All For Dreams

All For Dreams
Theo Story (Bangkit dan melawan)



...All For Dreams...


...Theo Story...


...(Bangkit dan melawan)...


.......


.......


.......


Perasaan disini tu banyak anak Passusnya, tapi kenapa sepi?


Tanya gua mengedarkan pandangan "Ini aneh" Gumam gua menggaruk kepala.


"Bodo amatlah, WOY LULBA!! CEPAT LU KELUAR, NGUMPET MULU LO. DASAR GAK COWOK SETENGAH MATENG!" Bentak gua memaksa Lulba untuk keluar dari semak-semak.


Setelah berhasil menarik Lulba keluar "Yok cabut" Ucap gua berjalan terlebih dulu.


"Ngapain The?" Tanya Lulba masih tak ingin beranjak dari tempatnya.


"Ya bantuin Stevan buat kasih kunci ke bang Darjot lah, selain itu kita juga harus membersihkan sisa anak Passus yang ada" Terang gua berbalik menatap Lulba.


"Gak usah, yang perlu kita waspadai itu adalah pak Ibram yang belum keliatan batang idungnya"Jawab Lulba menatap sekitar.


"Dia gak keliatan sejak tadi, apa ini perangkap?" Gumam Lulba yang masih dapat gua dengar.


"Bodoh amat! Sekarang yang penting kita sukseskan rencana ini dan gua pen cepat-cepat masuk kelas" Final gua berjalan tanpa menghiraukan Lulba.


Bugh!


"Uhuk!"


"THEO!!!" Lulba langsung berlari kearah gua yang sudah terbujur tumbang di tanah.


"Ck! Masih kelas satu sudah membuat ulah. Mau jadi apa sekolah ini kalau di isi bibit berandalan seperti kalian" Ucapnya sombong langsung memijak punggung gua.


"!" Gua yang di perlakukan sehina ini sontak melawan dengan segala upaya, namun karna kurangnya pengalaman dalam bidang bertarung, akhirnya gua hanya dapat meronta layaknya kura-kura.


Anggota Passus yang awalnya menikmati perlawanan sia-sia gua akhirnya terpancing emosi saat Lulba melempar batu ke arah kepala anggota Passus itu hingga keningnya mengalirkan darah segar "Lo, berani ngelawan gua ya?" Tunjuknya pada Lulba yang menatap dengan nanar.


"Hmph! Sebagai ketua Passus, gua Agung Sandoyo gak bakal tinggal diam melihat lu semua masih kecil udah jadi preman" Ujar Agung tegas.


"Lu harus gua didik supaya jadi makhluk yang benar Lulba Aksara" Ucap anggota Passus bernama Agung menjauhkan kakinya dari gua dan melangkah marah ke arah Lulba yang langsung terkejut panik.


Dari mana dia tau nama Lulba?!


Lulba yang semula panik kini mencoba untuk tenang dan langsung memasang kuda-kuda bertarung, walau gemetar Lulba tetap mencoba berani. Ia menolak kalah sebelum berjuang.


"Lulba" Gumam gua tercengang dengan keberanian Lulba.


"Gak usah terharu The, sekarang lu bangkit aja beban gua udah hilang karna gak harus mikirin keselamatan elu" Jawab Lulba yang berhasil membuat imajiner kesal tercetak di kepala gua.


Berarti dari tadi dia pikir gua beban dong!? Asw memang.


Walau sakit, gua tetap mencoba bangkit dan berdiri walau pincang.


"Lu pikir tendangan lo hebat gitu? Sorry Lu ngelawan orang yang salam Agung!" Sinis gua.


"Hmph! Paling satu tendangan angin bakal buat lo tumbang lagi" Ejek Agung melirik gua remeh.


"Kita liat aja ntar" Jawab gua mencibir.


Sekarang posisi Lulba di depan, Agung di tengah dan gua di belakang. Menguntungkan.


Dengan adanya kami berdua, gua yakin pasti Agung bakal kalah.


"Ngak usah pesimis, yang lo lawan bukan anak Passus baru lulus guling botol" Ucap Agung berhasil membuyarkan khayalan gua.


"Kenapa kita ngak coba aja dulu" Balas Lulba.


"Heh!?"


Slab!


Gua berhasil nendang perut kanannya suatu peng-


"Hwaaaaa!!!!!!"


Brukkk!!!


"Sakiiiiit" Desis gua menahan sakit di area punggung.


Lulba langsung berdiri di depan gua, mencoba untuk melindungi gua dari Agung yang masih ingin menghajar "Makanya hati-hati The, dia lawan yang gak bisa di anggap remeh" Ucap Lulba melirik gua.


"Ck! Gua udah hati-hati gob*lok, tapi kekuatan dia macam Titan" Keluh gua memandang Agung nanar.


Lulba yang mendengar ucapan gua langsung memandang Agung, ia mencoba mencari titik lemah namun sepertinya itu sulit.


"Ck! Kuda-kuda yang kokoh, bahkan gua gak bisa menyerang. Sepertinya dia merupakan anggota Passus terpilih untuk menghadapi bang Darjot" Desis Lulba menatap sinis.


Swiiinnnggg!!!!


Cepat sekali.


Dip!!!


Dia!?


Tuk!!


"Uhuk! Uhuk!" Lulba langsung terduduk dan mengeluarkan batuk darah yang sangat banyak.


"Ayolah woy! Ini bukan acara reality show dimana lo bisa berpikir dan ngobrol dulu. Ini tu dunia nyata, lo gak bakal bisa mundurin waktu sampai dapat solusi" Ejek Agung kembali mendekat.


"Ck!" Decih gua kehabisan akal.


"Here we gooo~ Nyerah aja, ruang BK gak bakal gigit kok" Ejek Agung menampilkan smirk mengejek. Ia kembali berjalan hendak menyeret kami ke ruang BK.


Ck! Lemah banget gua. Kenapa cuma dua pukulan aja bisa buat gua gak berdaya.


Inner gua menyesali kelemahan diri.


Tapi!


"Oooohohoho. Mau di coba lagi? Lo mau ampe gak bisa berdiri sebulan ya?" Tanya Agung tersenyum miring.


"Gua gak bakal menyerah semudah itu. Karna Bang Darjot pasti bakal kecewa" Jawab gua memadang Agung dengan sempoyongan.


"Darjot? Maksud lo, Radit? Heh! Dia gak bakal sedih cuma buat kutu macam lu. Biar gua kasih tau ya murid baru, daripada lu masuk gank gak guna itu, lebih baik lu ikut gua masuk Passus. Selain dapat gelar dan pangkat, lu akan di perhatikan layaknya keluarga. Shaaa~ mari bergabung " Ucap Agung menjulurkan tangan tepat di muka gua.


Gua menatap uluran tangan itu dan berganti menatap muka Agung yang masih menampilkan smirk.


"Gak usah bimbang, dengan lu masuk Passus semua dosa yang lu lakuin sekarang bakal termaafkan. Kita bisa mulai dari awal, melatih gaya pertarungan lu yang acak misalnya" Tambah Agung yang ingin membuat gua goyah.


Gua kembali berpikir, jika gua masuk Passus, gua bisa menjadi terkenal, tapi kalau gua meninggalkan gank....


Gua merasa kayak ada yang kurang...


"Hmph, jangan ragu dek. Abang akan membimbing mu. D-!"


Swussshhh!!


BRAK!


"Fyiiiuuuutttt~ untung aja gua peka" Ucap Agung mengibaskan kedua tangannya yang baru saja ia gunakan untuk menangis serangan.


Dari balik kabut yang tercipta,


Tap!


"Beraninya lo menghasut temen gua. Dengar ya gundul! Seberapa Banyakpun lo ngucapin hal-hal manis ama Theo, gua yakin dia GAK BAKAL MENGKHIANATI BANG DARJOT! Tetaplah sesuai kodrat masing-masing" Peringat Suara itu, keluar dari kabut tebal yang tercipta.


"Feeeronn?" Gumam gua bergetar.


Tuk!!


Gua langsung terduduk lemas, rasanya beban gua hilang dan bisa tidur sebentar.


"Eits, jangan tidur dulu. Entar kita gak bisa kabur" Ucap suara lainnya, Alfi memegang pundak gua.


"Woy Lulba kan? Lu gak apa-apa?" Tanya Alfi pada Lulba yang sudah berdiri dan menyeka sisa darah di sekitar area mulutnya.


"Ck! Serangan makhluk lemah seperti itu gak bakal buat gua langsung AFK. Gua masih bisa bertarung" Balas Lulba tersenyum.


"Lulba"


Baiklah kalau begitu, kalau Lulba masih semangat kenapa gua harus jadi pemeran lemah yang kalau temennya dah datang langsung nyerahin sisa pertarungan ke dia?


"The? Kalau gak kuat istirahat aja dulu" Peringat Lulba mencoba mendekat.


"Gak apa-apa Lul, lu jangan memperlakukan gua kayak cewek. Gua geli dengan itu" Balas gua memandang Lulba yang langsung tersenyum pasrah.


"Ok fix, karna semua sudah kembali semangat. Gimana kalau kita mulai lagi" Ucap Feron.


"Uh, apa? Oh udah selesai. Baiklah, mari kita mulai" Balas Agung menurunkan tangan yang berlingkarkan jam tangan kulit.


"Makasih dah nunggu"Jawab Feron tersenyum.


"Lumayan dapat paketan gua" Ucap Agung langsung menyerang dengan kecepatan tinggi menuju..


"GUA!!!!!" Kenapa harus gua si.


SSIIIIIITTTTTTTTTTHHH!!!!


BUK!!


Bugh!


BRAK!


"Rupanya tidak mudah" Ucap Agung menyeka ingus.


"Pergerakan lo masih lambat" Cibir Feron.


"Ohohoho, sepertinya lo adalah musuh yang menyebalkan" Balas Agung mengibaskan tangan.


"Tapi....


Slap


Buk


Tidak


Krak


Bugh!


Pernah


Slap


Bugh!


TERJADI KARNA GUA AKAN MENGHENTIKAN KALIAAAAAAANNNNNN!!!!!!!!!" Teriak Agung marah.


Bugh


Brak


Trank!!!!


...***...


"Yok cabut" Ujar Feron lebih dulu berjalan.


"Ah Feron gak asyik, selalu semua di habisi sendiri. Gua kan jadi kesal gak kebagian mukul dia" Kesal Alfi mengikuti Feron dari belakang.


"Lu jadi wakil ajalah Fi" Balas Feron.


Mereka berdua.....


"KENAPA LO BERDUA MALAH DATANG PAS KITA DAH PADA BABAK BELUR BEGO!!!!!"


(Diiringi guguran pohon dari Alfi)


"Kita berduakan polisi India" Ucap Feron berbalik dan tersenyum bodoh.


"ASW!!!!!"


"Oh iya, btw gua gak liat pak Ibram, rencana licik apa yang ia persiapkan ya?" Tanya Lulba berpikir.


...****...


"Makasih Stevan. Kamu memang bisa diandalkan" Puji Darjot mengambil kunci.


"Hmmm... Semua juga sudah di bersihkan. Sekarang kita aman masuk kelas. Baiklah semua selamat belajar dan jangan lupa untuk selalu pintar supaya pas tawuran otak lu pada gak mampet" Terang bang Darjot dan berlalu pergi lebih dulu di ikuti bang Jamet.


"Maklumat macam apa itu?" Tanya gua face palm.


...****...


Ditengah pelajaran kelas TKJ


Drrrtttt...


Sebuah notif pesan berhasil membuat gua ngumpet buat baca di bawah meja.


Chat grup:


...From: Mang Darjot...


...[BERSEDIA UNTUK PERSIAPAN TAWURAN LUSA INI. SELAMAT KEPADA KALIAN ALIANSI KAMI. SORE NANTI SEGERA DATANG KE BENGKEL TP UNTUK MENGASAH SENJATA KITA]...


"Tawuran? Cepat sekali" Gumam gua menatap bimbang isi pesan bang Darjot.


...TBC...


Plot twist,


Sementara itu, pak ibram sebenarnya sudah di sekap Feron dan Alfi di WC terbengkalai di ujung sekolah.


"Awwas kallywennn, saywa tandwai(Awas kalian, saya tandai)" Ucap pak Ibram susah karna mulutnya diikat segitiga mang Oskar yang dua bulan belum di cuci.


"Gimana nasib saya ni pak Ibram, baru juga sehari jadi penjaga pagar, uuuuu. Mana saya darah rendah lagi" Lirih pak Beno yang diikat dengan kepala di bawah dan kaki di atas.


"Hmphhh..... Dwasar" Keluh pak Ibram hanya bisa pasrah menunggu pertolongan.