semua menatap, Vein jadi sedikit aneh saat mata itu sedikit berair. Jujur saja, Vein membenci air mata. Namun jika ia menunjukkan sifat anehnya lagi sepertinya ini bukanlah waktu yang bagus.
"Om Burhannn~" Ucap mereka manja.
"Apa!?" Tanya Vein menaikkan nada suaranya tak terima, jika di perhatikan lebih seksama, terlihat urat kesal di pelipis Vein yang berkedut emosi.
Dan semua langsung diam saat menatap urat-urat itu mulai mencuat semakin banyak keluar di kening Vein. Sungguh pria ini tak bisa di ajak bercanda.
Namun kenaifan teman sekelas Feron tidak pernah belajar bertapa pendeknya sumbu kemarahan seorang kepala keluarga Adidjaya ini dan malah memancing ulah.
Setelah beberapa pembicaraan panjang, akhirnya Vein memberikan senyumannya walau tipis sekali.
Membicarakan sosok Ryou rupanya.
Isi hati Vein Memandang seluruh teman sekelas Feron.
Ia cukup tertarik dengan mereka semua yang sampai rela menyambangi rumah hantu di sebelah hanya untuk bertemu Ryou yang sudah tidak di Indonesia.
.
.
.
.
.
"Akhirnya dia pergi juga, walau dengan banyak cara." Gumam Ardi menutup laptopnya dalam senyum bangga.
Tak pernah terbayang olehnya, mengusir sosok William semudah ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Namun apa perduli Ardi, yang jelas kejanggalan ini akan ia jadikan sebuah keberuntungan.
" Sekarang hanya tinggal memainkan pion, merubah semua nilai ujian akhir saat semuanya sudah selesai di persiapkan. Hahahahaha.... Dengan begini semua uang itu akan berjalan ke kantongku, dan kulit manis serta tubuh menggoda itu akan menjadi milikku..." Ucap Ardi semakin meninggikan suara di keheningan kamar kost.
.......
.......
.......
.......
.......
...Tbc...