All For Dreams

All For Dreams
Apa ci



Vion langsung membekap mulut Yuna dengan telunjuknya "Stop ngomongin sesuatu hal yang gak bakal terjadi Yuna. Karna gua yakin kalau Daffa orangnya bukan seperti yang elu fikirin, Daffa bukanlah orang bejat yang gak bisa bertanggung jawab, karna gua tau siapa dia sebenarnya. Sekarang semua tergantung ama lo, lo berani bilang ke Daffa, semua aman. Jangan buat anak lu lahir tanpa ayah Yun, jangan. Setidaknya," Vion langsung mengambil nafas cukup banyak, kalimat ini akan menyemangati Yuna, ia yakin "Jangan seperti gua. "


.......


.......


.......


.......


...All For Dreams...


...Apa ci...


.......


.......


.......


.......


.......


"Ketuk gak ya?" Gumam Feron tepat di rumah Nanda.


Ia sedikit memperhatikan teras rumah yang seperti sudah sebulan tidak di bersihkan, bahkan kaca juga sangat berdebu walau Feron tau tempat ini banyak debunya.


Hari ini Feron sengaja bawa mobil saja supaya ayah Nanda tidak emosi lagi dengan motornya. Tapi, dari tadi mengetuk pintu tidak ada jawaban atau minimal ketukan balik.


Saat ingin mengetuk untuk kesekian kalinya, tiba-tiba anak tetangga datang dengan mulut penuh es lilin "Cari siapa bang?" Tanya anak itu menelan es lilinnya.


"Cari yang punya rumah." Jawab Feron.


"Hermantino Brahma di kantornya bang." Jawab anak itu polos, tangan mungilnya sibuk membuka es kedua.


"Bukan anyink! Maksud gua Beni Caksa gob*lok!" Dengus Feron kesal.


Anak itu melongo.


"Cari siapa dek?" Tanya ibuk-ibuk yang baru saja datang.


"Cari pak Beni Caksa buk, kemana ya orangnya?"


"Oooo, pak Beni sudah di pecat 3 minggu lalu oleh pak Hermantino Brahma dek..."


.


.


.


Brakkk!!!!


"Jelaskan sekarang juga pa! Apa maksud papa memecat pak Beni." Bentak Regas menaikkan kaki kanannya tepat di atas meja sang ayah yang di penuhi dokumen penting PT, bahkan kolega yang sudah duduk di tempatnya sampai di Usir keluar oleh Regas sendiri agar aksi ini berjalan lancar.


"Ayo Hermantino, keluarkan semua pembelaanmu." Sambung Ragas semakin mengencangkan ikatan yang membelenggu Hermantino di kursi kebesarannya.


"Kalian tidak akan bisa membuatku bicara, apapun konsekuensinya." Ucap Hermantino berusaha berontak.


"Xixixixixi, sudah gua duga. Sudah gua duga pelaku tidak akan mau mengaku. (Menurunkan kaki dari meja) Bruno! Bawa masuk saksi kunci kita." Perintah Regas menyuruh Bruno masuk.


"Astaga, kenapa gua harus ikut." Keluh Bruno membawa sekretaris Hermantino.


"Katakan buk Sukijem, apa yang di lakukan oleh pak Hermantino terhormat ini sebulan belakangan!" Desak Regas menunjuk Hermantino dendam.


Sukijem memandang Hermantino yang sudah menggeleng kencang, namun ancaman Regas lebih menyiksa fikirannya.


"Saya mengaku tuan muda, tuan besar memecat Beni Caksa karna uang dan juga simpanan." Sukijem langsung membeberkan berita tanpa filter dan drama hingga membuat Bruno ikut terkejut dibuatnya.


"Whats!" Teriak Bruno.


Sementara si kembar hanya menunduk dengan senyum "Dasar Keladi, tua-tua makin menjadi kamu Hermantino!!!! Sekarang sebut dimana Pak Beni beserta keluarga sebelum kepala lu gua cukur di pencacah Sawittt!!!!" Teriak si kembar menarik telinga dan rambut Hermantino yang tinggal di ujung kepala saja.


Di tempat duduk tamu, Feron asyik memikirkan keadaan Nanda, bagaimana bisa serumit ini di waktu bersamaan.


"Gas Feron, gua udah dapat hak warisan. " Ucap Regas mengangkat tinggi-tinggi map.


Sementara Hermantino sudah di buat layaknya kepompong raksasa oleh ketiga anaknya, miris namun mau bilang apa.


"Bang, entar bagi warisan ye." Seru Ragas.


"Uuuuu... Timbang yang ginian aja lu manggil gua abang, biasanya lu bilang timbang 5 menit mulu." Dengus Regas menggeplak kepala Ragas dengan map.


.


.


.


Beberapa menit kemudian,


Kediaman baru keluarga Beni. Feron, Regas dan Ragas masih betah berdiri di depan rumah Beni. Ragu dan bimbang antara ingin mengetuk atau langsung tereak aja.


"Assalamualaikum," Ucap Regas seraya mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam, eh Tuan Regas, ada ap-" Ucapan Beni langsung tercekat saat melihat Feron.


"Om." Sapa Feron.


...Skip time...


...****************...


"Saya mewakili pak Hermantino Brahma selaku pemilik PT. Yohanna benar-benar memohon maaf pada pak Beni Caksa atas kelalaian kami memecat bapak." Regas menundukkan kepalanya dalam di depan Beni yang langsung tidak enak, anak pemilik PT tempatnya bekerja dulu menunduk di depannya?


"Aaa, sudahlah tuan Regas. Saya tidak mengapa, lagian mungkin sudah saatnya saya di gantikan dengan satpam baru tuan Regas." Ucap Beni seraya menaikkan kepala Regas.


"Tidak pak Beni, ini kesalahan kami. Kami salah memecat orang, tidak seharusnya kami memecat bapak. Ini murni kelalaian dari Sukijem pak Beni. Justru maksud kedatangan saya kesini untuk menawarkan bapak kembali bekerja dengan posisi baru yang sedianya dapat menjadi pengobat rasa bersalah kami pada bapak. " Regas langsung menyerahkan map yang katanya adalah warisan itu pada Hermantino.


Beni mengambil map itu dalam kegundahan, namun Ragas meyakinkan "Bapak kami tempatkan di divisi satu sebagai kepala Satpam disana, rumah pekerja bapak juga sudah di persiapkan di blok D nomor 3C, saya harap bapak tidak melewatkan penawaran berharga ini." Ucap Ragas yang duduk tepat di sebelah Regas.


"I-"


"Terima saja pa." Bisik sang istri mengelus punggung sang suami.


"T-tapi ma, aku kan sudah bilang tak ingin kembali lagi, macam mananya mama ini, berbelit-belit ku liatlah." Bisik Beni.


"Lumayan pa, posisi ini bisa menyekolahkan anak kita sampai kuliah, masak papa tolak sih." Bisik sang istri lagi.


Akhirnya Beni mengakhiri sesi perdebatan bisik-bisiknya bersama sang istri "Baiklah tuan, karna sepertinya tidak ada tombol pilihan tolak, maka saya akan menerimanya dengan suka cita."


"Alhamdulillah kalau begitu." Balas Regas tersenyum.


Semua tersenyum sebentar sebelum kembali murung, Beni selaku papa Nanda juga ikut murung kembali.


"Ekhem, karna sepertinya semua sudah selesai saya mau berbicara mengenai Nanda." Ucap Feron membuat semua mata tertuju padanya.


.


.


.


"Nanda, ini papa nak. Kamu baik-baik saja?" Tanya Beni memeluk sang putri.


"Apa si Anwar datang?" Feron memandang Luna dalam tanda tanya besar.


"Menurutmu?" Ucap Luna membalikkan pertanyaan.


"Hahhh... Sudahlah." Gumam Feron kembali memandang kedepan.


"Nenekmu tadi menelfon, dia menanyai keberadaanmu. Sepertinya ada urusan penting, kenapa kau tidak pulang saja hmm...?"


"Nanti gua pulang." Sahut Feron pada Luna.


"Feron." Panggil Beni yang sudah berada di depan Feron.


"Ikut saya sebentar."


"Baiklah."


.


.


.


"Ada apa om?" Tanya Feron, Beni masih memunggungi Feron, namun badan itu sudah bergetar.


Tangan di kepalkan erat, Beni mencoba menahan emosinya yang sudah sampai ke ubun-ubun.


"Oomm..."


Brukkk...


"Apa... Apa yang terjadi pada putrikuuuu!!?" Raung Beni.


Ia sudah berhasil memberikan satu pukulan hingga pipi Feron lebam.


"S-saya..."


.......


.......


.......


.......


.......


...TBC...