
Sudah 5 menit, Ryou memperhatikan aksi jambak-jambakan dan adu bacot antar dua siswi bar-bar.
Seperti de Javu, Ryou memilih untuk menonton dan memperhatikan acara ini dalam diam, saja. Malas melerai, nanti bukannya mereda malah lanjut ronde kedua.
Serius, Ryou sudah trauma. Apa ada yang ingat itu kejadian siapa?
.......
.......
.......
.......
...All For Dreams...
...Pertengkaran dan maksud sebenarnya...
.......
.......
.......
.......
.......
"Baiklah, sudah selesai?" Tanya Ryou memandang kedua siswinya dalam raut muka di buat serius.
Ya, mana mungkin ia akan bersifat sebagaimana dirinya dulu. Yang ada mereka akan trauma pada Ryou yang sekarang menjabat sebagai wali kelas mereka.
"Ya." Ucap kedua siswi itu saling memandang benci dan dendam satu sama lain. Mereka berdua sudah berantakan dalam penampilannya masing-masing.
Ryou memperhatikan Nanda dan Fiona bergantian "Memang benar masa muda itu menggelora, tapi kenapa kalian malah berkelahi begini. Dan juga a-" Ryou langsung menutup mulutnya.
Tidak baik membicarakan ini di depan dua orang yang sedang memperebutkan satu hal yang sama.
Inner Ryou mengusap dagu "Baiklah, Nanda. Kamu boleh keluar, lanjutkan pelajarannya. Dan Fiona tetap disini dulu. Bapak ingin berbicara empat mata dengan Fiona." Ucap Ryou, dan di patuhi oleh Nanda beserta Fiona yang tetap diam.
.
.
.
.
...Nanda POV...
Menyebalkan, kenapa gua bisa kepancing sih!?
Gua benar-benar gak habis fikir sama perasaan ini, semenjak pergi dari rumah menyeramkan itu emosi gua suka gak terkendali saat ngeliat Feron sama cewek lain, gua kenapa sih?
"Lo itu harus jujur sama perasaan lo sendiri, sebenarnya lo itu suka kan sama dia?"
Siapa? Kenapa selalu suara ini yang muncul di kepala gua sih?
Gua lekas menyentuh kepala gua yang berdenyut, rasanya begitu sakit hingga gua kehilangan keseimbangan.
...Nanda POV END...
Huft..
"Lu kenapa?" Tanya satu suara, Nanda tak dapat melihatnya, pandangan Nanda kabur.
"A-Alfi?" Panggil Nanda tak yakin.
"Ya, dan lu kenapa? Tiba-tiba jatuh gitu?" Tanya Alfi membopong Nanda untuk duduk di Gazebo terdekat.
"Gak tau, tiba-tiba kepala gua berdenyut sakit banget. Terus ada suara yang berdenging di telinga gua. Sumpah tu suara ganggu banget." Ucap Nanda memijat kepalanya sendiri.
"Suara? Siapa?" Tanya Alfi makin tak mengerti, sampai muncul perasaan ingin bertanya hal tersebut.
"Lu, ingat gak kejadian beberapa waktu belakangan?" Tanya Alfi mencoba mempertanyakan kejadian lalu pada Nanda yang langsung menampilkan muka heran.
"Apa? Kejadian apa? Si Puput kejedot pintu di rumah baru? Atau gua yang tiba-tiba bangun di rumah sepupu Feron itu?" Tanya Nanda balik.
Alfi langsung terkejut "D-Daffa? Lu kenal? A-atau lu ingat gak?" Tanya Alfi mencoba kembali.
"Daffa? Siapa tu Daffa? Anak pak Kades?"
Alfi langsung Facepalm, "Anak pak Kades tu si Junet. Au ah, berarti lu gak ingat."
Alfi langsung bergumam tak jelas di samping Nanda yang memperhatikannya bosan. Sungguh, jika ada kontes bacot tanpa jeda, sepertinya Alfi patut di nobatkan sebagai kandidat.
Dalam perhatiannya pada Alfi, Nanda tanpa sengaja memandang Feron yang berjalan tergesa dengan tasnya.
Isi hati Nanda langsung pergi dan mengikuti Feron, persetan dengan Alfi dan segala bacotan tanpa jedanya itu.
"Eh Nand, lu mau kemana oi!" Panggil Alfi, namun Nanda menghiraukan.
.
.
.
.
Disisi Feron.
Ia terus berjalan, berusaha menulikan telinganya dari panggilan telfon.
Ia tidak tau kenapa keluarga Adidjaya semakin hari malah semakin menggagu saja.
Feron berjalan cepat ke arah parkiran motor siswa, sedikit banyaknya ia merasa menyesal telah meletakkan motornya disini.
Melihat banyaknya halangan baginya untuk keluar semakin cepat dari sekolah.
"Bangs*t, motor-motor sialan!" Desis Feron menabrak habis motor-motor yang menghalanginya.
Ia tak perduli jika motor sportnya tergores, yang ia perdulikan hanya menjauh dari Adidjaya.
Menjauh dari...
"Feron."
Suara tegas mengintrupsi berhasil membuat Feron berhenti menggas, tangan langsung ia naikkan ke atas seperti seorang pencuri yang sudah tertangkap basah di kepung polisi.
Di depannya, Miya berdiri dengan angkuh bersama para ajudan kepercayaan di kiri dan kanannya. Tangannya tak henti mengusap bros intan yang menjadi penghias pakaian sutra.
Ia mencoba menahan emosi, bermain kucing-kucingan dengan Feron benar-benar menguras emosi seorang D'Miyans Adidjaya.
"Maaf tuan Feron." Ucap salah satu bodyguard mengambil kunci motor Feron dan memaksa Feron untuk turun.
Feron hanya melirik, pandangannya mendelik ke semua ajudan Miya yang bukan main banyaknya tengah mengepung dirinya.
Feron menurut, ia turun dari motor. Namun tangannya masih belum boleh turun.
"Kenapa banyak sekali?" Gumam Feron memperhatikan sekitarnya.
"Tentu dan harus. Nenek tidak ingin kejadian tempo hari kembali terulang. Setidaknya menyiapkan 50 bodyguard untuk berjaga-jaga adalah pilihan terbaik untuk cucu berotak licin sepertimu." Ucap Miya berjalan perlahan.
Saat sampai lima langkah di depan Feron, Miya langsung menunjuk sang cucu tepat di depan muka" Sita tasnya, lihat apa yang ia bawa!" Perintah Miya pada salah satu bodyguard yang patuh.
Feron mencoba melawan, namun bodyguard lainnya malah ikut menahan.
" Lapor nyonya, tuan muda membawa.... " Tak bisa mengatakan hal berikutnya, bodyguard itu memilih untuk memperlihatkan isi tas Feron pada Miya.
Pandangan yang semula tajam, menjadi semakin tajam saat melihat apa yang di bawa Feron di tas miliknya.
"Bawa tuan muda ke mobil, kita akan langsung ke bandara. (Berbalik dan melirik SMK) Menyekolah cucu keluarga terpadandang di sini benar-benar sebuah aib!" Desis Miya berjalan ke arah mobil Bugatti yang sudah menunggu.
Setelah masuk, Miya langsung menyuruh salah satu ajudannya untuk menarik Feron masuk ke dalam mobil yang sama dengannya.
Ajudan itu patuh dan hendak meraih pundak Feron yang langsung menepis "Nenek tak bisa melakukan semua ini! Aku sudah dewasa! Aku bukan anak-anak yang bisa nenek perintahkan ke sana ke sini! Aku sudah 17 tahun nek! Aku sudah punya hak!" Bentak Feron.
Ia terus menepis tangan para bodyguard yang ingin mengungkungnya.
"Nenek melakukan yang terbaik Feron, dan jika itu adalah yang terbaik. Nenek akan melakukannya sebisa nenek agar kalian, cucu-cucu nenek bahagia." Balas Miya melirik Feron.
"Tapi aku tidak bahagia!" Teriak Feron.
"Kamu akan bahagia, ikuti ucapan nenek. Nenek setidaknya bisa lebih tegas mengatakan semua ini di banding ayahmu bukan?"
"Ayah?" Feron langsung berhenti memberontak, ia mencoba mengingat semua hal yang di ucapkan ayahnya, namun ia tidak menemukan kejanggalan apapun.
"Kenapa dengan ayah? Apa maksud nenek sih?" Tanya Feron tak mengerti.
"Masuklah dulu, nanti nenek akan cerita semuanya." Miya langsung menyuruh para bodyguard untuk menendang Feron.
Dan tentu di turuti, hingga Feron melontarkan kalimat paling sakral yang berhasil membuat Miya langsung menggeplak kepala cucunya itu.
.......
.......
.......
.......
...TBC...