All For Dreams

All For Dreams
100



Gak terasa episode 100 ya. Hmmm.... Terlalu banyak kisah yang masih tersimpan, namun saya pribadi berharap dapat menyelesaikan karya ini secepatnya.


.......


.......


.......


.......


Cklek!


"Ah! FERON! Darimana saja kamu nak?" Tanya sang nenek langsung memeluk tubuh cucunya yang dingin.


Setelah memeluk sang cucu, nenek beralih mengelus sayang wajah Feron.


"Aku habis dari rumah Alfi nek, kemarin kami ada kegiatan jadi tak bisa pulang" Jawab Feron berdusta. Ia bahkan sempat merespon tatapan sang ayah yang memandangnya kesal.


"Feron, " Panggil sang nenek.


"Iya" Balas Feron kembali merendahkan pandangannya.


"Dua hari lagi nenek pulang ke Tiongkok, nenek harap kamu dapat mengantar nenek ke bandara" Ucap sang nenek.


Feron hanya menatap, cukup lama hingga ia mengangguk tanda setuju.


Setelah itu tak ada pembicaraan lagi, bahkan Vein yang hendak mencegah Feron tak dapat berkutik saat remaja itu menatapnya tajam.


.


.


.


Di tempat lainnya.


"Assalamualaikum" Ujar buk Sinta berjalan masuk ke garasi yang di sulap menjadi kantor CV itu.


Sementara Nanda masih sibuk mengetik beberapa kata di smartphonenya yang sudah panas Mendial nomor yang sama berulang kali.


Awas aja kalau ni dugong gak datang


Inner hati Nanda mendengus kesal.


Nanda tak luput memberikan share lock lokasinya pada chat Feron. Bahkan Nanda sampai menyempatkan diri untuk memberikan sumpah serapah pada seseorang yang bahkan tak aktif itu, jangankan aktif bahkan ceklis satu masih terlihat apik di samping pesan Nanda.


"Nanda!" Panggil buk Sinta tiba-tiba, hampir membuat smartphone Nanda terlempar kalau saja tak ia genggam dengan erat.


.


.


.


Kembali pada Feron.


Air Shower berhasil mengantarkan ketenangan sementara pada hati Feron yang sedang tak baik-baik saja, menyentuh dinding kamar mandi secara perlahan, memperlihatkan wajah basah itu dengan gurat wajah kesalnya.


Feron berhasil menangkap kembali kewarasannya melalui kesunyian kamar mandi. Memandang sebentar ke atas plafond kamar mandi yang tembus pandang dengan kaca satu sisinya yang berhasil memberikan pemandangan langit cerah penuh awan.


"Guntur" Gumam Feron geram.


.


.


.


Cklek!


"Feron, dimakan dulu makanannya. Nenek sudah siapkan" Ujar nenek menghampiri Feron yang sudah siap dengan seragam bengkelnya.


"Aaa... (memandang sekitar) Dimana bunda Neti?" Tanya Feron dalam ekspresi mencari.


"Apa kamu lupa!? Dia kan mau menikah, tentu saja dia pulang ke rumah nenek disebelah ayahmu" Balas nenek menepuk pundak Feron yang langsung terdiam.


Benar, Bunda......


"Jangan melamun, makan dulu baru berangkat" Kembali nenek memanggil Feron.


"I-iya nek" Jawab Feron seraya menyalakan data seluler smartphone.


.


.


.


Tempat magang.


"Jadi saya ingin menitipkan siswa dan siswi kami sesuai kesepakatan yang telah kita buat buk, begitu" Ucap Buk Sinta diakhiri dengan senyuman.


Wanita itu hanya memandang datar, menyentuh dagu dan mengusapnya perlahan. Memperhatikan Nanda dan Buk Sinta yang masih berdiri di hadapannya yang duduk di kursi kebesaran.


"Hmmm.... Gak tau ya buk, tapi kan kemaren saya mintanya dua cowok, kenapa (menunjuk Nanda dengan jari telunjuk lentik) yang datang cewek jelek, "


Jdar!


Seperti tersambar petir, muka yang sengaja di glowingkan demi hari ini terpaksa harus turun kadarnya hanya karna kalimat Sarkas dari makhluk durjana pemilik CV tempat magang selama 6 bulan dipotong 3 bulan per semesternya.


" Dan lagi ibuk bilang ada siswanya, saya gak liat tu ada makhluk muda berbatang yang keliatan (celingak-celinguk ke luar, mengabaikan Nanda dan buk Sinta yang masih berdiri tak di suguhi duduk bahkan air putih pun enggan di letakkan) Apa dia astral atau sejenis makhluk tak kasat mata yang disebut setan? Atau jangan-jangan dia tidak disiplin? Atau dia adalah anak berandalan sekolah yang terpaksa magang disini karna tak diterima di pekanbaru? Hmmm!!! " Tanya wanita itu menatap buk Sinta dengan mata membelalak.


" Aaaaaa ituuuu" Buk Sinta seketika langsung mengalihkan pandangannya.


Dia pemimpin apa dukun kampung sebelah? Kenapa dia bisa nebak hampir sebenar itu


Inner hati buk Sinta syok.


"Ekhem! Sebenarnya bukan begitu buk Layla, namun murid saya yang satu itu mengalami kemalangan, jadi dia tak dapat hadir tepat waktu kemari, sekali lagi kami mohon maaf yang sebesar-besarnya" Ucap buk Sinta sedikit menunduk.


Namun semua ucapan buk Sinta hanya ditanggapi dengan dengusan oleh Layla. Ia memilih kembali menatap pcnya, mengetik beberapa kata di keyboard pc kemudian kembali pada posisinya menghadap buk Sinta.


Sementara para pegawai Layla hanya dapat menunduk tak ingin ikut berkomentar melihat perilaku sang bos, mereka lebih memilih selamat.


"Mungkin agak sulit menerima siswi bagi kami yang sering masuk lapangan, namun mau bagaimana lagi ya? Mau di tolak juga kasian, gak di tolak takutnya jadi beban" Kalimat Layla mengusap tengkuknya.


"Nam-" Ucapan Layla seketika terpotong saat ketukan di pintu besi kantornya berbunyi nyaring.


Semua orang yang berada di ruangan itu seketika mengalihkan pandangannya pada ambang pintu.


Haaaahhhh!!!! Syukur banget dia datang disaat yang tepat! Jadi agak plong


"Assalamualaikum, maaf saya terlambat," Ujar suara itu, Feron melepas sepatunya dan berjalan sedikit berlari ke arah buk Sinta.


"Permisi buk" Lanjut Feron sopan menunduk, membuat ucapan yang hendak di layangkan Layla seketika berhenti di udara.


"Apa gua telat?" Bisik Feron pada Nanda.


"Ingin rasanya ku ceburkan engkau ke sungai Kampar kalau saja tak mengingat sekarang kita dalam posisi genting" Imbuh Nanda berkalimat baku, ia sengaja melakukannya karna sudah geram melihat keterlambatan sahabatnya yang hampir 3 jam lamanya.


"Hmmmm!!!! Siapa kamu nak?" Tanya Layla tertarik.


Feron memandang Layla "Oh, saya Alferon Adidjaya buk" Ucap Feron memperkenalkan dirinya.


Alferon Adidjaya, ku bayar kau untuk melayaninya.


Seketika ucapan Vein mengalun di fikiran Layla yang seketika diam membisu.


"Buk?" Panggil Feron yang berhasil mengembalikan kesadaran Layla.


"Ah!-Ehmmm iya, B-baiklah sekarang kalian di terima disini. Selamat menempuh magang bersama kami, semoga betah" Kata Layla memberikan senyuman terbaiknya seraya menyalami Feron berulang kali.


Sementara ekspresi Feron yang tak tau apa-apa hanya melihat Layla dalam kebingungan, melirik Nanda dan buk Sinta yang langsung menaikkan bahu pasrah.


.


.


.


Setelah diterima,


"Tiga hari lagi datanglah kemari, pukul 07.30 WIB kantor sudah buka. Ok" Ucap Layla.


"O-ok buk Layla" Ucap Nanda Dan Feron kompak.


Sementara buk Sinta sudah pergi sedari tadi, ia berkata bahwa ia masih memiliki beberapa kesibukan di sekolah.


"Selain itu, (Layla berjalan ke meja salah satu pegawainya) Ini namanya mas Deni, dialah yang akan membimbing kalian selama magang disini"


Seketika Deni langsung terlonjat kaget mendengar penuturan Layla.


"Tapi kak, saya mana bisa bimbing mereka" Bisik Deni hendak menolak, namun tatapan membelalak Sinta membuyarkan keinginan Deni untuk kembali mengajukan banding dan memilih menunduk.


"Ok adik-adik, silahkan pulang yaaaa, daaaaaa" Ucap Layla melambaikan tangannya mengantar kepergian Feron dan Nanda yang malah berwajah aneh melihat kelakuan Layla yang tiba-tiba saja berubah 180°.


"Aneh" Hardik Nanda berjalan ke motornya diikuti Feron yang masih setia menggaruk tengkuk tak mengerti dengan kebaikan Layla.


Sebenarnya Feron sudah sampai beberapa menit yang lalu, namun ia ingin mencoba membaca keadaan sebelum masuk ke dalam.


Dan alangkah terkejutnya Feron saat mendengar Layla merendahkan Nanda dan buk Sinta secara tak langsung, namun setelah Feron masuk, jangankan melanjutkan kalimat sarkasnya, kalimat menolak secara haluspun langsung sirnah tergantikan kalimat menerima mereka berdua dengan tangan terbuka.


"Tumben lu pakai motor matic lama lo Ron?" Ucap Nanda membuyarkan fikiran Feron.


Feron langsung menatap Nanda "Gak masalah kan? Lagian kalau makai motor sport mulu ntar kantong gua jebol isi minyaknya" Jawab Feron mulai menyalakan motornya yang sayangnya tak kunjung menyala.


"Haish!!!!" Kesal Feron turun dan mengambil ancang-ancang untuk menstandar dua.


"Hehehehe, kayaknya lu harus ke bengkel deh" Komen Nanda mulai menyalakan motornya.


"Iya, entar gua Service di bengkel tempat Regas kerja" Balas Feron mengengkol.


"Regas?" Ulang Nanda.


"Iya, si Regas yang kerja di Jernih. Lu gak tau ya selama ini kalau lu berdua itu satu jalur kalau arah pulang? Lagiankan yang punya PT. Daerah lu itu bapaknya Regas Ragas" Ucap Feron.


"E!?" Nanda tak bergeming, ia masih memproses kalimat Feron yang baginya ganjil itu.


Pt?


Bapak Regas?


Jumpa di Jernih?


Motor mogok?


Eh


"Kenalin nama gua Regas Brahma, lo bisa panggil gua Regas wahai bidadari hehehehehehehe....." (percakapan Gaje Ep-7)


Dan perjumpaan lainnya, astaga! Kenapa Nanda bisa setidak perduli ini dengan keadaan?


"Nan-Nan, ngapain lu masih di motor. Duduk gih di sana" Ucap Feron menunjuk kursi panjang di sudut bengkel tempat Regas bekerja.


"Eh!?" Gumam Nanda tanpa sadar sudah mengikuti Feron sampai ke bengkel.


"Ah-Eh Ah-Eh melulu, gua rasa si Nanda korslet deh Ron, apa harus gua bongkar otaknya? Hahahahahahha" Ucap Regas tertawa puas.


"Diam lu titisan kunti, sekarang lu bantu gua benerin ni motor habis tu adu jotos kita di ring sampe tu muka gak bisa julitin sahabat gua" Sarkas Feron jongkok di depan mesin motor maticnya.


"Haish! Galak bener sih lu, orang cuma berc- ia ia yang mulia Feron, hamba segera datang" Panik Regas langsung ikut jongkok dan langsung mengambil kunci-kunci.


"Begitu banyak cowok di hidup gua ampe gak sadar ada Regas di antaranya" Gumam Nanda memperhatikan punggung kedua pemuda yang sedang sibuk membongkar mesin.


"Lu bilang apa?" Tanya Regas berbalik.


"G-gak ada kok" Balas Nanda cepat langsung membuang muka.


"Ooo... Gua kira lu bilang 'Begitu banyak cowok di hidup gua ampe gak sadar ada Regas di antaranya' rupanya gua salah denger toh" Balas Regas kembali fokus pada mesin motor, sementara Nanda sudah berkeringat dingin dengan wajah merah padam menahan malu.


.


.


.


.


Di situasi lainnya.


"Dari mana saja anda tuan?" Tanya Robert mengikuti langkah panjang sang tuan.


"Habis mancing" Balas sang tuan.


"Mancing?" Tanya Robert langsung berhenti melangkah.


"Bukannya mancing bawa kail dan joran pancing? Kenapa malah bawa senter?" Sambung Robert mencoba mencerna.


Entahlah, yang jelas mari lanjutkan pekerjaan yang tertunda.


...Tbc...