
Alfi dan adik kelas itu kini sudah berada cukup jauh dari sekolah, Alfi yang senantiasa masih santai berjalan tidak memperdulikan adik kelas yang sudah hampir pingsan di belakangnya.
Bagaimana ia tidak akan mengeluarkan ekspresi seperti itu, Alfi yang notabenenya adalah pemuda setinggi 172 cm sudah mengajak adik kelas dengan tinggi 152 cm untuk berjalan hampir 3 km tanpa berhenti.
Ketika adik kelas itu mengeluh, Alfi akan selalu mengeluarkan guyonan klasiknya setiap saat bahkan setiap waktu saat adik kelas itu hampir berkata 'A' saja.
"Seorang pria tidak sepantasnya mengeluh, MARI SEMANGAT!!!!" Ucap Alfi mengacungkan tinjunya ke langit dan kembali berjalan entah ke mana tujuan pastinya, yang jelas Alfi hanya berkata 'Sudah dekat' seperti itu trus dari 30 menit yang lalu.
"Banggg berenti dulu baanggg" Ucap adik kelas itu memohon lirih pada Alfi yang langsung menghentikan langkah lebarnya.
Alfi melirik, ia menatap adik kelas itu dalam ekspresi bertanya.
"Kenapa lu sujud ama gua?" Tanya Alfi menatap adik kelas itu dalam ekspresi heran.
Alfi langsung memutar langkahnya dan memaksa adik kelas itu untuk kembali berdiri. Namun, bukannya berdiri, adik kelas itu malah memasrahkan dirinya untuk tumbang di dalam pelukan tiba-tiba Alfi yang refleks menerima beban adik kelas itu.
"Oi Oi oi!!!! Lu kenap-" Ucapan Alfi seketika terhenti.
Tanpa sadar, tangan sucinya malah menyentuh dua gundukan lembut.
Apa ini?
Inner hati Alfi langsung mengapit wajah adik kelas itu yang sudah kelelahan tak sanggup bergerak lagi.
"Luu!?" Teriak Alfi, kemudian langsung mengalihkan pandangannya ke arah dada adik kelas itu.
"Lu bukan lanang! (syok, panik, dan terkejut. Itulah yang dilakukan wajah Alfi kini) jadi lu!" ALFI langsung membekap mulutnya sendiri, ia tidak habis fikir kalau adik kelas yang ia bawa rupanya
"Airrr..." Lirih adik kelas itu bergetar.
"OOOOOO OK OK!!! KITA CARI AIR YA, YANG PENTING LU JANGAN PINGSAN DULU (langsung menggendong adik kelas dipunggung) mana kedainya masih jauh lagi, ya ampun! Gua salah bawa spesies" Panik Alfi langsung berlari kencang, tak memperdulikan jika dada adik kelas itu menyentuh punggungnya. Hmmmm, rejeki.
Kantin Bude senem.
"Dannnn ya gitu, gua fikir tu adik kelas gua cowok eh rupanya dia cewek yang cosplay jadi cowok" Curhat Alfi pada ganknya yang menatap Alfi dalam ekspresi diam.
"Pfttthh... HaHahahahahahahahahahaha" Tawa mereka setelah keterdiaman cukup lama mendengar cerita Alfi yang langsung menampilkan ekspresi kesal.
"Sungguh bodoh berlapis polosnya kawan gua satu ini hahahahahahha pantas masih berjuang" Ejek Regas mengelus pundak Alfi yang langsung menepis kasar tangan Regas, mata Alfi juga tak luput menatap nyalang Regas yang malah berusaha menahan tawanya.
"Maksud lo?" Tanya Alfi kesal menatap Regas yang malah semakin tertawa keras.
"Hahahahahahha maksud gua (Regas mencoba mengatur nafas dan suaranya, kemudian menatap Alfi dalam ekspresi jenaka) Lu mah harus sadar kalau muka lu jelek, jadi ada alasan buat jomblo dan goblok. Lah gua (menunjuk diri sendiri) Sudahlah tampan sedari dilahirkan, malah sekarang sudah pasang tiga lagi hahahahhaa" Ucap Regas lanjut tertawa.
Duagh!
"makan pukulan gua blagu" Kesal Alfi memukul kepala Regas hingga mengeluarkan kepulan asap.
Di tempat lainnya.
Robert tidak tau lagi harus bagaimana mengatakannya, tapi bosnya ini seperti ingin di tenggelamkan saja.
"Beberapa minggu lagi rekomendasi tempat magang, bulan depan UAS dan 5 bulan lagi kenaikan kelas. Haaaaa, bertapa cepat waktu berlalu" Gumam Ryou menyamankan diri dengan pekerjaannya, sementara Robert yang sudah berdiri hampir satu jam dengan dokumen penting ditangannya malah di acuhkan.
"Ku mohon agar anda mendengarkan saya terlebih dahulu!" Tegas Robert membuat atensi Ryou seketika teralihkan pada wajah marah dan kesal Robert yang sudah mulai kelelahan menghadapi sikap baru tuannya ini.
"Oh well, ada apa Robert?" Tanya Ryou sangat ringan sekali, tanpa ada rasa bersalah telah mengacuhkan Robert yang sudah berbuih berbicara hampir satu jam malah di tanya 'Ada apa Robert?!'
Aku hampir kehabisan pita suara, tapi ia malah bertanya pertanyaan konyol seperti itu? What the **** Man!
Inner hati Robert jengkel, namun ia mau bilang apa pada pria ini? Memukulnya? Mungkin saja, tapi kau harus bersiap-siap untuk mengucapkan selamat tinggal pada esok harinya.
Robert langsung menggelengkan kepalanya cepat. Dan dengan cepat mengalihkan topik.
"Saya sangat senang dengan perubahan sikap anda ini tuan, menjadi lebih ramah serta perhatian. Murah senyum dan juga royal orangnya pada saya (amin), tapi saya tidak menyangka anda juga kebagian sifat 'SEREN' yang lainnya," Ucap Robert menjeda kalimatnya dan menatap Ryou yang juga menatapnya penasaran.
" Lainnya apa? "Tanya Ryou makin penasaran, ia bahkan sampai menaikkan sebelah alisnya dan menghadap sempurna ke arah Robert yang hanya bisa mengelus tengkuk antara ingin melanjutkan kalimatnya atau memilih mengalihkan topik melihat tangan Ryou yang malah mengelus belati perak di samping buku tugas murid-muridnya.
"Gulp! Bukan apa-apa tuan. Kembali lanjutkan kegiatan anda saja hahahaha, saya mohon undur diri" Ucap Robert cepat dan berlalu pergi meninggalkan ruangan Ryou.
"Hmm.... Dia pikir aku kebagian tolol apa?" Gumam Ryou menatap tajam belati peraknya. Ia mengangkat belati itu, kemudian memperhatikannya dalam senyuman getir.
"Bukan saatnya lagi untuk memikirkanmu, seperti yang kau katakan dahulu. Aku harus membuka mata dan menikmati hal baru" Lanjut Ryou bergumam seraya memeluk belati itu dalam ekspresi menahan tangis.
"Karna hari ini gua udah merasa lebih baikan, gimana kalau kita nonton?" Tawar Feron menatap Nanda cukup dekat hingga gadis itu dapat merasakan deru nafas halus Feron di wajahnya.
"Maksud lo?" Tanya Nanda langsung menepikan wajah Feron.
"Mamamaks- Nan kelingking lo nancep di hidung gua anying" Teriak Feron langsung menggenggam tangan kiri Nanda yang senantiasa masih mendorong wajah Feron untuk menjauhinya.
"Ishhhh... Kan kelingking gua jadi bernajis" Komen Nanda langsung menarik tangannya dan mengelapkannya secara kasar di pakaian khusus Feron.
"******! Ngapain lo lap ke baju gua sih!?" Teriak Feron menatap jijik tangan Nanda.
"Inikan juga taik idung lo dugong!" Ucap Nanda ikut berteriak.
"Anji*nk, udahlah capek (pasrah Feron, dan dengan mengalah mengelap bajunya serta tangan Nanda dengan tissue di dalam tas yang selalu di persiapkan Feron untuk menggambar) Yang jelas lu mau gak gua ajak nonton?" Tawar Feron cepat mengakhiri perdebatan tak berguna mereka.
Nanda menatap Feron dalam, ia sedikit menimbang ajakan Feron.
"Pekanbaru?" Tanya Nanda.
"Ya iyalah, masak di BKN si!? Ngomong-ngomong kalau lu lupa gua bakal ingetin lagi kalau ni desa gak punya bioskop" Terang Feron.
"Ya udah, asal di traktir dan di jemput gua mau" Balas Nanda final.
"Ok fiks, bsok jam 8 gua jemput di rumah" Ucap Feron tersenyum pada Nanda.