All For Dreams

All For Dreams
Rencana



Regas kini memperhatikan pintu bercat putih itu dengan bimbang, seminggu yang lalu Ragas siuman dan untung saja ia dapat mengingat semuanya. Membayangkan Ragas lupa ingatan sempat membuat Regas hampir jatuh pingsan kala itu.


Regas tertawa kecil, ia melirik kearah makanan yang sengaja ia bawa khusus untuk Ragas. Dengan mantap akhirnya Regas membuka pintu.


Bau obat masih tercium kuat oleh Regas, dan disana ia dapat melihat Ragas sang kembaran tengah duduk di tempat tidur seraya menatap jendela yang menampilkan hujan yang cukup deras.


"Kakak tau, disaat seperti ini rasanya begitu tenang" Ucap Ragas tanpa melirik Regas.


Regas berjalan santai, mengambil tempat disebelah Ragas kemudian beralih menyusun makanan pesanan sang adik dengan tenang.


"Lo bawa yang gua pesankan?" Tanya Ragas.


"Iye, gua bawa semua tanpa kekurangan satu apapun" Balas Regas.


"Kok lo lama?" Tanya Ragas kembali menyelidik.


"Gua pesan udah dari pukul 10.00 WIB dan lo baru aja balik di jam 14.05 WIB. Kemana aja lo?" Ragas mengarahkan tatapan menyelidiknya pada Regas yang bergetar.


"A-"


"Jangan bilang lo godain tukang jualnya lagi, hehhh~ dasar mata keranjang. Gua bersyukur sifat gua ngak kayak lo yang gemar gonta-ganti" Ucap Ragas bersyukur pada dirinya sendiri.


Seraya mendengarkan bacotan Ragas, Regas senantiasa langsung menyuap dengan paksa makanan kedalam mulut Ragas yang masih mengoceh.


"Ngoceh aja trus ra Ngoceh, gua malah tambah senang masukin nih makanan ke mulut lo yang bawel" Balas Regas tersenyum.


"Banghhh.. Sat!!" Ucap Ragas kesulitan.


****


Setelah dokter pergi dari bangsal Ragas.


"Bsok lu dah bisa balek, punya planning gak?" Tanya Regas.


"Tentunya" Balas Ragas tersenyum.


"Oh iya Re"


"Hmm.." Jawab Regas dengan tangan dan fokus yang sibuk kelayar smartphone.


"Alfi beneran masuk rumah sakit ya?" Tanya Ragas.


"Iya, dia ketusuk" Jawab Regas.


"Hooo.. Trus Feron?" Tanya Ragas kembali.


"Dia-" Regas berhenti.


Sementara Ragas masih menunggu kepastian, ia menatap Regas lamat.


"masuk penjara" Lanjut Regas dengan muka sedih.


"Kenapa?" Tanya Ragas.


"Intinya demi melindungi kita" Ucap Regas sedikit kesal.


Setelah memberikan Jawaban seadanya, Regas pun pergi menyisakan tanda tanya dihati Ragas.


****


"Tuan Ragas, saya benar-benar minta maaf. Karna kelalaian saya anda jadi terpaksa masuk rumah sakit dan koma" Ucap Reyo menunduk.


" Tidak apa-apa Reyo, gua cukup memahami keadaan kok" Ucap Ragas tanpa bimbang menepuk pundak Reyo menyalurkan rasa tenangnya.


"Terima kasih tuan" Balas Reyo mengikuti langkah Ragas dan Regas kedalam rumah.


Sesampainya didalam kamar, Ragas langsung menjatuhkan dirinya di kasur kesayangan.


"Sudah lama tidak tidur disini" Ucap Ragas menyamankan dirinya di kasur.


Sementara Regas yang menjadi babu dadakan hanya bisa mengkerutkan keningnya, aura kelelahan senantiasa terpancar.


Untuk sang papa, Regas tidak terlalu ambil pusing. Yang ia tau pasti sang papa kini tengah menebus saudara tirinya bersama dengan istri baru. Sementara anak kandung malah dibiarkan dirumah sakit.


Hanya Regas saja yang ingin menyempatkan diri untuk bersusah selalu menjenguk Ragas. Bahkan sudah 3 hari ia absen demi memenuhi keinginan sang kembaran untuk selalu ditemani setelah koma.


"Yok Ra, kita kebawah. Pasti bibi sudah masak makan siang" Ujar Regas berjalan keluar kamar.


***


*Dimalam harinya*


"Gua tau jelas Re, pelakunya nenek lampir sama anaknya" Terang Ragas terlentang dikasur.


"Darimana lo bisa yakin?" Tanya Regas yang duduk dikursi belajar.


"Ah! Lo si, gua udah cerita panjang lebar lo gak nyimak kan jadi bahlul tu otak" Ragas memilih tengkurap agar dapat dengan leluasa menghadap pada regas.


"Mulut lo di jaga ama yang lebih tua tu sopan dikit" Cerca Regas tak terima.


"Kita cuma beda lima menit anyink" Sulut Ragas emosi.


"Tapi tetap gua yang lebih tua walau cuma lima menit be*go" Balas Regas sedikit emosi.


"Iyadeh" Tidak ingin memperpanjang perdebatan, akhirnya Ragas memilih mengalah. Daripada mereka perang lebih baik berdamai untuk saat ini.


Sementara Regas hanya memandang kertas kosong, namun air mukanya serius.


"Gua pen bicaraan ini sama papa, biar dia tau kalo nenek sihir itu jahat" Final Ragas bangkit dari kasur dan hendak pergi.


"Jangan Ra, papa gak bakal percaya" Regas langsung bergegas meraih tangan Ragas.


Ragas menatap Regas.


"Kenapa? Dia kan papa kita, seharusnya dia lebih dengerin omongan kita dong" Ucap Ragas tak terima.


"Layaknya kisah azab, harus kita selidiki dulu. Dan mencari bukti yang kuat baru kita bisa kasih tau papa. Lo kan tau sendiri kalau papa itu orangnya selalu butuh bukti dulu" Balas Regas melepaskan pegangan pada tangan Ragas, memberikan kesempatan pada sang adik untuk mencerna perkataannya.


"Lo benar" Ucap Ragas pada akhirnya.


"Dan juga gua pengen lo jangan terlalu nunjukin ketidak sukaan lo sama tu mak lampir, cukup diam dan mulai mengumpulkan bukti. Untuk sementara kita ikuti saja alur yang ada" Kata Regas tersenyum jahil.


****


*Makan malam*


"Bagaimana keadaan kamu sayang?" Ujar sang ibu tiri mengelus pelan punggung Ragas.


Jijik asw


Suara hati Ragas jengkel, namun seperti yang diucapkan sang kakak 'ikuti saja alur'


"Ehehehehe.... Sudah membaik kok ma" Ujar Ragas memaksakan senyumnya.


Sementara Bruno yang baru saja dibebaskan dari penjara hanya diam, perubahan sifatnya tak luput dari pandangan Regas yang berada tepat dihadapannya.


Aneh, tumben ni orang gak kayak biasanya.


Krekk


"Ma, pa. Bruno pamit mau kekamar. Ragas banyakin makan buah" Ucap Bruno kemudian berlalu pergi.


Regas dan Ragas terperangah.


Kemasukan jin mana ni orang?


Inner kedua kembar itu mengikuti arah punggung Bruno.


Sementara sang ibu tiri, yang sudah mulai curiga semakin menatap anaknya aneh.


Saat keluar dari penjara, Bruno hanya diam dan bermuka sedih. Saat sang mama bertanya, Bruno hanya menjawab seadanya dan itu tidak mampu mengobati rasa penasaran sang mama.


Aku harus menemui anak itu


Isi hati Ayudia.


***


Selesai makan malam, Ayudia menyambangi kamar sang putra. Setelah dipersilahkan masuk Ayudia langsung mengambil kursi dan mendekati kasur Bruno untuk kemudian duduk disampingnya.


"Kamu kenapa bersikap aneh?" Tanya Ayudia.


"Aneh? Aneh bagaimana maksud mama?" Tanya Bruno yang tidur dikasur.


"Iya aneh, tidak biasanya kamu bersikap ramah pada ragas dan terlebih lagi sekarang kamu sering murung" Ungkap Ayudia khawatir.


Bruno memalingkan wajahnya, enggan melihat sang mama.


"Bruno hanya rindu sama ayah Bruno aja ma. Bruno pengen ketempat ayah" Balas Bruno.


"Ha!? Kenapa?" Tanya Ayudia.


"Hanya rindu, Bruno pengen mancing, main di sawah, mandi di sungai, dan merasakan aroma rumah lama kita" Bruno kembali mengkhayalkan masa-masa itu, masa dimana ia dan sang ayah kembali bersama.


Ayudia langsung menggeram marah "Kamu tidak boleh Bruno, kamu pengen kembali ke kehidupan miskin itu? Sadar Bruno, semua yang dimiliki ayah kamu hanyalah janji belaka. Dia gak bisa membahagiakan kamu, dia hanya orang tua miskin nak, sadarlah. Kamu tidak akan bisa hidup semewah ini bersamanya dikampung terisolir itu" Geram Ayudia, ia mengucapkan semua kekesalannya.


"Tapi ma.."


"Jangan pernah kamu bicarakan orang miskin itu, mama benci mendengarnya" Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Ayudia memilih pergi dari kamar sang putra dengan kesal.


"Mama...." Gumam Bruno merasa bersalah.


Setelah berada 2 hari didalam penjara, Bruno benar-benar banyak berfikir. Selama ini ia terlalu menuruti sang mama dan melupakan tujuan sebenarnya ia kemari. Dan tak seharusnya juga ia malah membuat ulah disana-sini.


Dan yang paling Bruno kesalkan adalah ketidak mampuannya untuk hidup secara mandiri tanpa uang Hermantino Brahma, sementara sang papa tiri juga mempunyai dua putra.


"Gua menyesal lose kontrol selama ini" Sesal Bruno menutup mukanya dengan kedua telapak tangan.


"Gua rindu ayah, " Lanjut Bruno menutup kepalanya dengan punggung tangan.


Dan gua gak bakal biarin mama ngebuat rencana kotor untuk keluarga ini, gua pastiin gua bakal ngegagalin apapun itu


Lanjut Bruno didalam hati.


Ragas dan Regas mendengarkan dengan tenang, kini mereka tengah berada di balik dinding, ruang rahasia yang biasa mereka gunakan untuk bermain petak umpet kini beralih fungsi menjadi tempat menguping.


"Mulai kebuka" Gumam Regas


...End kisah Regas Ragas ...