All For Dreams

All For Dreams
Kita yang beda



"Afni udah lelap, obat penenang yang gua taruh di minumannya sudah bekerja dengan baik" Ujar Bruno menatap kearah Afni yang tertidur lelap disebelahnya.


Sementara Wilda dan Meilin sudah Bruno perintahkan untuk pulang terlebih dahulu.


"Maaf menyela dan langsung ke inti masalah, tapi sepertinya hubungan lo sama ni makhluk kayaknya lebih dari sekedar 'pacar' ya?" Tanya Alfi dengan pandangan yang tak henti menatap Bruno curiga, ia malah terbawa suasana dan berdiri mendekatkan pandangan pada Bruno yang balik menatapnya menantang.


"Hmph! Rupanya babu raja kini sudah naik pangkat menjadi penasehat" Sindir Bruno.


"Ck! Ucapan apapun dari lo gak bakal cukup membuat gua naik pitam" Balas Alfi tersenyum miring .


"Hmph... Atau kalau gua sebut ke Andin kayaknya lebih menarik" Jawab Bruno berpura-pura tidak perduli seraya mengarahkan pandangannya ke jalan raya.


"Oh, Andin. Tidak terlalu perduli" Balas Alfi lagi bermuka cuek, padahal hatinya sudah aneh sendiri dengan perkataan Bruno mengenai Andin sang belahan jiwa rahasia, eh? Tunggu dulu.


Brak!!


"Darimana lo tau!?" Geram Alfi kembali berdiri dengan kaki kanan yang kini sudah berada di meja makan, siap mencekik Bruno.


"Hahahahahahahahahha...... Astaga Alfi... Hahahahahahha, jangan lo pikir gua hanya sekedar musuh biasa ya, gua ini tau semua tentang kalian jadi berhati-hatilah" Ujar Bruno tersenyum kemenangan melihat Alfi yang sudah geram ditempatnya.


"Uhuhuhu... Apa gua tadi salah dengar ya kalau ada yang bilang 'ucapan apapun dari lo gak bakal cukup membuat gua naik pitam' Ups!" Cibir Bruno berpura-pura keceplosan dengan pandangan yang mengisyaratkan ejekan kearah Alfi yang sudah menarik kerah baju Bruno kuat.


"Reyo" Gumam Feron menatap wajah pulas Afni serius.


Alfi dan Bruno berhenti saling menatap dengan pandangan mengejek dan Amarah ingin memukul. Mereka berdua mengalihkan pandangan kearah Feron.


"Agak sedikit janggal mengingat ia sudah bebas" Tutur Feron masih menatap Afni.


"Hmmm... Ya, Reyo. Walaupun gua ngak terlalu tau pasti apa permasalahan kalian dulu. Tapi gua rasa Afni masih dipaksa untuk terlibat dalam kejadian masa lalu" Balas Bruno menyingkirkan tangan Alfi dari kerah bajunya, ia kembali menyamankan duduknya dan begitu juga Alfi yang terpaksa kembali duduk karna ditatap pengunjung kafe lainnya.


"Hmph" Gumam Alfi ikut menatap Afni yang tertidur begitu pulas.


"Gua dan Afni sudah tunangan lo~" Tiba-tiba Bruno malah berbicara hal toxic pada Feron dan Alfi yang langsung terkejut, minuman yang baru saja sampai dan di minum Alfi kini malah mengalir bebas dari mulutnya yang terbuka lebar dan seketika tanpa memandang Alfi, feron langsung menutup mulut yang terbuka lebar itu, takut tiba-tiba dimasuki lalat yang salah jalur dan Alfi mati ditempat, bisa rugi Feron menyumbang Rp 2.000 buat pemakaman sang sahabat.


"APA!!!!!" Teriak Alfi terkejut dan langsung berdiri dari sofanya.


Sebagai seorang sahabat berhati dan berbudi luhur, Feron langsung merangkul bahu Alfi agar kembali duduk tenang, dan lagi-lagi dengan fokus yang masih mengarah pada Bruno dan cincin yang kini di pamerkan pada Feron dan Alfi yang syok ketelan ludah sendiri.


"Dua pasangan stres bersatu" Cibir Alfi mengakhiri percakapan.


Brak!!


Setidaknya untuk sementara.


"Trus kenapa lo bisa tenang banget biarin Afni bilang cinta ama Feron HA!" Bentak Alfi menggebrak meja.


Bruno hanya menatap santai enggan ikut emosi, sedari tadi ia hanya melirik dan merasa kasihan pada meja tak berdosa yang selalu di gebrak dan dipijak itu. Untuk makanan sendiri Bruno tidak berani jamin lagi ke higienisannya setelah hujan-hujan (air liur) Alfi menghampiri.


"Kalau gua bilang itu semua karna permintaan gua gimana?" Tanya Bruno langsung menampilkan smirk mengejek pada Alfi yang langsung jijik ditempat.


"Agar bisa melupakan" Bruno melirik Feron "Orang yang kita cintai, kita harus tau bertapa sakitnya di tolak oleh orang tersebut" Lanjut Bruno tersenyum menang pada Feron yang langsung menampilkan smirknya pula dan memilih merotasikan pandangannya pada jalanan yang mulai dibasahi hujan.


"Aiyaiks! Gua kira lu baik, rupanya punya niat busuk juga" Sesal Alfi mencoba menyamankan diri duduk disebelah Feron yang hanya diam membisu.


"Oh ya, mengenai Reyo. Sebaiknya lu perketat penjagaan buat ni orang, karna lu tau sendiri kalau Reyo itu cukup berbahaya" Tunjuk Bruno pada Feron seraya melirik Alfi, memberikan saran terakhir sebelum pergi meninggalkan mereka berdua dengan kedua tangan yang mengangkat Afni bridal style keluar kafe.


"Aneh" Ucap Feron dan Alfi kompak.


.


.


.


Beberapa menit kemudian


"WOY, INI SEMUA PESANAN SIAPA YANG BAYAR ASW!!!" Teriak Feron sampai keluar kafe, Bruno yang sudah keluar kafe sontak langsung tertawa lebar mendengar gerutuan Feron yang langsung disuguhi bill oleh pelayan kafe dan juga memberikan bill makanan dan minum Bruno beserta Wilda dan Meilin, sementara Alfi berpura-pura sakit perut dan tak kunjung kembali hingga Feron terpaksa menggebrak semua pintu toilet untuk menyeret sang sahabat pulang.


......***......


Di rumah Feron.


"Hallo Nan, ada apa?" Tanya Feron disela memasang pakaian.


^^^[Bsok ada acara gubahan massa SMK, kita dimintai tolong buat jadi panitianya]^^^


"Trus?" Tanya Feron menyikat rambut basahnya.


^^^[Ya trus, trus aje lu ngomong. Ya lu jemput gua lah any*ing, sekalian pake baju bengkel jangan lupa]^^^


"Perasaan gua baru ngomong 'trus' masih sekali, malah udah di tereakin, aneh punya sahabat hobinya tereak mulu dah" Curhat Feron singkat.


^^^[Bodo amat! Yang penting besok lu jemput gua, titik gak pake persenan koma!]^^^


Tambah Nanda memerintah Feron yang langsung memandang Smartphonenya dengan gurat lelah dan bosan.


"Jemput jemput, lo pikir gua ojek online, minta di jemput ke PT. Yohan jauh ***, ya kali gua berangkat dari hulu ke seberang, ntar mau jam berapa nyampai ke sekolah kalau harus jemput elu duluan?!" Protes Feron seraya mengambil botol minuman di kulkas.


^^^[Pokoknya gua gak mau tau, bsok jemput gua jam 6 pagi, jangan ampe telat kalau gak mau gua jadiin makanan anjing liar PT. Yohan]^^^


Ancam Nanda langsung mematikan smartphonenya.


" Dasar gadis aneh" Geram Feron memasukkan smartphone kedalam kantung celana boxernya dan meminum air hingga tandas tak tersisa.


"Hmmm.. Reyo kah? Apa si maksud tu orang cari masalah lagi?" Renung Feron memandang langit gelap setelah menghabiskan minumannya.


...****...


Jam 05.49 Wib


"NAN, WOY NAN!!! CEPET WOY, ENTAR TELAT!!!! AWAS AJA ENTAR GUA DOBRAK NI PINTU KALAU SAMPAI LU GAK BUKAIN" Teriak satu suara yang sudah sangat Nanda hafal, namun rasa kantuk membuat Nanda enggan untuk sekedar berjalan membukakan pintu rumah bagi sang sahabat yang datangnya kecepatan, ia memilih mendengar dan mengabaikan suara itu, rasa nyaman bantal dan kasur mengalahkan rasa terima kasihnya pada Feron yang mampu menjadi alarm kompleks dadakan.


Untuk satu info, kini Nanda memilih untuk tetap stay dirumahnya ketimbang ngekos di dekat sekolah. Ada alasan yang tak dapat tergambarkan mengenai maksud makhluk ini untuk kembali tinggal bersama orang tuanya, padahal keluarga sudah sangat bersyukur karna jatah beras bulanan jadi hemat berkat Nanda yang pergi dari rumah.


Tapi itu semua tinggal kenangan karna gadis bar-bar ini malah kembali kerumah dan ngotot untuk tetap disini dan tidak ingin ngekos lagi. Kasian juga orang tuanya ya.


Kembali kepada Feron yang sudah menyilangkan tangan dan mengetuk-ngetuk lantai kesal dengan sepatu mengkilapnya yang baru selesai disemir tadi subuh.


Cklek


Akhirnya dibuka juga ni pintu, siap-siap lu Nan, dengar ceramah gua, khikhikhi. Siapa suruh lu minta jemput pagi-pagi ha!? Sekarang lu terima bacotan gua


Inner Feron tersenyum iblis seraya menyiapkan bacotannya didepan pintu rumah Nanda.


"LU BIL-" Protes Feron terhenti karna yang membuka pintu malah seorang lelaki matang dengan tatapan menusuk bak elang pengintai mangsa, siapa lagi kalau bukan sang kepala keluarga.


"GULP! Assalamualaikum om" Ucap Feron cepat dan langsung meraih tangan berotot itu sigap menyalami.


"Masih pagi sudah gedor-gedor pintu rumah orang, dimana etika kamu anak muda?" Tanya Papa Nanda seraya merapikan sarungnya yang kedodoran. Pandangannya juga tak henti menatap Feron kesal.


"A-Ampun om, saya khilaf" Jawab Feron sungkem di kaki papa Nanda.


Sementara Nanda, ia malah cekikikan menahan tawa melihat sahabat sepergoblokannya diceramahi sang papa habis-habisan tanpa jeda.


"Syukurin, niat ingin ngatain gua pasti tu, malah kena batunya sendiri hahahahahahaha" Ejek Nanda seraya berjalan keluar kamar dengan handuk yang sudah tersampir apik di pundaknya. Pintu ia buka dengan mantap tanpa melihat keadaan, seraya asyik bersenandung kemenangan.


Gubrak!!!!!!


"Awas kak Nanda lantainya licin!!!!" Tiba-tiba suara sang adik mengintrupsi, namun sayang Nanda sudah jatuh lebih dulu dengan muka yang mendarat cantik ke lantai keramik yang basah.


"ADEK SIALAN ASW!! LAIN KALI KALAU MAU NGEPEL JANGAN DIDEPAN KAMAR GUA JUGA DONG!!! MEMANG GAK ADA LOKASI LAIN LU YA!!" Bentak Nanda mencoba untuk bangkit.


"Pfftthhh.... Sorry kak Nan khikhikhi" Jawab sang adik mencoba menahan tawanya melihat muka sang kakak yang sudah bercap merah tomat.


Begitulah, jika kamu mentertawai orang, siaplah untuk kembali ditertawai.


...TBC ...


.......