All For Dreams

All For Dreams
Satu ucapan



"Nanda dalam bahaya, semoga saja Alfi bisa menjaganya sebelum gua sampai" Gumam Feron memohon.


Feron langsung mengeluarkan smartphone dan cepat menghubungi Alfi.


Tanpa Feron sadari, ia sudah terlambat untuk memberi tau Alfi mengenai kejadian yang akan terjadi. Karna sebelum Feron sempat menyadarinya, Alfi sudah lebih dulu bertemu sang musuh.


.......


.......


.......


...All For Dreams...


...Satu ucapan...


.......


.......


.......


Regas berlari dengan tergesa, tanpa sepengetahuan mereka Reo sudah terlebih dahulu mengelabui satpam yang berjaga disekitar gerbang.


Anggota Passus juga dimana? Bahkan pak Puad dan pak Ibram sedang tidak di sekolah ditambah dengan kepala Sekolah yang ada urusan keluar daerah membuat kami jadi susah uuhhhh!!!! Komplit sudah.


Fikir Regas menatap gerbang yang tiada penjagaan satupun.


“Bang Ical kemana lagi?” Tanya Regas pada dirinya sendiri.


"Gas, lu ngapain?" Tanya seorang siswa melihat Regas yang juga menatapnya.


"….” Regas hanya diam menatap siswa itu.


Setelah terdiam cukup lama “Ah? Ngak ada kok, Cuma merhatiin sekitar doang, yang gua heranin kenapa gak ada penjagaan dimari ya?” Tanya Regas memunggungi siswa itu yang sudah memegang sebuah jarum siap menyerang regas.


“HWWWWAAAAA!!!!” Teriaknya lantang.


BUK!!!


BRAK!!!


.......


.......


.......


Feron dan Ryou tengah bergegas menuju sekolah dengan Feron yang tetap memakai outfits rumah sakitnya.


Ryou melirik spion motornya "Sebenarnya ada masalah apa hingga SMA 1 datang menyerang SMK 1 kita?" Tanya Ryou disela mengebut.


Dikursi penumpang Feron hanya bisa bermuka masam, tidak ingin berbicara dan itu semua dilihat oleh Ryou dari spion motor.


"Ya sudahlah" Gumam Ryou kembali fokus menatap jalanan.


Sementara itu, kembali ke-keadaan Alfi dan Nanda.


Setelah menerima beberapa pukulan dan hampir kalah, Alfi kembali membulatkan tekatnya untuk berdiri melawan Reo. Tak akan ia biarkan Reo memporak-porandakan sekolahnya.


Mau ditaruh dimana muka Alfi nanti pada feron jika tidak bisa menjaga keamanan sekolah ini, termasuk nanda sang sahabat.


BUK!!


BUK!!!


"Menarik, wakil kapten~" Kata Reo mendayu.


"Jijik woy!" Teriak Alfi mundur setelah melayangkan tinjunya.


BUK!!


BRAK!!!


Reo dan Alfi saling memukul satu sama lain, kekuatan mereka hampir seimbang, Reo yang mulai tersudut sedikit panik melihat kekuatan Alfi yang semakin membesar sejak ia kembali berdiri tegap.


Reo melihat kesekitar, semua bawahannya tengah bertarung, memporak-porandakan SMK 1. Thea juga sudah kelelahan bertarung dengan Nanda.


Sepertinya gua harus merubah taktik


Inner Reo kembali memandang Alfi dalam diam, ia kembali menerawang kejadian sebelum ia menyerang SMK 1.


"Untuk menerobos SMK 1,sekap anggota Passusnya terlebih dahulu" Ujar Daffa sang pemimpin.


"Kenapa? Bukannya lebih cepat kalau menghabisi semuanya secara langsung?" Tanya Reo.


"Jangan goblok Reo! Lo tau sendiri bukan, kalau pasukan Passus SMK 1 itu kuat, apalagi siswi bernama Nanda Triasla itu" Kata pemimpin kembali.


" 'Pacar' Feron itu anggota Passus rupanya" Monolog Reo mendengus kesal.


"Lo kenal ama dia?" Tanya pemimpin.


"Ya, kemarin saat ingin menyapa Feron gua tanpa sengaja bertemu dengan dia juga. Badannya seperti pria, berotot dan kekar" Ucap Reo lugu.


"Hmmm.. Dia anggota pencak silat, berhati-hati padanya. Kalau lo bisa, habisi saja dia bersama anggota Passus lainnya atau minimal buat dia tidak bisa bergerak" Peringat orang 'itu' pada Reo.


“Untuk menjebak dan memperburuk nama Feron, apapun harus kalian lakukan, buat nama baiknya cacat setelah itu kita akan mudah untuk mengeluarkannya dari SMK 1”


Kata-kata itu kembali terngiang dikepala Reo, membuatnya seketika langsung memandang Nanda dan Alfi tajam.


Reo menyimpan belatinya yang sudah tumpul kemudian merogoh bagian lain di saku celana, mengeluarkan benda tajam lainnya.


Thea yang mulai kelelahan melirik kearah Reo yang memandangnya memberikan gekstur perintah lainnya. Thea mengangguk paham, dan kembali memandang nanda siap menyerang.


Nanda juga tidak kehilangan fokusnya, dia memilih menatap Thea yang berlari cepat kearahnya siap untuk serangan lainnya.


“Aku pasti ak-Ha!?” Nanda terkejut tiba-tiba Reo juga ikut berlari kearahnya dengan pisau lipat.


“Siapa yang har-” Ucap Nanda tercekat.


Zwingg……


Srakkk…..


Darah bercipratan, Nanda tidak dapat menutupi rasa terkejutnya memandang Alfi dengan pisau lipat yang sudah menancap dalam di dada kirinya.


Reo langsung menyunggingkan senyum bangga. Akhirnya ia berhasil, walau hanya melumpuhkan satu makhluk Bernama Alfi.


Reo mundur beberapa langkah kemudian mengarahkan atensinya pada Thea yang berhasil dikalahkan Nanda dalam satu pukulan, kini gadis itu tengah pingsan tak berdaya.


Sambil mengelap tangannya yang kotor pada sapu tangan, Reo tak berhenti berpikir untuk menyusun rencana licik agar Nanda dapat ia buat setidaknya trauma mungkin?


Nanda juga tidak bisa dianggap remeh rupanya, hmmm.... Tapi mau sampai kapan seorang gadis bisa bertahan pada pria seperti Reo Alman ini (bersmirk) Ciihhh... Yang pertama harus gua urus sudah gua lumpuhkan, sekarang hanya tinggal melumpuhkan gadis sok kuat ini. Sepertinya mematahkan tulang kaki dan tangannya lebih menarik.


Inner Reo langsung tersenyum, ia tidak sabar menjalankan rencana yang telah ia susun dalam sekejap itu. Tapi sebelum semua hal itu ia jalankan, ia harus membuat Nanda terpancing agar ia bisa menyerangnya dengan leluasa.


Reo melemahkan kuda-kudanya, ia memilih untuk bersikap santai seraya melipat tangan didada "Ck! Cuma segitu kekuatan wakil pemimpin? Ah! Benar sekali (menggelengkan kepala lemah) Lo kan lemah, terlebih gadis sok kuat didekat lo itu, apa namanya Nanda Triasla? Seorang siswi sok kuat yang dirumorkan berasal dari perkumpulan silat merpati putih itu?"


Reo berjalan mendekati Nanda "Hmph! Lo harus sadar ya ladies, lo itu hanya kutu sok yang hanya bisa membanggakan tendangan amatir. Sekarang coba lo serang gua dengan tendangan yang lo banggakan itu, J-E-L-E-K~" Lanjut Reo mengejek Nanda yang sudah terpancing emosi.


"Nanda, j-jangan terpancing" Ucap Alfi terbata. Ia menggenggam tangan Nanda, sementara tangan yang lainnya berusaha menekan dada kirinya yang sudah tertancap pisau lipat Reo.


"Ahahahahahahaha!!!! Alfi~ Alfi~, jangan sok menjadi penasehat deh, menasihati diri sendiri aja belum selesai malah sok mau meredam kemarahan seorang gadis. Hei Nanda!" Sarkas Reo.


Nanda langsung menatap Reo emosi.


"Apa jelek itu berarti hanya muka? Oh iya ampe lupa, lo tau Robykan, mantan lo itu juga ngomong kalau Nanda itu orangnya membosankan lo, oh ya ampun apa benar begitu ya? Hmmm… nanti gua tanya Roby lagi lah supaya gak keliru " Ucap Reo mengusap dagunya berpura-pura berpikir.


Reo menatap Nanda penuh minat, gadis itu sepertinya sudah mencapai puncak emosinya.


"Sekarang untuk final.." Pisau lipat baru sudah berada di tangan Reo, pisau mengkilap itu sudah siap untuk menusuk mangsa baru.


"Setidaknya gua harus menorehkan seni kreatif gua pada kulit lo juga" Bisik reo memandang Nanda penuh minat.


Sementara Nanda hanya bisa menguatkan dirinya.


Bertahan Nanda, lo pasti bisa, lo pasti bisa mengalahkan orang ini


Inner Nanda yang selalu melafalkan kata-kata itu pada dirinya.


Sementara Reo yang ingin menikam Nanda langsung terhenti oleh tepukan dipunggungnya.


"Bukannya lo punya tujuan lain selain menghadapi para nyamuk ini?" Ucap seseorang yang langsung berada dibelakang Reo, bahkan Nanda sampai terkejut bukan main.


Inner nanda bingung.


"Ck! Lo benar juga, tapi gua sebenarnya belum puas" Ucap Reo langsung menyimpan kembali pisau lipatnya dan memandang Nanda serta Alfi yang sudah terduduk lemas.


Ia kembali menatap Reo "Sudahlah, gua rasa misi lebih penting dari pada menghajar kal-"


BUK!!


 


Prak!!


Brank!!


Reo tercampak cukup jauh, Nanda disana tengah bersiap untuk kembali menyerang Reo.


"BRE*GSEK Seperti LO KENAPA BISA KESEKOLAH KAMI HA!!!" Nanda berteriak marah pada Reo yang terkapar dengan pipi kanan yang bengkak.


"Heh~!" Reo hanya menampilkan senyum culas, dan langsung berdiri.


"Yaampun gua pikir Nanda tersayang sudah tak punya tenaga, jujur saja meladeni seorang gadis bukanlah gaya gua, namun kar-"


Hap!


"Tidak baik melempar sesuatu disaat Reo Alman berbicara" Desis Reo .


Krak!


Reo langsung menggegam batu bata itu hingga pecah berkeping-keping "Sepertinya gua berubah pikiran Nanda, awalnya gua cuma pengen main-main ama lo tapi kayaknya memberikan sedikit hadiah kecil dulu cukup menarik" Lanjut Reo dengan muka seram.


Batu bata yang sempat dilempar nanda kini telah menjadi debu digenggaman Reo yang tetap menampilkan muka menyeramkannya pada Nanda.


“Ha!?” Gumam Nanda.


Cepat sekali


Inner nanda terkejut.


Krak!!!!


“HAAAAAAAAAA!!!!” Teriak Nanda menahan sakit yang luar biasa.


“Gua benci tangan ini, tangan yang sudah berani melempar batu bata ke muka gua” Ucap Reo semakin menekan tangan Nanda untuk mematahkannya.


KRAK!


“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!” Teriak Nanda.


Reo tersenyum culas “Masih satu, saatnya yang kanan” Reo begitu dendam menggenggam tangan kanan Nanda yang akan ia patahkan selanjutnya, namun semua terhenti.


Tiitititititititit!!!


Reo berpura-pura tuli.


TRIIIIINNNNGGGGGGG!!!!!


Masih biasa saja.


TITITITITITITITITITIT!!!!!


TITITITITITITITITITIT!!!!!


TITITITITITITITITITIT!!!!!


Ngelunjak ni yang ganggu


Rutuk hati Reo kesal.


TRING!!


TRING!!!


TRINGG!!!!


Bunyi bising dari smartphonenya berhasil membuat emosi seorang Reo Alman membuncah, dengan kasar ia langsung melepas tangan Nanda dan beralih menatap layar smartphonenya yang sudah berisi banyak pesan, membuat muka Reo langsung masam.


Reo kembali menatap Nanda "Sepertinya gua ngak bisa lama-lama disini, tapi ingat satu hal Nanda, gua bakal kembali dan mengeksekusi lo juga jadi selalu berhati-hati karna gua orangnya cukup tepat janji" Ucap Reo yang berhasil membuat tangan kanan Nanda sedikit bergetar.


Reo semakin senang saat merasakan badan gadis itu bergetar hebat “Ok baiklah, gua rasa sudah waktunya daaaa~ sanyorita..." Reo langsung berlari pergi bersama seorang pria misterius yang menggunakan penutup kepala, Nanda yang ingin mengejar seketika berhenti mendengar Alfi yang menggeram menahan sakit didadanya.


"ALFI!!" Teriak Nanda berlari kearah Alfi.


"Hah hah... Gak usah hah.. Teriak juga heh.. Dug*ong, gua denger hah.. Hah.. Kok.. Hah hah.." Ucap Alfi terbata, Alfi berusaha keras untuk menetralkan nafasnya.


Semakin Alfi mencoba menetralkan nafasnya maka nafas yang keluar malah semakin memberat dan disaat itulah Nanda yang berada disampingnya mulai merasa panik.


“Alfiiiiiii~ bertahan Alfiii…. Hiks.. hiks…” Ucap Nanda terisak.


Sementara itu, Reo yang sudah berada di ruang kepala sekolah kini tengah berjalan angkuh ketempat tujuannya bersama orang misterius yang menggunakan penutup kepala.


"Bagus sekali" Ucap pemimpin duduk dikursi seraya menyilangkan kaki diatas meja kepala sekolah.


"Apanya yang bagus kalau kesenangan seseorang diusik" Desis Reo sinis pada sang pemimpin yang sudah duduk diatas meja kepala sekolah.


 


"Gua gak ngusik lo gua cum-" Ucapan sang pemimpin, Daffa. Seketika terhenti.


"LO NGUSIK NAMANYA BANG*SAT, GUA LAGI PEN MATAHIN TANGAN KANAN NANDA NGAPAIN LO CHAT" Teriak Reo tak terima.


"Lo kayaknya dah bosan hidup ya” Geram pemimpin beranjak dari kursi kepala sekolah.


“Sepertinya bogeman dari gua bisa mengembalikan lo ke dunia lagi, biar mulut ini (mencengkeram pipi Reo) ngak lupa sama tujuan utama kita" Ucap pemimpin hendak melayangkan tinjunya.


“Pemimpin, sepertinya kita kedatangan tamu” Ucap orang misterius menyela, ia yang sedang menghadap ke layar CCTV sekolah langsung mengabarkan situasi membuat Reo dan sang pemimpin langsung memandang kearah CCTV yang memperlihatkan Feron dan sang wali kelas memasuki gerbang sekolah.


“Alferon Adidjaya” Seru sang pemimpin.


“Reo, kau tau harus apakan” Lanjut sang pemimpin menatap Reo tajam seraya menyerahkan sebuah amplop coklat.


"Ck! Menyebalkan" Ucap reo menerima amplop itu dengan separuh hati kemudian berlalu pergi.


...***...


"Mengerikan sekali sekolah ini, seperti ada festival saja" Ujar Feron yang malah terkagum melihat sekolahnya yang porak-poranda.


"Sepertinya selama di rumah sakit, otakmu selalu dicekoki ganja ya" Ucap Ryou dengan santainya berjalan memasuki sekolah tanpa merasa bersalah telah memfitnah Feron yang bukan-bukan.


"Gua anggap itu sebagai sebuah candaan" Balas Feron mengikuti langkah Ryou.


Pagar sekolah benar-benar hancur, banyak coretan dimana-mana bahkan sampai kendaraan para guru juga ikut dibakar.


"Mengerikan bukan?" Tanya sebuah suara.


Feron langsung menatap tajam kearah sumber suara.


Diatap sekolah, Reo tengah duduk santai menikmati kacang polong dengan sebuah amplop coklat di tangan kirinya.


"Feron" Lanjut Reo datar.  


Sementara disisi Feron, ia malah celingak-celingukan tidak jelas membuat emosi Reo terpancing.


Feron menatap Reo, namun langsung kembali menatap sekitar dengan cepat "Benar-benar si ban*gsat, gua ditinggal" Desis Feron murka, sadar ditinggal.


Tanpa disadarinya, saat ia fokus menata Reo ia malah ditinggal oleh Ryou begitu saja, sementara Reo langsung diabaikan seperti jemuran basah oleh Feron yang fokus mencari keberadaan Ryou.


Buak!!!


Satu genteng berhasil mengenai kepala Feron dengan keras.


"Siang~ Feron..." Ucap Reo sedikit kesal.


Sungguh sapaan yang sopan


Batin Feron seraya memegang kepalanya yang benjol.


 


...TBC...