All For Dreams

All For Dreams
Sakit dan tak bisa



"Om Wen, habis ini kita kemana?" Tanya Feron menyembulkan kepalanya dari kursi penumpang.


Om Wen melirik "Kita akan survei ke sawah para petani, kasus mereka adalah kurangnya parit sebagai akses air untuk kebun"


Feron ber'oh ria "Jadi penasaran lokasinya gimana"


.


.


.


.


Deng!!!!!


Muka Feron datar sedatar-datarnya.


"Cepetan Fer, bantu 'ayah' ngukur" Ucap om Wen dari kejauhan memanggil Feron yang tak kunjung turun ke sawah.


Feron yang sudah menganga dengan sepatu di tangannya hanya dapat menangis dalam diam menatap lokasi survei mereka.


"Gua duluan Ron" Ujar Nanda turun tanpa melepas sepatu.


Menciptakan genangan lumpur yang semakin dalam saat kaki itu melangkah.


Tuhannn~ ku mohon jika ini adalah hari terakhir hamba magang hamba ikhlas tuhan, yang penting jangan nginjak tempat ini lagi udah cukup ya tuhaaaannn huuuuaaaaa......


Inner Feron menangisi dirinya sendiri yang anti dengan tempat penuh kubangan lumpur dan rawa-rawa penuh misteri ini. Entah apa yang akan hinggap di kaki setelah kau memasuki tempat ini, namun yang jelas dan pastinya akan di jumpai adalah hewan yang bernama lintah dan pacat itu nomor satu, dan Feron benci dua hewan itu, aaaaaa....


Feron masih berjongkok, enggan untuk sekedar melangkah barang satu atau dua. Ia hanya akan menatap mereka sesekali seraya menyemangati Nanda yang sigap membantu om Wen mengukur.


"Ayo nakkk" Ucap salah satu nenek melewati Feron. Nenek itu baru saja dari ladangnya, tepat di samping om Wen yang tengah serius mengukur tanah.


Tuk!! Trukk!!


Suara pertemuan antar dua batu, Feron melirik sang nenek yang tengah sibuk.


Nenek itu menggiling sesuatu, dan saat Feron semakin penasaran semakin menyesallah ia saat menatap apa yang di tumbuk oleh sang nenek.


"Aaaaaaa...." Raung Feron menarik rambutnya frustasi.


"Aku benci survei di tempat seperti iniiii!!!!" Lanjut Feron semakin gila.


Di tempat om Wen.


Bang Sukma menatap Feron yang terus meracau, tak jelas memang, namun yang pasti isi fikiran bang Sukma "Abang jadi semakin yakin kalau raga kalian itu sebenarnya tertukar" Komentar bang Sukma melirik Nanda yang sedang mengusap peluh pada keningnya.


.


.


.


Di dalam mobil.


Feron sudah kehilangan separuh raganya, ia seperti tak sanggup lagi hanya untuk sekedar mengangkat kepala.


Setelah melihat nenek yang dengan santainya menarik pacat dari kakinya sukses membuat Feron kehilangan selera makan.


"Besok ada kegiatan survei lagi 'Yah' ?" Tanya Nanda antusias.


"Ayah rasa tidak ada Nand, tapi kalau bulan depan sepertinya ada" Jawab Om Wen.


"Heeehhh~ bulan depan udah balik ke sekolah omm" Ucap Nanda sendu.


"Eh! Cepat!!?" Balas Om Wen terkejut.


"Iya, kan di semester ini cuma 3 bulan, sisanya di semester depan baru masuk lagi" Ujar Nanda memberi keterangan.


"Heh! Gak jadi party lah kita bang Wen. Masak ia mereka balik lagi kesini, udahlah saya dilupain karna ada kawan baru eh taunya bsok mereka balik lagi. Memang beb-huaaaaaa!!!" Teriak bang Sukma saat tangan Nanda berhasil mencekiknya.


"Cepat Fer, ikat pinggang lu pinjam bentar, ni bantengnya mau kita buang aja kejalan biar tau rasa" Ucap Nanda geram.


"Hahahahahahahaha " Tawa Om Wen memenuhi suara didalam mobil. Melihat interaksi ini sukses membuat perasaan om Wen menjadi segar, terlepas dari masalah yang di ciptakan Layla pada kedua bocah ini.


Akhirnya om Wen berhasil membuat perasaan kedua anak itu menjadi sedikit bahagia. Terbukti dari ekspresi mereka berdua yang kembali cerah.


Nanda yang bersemangat membuat bang Sukma pingsan, sementara Feron hanya dapat tertawa ditempatnya.


Setidaknya mereka ngak tertekan lagi.


.


.


.


Beberapa minggu setelahnya, Feron mengeluhkan sakit dimata kanannya. Setelah diperiksakan kedokteran pribadi keluarga Adidjaya, tidak ditemukan masalah.


Dokter mengatakan Feron hanya demam dan mengalami sedikit syok beserta tumbuhnya kelenjer di kelopak mata kanannya, dan sontak hal itu menjadi kemarahan besar bagi sang kepala Keluarga, Vein yang hampir mendatangi Layla untuk diajak adu panco.


Terlepas dari kemarahan Vein, mungkin juga Feron kelelahan karna survei lapangan yang memakan waktu hingga senja itu.


Terbukti sekarang ia hanya dapat terbaring lemah di tempat tidurnya, tak lupa selang infus juga ikut andil menghias tangan Feron.


Memang agak lebay, tapi Miya akan lebih lebay jika sampai cucunya yang pembangkang ini masuk rumah sakit seperti beberapa bulan lalu. Sungguh, Miya tidak sanggup.


"Bund" Panggil Feron.


"Ngak bunda, Feron cuma cemas.... Seperti akan terjadi sesuatu pada Nanda karna Feron gak ada di samping dia" Tutur Feron lemah, ia mengigau.


Sementara Neti hanya dapat memperhatikan Feron dalam diam.


"Ahhhh~ aku harus menyuruh Kakak pulang"


.


.


.


"Mekummm~~~" Mulai Alfi menyembulkan kepalanya.


Hari ini ia kembali berkunjung ke kantor magang Feron, awalnya hanya sekedar mengisi waktu suntuk karna menunggu tempat maganggnya yang belum juga buka. Bahkan sudah hampir jam 09.00 WIB. Sungguh, Alfi fikir hanya dia yang memiliki sifat terlambat sebegini malasnya, eh! Rupanya ada yang lebih parah.


"Punten... Loh!!?"


"Apaan?" Tanya Nanda menatap malas Alfi.


"My sehidup semati Bestie mana? Katanya ada yang mau diomongin" Ujar Alfi berkacak pinggang.


"Ohh Feron, dia gak masuk hari ini," Ucap Nanda menjawab "Tadi dia ngirimin gua pesan, tapi aneh. Baku banget bahasanya kayak bukan dia aja yang ngetik" Lanjut Nanda memandang layar smartphonenya.


Alfi melemah "Hehhhh~ gua pikir bakal ada berita penting, taunya yang mau ngasih info duluan Afk. Okelah Nan, gua pergi dulu byebyeee"


"Woke" Balas Nanda.


Namun sebelum Alfi menaiki motornya, sebuah pesan masuk ke smartphone pemuda itu.


...Halaman chat...


Feron: Gua minta tolong Fi, jagain Nanda karna perasaan gua gak enak.


^^^Gak enak kenapa bre? Trus kenapa lu gak datang kekantor?^^^


Feron: Gua lagi sakit.


^^^Lahh... GWS ya bre, oh iya BTW Nanda kenapa?^^^


Feron: Gak tau, pokoknya lu awasi aja dia.


^^^Lah, dia kan kuat. Buat apa gua awasin?^^^


Akhir chat Alfi dan Feron yang cuma centang satu, tidak dibaca, dan membuat Alfi cukup penasaran. Ia melirik Nanda sebentar lalu mengedikkan bahunya.


"Dia kan kuat, buat apa juga gua intilin, entar yang ada bukannya perampok yang untung malah perampoknya yang bakal ngadu ke polisi akibat kasus penganiayaan" Gumam Alfi berlalu pergi dengan fikiran yang masih positif.


.......


.......


.......


Jam pulang kantor.


"Gua gak maksa, tapi ini udah gak bisa dipaksa" 'Gumamnya' memukul kening. Bersembunyi di dalam mobil selama 5 jam cukup membuat pantatnya kebas dan panas dingin, apalagi ia diperhatikan oleh orang sekitar sedari tadi.


"Bang, pulang duluan aku ya, assalamualaikum" Ucap suara Nanda berlalu pergi seraya mengendarai motornya.


Ia langsung tersenyum "Target terkunci" Ucap suara itu menyalakan mesin mobil.


Selama diperjalanan, pria itu trus mengikuti Nanda. Smirk tak pernah putus ditampilkan olehnya sedari tadi "Hanya tinggal menunggu momen yang pas, lalu salip hingga tew-pingsan" Rencana pria itu menatap sekeliling.


"Bagus dan..."


Di posisi Nanda.


Ia tak lepas memperhatikan spion motornya sedari tadi "Perasaan gua gak enak ama ni mobil" Ucap Nanda.


Ia semakin menaikkan gas motornya untuk berlalu lebih cepat, namun mobil itu malah ikut menambah kecepatan hingga berhasil mendahului Nanda dan


Brakkkk!!!!!


"Nghhhhh....." Gumam Nanda kesakitan.


Dari pandangannya yang kabur, Nanda bisa mendengar jika pria itu sedang mentertawainya yang sudah terkapar tak berdaya di aspal.


"Akhirnya tugas selesai" Ucapnya membopong Nanda kedalam mobil.


.


.


.


Di ruang rapat.


"Besok kita akan memulai pembongkaran SMK" Ucap suara itu mengakhiri rapat.


Sementara itu, Vein hanya dapat melihat sang pemimpin rapat dalam pandangan yang sulit diartikan.


"Ck!!! Menyebalkan"


...Tbc...