All For Dreams

All For Dreams
Rambut jabrik apa boleh di SMK?



Denada sudah sangat hapal dengan sikap sang sahabat yang selalu menatap penuh damba sang kakel tampan berandalan sekolah itu, dan sudah setiap saat pula ia membantu Imel untuk dapat bersinggungan dengan sang kakel walau si bengis Nanda selalu menatapnya syirik.


Denada tau jika Nanda menyukai Anwar sang pacar, apalagi saat Denada melihat pacarnya menangkap Nanda yang hampir terjungkal dengan romantisnya, sungguh membuat Denada ingin langsung melayangkan tendangan pada muka gadis sok kepedean itu.


Namun, jika salah-salah bertindak bukannya muka Nanda yang bonyok, malah dirinya yang dalam bahaya masalahnya ada Feron sahabat dari Nanda yang pasti akan menghajarnya terlebih dahulu tak perduli jika ia adalah seorang gadis sekalipun.


Seperti benang takdir, kini setelah sering mengintil sang berandalan bersama sahabat. Malah rasa yang telah lama dicurahkan Denada untuk Anwar tanpa sadar berpindah haluan pada Feron sang sahabat Nanda.


Sejak kapan? Denada juga tidak tau, yang jelas setiap kali ia mencoba membunuh perasaan ini malah perasaannya semakin membesar untuk Feron. Jujur ini sangat menentang hukum persahabatan, tapi bolehkah Denada berharap?


Entah apa namun, Denada berharap bahwa perasaan untuk Feron hanya sesaat hingga tidak menyakiti Imel.


.......


.......


.......


.......


...All For Dreams...


...Rambut jabrik apa boleh di SMK?...


.......


.......


.......


Belum lama setelah Imel berteriak dan mengganggu ketentraman kelas 10 DPIB, kini mereka semua kembali dikejutkan dengan gebrakan pintu oleh sang kakak kelas.


Feron, dengan tampang amburadul mengunci pintu dua daun itu dan menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng tambahan, ia berusaha bersandar didepan pintu untuk menghalangi tendangan maut sang sahabat yang kini semakin tinggi emosinya.


Feron berkeringat sangat banyak, rambutnya lecek karna keringat, pakaian unggulnyapun juga basah hampir keseluruhan, namun Feron tidak perduli. Yang ia perdulikan hanyalah keselamatan mahkota berharganya yang sudah susah payah ia bina dan di siram dengan Maka*rizo yang mahal, dan sekarang Nanda yang mengatasnamakan anggota Passus ingin membabat habis sang rambut?! Tak semudah itu Jailudin, Feron siap tempur demi sang mahkota.


Sementara kelas 10 DPIB malah hanya menatap aneh sang kakel, mereka semua yang tengah fokus menulis cukup terkejut dengan kehadiran Feron yang tak terduga membuat mereka terkhusus Imel langsung syok ditempat.


Baru saja digosipkan sekarang malah objek gosip yang datang secara langsung. Imel tidak berkedip, ia fokus memperhatikan setiap ekspresi maupun gerakan sang kakel. Bahkan sampai pada saat Feron menyugar rambutnya yang basahpun Imel perhatikan, namun bukan Feron namanya jika tidak peka.


"Cewek yang disamping Denada" Imel langsung terperanjat, apakah ia ketahuan? Kalau memang benar imel harus bicara apa? Apakah kak Feron marah padanya karna menatapnya? Ya ampun Imel kalut.


"Ambilin kursi kayu itu, ni banteng tenanganya makin gede gua hampir kedorong" Ucap Feron berusaha menahan dobrakan kaki Nanda.


Dengan cepat Imel langsung melaksanakan perintah sang kakel, ia mengambil kursi tersebut dan berlari ke arah kakel dambaannya.


(Kakel: kakak kelas)


"I-ini kak" Ucap Imel gugup.


Dengan gesit Feron langsung menyanggah knop pintu dan membuat Nanda semakin emosi karnanya.


"Jangan buat gua tambah emosi Feron! Buka pintunya!" Teriak Nanda dari luar. Sebenarnya pintu menuju ruang bengkel tempat Feron bersembunyi memiliki dua pintu, namun satu pintu lagi mengalami kemacetan sehingga untuk sementara tidak digunakan karna sedang dalam proses perbaikan.


"Hanya orang bodoh yang bakal nurutin ucapan lo Nan" Balas Feron tersenyum berhasil lepas dari Nanda.


Sekarang Feron dapat bernafas lega.


"Akhirnya gua bisa sedikit tenang" Ucap Feron menyisir rambutnya kebelakang dengan kedua jari tangan.


"Thanks dek" Lanjut Feron menepuk pundak Imel dan berlalu ke arah jendela, bermaksud mengintip Nanda dari sana.


Sementara Imel langsung menyentuh dadanya yang berdegup begitu kencang, hampir berhenti kalau saja Imel tidak segera menyadarkan diri. Ia mengalihkan atensinya menatap Feron yang sedang fokus mengintip Nanda.


"Bwaaaaaa!!!!!!" Teriak Nanda mengejutkan Feron yang tengah fokus mengintipnya dari luar membuat sang empu langsung meloncat dan terjeduk dengan kursi yang berada dibelakangnya, sungguh apes nasib Feron.


****


Pintu tidak lagi didobrak, keadaan sudah kembali tenang. Buk Ariani juga sudah kembali ke bengkel untuk mengajar kelas 10 DPIB. Dan Feron yang duduk di belakang kursi buk Ariani, bermaksud ingin mencari perlindungan jikalau Nanda datang tanpa diundang.


Buk Ariani tersenyum maklum, sudah biasa dengan sikap satu murid yang pernah ia bina dulu sebagai walas 10 DPIB. Setelah memberi tau kan bahwa guru yang mengajar Feron sedang berhalangan hadir, muridnya itu malah meminta untuk tinggal di kelas yang diajar buk Ariani, katanya takut ketemu Nanda.


*****


Hari jum'at


Feron dan komplotan sengaja tidak mengikuti kegiatan siraman rohani Dipagi jum'at, pukul 22.45 WIB Theo memberikan berita menggemparkan seluruh planet perjambrikan membuat Alfi yang sudah menyelami alam mimpi harus rela kembali bangun dan begadang untuk mengangkat video call dan menyaksikan perdebatan tak berfaedah dari komplotan premannya karna sosial media sang ketua sudah tidak aktif sedari siang maka Alfi sebagai wakil harus menerima dampaknya. Entah apa yang terjadi, yang jelas asumsi pertama Alfi adalah ketiadaan paket data, ya itu pasti.


Dan tepat pada pukul 04.00 WIB sang ketua baru saja membalas chat mereka semua, membuat Alfi yang baru saja ingin kembali tidur harus rela kembali membuka mata untuk membaca rencana untuk menghadapi rajaman gunting penebas mahkota kebanggaan pria tersebut.


*Pukul 07.56 WIB kantin bude Senem*


"Aku benar-benar butuh tidur" Gumam Alfi menyamankan diri bersandar pada dinding tepat disebelah Feron yang sedang nikmat makan tanpa merasa kenyang sedari tadi, ia sudah makan 5 hidangan seraya menunggu kegiatan selesai.


"Kita dimari aja tanpa melakukan apa-apa?" Tanya Lulba tiba-tiba masih mengunyah baksonya dengan tampang heran.


"Trus mau dimana lagi? Kuburan Cina? Atau lu mau dirumah kosong?" Ragas langsung membalas pertanyaan Lulba dengan kembali bertanya pada sang empu, membuat Lulba langsung mengalihkan atensinya, malas berdebat dengan Ragas karna ia tau ujung-ujungnya pasti dia juga yang kalah.


Kini mereka tengah duduk atau lebih tepatnya sedang bersembunyi di ruang rahasia di kantin bude senemT kebanggaan mereka.


Keluh Regas didalam hati dengan kedua tangan yang memangku pipi. Menunggu juga membosankan, setidaknya itulah yang ada difikiran Regas yang hobinya selalu traveling sana-sini kini harus rela berdiam diruangan pengap bersama dengan anggota lainnya. Demi menyelamatkan kartu AS kebanggaan (rambut) ia rela berdiam diri melawan rasa bosan.


Cklek


Semua langsung diam menatap pintu yang terbuka, diambang pintu terlihat Robi yang datang dengan muka pias dan bergumam.


'Maaf'


Membuat Feron dan yang lainnya langsung terkesiap dan langsung berdiri tegap siap dengan kejadian selanjutnya.


Dan tepat setelahnya.....


*****


Feron mana ya?


Inner Nanda menatap kesegala penjuru lapangan.


Sebenarnya gadis ini cukup merasa bersalah telah membuat pemuda itu sampai trauma bertemu dengannya, salahkan saja Feron.


Setelah pulang sekolah waktu itu, Nanda dan Feron tidak sengaja kembali bertemu setelah pemuda itu hilang bagaikan asap.


Sikap terkejutnya sempat membuat Nanda menyunggingkan senyum geli. Apakah ia semenyeramkan itu?


Tapi karna peraturan sekolah, tanpa babibu Nanda langsung memotong rambut Feron hingga rambutnya jadi sulah sebelah dan membuat Feron langsung linglung dadakan melihat rambutnya yang terbang ditiup angin.


Nanda yang juga terkejut karna salah potong langsung menangkap rambut Feron dan mengambil tangan sang sahabat kemudian menyerahkan rambut hasil tangkapannya dan berucap maaf berulang kali dengan kedua tangan yang disatukan.


Sementara Feron yang linglung dengan perlahan menyentuh kepala Bagian kirinya yang sudah botak dipotong gunting Nanda. Ia menatap Nanda yang terus berucap maaf dan beralih menatap rambutnya yang sudah berada digenggaman, begitu terus hingga Alfi menyadarkan mereka.


Mengingat hal itu membuat Nanda menjadi semakin bersalah namun ingin tertawa juga mengingat ekspresi linglung Feron untuk pertama kalinya.


"!"


"Feron, terlambatkah?" Ucap Fiona memandang kearah kanan disudut depan tepat berada didepan bengkel KR, Nanda langsung mengikuti arah pandang Fiona dan melihat kedua sahabatnya kini tengah dipepet oleh pak Puad dan pak Ibram.


Nanda juga masih melihat bekas potongannya yang sudah dirapihkan oleh sang empunya, jujur saja kemarin Nanda tidak ingin melihat bekas sulah yang ia buat namun sekarang bekas sulah itu malah memberikan kesan liar dan sangat cocok dipadukan dengan pangkat Feron sebagai berandalan.


"Kok jadi keren gitu" Gumam Nanda yang langsung menarik perhatian Bunga.


"Keren apaan Nan?" Tanya Bunga.


"Bukan apa-apa" Ucap Nanda kembali fokus kedepan namun masih dapat melirik kearah Feron dan Alfi.


Semoga tidak terjadi hal yang aneh-aneh


****


Kini 11 siswa (komplotan Feron) tengah berdiri dihadapkan seluruh siswa/i beserta guru dan Staff. Pak kepsek selaku pemegang mic kini tengah berceramah panjang kali lebar, membuat pendengaran Feron hampir penuh.


"Rambut jabrik dilarang disekolah kita" Ucap pak Kepsek menarik rambut Feron hingga sang empunya terkejut.


"Dan untuk itu, sebagai bukti bahwa kami begitu perduli pada tata tertib sekolah maka akan bapak mulai dari sebelas orang ini untuk acara pembukaan penertiban rambut pendek untuk siswa laki-laki!" Lanjut pak Kepsek semangat mengacungkan mesin pencukur rambut.


"Diharapkan kepada semua siswi untuk duduk dibelakang dan menyisakan para siswa yang TETAP DUDUK, MAU LARI KEMANA KAMU!? " Teriak pak Ibram mencengkram kerah baju siswa yang hendak kabur.


*Sementara Feron*


"Matilah gua" Pasrah Feron tidak dapat berkutik, didepannya pak Kepsek, dikirinya pak Puad, dikanannya bang Ical, dibelakang pak Beno, lengkap sudah, rencana untuk kabur pupus.


Ini semua pasti gara-gara nanda


Inner Feron menatap tajam kesegalah arah dan akhirnya menemukan sang tersangka.


"WOY!!!! NANDA TRIASLA AWAS AJA LO YA! PASTI GUA BALAAAASSSSSSSSSSSSSS!!!!!!!!! PASTI LO YANG NGADU AMA MEREKA SEMUAKAN!? DASAR CEPU LO!!!!!!!" Teriak Feron murka menunjuk Nanda.


Sementara Nanda yang tengah duduk bersama Tesla sedikit terkejut dan langsung menatap kearah Feron. Nanda menyunggingkan senyumnya.


"BODO AMAAAATTTTTT! BUEEEEKKKKKKK!!! HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!!!" Balas Nanda mengeluarkan lidahnya mengejek dan lanjut tertawa puas melihat Feron menderita.


Sementara Imel dan Denada langsung melirik tidak suka kearah nanda yang tertawa puas melihat Feron menderita.


"Gadis jahat harus mendapatkan hukuman!" Gumam Imel dan Denada kompak.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...TBC...