
Sekarang sudah tak ada lagi yang namanya tawuran, semua anggota sekarang sudah menjadi kelas 12, kelas yang dimana hanya penuh pelajaran dan pengamatan untuk UKK serta ujian-ujian wajib lainnya.
Tak terkecuali dengan Feron yang juga mulai meninggalkan dunia tawuran dan cabut dari kelas, kini ia hanya fokus dan duduk nyaman sambil memperhatikan Ardi menjelaskan pelajaran matematika dengan sikap sok tegas.
Menyebalkan,
Setidaknya itulah kata yang selalu terpancar dari muka kusut Feron setelah menerima kabar bahwa ke 'walasan' kelas Feron di ambil alih oleh Ardi dengan senyuman lebar.
.......
.......
.......
.......
.......
...All For Dreams...
.......
...Kawat berduri...
.......
.......
.......
.......
.......
Sudah hampir 1 semester Ryouichi pergi, tak menjadi walas dan tidak ada kabar. Sebenarnya Feron begitu kecewa, jarang sekali mendapatkan sosok guru sepertinya namun sekali ia mendapatkan guru yang benar-benar bisa memahaminya, malah guru tersebut pergi tanpa kabar.
Ketika ia sudah mulai membuka diri, malah guru itu tidak bertahan sampai ia lulus. Ini menyebalkan, ini menyakitkan. Tapi Feron harus menerimanya.
Sekarang Ardi telah menggantikan kewalasan. Semua guru juga di ganti, walaupun ini terkesan aneh dan ganjil.
Kenapa di saat sudah kelas 12 para guru di ganti? Padahal baik dan buruk kedua belah pihak sudah saling mengetahui kemampuan dan tabiat masing-masing. Tapi dengan gampangnya pak Ibram mengatakan..
"Mereka lebih memahami materi apa yang penting untuk di sampaikan dan tidak."
Dan kalimat itu berhasil membuat sumbu kesabaran Feron habis.
Ibram bang*at! Beraninya tu kecebong laut ngomong sok gampang ama kita kelas 12. Bener-bener butuh di ajarin gimana tata bicara PUEBI yang bener tu orang!
Inner hati Feron menatap pak Ibram yang tengah berpidato di tengah teriknya panas matahari pagi Jum'at. Dan seperti tidak punya rasa seret si jenggot kambing malah makin semangat menyuarakan slogan SMK di depan teriknya sinar matahari, sementara kelas 9 hanya dapat mengikuti dengan semangat karna masih kelas bawang disini.
Kalau Feron sedari awal sudah malas, melihat tampang guru-guru disini saja sudah membuat mual apalagi mengikuti semua keinginannya.
Oh astaga, jangan pernah katakan hal seperti itu pada Feron yang notabenenya adalah pelajar bebal.
Kembali pada keadaan, kini Feron sudah berhasil melepas sepatunya dengan pelan dan tanpa di curigai.
"Beruntung banget hari ini gua pake sepatu yang tapaknya keras sekeras perasaan Vein." Gumam Feron memandang sepatu kanannya dalam Smirk lebar.
"Dan begitulah, kegiatan seterusnya akan dimulai dengan ujian akhir semester yang akan di mulai tang-"
Tukk!!
Jack pot, Feron berhasil mengenai sasaran dan langsung menyembunyikan dirinya di antara para siswa lainnya yang sedang duduk berdempet. Ia tidak perduli lagi jika sepatunya akan di musiumkan oleh Pak Ibram, karna sesungguhnya Feron telah membawa sepatu lainnya di jok motor sebagai ancang-ancang jikalau ia sedang kesal.
"Sepatu siapa ini!?" Tanya Pak Ibram bersuara tinggi di depan Mic.
Semua diam, tidak seorangpun yang mau mengaku, mereka malah memandang pak Ibram dan satu sama lainnya. Mencoba menepis bagaimana terkesannya mereka dengan lemparan sepatu yang berhasil membuat tanda tapak yang begitu jelas di muka itu.
"Saya tanya sekali lagi! SIAPA!!?" Tanya pak Ibram marah.
Semua terdiam kemudian mulai berbisik dan akhirnya saling menyalahkan. Bertanya kenapa serumit ini? Pastinya semua sudah di rencanakan. Feron sedari awal sudah mewanti-wanti tempat ia akan duduk dan menjalankan aksinya.
Melihat kiri-kanan takut ada guru yang meliriknya, dan pada akhirnya ia berhasil. Berhasil seratus persen.
Namun hal ini mengingatkannya pada Ryou kembali. Sosok guru yang dimana ada masalah selalu Ryou solusinya.
Aneh, namun kata-kata itu sepertinya memang cocok di sematkan pada guru blonde berkacamata frame terbalik itu.
Feron menjadi murung, seketika keceriaannya bubar tanpa sisa. Ia memandang ke belakang, berharap-harap cemas akan keberuntungannya menatap Ryou lagi, di gazebo depan perpus, tengah bersedekap dada menatapnya serius dengan kerutan dahi yang dalam. Kaki di ketuk pelan namun seirama dengan air muka masamnya.
"Heh, meski dilihat berapa kalipun itu hanyalah Gazebo kosong sekarang." Celetuk Feron memandang Gazebo dalam kemurungan dalam.
Feron mengalihkan atensinya kembali kedepan, namun tatapannya malah bersibobrok dengan lutut berlapis celana coklat longgar.
Feron langsung membelalakkan matanya dan seketika suara pak Ibram tak dapat di bendung lagi, astaga Feron tamat.
.
.
.
Clap!
"Ya, mau gimana pun rasanya udah ilang Fi." Balas Feron beranjak dari jongkok.
Ia meninggalkan sekop mini yang ia tancapkan di tanah, menepuk pelan kedua tangannya sebelum bergabung dengan Alfi yang tengah memperbaiki camera bengkel.
Ckrek!
Alfi memandang hasil jepretannya, foto Feron yang tengah berjalan ke arahnya.
"Gimana?" Tanya Feron ikut memandang hasil jepretan Alfi.
"Tak buruk, setidaknya dengan ini gua gak di hantu lagi sama pak Jimi." Balas Alfi mengemas camera tersebut.
"Hmmm..." Sahut Feron duduk di samping Alfi.
"Nih pakaian lu." Alfi menyodorkan pakaian melayu Feron.
"Makasih." Balas Feron tanpa melirik Alfi dan langsung mengambil pakaiannya.
"Heh.." Alfi kembali merotasikan matanya, tenang namun terselip rasa gundah.
Drrrrttt.....
Keduanya langsung memandang saku celana Feron yang bergetar.
"Siapa?" Tanya Alfi mendekat untuk melihat isi pesan yang terpapar.
"Ayah gua, dia minta tolong buat bawa pulang Theodolit dia di kantor." Kata Feron seraya membalas pesan itu secara singkat.
"Jadi kita kesana dulu nih?" Tanya Alfi ikut berdiri dari duduknya setelah melihat Feron menyimpan kembali smartphonenya dan berdiri untuk langsung beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Feron membalikkan badan 60° untuk kembali melirik Alfi.
"Ya."
.
.
.
"Jadi hanya ini laporannya?" Tanya Robert mengambil map itu dalam kebingungan.
"Ya, memang apalagi?" Ucap Vein ikut bertanya.
"Sulit di percaya, proyek sebesar ini hanya akan berakhir dalam sebuah kegagalan berlandas map kuning tipis." Ejek Robert menyimpan map itu pelan, tidak ingin ada kerusakan sedikit pun.
Vein yang memunggungi Robert langsung mengeluarkan cerutu, meletakkan di sela bibir tipis sambil memantikkan korek api.
" Fyuuuuu~ mendung sekali." Lirih Vein memandang langit dari balik kaca ruangannya.
***Tok!!
Tokk!!
Tok***!!
Vein langsung menutup mata dan menunduk sedikit, tangan sigap mengambil cerutu di sela bibir.
"Masuk." Ucapnya tegas dan langsung berbalik menghadap pintu besar yang kini terbuka.
"Dimana Theodolitnya? Aku mau cepat karna sepertinya akan hujan."
Vein langsung menampilkan senyum tipis dan berjalan pelan ke arah sofa, mengambil koper kecil berwarna kuning dan tripod theodolit.
"Ini dia anak bungsu ayah." Ucap Vein menyerahkan koper beserta tripod theodolit.
"Ya ya ya... Kau manis begini memang pas ada maunya saja, tapi terima kasih sudah bersikap sok perhatian begitu. Jujur gua jijik dari hati terdalam sampai ke dengkul." Feron menerima alat mahal itu dalam kekesalan, namun kekesalannya langsung teralihkan saat seseorang di belakang Vein meliriknya dalam Smirk.
" Eh? Apa kita...... "
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...TBC...