All For Dreams

All For Dreams
Ganjil



"Kau, memberikan penawarnya langsung, kenapa kau tidak membuat ini menjadi rumit, Reyo!?" Ucapnya menatap Reyo yang sudah babak belur bersimbah darah.


" Gua... Ha... Ha... Udah gak pengen kayak dul-"


BUGH!!


Perut Reyo di tendang dengan keras oleh dua orang yang berdiri tegap di depan dan belakangnya. Sementara itu, Reyo yang sudah terbujur berlumuran darah di lantai hanya dapat meneguhkan semangatnya untuk keluar dari dunia gelap ini, mengikuti keinginan orang di depannya hanya akan membawa Reyo kembali ke dalam jeruji besi seperti dulu.


Reyo tidak ingin, ia hanya ingin membuat teman dan berbuat baik tanpa harus ber-urusan dengan dunia tawuran ataupun gank.


Apa sesulit itu bagi Reyo untuk keluar dari dunia gelap sekolah itu?


"Ck!" Pria itu berdiri dari duduknya.


"Reyo, kau tidak berguna" Ucapnya menatap tajam Reyo yang sudah tak dapat berbuat apapun.


"Aku kecewa padamu nak, bapak kecewa" Lanjutnya tersenyum tipis dan meninggalkan tempat sempit nan pengap itu.


"Robert! Pulangkan Reyo, kembali ke sekolahnya" Perintahnya dan berlalu pergi.


Reyo yang mendengar penuturan itu sontak bergetar ketakutan.


Kembali kesekolah? Kesana?! Tolong.... Tolong katakan bahwa anda sedang bercanda.. Ku mohon.... Jangan kembalikan aku kesana, aku takut


Inner Reyo gemetar, Ia sangat trauma untuk kembali kesekolah lamanya.


Sementara Robert, ia masih betah berdiri dan menatap Reyo lamat.


"Aku sudah memperingatimu" Ucap Robert.


.


.


.


Hisapan rokok ke-sepuluh Feron telah membuat sungai Kampar menjadi asbak besar dadakan miliknya tanpa memikirkan ibuk-ibuk yang sudah kesal tengah mencuci baju malah di hujan abu rokok.


"WOY BOCAH! NGEROKOK JANGAN DISINI, DASAR KURANG DIDIKAN!!!" Marah sang ibu meracau.


Feron melirik ke bawah dengan mulut mengapit nyaman rokok batangan mahal.


"SALAH ANTE KENAPA NYUCI DI BAWAH SANA, SAYA KAN JADI GAK SADAR!!!!" Balas Feron ikut berteriak pada wanita yang kini malah mengambil ancang-amcang melempar pemburus cuciannya pada Feron.


Zuuuiiinnngggg!!!


Keduanya menatap lamat pemburus kain yang malah obset jauh dari Feron dan malah mendarat di atas kepala bapak-bapak pencari batu.


"Gua rasa sesi termenung disini sudah cukup, balek ah" Gumam Feron berjalan mundur ke arah motor maticnya. Sementara sang wanita pelaku pelemparan sudah hilang duluan entah kemana meninggalkan sang bapak pencari batu yang kebingungan mencari asal datangnya pemburus kain.


...***...


Di rumah sakit.


"Udah dua kali gua masuk rumah sakit dan udah dua kali juga gua di antar Feron dan udah dua kali juga gua gak liat tu orang pas siuman" Racau Alfi di tempat tidurnya.


"Kamu kenapa si? Dari kemaren ngomel mulu. Topiknya juga sama aja, si Feron yang gak datang jenguk. Kakak mulai curiga antara kamu dan dia jangan-jang-"


"Shuuuttt!!! Kak, jangan ngelantur, entar genre novelnya berubah" Ucap Alfi menghentikan gerakan lemes mulut sang kakak dengan mencubitnya.


"Lagian kan sebagai sahabat gua juga berhak meminta di jenguk ama sahabat" Lanjut Alfi kembali menyamakan diri untuk tidur.


"Bodo amatlah" Jawab sang kakak bosan.


.


.


.


Di WC rumah sakit.


Sudah 5 menit Feron berdiri di urinoir tanpa ada niatan beranjak. Ia juga tidak ada niatan untuk membuang air malah sibuk memperhatikan urinoir dan sesekali bergumam tak jelas.


Sementara seorang pria yang sudah berada di samping Feron hampir dalam waktu bersamaan malah ragu antara ingin menegur atau memanggil dokter kejiwaan.


.


.


.


"Udah ah Lia, gak usah sok perhatian ampe nyuapin abang kayak gini. Ujung-ujungnya lo pasti minta uang sogokan ama gua supaya gak bocorin rahasia gua ama Andin kan?" Tanya Alfi menyelidik, namun masih tetap menerima setiap suapan makan siang dari tangan sang adik yang sudah menampilkan wajah tersenyum misterius.


"HEHEHEHEHEHEHEHE, tau aja ni abang satu keinginan adeknya. Aulia bangga bang" Rupanya gelagat kebaikan Aulia sudah tercium lebih dahulu hingga sang empunya hanya bisa nyengir dan tetap melanjutkan suapan terakhir untuk sang abang yang langsung bermuka jutek pada sang adik.


"Dah gua duga lo gak ada ikhlasnya" Sindir Alfi memutar bola mata bosan.


Kreeeekkk!!


"Eh! Feron!" Teriak Alfi langsung duduk dari sesi berbaringnya.


Sementara Aulia hanya dapat menatap kedua pemuda remaja ini dalam pandangan aneh bergantian.


"Gua rasa gua pergi aja" Gumam Aulia meletakkan piring bekas makan Alfi ke nakas dan berlalu pergi meninggalkan dua sejoli di dalam kamar nan sepi.


"Suananya mulai menjijikkan disini" Lirih Aulia yang masih dapat di dengar Feron yang hanya menganggap itu sebagai guyonan belaka.


"Ohayou sahabatku, bagaimana keadaanmu? Gua pikir lo dah mati Fi, hampir aja gua bawa kembang tujuh rupa kemari" Sapa Feron mengambil duduk di tempat Aulia duduk sebelumnya.


"Apa-apaan sahabatku ini hahahahaha, kalau gua mati pastinya orang pertama yang gua gentayangin adalah elu hahahahahahha" Balas Alfi menampar punggung Feron hingga ia sedikit limbung.


"Hahahahahahha, akan ku tolak dengan kembang kantil hahahahahah" Jawab Feron mengeluarkan bunga yang di maksud.


"Waduh! Bunganya jadi betulan!" Ujar Alfi menatap terkejut kembang kantil.


"Kebetulan tadi lewat kuburan dan bunganya juga sudah mekar, jadi gua petik aja" Balas Feron lagi meletakkan bunga tersebut di nakas.


"Btw Fi," Feron merogoh tasnya dan menatap Alfi penuh senyum misterius.


"TADAAAA!!!! Ini dia bakso tusuk batu belah kegemaran kita, sengaja gua beli buat lu" Ucap Feron memberikan bungkusan bakso tusuk ke pangkuan Alfi yang langsung sumbringah.


"Asyik! Tau aja ni sahabat gua udah kangen ama ni cemilan" Ujar Alfi bersemangat dan langsung memakan lahap bakso tersebut.


"Oh iya Ron, muka lu kenapa lebam-lebam" Tanya Alfi di sela kunyahannya.


"Biasalah" Jawab Feron mengelus salah satu perban di mukanya.


Setelah percakapan cukup singkat itu, keadaan hening. Hanya diisi dengan suara mulut Alfi yang makan dan suara detak jarum jam saja.


"Fi" Ucap Feron membelah keheningan.


"Apa Reyo ada bilang sesuatu sama lo saat lo di sekap? " Tanya Feron menatap Alfi yang langsung berhenti makan.


"Mmmm.... Dia cuma selalu bergumam maaf ama gua, dan selebihnya gua gak ingat" Jawab Alfi dan kembali melanjutkan makannya yang tertunda.


"Ooooo.... Jadi gitu. Ok lah" Balas Feron tersenyum.


...***...


Keesokan harinya.


Acara HUT SMK.


Acara baris berbaris.


"Gua ymgak yakin bisa Nan" Ujar Feron enggan bangkit dari posisi duduknya di ruang kelas.


"Ih si Feron! Udah hari H juga, ngapain sih lu buat susah terus. Bangun gak lo!" Ancam Nanda melebarkan matanya mencoba garang.


"Ck... Bete ah ama Nanda"


Feron langsung beranjak pergi, sementara Nanda malah terdiam di posisinya.


"Mau sampai kapan lu membatu disitu? Cepat dong, entar terlambat lomba gua juga yang di salahin" Peringat Feron langsung menarik lengan Nanda hingga sang empunya langsung tertarik pergi.


.


.


.


"Bodo amat kalau misalkan kita kalah" Gumam Feron di barisan ujung belakang.


"Semua, bersiap. Rentangkan tangan, ambil posisi masing-masing" Teriak Adam sebagai Dalton.


"Bodoooo amatttt~" Gumam Feron berjalan lemas.


"LANGKAH TEGAP MAJUUUUUU!!! JALAN!" Teriak Adam.


Semua mengikuti perintah Adam, tanpa terkecuali, termasuk Feron yang langkahnya malah bingung sendiri.


Gua lupa kalau hadap kiri itu kek mana!?


Panik Feron melirik kiri, dan depannya panik.


Asw, bodo amat lah


Isi hati Feron malah hadap kanan.


"Sttt... Fer... Lu salah hadap men!!!"


Bisik Anwar yang tepat berada di samping Feron.


"Aduh!" Gumam Feron menepuk jidat dan langsung balik kiri dengan aestetik.


Di meja juri.


"Pfffttthhhh... Rupanya anak itu juga punya kelemahan" Gumam Pak Beno menahan tawa dari meja Juri.


...TBC...