
Malam sebelum acara.
"Dan itulah Fio, aku tak bisa meneruskan semua ini, aku cinta anak-anak. Tapi aku juga mencintai Nanda" Dialog Feron seperti tak ingin hidup.
"Kenapa kamu lakuin ini Feron, padahal aku yang nemenin kamu dari nol, dan sekarang kamu milih dia yang jelas-jelas nemenin kamu sampai nol. Please Fer, buka dompet kamu" Balas Fiona mengantuk.
"HUAAAAA~ Aduhai, kapan siap ni acara?" Gumam Arman mengecek smartphonenya yang sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB.
"Ayo semangat semua, ini demi kesuksesan acara kita. Kalian jangan ada yang lemas. Tika, Iis keluarkan ekspresi kalian lebih menjiwai lagi. Fiona! Tunjukkan semangat kamu memerankan istri tersakiti! NANDA JANGAN TIDUR!" Bentak Adam kesal menatap seluruh personilnya yang sudah tidak memiliki semangat juang lagi, rasanya Adam ingin memberikan semangat mudanya namun terhalang dunia.
"Aduh, gimana ini. Perlombaan besok dan kita masih belum bisa melakukannya dengan benar, ya ampun gua pen makan!" Racau Adam yang sudah frustasi.
"Udahlah Dam, gua mau pulang, mau mandi, mau tidur" Curhat Feron menenggelamkan wajahnya pada punggung Alfizan yang lebar.
"Zan, jangan gerak lo. Gua pen tidur" Perintah Feron menyamankan diri. Sementara Adam sudah tak dapat berkata apapun lagi, dia pusing. Dia butuh penenang, contohnya.
"Dam, gua tau lo itu pengen acara ini sukses. Tapi gua mohon perhatiin teman-teman yang lain, perhatiin lo juga. Lo udah lelah dam, kantung mata lo juga udah parah banget. Gua saranin kita pulang aja dulu, masalah bsok biarlah esok kita fikirkan. Ok?" Ucap Hawa merangkul pundak Adam memberi masukan.
" Please, biarin kami istirahat" Mohon Hawa menatap Adam lekat.
Adam tak bergeming, cukup lama ia menatap wajah manis Hawa. Sepertinya waktu sengaja berhenti untuk Adam yang tengah terpaku dengan pesona Hawa, Adam tidak ingin menghilangkan momen ini. Ia hanya ingin terus menatap Hawa sampai sebuah lengan lainnya mengintrupsi kegiatan menyenangkan Adam.
"Apaan si?!" Bentak Adam menepis tangan itu dan menatapnya tajam.
"Pak Ryo~"
"Ups! Untung aku cepat" Ucap Ryou menangkap badan ringkih Adam yang sudah kelelahan.
"Kalian kenapa masih disini? Sudah larut pula, segera kembali ke rumah masing-masing" Perintah Ryou mengangkat badan Adam yang sudah pasrah dengan gravitasi.
"Untuk para gadis apakah semua membawa motor? Kalau ngak, pulangnya bisa numpang sama bapak aja, bagi yang satu jalan di harap barengan, para lelaki bapak harap bisa mengantar para siswi sampai ketujuan dengan selamat. Ini semua salah bapak yang terlalu memaksakan kehendak" Ucap Ryou menunduk, kantung mata juga tak luput singgah di mata biru laut itu, namun Ryou masih berusaha untuk tetap terjaga.
"Maaf dan segeralah pulang. Bapak sepertinya salah bicara mengenai kalian yang harus semangat. Yang mau bapak antar segera berkemas, bapak menunggu di parkiran guru, kalian langsung masuk saja ke mobil bapak" Akhir ucapan Ryou berlalu bersama Adam yang sudah pingsan.
.
.
.
Di perjalanan.
"Fer, lo liat gak ekspresi pak Ryou?" Tanya Nanda yang duduk di belakang Feron.
"Hmmm... Kenapa?" Tanya Feron melirik spion motornya.
"Kayaknya dia juga kelelahan banget ya" Ucap Nanda menunduk.
Feron mengalihkan pandangannya menatap jalanan, ia sedikit berpikir dan akhirnya menemukan sebuah ucapan yang sekiranya cocok untuk menggambarkan sang walas yang kini sepertinya sedang banyak masalah dan kegiatan itu.
"Haaaaahhhh~ kita maklumi saja Nan, karna Pak Ryou itu adalah salah satu guru penting di sekolah kita. Dan sepertinya dia juga banyak kegiatan. Secara kan, hanya dia guru DPIB yang bergelar Arsitek secara utuh"Ujar Feron fokus pada jalanan.
"Lo bener juga Ron, apa lagi dia juga ngurus kita yang banyak tingkahnya, kehidupan dia aja gak jelas. Dengar kabar dia masih jomblo, kan kasihan di usia yang sudah matang masih sendiri Hahahahahahahahahahah" Tawa Nanda mencoba mencairkan suasana yang sedikit canggung di antara mereka berdua yang sudah kelelahan.
Ciiitttt...
"Dah nyampe, silahkan turun tuan putri. Rumah mu sudah di pelupuk mata sayumu" Feron dengan ucapannya melirik Nanda yang duduk di jok belakang, Feron juga sedikit menarik turunkan alis mencoba menggoda Nanda yang malah menatap datar-datar saja.
Nanda memilih menurut dan turun. Ia ingin segera mandi dan tidur. Namun di tengah langkah malasnya, suara sang papa malah membuat Nanda rasanya ingin tidur di teras saja malam ini.
"Ohohohohoho! Udah jam berapa ni? Seorang gadis pulang larut di antar oleh cowok, mencurigakan untuk tidak di curigai" Ucap sang papa berjalan mendekati Nanda dengan ekspresi mengintrogasi.
"Ah! Apaan si papa, Nanda cuma di antar Feron karna dah larut aja. Gak kurang dan gak lebih, lagian tadi juga habis dari kegiatan sekolah" Balas Nanda menjauhkan muka sang papa dari mukanya.
"Tidak bisa, mana ada sekolah pulang selarut ini Nanda!? Papa harus mengintrogasi si Ferhan terlebih dahulu sebelum dia di izinkan pulang" Ceramah sang papa menyingkirkan Nanda seperti pintu dan berjalan ke arah Feron yang hanya menatap papa Nanda santai.
"Assalamualaikum papa Nanda, dan nama saya Feron Papa mertua, bukan Ferhan" Ucap Feron menjulurkan tangannya hendak menyalami papa Nanda.
"Waalaikumsalam salam, panggil saya Om, bukan papa mertua" Jawab papa Nanda ketus menampar tangan Feron bolak-balik dan kembali meletakkannya di pinggang hendak membuat gekstur berkacak seraya memandang tajam hendak menakuti sang pemuda.
Feron menatap papa Nanda dengan senyum canggung kemudian beralih ke tangannya yang baru saja di tampar papa Nanda, tangan itu positif akan bengkak keesokan harinya, Feron jamin.
Inner Feron menangis dalam hati.
"Ya udah om, dari pada saya kelamaan disini dan menimbulkan fitnah keji lebih baik saya pulang aja" Ucap Feron sudah mengeluarkan air mata kesakitan.
"Eits! Tunggu sebentar!" Sentak papa Nanda menahan pundak Feron.
"Kamu yakin?" Tanya papa Nanda serius.
"Ya serius lah om, masa becanda sih" Balas Feron tersenyum canggung.
"Hmph... Keberanian kamu patut saya acungi jempol, tapi tidak untuk malam ini. Sebaiknya kamu menginap saja, takutnya ada yang numpang dan kamu nanti yang kuat malah jadi berita pagi di PT ini" Ucap papa Nanda menasehati.
"Maksud om?" Tanya Feron mulai gemetar, ia mencoba menampik fikiran aneh yang mulai singgah di otak jeniusnya.
Perasaan tadi pas kesini gak ada masalah dah
Inner Feron berusaha positif.
"Saya cuma nyaranin, tapi kalau kamu tetap kekeuh ingin pergi maka silahkan. Lumayan kopi di rumah jadi hemat" Balas papa Nanda memandang ke arah lain.
"Dan*c*o*k" Mulus sekali kalimat itu di ucapkan Feron.
.
.
.
Pada akhirnya Feron tetap kekuh ingin pulang, ia bahkan tidak mengerti maksud dari ucapan absurb papa Nanda yang entah ingin menahan atau ingin nge-jokes ala bapak-bapak.
"Kalau dia pen nge-jokes sumpah gua gak ketawa" Gumam Feron fokus menatap jalanan.
Hingga sebuah siluet putih dengan cepat melintasi Feron yang langsung menampilkan wajah datar.
"Gua pura-pura gak liat aja ah!" Gumam Feron berusaha tersenyum walau ujung bibirnya sudah berkedut ketakutan.
Kenapa ni gas motor makin lama makin berat si? Heran
Batin Feron ingin menatap spion kaca, antara ingin dan enggan. Namun karna terlalu semangat atau sudah penasaran akhirnya Feron melirik dan....
.
.
.
"Kan sudah saya bilang nginap sini aja" Ujar papa Nanda menyeruput santai kopinya seraya menatap layar tv yang menampilkan acara siaran kegemaran bangsa.
"OM GAK BILANG APA-APA KALAU ADA KUNTI!!!!" Teriak Feron memeluk dirinya yang sudah bergetar ketakutan dengan selimut Nanda sebagai penyalur kehangatan tambahan.
Slllllruuuuppppp!!!!!
"Gak perlu di katakan, semua orang udah tau kalau PT ini angker pas malam" Ucap papa Nanda membuat Feron langsung memeluk papa Nanda ketakutan enggan melepaskan.
"Pemuda yang tak gentle tak bisa bersama putri saya" Bisik papa Nanda melirik Feron.
"Gak perduli gua, cari yang lain masih banyak" Jawab Feron gemetar.
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...TBC ...