All For Dreams

All For Dreams
Ayah dan walas



"Itu mmmm...." Feron tidak dapat menjawab, sebenarnya bisa tapi tidak mungkin iya mengatakan kejujuran bukan? Bisa-bisa dia jadi tahu orek.


"Itu ehmmmmm, ah! Itu karna perang gang yang sudah diwariskan turun temurun ayah. Jadi aku hanya ikut memeriahkan acara ya-


Trank..


Feron langsung tercekat, piring itu terbelah menjadi dua hanya karna Vein menekan garpu sedikit keras.


" Ah! Maaf-maaf, sepertinya aku terlalu keras menekannya" Ucap sang ayah langsung beranjak mengganti piring, sementara Feron langsung tidak dapat melanjutkan kalimat aneh yang sudah ia pikirkan dengan random.


Mati gua!


Bisik hati Feron menatap makanan yang kelihatan lezat.


Cklek


"Assalamualaikum eh?! Feron dan..."


Adiniata menatap kearah datangnya Vein.


" Ayah sudah pulang d-"


"Duduklah Adi, mari kita makan malam bersama" Ucap Vein memotong ucapan Adiniata cepat.


Akhirnya makan malam itu menjadi makan malam tercanggung yang pernah Feron dan Adi alami, pasalnya ini perdana mereka makan bersama setelah sekian lama.


"Dan perlu kamu tau Feron, ayah sangat berharap agar kamu sekolah dengan baik dan bukan malah menjadi preman di SMK 1. Jika ayah sampai mendengar kamu bermasalah lagi, jangan harap untuk mendapat perlindungan dari ayah. Bahkan akan ayah tambah penderitaanmu lagi, dan untuk semester ini ayah berharap nilai kamu lebih tinggi lagi" Tegas Vein menatap putra bungsunya.


"Ohhh~ ya tuhan, terkadang aku sangat iri dengan tetangga yang punya madu" Celetuk Adiniata memijit pangkal hidungnya seraya menggelengkan kepala.


"Jika kamu mau kita punya madu dikulkas Adi" Balas Vein datar.


"Eh!!!! Dasar ayah dan Feron sama saja ketidak pekaannya, yang kumaksud itu wanitanya ayah. Andai ada bunda Neti pasti Feron akan dibela" Sindir Adiniata kembali menarik turunkan bahu dan alisnya tersenyum smirk kearah Feron yang hanya dapat memasang tampang pasrah dan jijik.


Adiniata sedikit melirik kearah Vein yang sudah kesal luar biasa.


"Jadi dengan kata lain kamu tidak suka ayah yang mengatur rumah!" Seru Vein kesal.


"Bukannya tidak suka ayah, tapi bagaimana ya....." Adiniata memperhatikan sekitarnya, pakaian berserakan. Piring kotor menumpuk, tv menyala, sampah menumpuk di mana-mana dan Adiniata hanya bisa tersenyum ketir melihatnya.


"Apa lagi maksud ekspresi muka itu ha Adi!?" Tuntut Vein menunjuk Adi.


"Akan lebih baik jika kita punya asisten rumah tangga" Papar Adi memandang sekitar.


"Tidak perlu asisten rumah tangga, aku bisa mengatur rumah ini setelah pulang sekolah" Balas Feron membawa piring kotornya ke baksink.


"Hmmm?" Gumam Vein berpikir.


Feron tidak ingin ada orang lain selain Neti yang menyentuh rumah ini, tidak akan pernah ia mengizinkan siapapun selain yang ia kehendaki. Dan untuk itu mak-


"Oh iya Feron, untuk membuktikan ayah serius dengan ucapan ayah maka ada beberapa hal yang sudah diperbaiki" Ucap Vein meletakkan piring kotornya di sink kemudian berjalan pergi.


"Apa?" Feron langsung berbalik mengarahkan atensinya pada Vein.


***


Mode cerita dongeng


Feron adalah preman classic yang memiliki tinggi 172 cm, hobynya tawuran dan dikejar pak Puad dan pak Ibram di saat ada kesempatan.


Matanya coklat kemerahan, rambutnya jabrik, irit bicara ke orang lain selain gua dan Alfi. Sekali ngomong panjang isinya cuma hinaan dan kalimat pedas yang sayangnya semua adalah kejujuran walau pahit untuk diungkapkan secara terang-terangan.


Sempat Yuni juga ikut naik pitam berkat ucapan Feron yang mengatainya bantet ganjen. Namun hal itu malah menjadi aksi saling adu bacot antara gua dan Hawa yang malah menjadi tontonan pak Ryou yang tidak ingin melerai malah menikmati dengan santai seraya minum kopi hangat di tempat duduknya.


Gua yang membela Feron dan Hawa yang membela Yuni, komplit sudah menjadi ajang ungkapan isi hati masing-masing terhadap lawannya yang semula dekat sejak SMP kini merenggang semenjak SMK.


Dan Feron yang tidak mengerti keadaan bersama Yuni disebelahnya hanya bisa saling melirik bertanya lewat tatapan mata.


"Temen lo kenapa Yun, kok jadi ajang sesi ungkapan perasaan? Perasaan ini masalah kita dah" Ucap Feron melirik Yuni.


"Ntah, gua jadi bingung sendiri. Baek kita lerai aja" Balas Yuni berjalan kearah dua makhluk yang sedang adu bacot, sementara Feron masih betah melihat aksi bacot kini menjadi aksi jambakan jilbab.


"Jangan sampai kalah nan, sleding kakinya, jepit lehernya tarek jilbabnya" Teriak Feron memberikan arahan dan bukannya malah meredakan emosi.


Dan setelah itu...


"Lagi nulis apa lo Nan" Tiba-tiba Feron datang dengan jajanan di tangan kanan dan kirinya sedikit melirik kearah layar smartphone Nanda yang langsung dimatikan dan disimpan sang empunya kekantong baju.


"Ngak ada apa-apa, lo aja yang datang tiba-tiba dan langsung ngancurin inspirasi gua" Protes Nanda mendengus kesal.


"Astagfirullah sabar gua Nan. Lagian siapa suruh lu fokus banget ama tu smartphone" Balas Feron duduk dikursinya.


"Nih jajanan yang lo minta dibayar ngutang!" Ucap Feron kembali dengan dengusan yang lebih keras dari yang nanda lakukan.


"Bagudung!" Gumam Feron.


"Apa!?" Sinis Nanda.


"Gak ada Nan sumpah" Ucap Feron cepat.


Akhirnya mereka memakan jajanan dalam diam, namun bukan Feron namanya jika tidak kembali menggagu Nanda.


"Oi coy, perasaan dari kelas 10 sampai sekarang lo nulis mulu dah. Lu nulis apaan? Cerita apaan? Genrenya apaan?" Tanya Feron bertubi.


"Gua nulis proses kawin belalang sembah, puas lo" Sentak Nanda ketus.


"?"


Pada akhirnya Feron hanya dapat kembali memakan makanannya dalam diam, tidak ingin mengganggu Nanda yang langsung makan dengan brutal.


Padahal nulis pengalaman hidup dengan teman-teman sekolah


****


"Maaf memanggil bapak kesekolah ini" Maaf pak Sutejo Kepadanya.


"Ah iya, tak masalah meski saya kehilangan uang karna setiap detik saya begitu berharga" Ucap pria itu menghisap puntung rokoknya dengan angkuh.


Cklek


"Maaf mengganggu nunggu lama" Ucap Ryou masuk keruangan. Ia memandang pak Sutejo dan pria yang membelakanginya.


Pria itu dengan anggun mematikan rokoknya di asbak, sementara Ryou langsung mengambil duduk disebelah pak Sutejo seraya menggenggam map kuning di tangan kiri.


"Jadi ada masalah apa pak Ryou?" Ucap pria itu mengeluarkan bungkusan rokok lainnya dari balik jas.


"Aaaaa....?" Pak Sutejo jadi bingung sendiri dan ekspresi itu dapat dilihat oleh pria tersebut dan Ryou.


"Ah!? Iya pak Sutejo, dia ini adalah-"


" Veiner Abdi Adidjaya, ayah dari siswa bernama Alferon Adidjaya" Potong pria itu menjawab pertanyaan pak Sutejo dan langsung memberikan gekstur salaman dan di respon oleh pak Sutejo.


Pantas saja anaknya begitu, rupanya bapaknya begini


Inner pak Sutejo melirik dari atas kebawah Vein yang menyilangkan kaki seraya merokok menyebabkan banyak asap mengepul diruangan.


"Kau mengataiku!" Lirik Vein tajam.


"T-tidak.... Tidak ada pak" Balas pak Sutejo terbata.


Tidak diragukan lagi, dia ayahnya Feron


Lanjut hati pak Sutejo miris melihat kelakuan ayah dan anak sama saja.


"Hahhhh~ langsung saja pak Ryou, bagaimana dengan perkembangan anak itu" Tanya Vein mengalihkan atensinya pada Ryou yang masih bersikap biasa saja seakan tidak merasakan aura gelap yang dipancarkan Vein. Ia memilih membuka map kuning.


"Dia belakangan ini sedikit jinak dan tidak banyak berulah, dia juga masuk tepat waktu dan mengikuti pelajaran dengan baik. Selain itu dia juga tidak uring-uringan, perkembangan yang cukup pesat hanya dalam waktu 2 hari. Saya jadi salut dengan didikan bapak, kira-kira bagaimana ya? " Ucap Ryou menutup mapnya dan ternyum kearah Vein yang menampilkan smirk bangga.


"Itu sangat mudah pak Ryou, hanya tinggal.....


****


"Pinjam smartphone lo dong Fer, gua mau nelfon adek gua" Ucap Bunga.


"Please jangan ngomong masalah smartphone" Balas Feron frustasi bangkit dari duduknya dan berjalan keluar menghampiri bengkel Multimedia.


"Fi, temen lo nyariin" Kata Daniel mengarahkan telunjuknya ke pintu.


"Siapa?" Tanya Alfi meninggalkan laptopnya yang sedang menyala menampilkan tugas bengkel.


"Eh Feron, ada ape ni bro? Tumben lo nyamperin gua di jam masuk?" Tanya Alfi berjalan kearah Feron yang sedang bersandar di tiang membelakanginya.


Feron berbalik dengan ekspresi sedihnya.


"Alfiiiiiiiiii..... Smartphone sama motor gua disita Vein


Bangs*t" Raung Feron langsung memeluk Alfi kuat.


***


"Sita saja barang-barang berharganya" Tutur Vein bangga di tempat, membuat ryou dan pak Sutejo hanya bisa tersenyum canggung menanggapi.


...TBC ...