
Lapangan bola.
"Rencana pertama" Gumam Fiona licik seraya duduk bawah pohon rindang.
"ANJIIIINNNNNKKKKKKKKKK!!!!!" Teriak Feron nyaring.
"Diam bentar Ron, ini uratnya mampet" Terang Darby semakin menekan pergelangan kaki Feron hingga membuat sang empunya harus terpaksa menggeram sakit berkali-kali.
"WTF, ASW, BANG*AT, ANJ*NK, MOTHERF*CK, BABIIIIII AAAAAAAAAAAAAAAAA UHUK!" Dan akhirnya kalimat penuh dosa diakhiri dengan tertelannya ludah sendiri dari Feron yang sudah pingsan di tempat setelah Darby menarik urat tegang di pergelangan kakinya.
.......
.......
.......
...All For Dreams ...
...Karna cemburu...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
"Dan begitulah bagaimana Feron di pastikan tidak akan hadir di acara gua nyelakain si Nanda khikhikhikhi" Tawa licik Fiona terdengar.
Tap! Tap! Tap! Tap! Tap!
"Fio Fio Fio!!! Nanda datang Nanda datang sam-" Fiona langsung membekap mulut cerewet Bunga sekuat tenaga.
"Diam bung, entar ketahuan" Bisik Fiona pelan.
"Baiklah, sekarang tinggal nunggu mangsanya datang aja" Gumam Fiona menatap lekat pintu kelas yang sudah ia tutup.
Semua sudah terencana oleh Fio, di jam segini ia telah menyuruh Liza dan Delima untuk mentraktir teman-teman sekelas hingga ia dapat mencelakai Nanda.
Kreeekk
Pintu terbuka, Fiona dan Bunga langsung bersembunyi di bawah kolong meja Liza.
Ini yang gua tungguuu
Inner Fiona tidak sabaran.
"Lu sih Ron, lain kali kalau main bola mata tu fokus ke depan bukan malah lirik cewek jalan. Kan lu juga yang kena imbasnya" Tegur suara Nanda menghakimi Feron dari ambang pintu.
"Iyadeh Nand, gua yang salah. Gua khilaf, lagian kan tu cewek juga yang salah. Make baju masak ke sempitan, kan syahwat gua jadi terpancing" Jawab Feron pasrah.
"Ya udah, makanya kalau liat yang gituan lagi nunduk terus baca-baca supaya lu gak ngelirik lagi, kalau gitu cus mas-huaaaakkkkhhh!!!"
Dalam hitungan persekian detik, senyum setan Fiona tak berhentinya merekah. Sementara Bunga di sampingnya hanya dapat terperangah tak percaya.
Adegan slow motion Nanda yang terjatuh menjadi film terbaik bagi Fiona yang semakin merekahkan senyum iblisnya, dan seketika semua gelap bagi Nanda yang langsung menutup matanya. Ia siap tak siap akan menerima rasa sakit.
Tapi bukannya nyeri dan rasa sakit hebat, Nanda malah merasakan dada bidang dan suara detakan jantung yang memompa cepat.
"Lu gak papa kan Nand?" Tanya Feron dengan suaranya yang lemah memandang Nanda yang masih menutup kedua matanya erat.
"Ha?" Gumam Nanda membuka matanya perlahan.
Dapat dilihat Nanda dengan sangat jelas, kini Feron tersenyum berat padanya.
Sementara Nanda, Fiona, dan Bunga hanya dapat terperangah tak percaya ditempatnya.
"FEROOOONNN!!!" Teriak Fiona langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan cepat menghampiri Feron yang sudah tertidur di lantai dengan helaan nafas yang semakin berat.
Refleks cepat dari Feron seketika membuat ia menjadi tempat jatuh Nanda, membuat Nanda hampir tak merasakan rasa sakit. Andai saja Feron tak cepat entah apa yang akan terjadi, tapi malangnya kini darah segar malah semakin banyak keluar menggenangi kepala Feron yang mulai tercium bau amis kental.
"FEROOONNNN!!!!" Teriak Nanda mengguncang tubuh Feron yang sudah tak berdaya.
"Gimana ni gimana ni?!" Panik Bunga memandang kesegalah arah, sementara Fiona yang sudah jongkok tepat di sebelah Feron hanya dapat tertunduk dengan pandangan yang sudah tak fokus lagi. Darah telah mengenai sepatu Fiona yang sudah bergetar ketakutan.
Niat hati hanya ingin memberi pelajaran pada Nanda, malah apes mengenai Feron. Fiona langsung berwajah kalut, suara tapak kaki teman-teman semakin dekat di dengar oleh telinga Fiona yang seketika berdenging.
"Aneh banget ya si Fiong, tiba-tiba baek traktir kita pada. Tapi kok aneh ya? Kurang si Nanda sama Feron yang gak keliatan? Apa jangan-jangan mereka berdua lagi ada urusan lain? Tapi kayak gak mungkin gitu deh, kan biasanya Si Nanda paling semangat kalau dengar makanan grat-" Ucapan semangat Arman seketika terhenti saat ia menatap Nanda yang berada di atas Feron dengan gerakan paniknya mengguncang tubuh tak berdaya itu.
" Astagfirullah! Kenapa ni Nand?" Tanya Arman cepat mengambil langkah untuk berjongkok di sebelah Nanda, tepat didepan Fiona yang sudah menutup mata menangis tersedu-seduh.
"Ferrr Ferrr jangan tidur Ferrrr haaaaaa!!!! GIMANA NII GIMANA NIIII? (Nada panik membuat Nanda tak fokus) Iya si Alfi ALFIIIIII PANGIL ALFI CEPAT MANNNNN!!!" Teriak Nanda yang sudah ketakutan menatap Arman dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya.
Arman tanpa banyak tanya dan kata langsung bangkit dan berlari, ini genting, semua panik.
11 DPIB panik.
.
.
.
Semilir angin terasa begitu menyayat kulit Fiona yang hanya dapat menatap wajah tertidur Feron dalam penyesalan yang tiada usai di dalam benaknya.
Kalau tau begini hasilnya, Fiona tidak akan berani untuk menumpahkan body lotion itu di ambang pintu dan menyebabkan Feron sampai saat ini tak sadarkan diri.
Dokter mengatakan jika pasien (Feron) akan menjalani operasi sebentar lagi, cedera di pergelangan kakinya yang baru saja cedera, berhasil membuat Feron kini seperti pasien korban tawuran.
Nenek Feron, tidak henti mengelus sayang pipi cucunya. Sementara ayah Feron sudah pergi beberapa menit lalu, muka garangnya saat menatap Fiona beberapa saat lalu berhasil membuat Fiona kini semakin tak tenang.
Nanda di sampingnya hanya dapat menatap sang sahabat dalam pandangan kosong. Nanda selalu bergumam seandainya dan seandainya sedari tadi.
Membuat Fiona semakin merasa bersalah dibuatnya, mereka semua belum membahas siapa dalang dari kejadian ini namun Fiona sudah gemetar di tempatnya.
Bagaimana jika mereka tau kalau Fiona lah dalangnya dan memusuhi Fiona, dan jugaaa
Fiona memandang wajah tidur Feron.
Kalau Feron benci dan menjauhi gua gimana?
Batin Fiona, ia takut.
Bagaimana ini?
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...TBC ...