
Wajah Tampan Vein kini sudah dilapisi perban. Pria 45 tahun itu kini malah sedang menatap Nanda dan Alfi yang malah menghalangi langkah terburunya. Sementara Regas, Ragas, Theo, Lulba dan anggota gank lainnya sudah melingkari Vein yang malah semakin jengkel.
"Ada apa ini?" Tanya Vein geram.
"Kami cuma mau bicara sama om" Ucap Nanda mantap.
"Bicara padaku? Kenapa dan untuk apa seorang gadis muda menghentikan langkah seorang ayah yang ingin menebus obat anaknya?" Tanya Vein mengintimodasi Nanda.
"A-"
"Sudahlah nak, aku harus segera pergi. Atau Feron akan kembali menggila" Final Vein langsung terburu pergi, enggan memberikan Nanda kesempatan untuk berbicara lebih.
.......
.......
.......
...All For Dreams ...
...Tidak akur...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
Di ruang inap.
"Feron" Gumam Neti menatap Feron yang bukannya semakin membaik malah semakin buruk kondisinya.
Setelah kejadian saling mencekik itu, dokter datang. Dan langsung membius Feron agar tertidur, mental anak itu sedang menggebu-gebu. Setelah Feron tertidur, Neti langsung mengajak sang kakak keluar dan bertanya apa yang telah di lakukan sang kakak pada keponakannya, tapi Vein hanya menjawab.
"Mental anak itu rusak" Jawabnya singkat yang hampir membuat Neti sangat ingin menambahkan memar lainnya di muka datar itu.
Bisa-bisanya ia, ayahnya sendiri mengatakan mental darah dagingnya rusak, Tidak dapat di percaya.
"Ini semua juga salahku" Tiba-tiba suara Ryou memecah keheningan ruang inap itu.
Setelah melihat kejadian brutal, Ryou langsung saja menyuruh anak-anak untuk pulang dahulu sebelum mengunjungi Feron besok atau lusa. Menunggu ketenangan semuanya dan kini hanya tinggal Ryou dan Neti yang duduk bersebelahan menatap tubuh penuh luka Feron yang terbaring lelap di kasurnya.
"Apa maksudmu?" Tanya Neti melirik Ryou penuh tanya.
"Sebagai seorang walas, aku seharusnya lebih memperhatikan setiap muridku dan bukannya malah membiarkan mereka dengan segala kelakuannya tak ter-arahnya" Ucap Ryou ikut menatap Neti dengan wajah sendu penuh penyesalan.
Neti yang menatap wajah itu langsung saja mengalihkan kembali pandangannya, ia tidak dapat melihat raut kesedihan banyak orang hanya karna Feron, keponakannya yang sangat berharga.
Neti mengelus sebentar pucuk kepala Feron dan langsung beranjak.
"Aku akan pergi sebentar, aku titipkan Feron pada anda pak guru" Ujar Neti kemudian berlalu pergi.
Ryou hanya bisa mengantar kepergian Neti dengan senyum ramahnya, setelah pintu ditutup Ryou kembali menatap Feron.
Cukup lama, hingga pintu kembali terbuka. Menampilkan Vein dengan wajah lelahnya memasuki ruang inap.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Vein menaruh obat-obatan di atas nakas di samping ranjang Feron.
"Keadaannya mulai membaik, dokter berkata Feron hanya perlu beberapa pemulihan untuk cedera barunya" Jawab Ryou menatap Vein dalam ekspresi bisnis.
"Hahhh~ Rekan bisnisku yang menyebalkan kini malah berprofesi menjadi guru anakku" Gumam Vein menyilangkan tangannya di dada.
"Hahahahahahah, jangan terlalu memojokkan saya tuan Adidjaya," Balas Ryou dengan senyum misteriusnya.
"Bagaimanapun juga pertambangan itu harus sukses besar, aku sudah mengeluarkan banyak dana hanya untuk mengikuti ucapan si botak Gundur" Lanjut Ryou, membuat Vein langsung memijit pangkal hidungnya tak mengerti dengan Gubernur satu itu.
"Gubernur satu ituuu, hanya bisa korupsi saja" Balas Vein memilih menatap wajah lelap sang putra.
"Maafkan ayah nak, suatu saat kau pasti akan mengerti maksud ayah mencelakaimu" Gumam Vein mengecup kening Feron dalam.
Sementara Ryou hanya dapat menatap dalam air muka misterius. Siapa yang tau, sebenarnya aksi Vein sudah di rencakan.
.
.
.
Seminggu telah berlalu, semenjak Feron yang berada di rumah sakit, keadaan SMK 1 masih ramai akan berandalan. Termasuk berandalan baru yang malah membuat Regas dan yang lainnya hanya menatap mereka dengan tawa lebar penuh ejekan.
"The, bagi goreng pisangnya dong" Ucap Ragas menjulurkan tangannya sementara matanya fokus menatap ke arah berandalan kelas 10 yang sedang asyik memanjat pagar dengan susah payah.
Dan mereka semua malah santai duduk di tengah lapangan Voly seraya menggelar karpet dan malah piknik menonton aksi pak Ibram dan pak Puad yang tengah mengejar murid-murid berandalan itu.
"Ngopi dulu pak" Tawar Regas menyodorkan kopi hitam ke wajah pak Puad yang langsung menatap kopi itu minat.
"Boleh juga beristirahat sejenak sebelum kembali kerja" Balas pak Puad langsung mengambil gelas berisi kopi dan duduk di samping Ragas yang asyik ngemilin kuaci seraya menikmati kopi perlahan.
"Capek ya pak?" Tanya Ragas.
"Ya capeklah, namanya juga ngejar slurrrrrrrppppp.... Oh iya, kok kalian tumben gak panjat pagar, terhitung sudah seminggu juga ni?" Tanya pak Puad malah heran.
"Untuk kali ini kita break dulu pak, pen menikmati hari sambil nunggu si Feron sehat" Jawab Alfi menyeruput tehnya dalam ketenangan.
"Hoooo oh iya, bagaimana keadaan anak itu?" Tanya pak Puad membalikkan badannya menghadap pada Alfi dan anggota Gank.
"Membaik alhamdulillah, tadi pagi dia baru saja siuman " Jawab Lulba yang asyik memakan salad buah.
"Hooo.... Baguslah" Balas pak Puad kembali menyeruput kopinya sementara Alfi malah memperhatikan pak Puad dalam fikiran menimbang sesuatu.
"Pak" Panggil Alfi.
"Hmph!" Jawab pak Puad.
"Gimana kalau kami bantu buat nangkap adik kelas itu?" Tawar Alfi menatap adik kelasnya penuh minat ingin menjahili.
"Tentu saja silahk-" Semua sudah pergi menyisakan pak Puad dengan beberapa keranjang cemilan mahal.
.
.
.
"Hi dik!" Sapa Alfi yang menyandar nyaman di dinding pagar dengan rokok yang terapit di sela bibirnya.
"Apa!?" Jawab adik kelas itu ketus, sebenarnya ia sedikit terkejut dengan kehadiran Alfi yang tidak ia sadari, namun untuk menutupi semua itu adik kelas ini malah berbicara ketus.
"Daripada hanya menjadi berandalan sampah, bagaimana kalau lo bergabung aja dengan Gank kakak?" Tawar Alfi mengambil batang rokok di sela bibirnya dan menghembuskan asap perlahan dari mulut sejuta tipu mulsiat itu.
"Maksud lo?" Tanya adik kelas itu tak paham, ia yang kini sudah berada di atas pagar hanya dapat melirik Alfi dalam tanya.
Alfi beranjak dari sandaran nyamannya dan berjalan tiga langkah kedepan kemudian melirik ke arah adik kelas itu.
"Bergabunglah bersama kami untuk tawuran dan aksi menjebak anggota Passus yang lo ngak sukai itu" Ucap Alfi dengan Smirk misterius.
Tak jauh dari sana, Nanda yang tengah melakukan patroli rutin Passus tak sengaja memandang Alfi dengan batang rokoknya tengah bercengkrama dengan seorang siswa yang ingin keluar lingkungan sekolah.
Tanpa basa-basi Nanda langsung berlari, walaupun mereka bersahabat namun peraturan harus tetap di tegakkan tak perduli jika itu kawan, sahabat, maupun keluarga sekalipun. Nanda harus terus melangkah memberikan hukuman pada para berandalan ini.
"Kak, anggota Passus mendekat" Peringat adik kelas yang tak sengaja menatap Nanda.
Sementara Alfi dengan santainya malah melirik Nanda dengan Smirk berandalannya kemudian langsung mengambil langkah dan berlari mengambil satu tapak di dinding pagar dan seketika meloncat dengan gaya akrobatnya melintasi pagar dengan mudah.
Tap!
Alfi melirik kebelakang,
"Apa lagi yang lo tunggu? Ayo cepat turun dari situ sebelum Nanda menangkap lo dan memberikan hukuman" Peringat Alfi.
"Sesuai peraturan, kau adik kelas 10 MM. Turun kemari sebelum kakak bertindak lebih!" Perintah Nanda menunjuk adik kelas untuk turun.
Adik kelas itu bingung, ia melirik Alfi dan Nanda bergantian. Antara bingung dan juga penasaran. Ini pertama kalinya ia melanggar peraturan sekolah, ia sudah lama mengimpikan suasana ini. Namun, disisi lain ia takut dihukum. Apa yang harus ia perbuat?
"Hi dik, Tenang saja. Peraturan ada untuk dilanggar bagi kita Yang memiliki niat" Ucap Alfi langsung menarik kaki Adik kelas itu dan membawanya untuk terjungkal ke luar pekarangan sekolah.
"Aduhaiiiii" Gumam adik kelas itu yang bukannya malah di tangkap Alfi, malah di biarkannya jatuh mencium tanah berumput.
"Minimal peregangan pagi hahahahahahha" Tawa Alfi tanpa merasa bersalah.
Sementara Nanda langsung mengumpat marah.
"Awas aja lu Fi, kalau ketangkap gua sleding lu sumpah!" Geram Nanda berteriak.
"Kutunggu sleding muuuuu sayang hahahahahahahaha!!!!!!" Jawab suara itu semakin menjauh.
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...TBC ...