All For Dreams

All For Dreams
Jalan bareng ay-sahabat



.... ...


.... ...


.... ...


...All For Dreams ...


...Jalan bareng ay-sahabat...


.... ...


.... ...


.... ...


Tepat di hari yang di janjikan.


Feron tengah asyik memandang spion motornya seraya merapikan poni yang berantakan karna helm sport yang ia gunakan.


"Pa, Ma, Nanda berangkat dulu ya, assalamualaikum" Ucap Nanda keluar dari pintu utama.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan nak. Dan kau (menunjuk Feron yang langsung sweat drop di tempat) kau jaga anakku jangan sampai lecet sejengkapun, paham kau!?" Menujuk Feron dengan mata melotot tajam.


"S-s-siap papa mert-eh (di pelototin lebih dalam) salah siap om" Jawab Feron panik dan langsung menaiki motor sport birunya.


Brrrmmmm....


Brrrrmm....


"Yok cepat naik Nan, entar raja iblis ngamuk" Bisik Feron gemetar.


"Raja iblis yang lu maksud tu bapak gua An*ying" Kesal Nanda langsung menggeplak kepala Feron yang sudah di lapisi helm.


"Auch! Sakit atuh neng Nanda" Keluh Feron berpura-pura merasa sakit.


Setelah berhasil menggeplak kepala Feron hingga oleng ke kiri, Nanda lanjut naik ke atas motor sport itu walau susah payah.


"Memang gak ada motor lain lagi di bagasi motor kau itu ha Feron!? (setiap marah oom satu ini akan benar) bisa-bisanya kau bonceng anakku pakai motor kurang didikan ini (menunjuk motor sport Feron) percuma motor kau mahal kalau anakku harus nungging begitu duduknya. Turun dulu Nanda, ganti Celana jeans kau itu pakai Rok. Papa gak mau pantat kau itu kelihatan sama orang (pengendara) di belakang nanti" Perintah papa Nanda menyuruh anaknya mengganti celana dengan rok saja.


"Tapi paaa" Mohon Nanda.


"Minimal kau ambillah jaketmu di dalam dulu, trus kau lilitkan di pinggang kau supaya tertutup sikit auratmu itu" Perintah papa Nanda final menatap anak gadisnya nyalang.


"Iya deh paaa" Pasrah Nanda turun dari motor Feron dan berjalan masuk kembali ke dalam rumah.


"Percuma lulusan IHTIDAIYAH tapi pakaiannya masih tidak bisa menutup aurat" Gumam papa Nanda melirik anaknya itu tajam.


"Menyemenyemenye" Balas Nanda mengejek sang Papa yang langsung menampilkan pukulan anginnya hingga membuat Nanda lari terbirit ke dalam kamar.


"Hahahahahahha" Tawa Feron menatap Nanda yang berlari ketakutan.


"Hahahahahahha! Kau pikir aku ngelawak ha!? Sekarang kau pulak yang mau aku kultumkan!" Membentak Feron yang langsung terkejut di tempatnya.


"Sikit lagi kulihat mata kau mandangi anakku kayak gitu, kucolok habis mata kau lah" Peringat papa Nanda dengan gaya premannya kembali menunujuk Feron yang langsung menelan ludah kasar.


"B-baik ooommm" Jawab Feron bergetar.


"Besok, jika masih ku lihat kau jemput anakku pakai motor zina ini, ku bakar motor sepemiliknya sekalian biar hangus tak bersisa" Peringat papa Nanda membuat imajinasi Feron berjalan.


Vein dibakar se-motor sport ini? Hahahahahahha boleh juga idenya


Inner jahat Feron membayangkan ayahnya sendiri di bakar. (jangan ditiru fikiran positif ini ya)


"Udahlah susah naiknya, jok belakang kecil pulak. Pantat pun jadi nungging di buatnya" Gumam Papa Nanda kesal dan berbalik untuk memasuki rumah sementara Nanda malah keluar.


Nanda menatap papanya dalam ekspresi aneh.


"Nan-" Seakan tau dengan isi fikiran Feron, Nanda langsung menaikkan tangannya memberikan isyarat berhenti bicara.


"Gak usah disebut, gua tau lo mau ngomong apaan" Ucap Nanda melanjutkan jalannya kemudian naik lagi ke atas motor.


"Bapak gua emang kek gitu, tapi dia sebenarnya emang perhatian dan sayang ama gua" Ucap Nanda.


Feron yang menatap wajah tersenyum Nanda dari kaca spion motornya seketika ikut tersenyum menatapnya.


"Ok, kalau gitu berangkaaaattt" Feron langsung menarik gas dan pergi meninggalkan pekarangan rumah Nanda.


Dari dalam rumah papa Nanda masih menatap lekat Feron.


"Kenapa pa?" Tanya sang istri membawakan kopi pahit kegemaran sang suami.


Papa Nanda berbalik, menyambut uluran gelas kopi sang istri.


"Sebenarnya ngak terlalu serius, tapi ku katakan saja sekarang sebelum terlambat. Kurang suka aja aku pemuda yang bersama Nanda itu ma" Jawab sang suami menyeruput kopi khidmat.


"Maksud papa Feron ya?" Tanya sang istri lagi, kini ikut duduk di samping sang suami.


"Betul, dia kayaknya masih kurang baik untuk anak kita" Balas sang suami tak sadar dengan ucapannya.


"Maksud papa!?" Tiba-tiba nada bicara sang istri meninggi.


"Yaaaa (melirik sang istri takut-takut) maksud papa kalau sempatlah anak itu berjodoh dengan anak kita si Nanda, masih kurang serk (setuju) akuu. Gitu loh maa" Jawab sang suami mencoba memperhalus ucapannya.


"Hmmm... Mama pikir papa gak suka karna apa, rupanya hanya karna belum kenal jauh rupanya" Balas sang istri memainkan raut wajahnya kesal.


"Maksud mama?" Tanya sang suami terkejut.


"Maksud mama apaan sih pa? Udah-udah mama mau ke kedai, pelanggan udah pada ngantri. Lebih baik papa bantuin mama aja di kedai dari pada duduk di depan tv sambil ngopi mikirin pemuda yang sering ama Nanda itu, cepat-cepat" Ucap sang istri memukul punggung sang suami dengan nampan bekas kopi. Ia bahkan sampai menarik tangan kanan sang suami untuk mengikutinya pergi ke kedai yang berada tepat di belakang rumah mereka.


.


.


.


Bioskop.


Seraya menunggu jam penanyangan Film di mulai, Nanda dan Feron memilih untuk duduk di kursi tunggu bioskop.


Tidak ada perbincangan berarti selama mereka duduk, hanya bunyi suara kunyahan kacang polong dari orang yang duduk di sebelah mereka sebagai pengganti suara kebisingan di antara mereka berdua.


Nanda bersama popcorn dan minuman ukuran jumbo di pelukannya, kini mencoba melirik Feron yang asyik meng-scrool smartphonenya. Pemuda itu mengabaikan Nanda yang sudah mati kebosanan menunggu.


"Ron" Panggil Nanda.


"Hmmm" Jawab Feron masih fokus pada layar smartphone sambil sedikit tersenyum dan kadang tertawa.


"Ron!" Bentak Nanda langsung merebut smartphone Feron.


"Balikin Nand, gua lagi balas chat Alfi ni. Seru banget godain dia" Ucap Feron berusaha menjangkau smartphonenya yang semakin di jauhkan Nanda.


"Lagian kenapa lo gak ngajak dia?" Tanya Nanda menaikkan satu alis matanya.


"Gua cuma pengen kita berdua tanpa dia" Balas Feron berhasil merebut smartphonennya dari Nanda yang seketika membatu.


Inner Nanda terkejut dengan jawaban Feron.


.........


Di dalam bioskop.


Film horor itu terus memutar setiap adegan hingga mencapai *******. Nanda yang sedikit takut sesekali akan terperanjat dengan aksi-aksi yang dimainkan sang aktor.


"Nan" Bisik Feron di tengah keseriusan Nanda menonton.


"Hmm.. Apaan?" Tanya Nanda masih fokus menatap layar besar di depannya.


"Berisik banget ya dua orang di belakang kita, gua ampe gak fokus ni" Bisik Feron lagi.


Nanda langsung merotasikan matanya ke arah Feron dan menatap ke arah kursi belakang dalam ekspresi suram.


"Bisa diam gak?" Tanya Nanda berucap kasar.


Seketika dua gadis yang ketakutan itu menatap Nanda tak suka.


"Ck! Iya iya" Jawab gadis itu sedikit ketakutan menatap wajah marah Nanda yang lebih seram dari hantu yang mereka tonton.


Setelah berhasil menyuruh dua gadis itu diam, Nanda kembali ke posisinya dan langsung menyamankan diri seraya menghisap minumannya.


Feron yang ikut menatap aksi Nanda hanya bisa menampilkan wajah tersenyum paksa. Ia sedikit menundukkan wajahnya memberikan gekstur minta maaf kepada dua gadis yang baru saja di bentak oleh Nanda.


Kini mereka berdua kembali fokus. Jujur saja, film yang sedang di tampilkan ini sedikit membuat Feron bosan, namun apalah daya karna ini pilihan dari Nanda yang langsung menunjuk poster Film ini saat Feron bertanya apa film yang sebaiknya mereka tonton pada akhirnya hanya bisa pasrah. Ia yang sebenarnya hanya ingin menonton film bergenre drama harus mengikuti pilihan Nanda karna kesalahannya bertanya.


Jadi, nikmati saja kebosanan ini


Batin Feron menumpukan wajahnya pada tangan kiri yang berpangku pada sandaran tangan kursi bioskop.


Ia selalu memperhatikan film itu hingga satu scan terakhir berhasil membuatnya kembali ingin berbisik pada Nanda.


"Untung kita jelek ya Nan, jadi gak di gemari di dua alam macam si Bima ama Ayu" Bisik Feron mendekatkan kepalanya pada Nanda yang langsung menatap Feron terkejut.


"Maksud lo gua jomblo karna jelek gitu? " Tanya Nanda.


"Hmm (mengangguk) Tapi kita harus bangga dengan kejelekan kita karna tidak akan di sukai oleh jin seperti di film ini" Jawab Feron menunjuk layar didepannya kemudian kembali pada posisi awal, meninggalkan Nanda yang langsung berpikir.


Apa gua jelek?


.


.


.


"Lu tunggu dulu disini, gua mau ke WC bentar" Perintah Nanda seraya menyerahkan tasnya pada Feron yang menerima dengan tangan terbuka.


Setelah Nanda masuk, Feron hanya dapat celingak-celingukan seraya menatap kiri kanannya bergantian. Tak tau ingin melakukan apa lagi selain bersandar pada dinding bangunan.


"Lama amat si Nanda di WC, dia buang air kecil apa bertelur si?" Gumam Feron melihat arloginya.


Tak jauh dari Feron.


"Yun, lu baik-kan?" Tanya teman Yuna yang sudah khawatir dengan perubahan ekspresi Yuna.


"Gua baik ko Lin, gapapa" Balas Yuna melepas genggaman tangan Lina yang berusaha menjaga Yuna agar tidak terjatuh.


Dapat dilihat dari wajah Yuna ia tengah tak baik-baik saja, apalagi saat di bentak gadis aneh tadi. Lina sedikit kesal jadinya, kalau saja tidak di tatap pemuda di samping gadis itu yang berekspresi minta maaf, di pastikan jelas Lina akan langsung menerjang gadis itu dengan umpatan yang lebih pedas dari pada ekspresi wajah marahnya.


Tanpa disadari Lina, Yuna langsung tumbang.


"YUNA!" Teriak Lina tak sempat merangkul Yuna yang sudah jatuh mengikuti grafitasi.


"Huft!"


Tapi untung saja, pemuda tadi? Langsung menangkap tubuh lemas Yuna dalam pelukannya.


"Lo gak apa-apa kan?" Tanya pemuda itu pada Yuna yang masih memperhatikannya dalam pandangan yang mulai menggelap.


"Loh loh loh! Yunaaaaaa" Teriak Lina lagi setelah sadar Yuna telah pingsan dalam dekapan pemuda itu.


.


.


.


.


Cklek..


"Makasih ya udah nyelamatin teman ku" Ucap Lina malu-malu.


"Gak papa, it's okay. Gua senang kok bisa bantu orang" Jawab Feron tersenyum lebar.


"Hehehehe, kalau boleh tau...." Lina menjeda kalimatnya, ia menatap Feron namun enggan dengan gadis di sebelahnya yang sudah menatap Lina jijik.


"Nama kakak ini siapa ya?" Tanya Lina menatap Feron merona malu.


"Kenalin gua Feron (menunjuk diri sendiri) dan ini Nanda" Ucap Feron menunjuk Nanda.


Gua gak perlu tau siapa nama dia, yang gua perlu tau itu cuma nama lo aja abang ganteng nan baik hati.


Inner hati Yuna menatap Nanda dengan pandangan menantang siap berkelahi.


"Napa lo ha!? Mau gua sleding? (langsung membentak) Nah ini ni Ron, salah satu orang yang grasak-grusuk tadi, yang buat lo gak nyaman pas nonton itu" Ucap Nanda menunjuk Lina dalam geram.


"Hoooo, ya udah" Jawab Feron ringan.


"Maksud lo?" Kesal Nanda langsung menatap Feron aneh. Ia sedikit kecewa dengan jawaban sahabatnya ini yang malah berekspresi acuh saja, padahal biasanya juga ikutan emosi.


" Ya udah Nand, daripada kita cari ribut di daerah orang mending kita lanjut jalan. Gua mau traktir lo makan sushi tei aja" Bisik Feron langsung merangkul pundak Nanda dan mengajaknya pergi.


Nanda sedikit melirik ke belakang, menatap Lina yang langsung ber-smirk misterius padanya.


Kenapa ama ni orang?


Inner Nanda kembali menatap ke depan, mencoba mengabaikan dan melupakan tatapan aneh yang ditunjukkan Lina padanya.


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


...TBC ...