
"Maafkan saya yang tak bisa membawa Feron kemari" Sesal Pak Sutejo pada dirinya sendiri dan memilih duduk di mejanya dalam aura suram.
Tok
Tok
Tok...
"Iya, silahkan masuk buk" Ucap pak Sutejo langsung berdiri dan menyambut seorang wanita paruh baya dalam pakaian china khas.
"Akhilnya, ku pikil tidak akan sampai ketempat ini. Mana sekolahnya jauh dali peradaban lagi" Ucap wanita paruh baya itu mengipas dirinya dengan kipas lipat berukirkan naga di setiap tangkai bambunya.
"Ehehehehehehe" Tawa pak Sutejo berusaha menghilangkan rasa dongkol.
Nenek bau tanah ini, berani sekali menghina sekolah tercintaku, awas saja! Akan ku balas nanti!
Gerutu hati pak Sutejo tak terima sekolahnya di olok-olok oleh seorang nenek tua berpenampilan nyentrik ini.
"Pantas cucuku begitu mengeluh belsekolah di sini, lupanya selain jauh dari masyarakat, pelayanan pagarnya juga patut di peltanyakan" Ucap nenek itu semakin judes, ia juga melirik pak Sutejo mencemooh.
"Maaf kalau pelayanan sekolah kami kurang memuaskan ibuk" Jawab pak Sutejo mengambil kursi untuk di duduki nenek itu.
"Terima kasih" Ucap sang nenek menaikkan dagunya.
Srak!!!
Tuk!!
Wanita paruh baya itu membuka dan menutup kipas lipatnya secara cepat, mengisyaratkan ia yang tengah merasa tidak nyaman. Namun mana pak Sutejo paham.
Pak Sutejo akhirnya memilih duduk di tempatnya yang tepat berada di depan sang wanita paruh baya. Sementara guru konseling lainnya telah pergi, beralasan ada urusan tapi pak Sutejo yakin sekali, pasti karna ketakutan dengan tamu yang sedang di hadapi pak Sutejo.
Mereka pasti tidak ingin kejadian Vein, ayah Feron terulang kembali. Menatap semua guru konseling seperti predator mengincar mangsa. Uuuu~ masih segar di ingatan pak Sutejo kejadian tersebut. Dimana pak Ibram sontak langsung mengambil alih mengatakan kebaikan (kejelekan) sang anak kepada ayahnya.
Namun pak Sutejo sedikit salut dengan ayah Feron itu, ia bukan seperti yang pak Sutejo fikirkan sedari awal. Rupanya Vein malah menghajar anaknya di depan pak Sutejo dan pak Ibram yang langsung facepalm di tempat.
"Brrrrrrrr~" Ucap pak Sutejo bergetar.
"Kau kenapa?!" Tanya wanita paruh baya memandang pak Sutejo.
"Ekhem! Tidak apa-apa buk" Ucap pak sutejo langsung bersikap profesional.
"Baiklah ibuk, dengan panggilan apa ya kemari?" Tanya pak Sutejo tersenyum bisnis.
Tak!
"Astagfirullah!!" Teriak Pak Sutejo kaget, ia malah langsung naik ke atas kursinya.
"Ck! Belsikaplah profesional layaknya seorang guru BK pada umumnya, kau membuatku muak!" Sinis wanita paruh baya menunjuk pak Sutejo dengan kipas lipat mewahnya.
"I-iya, ibuk benar juga" Lirih pak Sutejo kembali duduk dan meraih surat yang di uluran oleh wanita paruh baya itu.
Pak Sutejo membaca dengan seksama dan kembali menatap wanita paruh baya itu yang menatap sekeliling dengan pandangan tajamnya.
"Jadi...." Pak Sutejo agak sedikit bimbang melanjutkan ucapannya dan memilih untuk menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ibuk datang atas wali siswa siapa ya?" Cicit pak Sutejo bertanya.
Wanita paruh baya itu melirik pak Sutejo sinis dengan sedikit merendahkan (pikir pak Sutejo).
Srak!!!
Kipas lipat kembali di kembangkan, wanita paruh baya mengipas cepat wajahnya.
"Atas nama siswa ALFERON ADIDJAYA"
Pak Sutejo seketika tercengang di tempat. Mulutnya menganga lebar, matanya melotot. Kakinya seperti melayang entah kemana.
.
.
.
"Dimana si tu bocah?" Tanya Nanda memandang sekitarnya bertanya.
Sementara itu Neti yang tengah mencari udara segar untuk menelfon seketika tercengang di tempatnya.
"FER-"
Sriiinnnkkkkk!!!!!
"Sssttt!!!! Diam bund" Bisik Feron membekap mulut sang bunda dengan kedua tangannya dan membawa Neti untuk bersembunyi di balik bengkel TSM.
"Fmmmmmm!!!!!" Ucap Neti memandang Feron heran.
"Bunda tenang dulu" Bisik Feron mengintip ke arah bengkel KR.
"Hufffttt.... Akhirnya dia pergi" Bisik Feron bersyukur dan langsung membuka dekapannya pada mulut sang bunda.
"Kita aman?" Tanya Lulba ikut mengintip.
"Sepertinya" Jawab Feron mengelus dadanya.
"Ada apa ini?" Tanya Neti tak paham menatap Lulba dan Feron bergantian.
"Kami sedang kabur dari singa betina Bund" Jawab Feron dengan pupil mata membesar menatap Neti yang langsung mundur 2 langkah.
"Apa? Singa?" Tanya Neti lagi tak mengerti.
"Aneh" Bisik Neti.
"Tunggu dulu! Jangan bilang kalian berdua kabur dari jam pelajaran!" Sanggah Neti menaikkan nada suaranya.
"Aaaaa!!! Bunda diam!!!" Panik Feron dan Lulba langsung membekap mulut Neti lagi.
"Jangan kencang-kencang, nanti Nanda d-"
Tuk!.
"Dengar apa Ron?" Ucap suara Nanda berat, membuat Feron hampir pingsan di tempat kalau saja tak di sanggah oleh Lulba yang sigap menahan kaki Feron yang sudah seperti jeli.
"RUANG BK!!!" Teriak Nanda tegas.
.
.
.
"nsjsjssmskhensjsjdnsbsja" Gerutu Feron di samping sang nenek, Feron enggan menatap sang nenek alih-alih melirik.
Di depan sudah berdiri pak Sutejo beserta Ryou yang berdiri di samping kiri menatap Feron dalam diam.
Sementara Neti memilih berdiri di belakang nenek yang bersikap biasa saja, mungkin.
"Saya tidak akan berbasa basi, ibuk tau. Cucu ibuk telah membuat ulah lagi dan lagi. Ia telah menggunting pagar dari kawat besi yang sengaja di pasang oleh pekerja untuk sementara waktu sembari menunggu alat dan bahan untuk pembangunan tembok kembali, gulp! " Ucap pak Sutejo berusaha bersikap tegas.
" D-dan" Ucapan pak Sutejo sontak gemetar tat kala menatap nenek Feron meliriknya sinis.
Pak Sutejo langsung mengambil alat pemotong kawat besi dan menaruhnya di meja.
"Dan juga selalu membawa alat berbahaya seperti ini, saya sampai tidak bisa memikirkan jika murid lainnya sampai bersifat seperti nak Feron semua?" Tanya Pak Sutejo frustasi.
Nenek Feron menatap alat pemotong dan pak Sutejo bergantian. Kemudian melirik Ryou yang menatapnya.
"Huuuhhh~" Nenek mengambil nafas panjang.
"Biasa lah pak, namanya juga darah muda. Kalau cucu saya calm dan penurut di segala tempat, itu baru patut kalian curigai" Jawab sang nenek ringan bagaikan kapas yang tertiup angin.
Feron sontak menatap sang nenek terkejut. Alih-alih dimarahi seperti sang ayah, nenek malah sebaliknya. Ia berhasil membuat gurat di wajah Feron berseri dan berhasil mengukir senyum lebar di wajah muda tersebut.
"Nenek" Lirih Feron terharu.
"Cucuku akan melakukan apapun yang ia suka, dan selagi itu dalam skala kenakalan remaja apa salahnya? Lagian kalau tidak ada murid seperti cucuku, mana mungkin kalian dapat merasakan momen menyenangkan bersama para murid nakal? Memangnya untuk apa peraturan ada kalau tidak untuk dilanggar? Dan jika semua muridmu baik, tentunya guru BK sepertimu juga sudah tidak di butuhkan lagi" Skakmat, pidato nenek berhasil membuat satu ruangan itu hening, bahkan guru BK lainnya yang hendak masuk langsung urung dan kembali pergi, enggan untuk mendengar lebih.
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...TBC ...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...Chapter bonus...
"THEO, STEVAN, ALFI, REGAS, RAGAS!!"
"Aiyai pak Bino yang terhormat" Jawab kelima pemuda itu lemas.
"Dimana semangat kalian ha? Mana keceriaan kalian? Timbang saya introgasi di ruang kepsek kalian langsung lemas seperti ingin mati" Keluh pak Bino marah.
"Dan juga, dimana Feron! APA DIA KABUR?" Tanya Pak Bino menatap Pak Ibram tajam.
"Dia sedang di masak (introgasi) di ruang BK sebelum kesini bersama dengan Lulba anak TAV" Jawab pak Ibram.
"Ck! Padahal saya ingin memberikan tiket darmawisata ke Pekanbaru" Bisik pak Bino pelan namun sepertinya bisikan kecil pak Bino sudah di dengar oleh 5 cecurut yang langsung menatapnya berbinar.
"Apa!? Jangan GR ya" Sentak Pak Bino bersedekap dada sok jual mahal.
"Lagian nginapnya cuma sehari di hotel Ratu" lirih pak Bino melirik 5 murid itu.
"Beneran pak BINO! APA INI JUGA TERMASUK KAMI BEBAS BELAJAR? HARI APA ITU PAK? SEMOGA HARI JUM'AT" Teriak Alfi semangat.
"Panggil dulu dong ketua kal-"
Lima siswa itu langsung hilang.
"LIBURAN!!!!!" Teriak mereka sudah sampai di Lobby.
"Mudah sekali menjebak mereka" Senyum merekah pak Bino berikan pada jendela luar yang menampilkan kelima murid tersebut.
"Semoga dengan berangkatnya mereka ke Pekanbaru bukanlah awal dari bencana baru" Lirih pak Ibram pasrah.