All For Dreams

All For Dreams
Alay lu semua



"Kenapa gua bisa types lagi sihhhh huhuhuhu!" Keluh Feron merana sedih diatas kasur rumah sakit.


.......


.......


...All For Dreams...


...ALAY LU SEMUA...


.......


.......


.......


Dirumah sakit.


Walaupun sang pasien mengeluh, namun penanganan ekstra benar-benar tetap diberikan pada Feron yang bahkan menggerakkan tangan-pun sulit.


Dia harus diberikan vitamin dan darah tambahan, karna darah merah feron juga rendah maka dokter mengambil tindakan untuk menginfus.


Namun karna Feron yang notabenenya takut dengan jarum suntik malah mengalay di ruang inap, menjerit ala gadis hendak di perkaos juga ia lakukan, intinya ia sudah tak perduli image jika sudah dihadapkan dengan benda jahanam itu.


Jujur saja Feron paling benci disuntik namun apalah daya, ia harus dipegang oleh lima suster cantik untuk membantu memasangkan infus (Sekalian modus sama susternya)


"Gimana keadaan kamu sayang?" Tanya Neti mengelus sayang pucuk kepala Feron.


"Sedikit pusing Bun" Jawab feron lemah.


"Makanya, bsok jangan makan atau minum sembarangan lagi, PAHAM!" Emosi Neti memarahi sang keponakan.


"P-paham bunda" Cicit Feron sedikit terperanjat dengan nada suara Neti yang tiba-tiba meninggi.


"Huufhh.." Neti langsung menggembungkan pipinya menahan kesal kemudian mengambil duduk disebelah Feron yang sedang terbaring.


"Untung saja bunda ada disini, kalau tidak bisa-bisa Adiniata kalang-kabut sendirian" Lanjut Neti bersyukur.


"Oh iya bun, kak Adi dimana?" Tanya Feron.


"Dia sudah masuk kerja" Jawab Neti seadanya.


"Dipagi hari?" Tanya Feron lagi terkejut.


"Hey~ Jangan remehkan Adiniata ya, dia sudah diterima bekerja di salah satu perusahaan ternama. Setidaknya dia sudah memiliki penghasilan tetap" Ucap Neti tersenyum.


Feron merotasikan matanya malas "Kalau atas nama Vein mah, masuk jadi anggota DPRD pun pasti si Adi juga lulus" Cibir Feron bergumam.


"Iya-iya kak Adi kan pintar" Ucap Feron ngambek.


Neti langsung terkejut dengan penuturan Feron "Hahahahahaha, kalian berdua itu sama-sama pintar kok" Tawa renyah Neti mencoba mengembalikan mood Feron yang langsung turun.


"Tapi bunda lebih perhatian ke kak Adi aja tuh! " Sungut Feron langsung menyembunyikan kepalanya dibalik selimut.


"Ngak ada istilah bunda lebih perhatian ke kak Adi, bunda perhatian ke kalian berdua. Contohnya aja bunda mau masakin kamu rendang dengan 100% daging AS sapi" Ucap Neti langsung memperlihatkan panci berisi rendang dengan bangga.


Feron yang mencium bau rendang seketika menyembulkan kepalanya, dan langsung mencomot satu rendang dengan tangan kosong.


" FERON CUCI TANGAN!!! " Teriak Neti memukul punggung tangan Feron yang di infus.


"HYAAAAAAAAA!!!!!" Teriak Feron memenuhi satu ruang inap rumah sakit


.......


.......


.......


Setelah menutup mulut Feron dengan satu pear utuh, akhirnya Feron diam. Hingga membuat Neti jadi harus minta maaf pada pasien lain karna telah menggagu ketentraman bangsal.


"Oh iya bun, sekarang tanggal berapa ya?" Tanya Feron disela kunyahan pearnya.


"Sekarang tanggal 20" Ucap bunda Neti tenang mengupas pear lainnya.


"Hooo" Gumam Feron.


Sepertinya ada hal penting yang ketinggalan tapi..... Gua lupa. Apa ya?


Inner Feron berpikir seraya menatap jendela yang tengah menampilkan langit mendung.


“Feron” Panggil Neti.


“Iya bunda?” Feron langsung mengalihkan atensinya pada Neti.


“Jangan terlalu bersedih, jika kamu memiliki masalah atau keluhan, ” Neti diam sejenak “Apapun itu, tolong bicara saja pada bunda, bunda siap mendengarkannya sayang. Jangan menyimpan rasa sakitmu sendirian, ok?” Lanjut Neti memandang Feron ingin menangis.


Seketika suasana menjadi senyap, Feron hanya menatap neti dalam diam seraya mengunyah pear lainnya pelan.


"Akan Feron coba” Ucap Feron setelah hening cukup lama.


.......


.......


.......


...*Sementara di kost Nanda*...


Nanda yang tengah bersiap untuk berangkat sekolah seketika dikejutkan dengan Tesla yang mendobrak pintu kamar Nanda.


"Ba*ngke!" Teriak Nanda reflek melempar botol parfum kearah Tesla.


"Autsh... Sakit Nanda be*go!" Maki Tesla yang langsung mengelus keningnya yang benjol.


"Salah lo sendiri, main buka pintu kamar orang sembarangan!" Maki Nanda tidak terima.


"Serah lu aja. Eh hampir lupa, cepetan nyet bentar lagi bel masuk!" Seru Tesla memperingati Nanda.


Nanda yang mendengar ucapan Tesla sontak terkejut "Eh? Apa iya?"


Dan pada akhirnya Nanda dan Tesla harus berlari untuk sampai kesekolah lebih cepat.


.......


.......


.......


“Lo yakin dia ngak ada disana?” Tanya Reo menyelidik.


“HAH? ! Apa yang bisa menjamin jika kata-kata lo benar?” Tanya pria yang dipanggil 'pemimpin'


“Tolong percaya ama gua pemimpin, gua sendiri yang melihat Feron masuk rumah sakit, dia types. Berkemungkinan tipis sekali untuk dia datang kesekolah besok” Ujar pemuda itu kembali mencoba menyakinkan Reo dan orang yang mereka panggil 'pemimpin'


“Dan jika kata-kata lo meleset, apa yang bisa menjadi bayaran buat gua?” Tanya pria itu mengeluarkan senjata butterfly secara perlahan dari balik pakaiannya.


“Gulp… gua akan berusaha agar semua pekerjaan kita lancar, termas-


“Gua pengen lo ngebunuh Regas Brahma,” Tiba-tiba sesosok Bruno datang menghampiri mereka semua.


“Bisakah gua menitipkan amanat itu sama lo?” Lanjut Bruno menatap pemuda yang sudah terintimidasi sedari tadi.


“Gulp… S-semoga saja” Jawab pemuda itu takut di intimidasi oleh tiga orang besar per-gangan.


“Bagus! Kalau begitu mari kita susun rencana”  Ucap pria itu tersenyum miring.


"Heh... Dasar Daffa ban*ke " Ucap Bruno mencibir pria yang sudah menyimpan senjatanya kembali.


.......


.......


.......


"Gimana ini?!" Ujar Alfi panik.


Semua gankFeron berkumpul dikantin bude Senem, tepatnya didepan bengkel Sepeda Motor.


"Alfi!!!" Panggil Regas mengangkat suara, namun Alfi masih bolak-balik seperti cacing kepanasan.


"ALFI BUDEK DENGER GUA BENTAR!!!" Tanpa basa basi Regas langsung menarik kerah baju Alfi kuat hingga sang empunya tercekik.


Regas men-dudukan Alfi dan menepuk pundaknya tiga kali.


"Tanpa adanya Feron kita masih bisa tempur melawan Reo. Yang penting untuk saat ini, jangan bawa Feron yang lagi dirumah sakit, paham?" Regas menatap tajam mata Alfi dan mencengkram kedua pundaknya, Alfi awalnya curiga namun karna rasa paniknya lebih mendominasi akhirnya semua prasangkapun lenyap.


Pagi, sekitar pukul 07.05 WIB, sebuah teks WA terkirim pada nomor Alfi. Pada awalnya Alfi tidak menggubrisnya, namun saat seorang teman Alfi meminjam smartphonenya tanpa terduga teman Alfi membaca notif tersebut dan memberi tahukannya pada Alfi, hingga muka Alfi yang awalnya santai berubah panik, dan tanpa jeda langsung menghubungi semua anggota gangnya untuk berkumpul ditempat yang telah dijanjikan.


“Coba gua baca lagi pesannya Fi” Ujar Theo meminta smartphone Alfi.


Dengan muka gusar Alfi memberikan smartphonennya.


“Atas kelalaian kalian yang dengan pongahnya menolak niatan baik gua, maka dengan senang hati akan gua ratakan SMK 1 atas permintaan tersirat sang ketua” Ucap Theo membaca isi pesan tersebut.


“Astaga, ini semua karna Feron yang sedang sakit, ya ampun kita kacau” Ucap Lulba frustasi menjambak rambutnya.


“Sekarang kita harus bagaimana wakil kapten?” Tanya Stevan tenang.


“Tidak ada pilihan lain, sesuai dengan yang diucapkan Regas barusan. Tanpa adanya Feron kita juga harus melawan Reo Alman, kita tidak boleh lemah hanya karna Feron ngak ada sama kita. Gua berharap kita bisa melindungi SMK 1 dari kehancuran aneh SMA 1 itu” Terang Alfi mencoba tenang.


“Heh! Tidakkah kalian berpikir ini suatu karunia?” Ucap Stevan tiba-tiba membuat semua anggota memandangnya bertanya.


“Seperti mendapatkan karunia dari tuhan, kita semua diberikan hukuman yang begitu berat karna mengikuti nafsu Regas untuk menyerang SMA 2 hingga mereka harus mengalami kerugian yang begitu besar dan harus meliburkan para murid karna dendam dangkal Regas semata yang akhirnya malah berimbas kembali pada kita yang sekarang akan diserang oleh SMA 1, bisa dikatakan ini seperti karmalah," Ucap Stevan melirik Regas sinis.


" Terlebih lagi ketua kita sedang terbaring sakit, hmmm… lengkap sudah. Kita pasti akan dihabisi oleh mereka semua. Astaga karma itu rupanya nyata sekali yaaa” Cibir Stevan memandang Regas menghakimi.


“Jaga mulutmu Stevano!!!” Bentak Regas langsung berjalan menuju Stevan, hendak meninjunya namun segera dihalang oleh Alfi.


“Bukan saatnya Regas, sekarang lebih baik kita Menyusun rencana untuk melawan gankReo. Lo pahamkan?!” Alfi mencengkram kuat kedua bahu Regas hingga membuat sang empunya hanya dapat menatap Stevan nyalang, sementara Stevan langsung tertawa keras meninggalkan mereka semua.


“Stev, lo mau kemana?” Tanya Theo mencoba menghentikan langkah Stevan.


“Gua mau pergi ketempat yang ngak terdiri dari sekumpulan pecundang yang tidak tau bagaimana cara menghadapi musuh” Sinis Stevan berjalan pergi meninggalkan kantin.


"Cih!!! Maafkan aku teman-teman, tapi aku mohon sekali ini saja biarkan semangat Feron tetap bersama kita, jangan biarkan sekolah kita hancur tanpa adanya Feron disini, gua…..” Regas langsung duduk dan menunduk tidak bisa melanjutkan kalimatnya, setelah apa yang diucapkan Stevan sebelumnya, ia menjadi sedikit tersinggung sekaligus merasa bahwa ini semua adalah salahnya.


Tuk!


Regas langsung memandang Alfi yang menepuk punggungnya.


“Gak ada yang nyalahin lo gas, gak bakal ada. Kita gak bakal pernah nyalahin lo” Regas mengarahkan atensinya pada semua teman-teman yang tersisa disana.


“Semuanya” Regas terharu, semua teman-teman mengarahkan senyum teduh menyemangati.


Alfi bangkit “Baiklah semuanya, setidaknya selagi menunggu ketua kita sembuh kita akan meneruskan semangatnya dengan memenangkan pertempuran ini, kita akan memberikan kado termanis pada Feron. AYO KITA MENANGKAN TAWURAN INIII!?” Teriak Alfi tegas.


“YAAAAAAAAAA!!!!” Ucap semua anggota kompak.


“Bersiap untuk bertempur melawan SMA 1!!!" Regas berdiri dan berteriak memberikan komando. Semua anggota langsung bersorak.


Regas menatap Alfi dengan senyum yang langsung dibalas Alfi dengan jempol yang terangkat.


Sementara itu, Ryou yang bersembunyi di balik tembok malah tersenyum misterius. 


.......


.......


.......


Gimana ya keadaan Feron sekarang?


Inner Nanda memandang keluar kelas.


"Nanda ngapain kamu bengong?!" Tegas pak Irkan menggebrak meja Nanda yang langsung membuat si empunya terkejut.


"E-enggak pak, s-saya fokus" Ujar Nanda terbata mengambil cepat kitabnya.


"Fokus kepalamu, itu kenapa kitabnya kebalik?" Tanya pak Irkan mengintimidasi.


Nanda langsung melihat kearah kitabnya dan benar saja, kitab itu terbalik.


"Lain kali lebih fokus" Tegur pak Irkan final kembali ke mejanya.


Nanda yang tidak terima renungannya diganggu akhirnya malah menirukan ucapan pak Irkan tanpa suara dengan mulut monyong.


Brrrtttt!!! (getar smartphone Nanda)


Dengan ogah Nanda langsung meraih smartphone miliknya dan melihat pesan pada layar.


From: Alfi


Apapun yang bakal terjadi nantinya, lo harus cari tempat aman Nan. Gak usah bertanya kenapa, yang jelas dalam beberapa jam lagi keadaan sekolah tidak akan aman, dan juga lo harus hati-hati sama seorang pemuda misterius


"Apa maksudnya" Gumam Nanda menatap pesan itu aneh.


...TBC...