
Setelah pertemuan mereka di bengkel TKJ, Theo memutuskan untuk mencari tau permasalahan ini terlebih dahulu, seorang diri.
Ia meminta untuk semuanya pergi, selain karna pelajaran yang mau dimulai, Theo juga butuh ketenangan dan itu semua langsung di setujui oleh seluruh anggota gank, termasuk Feron yang langsung pergi.
Di dalam perjalanan hampanya, Feron memilih untuk mengitari sekolah terlebih dahulu sebelum masuk kelas, tapi sepertinya ia baru melihat kejanggalan ini.
"Sejak kapan bengkel baru MM roboh?" Tanya Feron menatap sekitar.
.......
.......
.......
...All For Dreams...
...Permohonan...
.......
.......
.......
"Agak aneh dan janggal, kenapa?" Gumam Feron masih berpikir.
Namun perhatiannya seketika teralihkan saat Geo tak sengaja memanggil Feron.
"Feron, kemari sebentar" Perintah Geo memanggil.
Feron yang tidak tau harus apa hanya bisa mengikuti perintah Geo "Ada apa pak?" Tanya Feron tak mengerti.
"Ini" Ucap Geo memberikan sebuah dokumen pada Feron.
"Apa ini?" Tanya Feron menerima dokumen itu dalam tanda tanya besar.
"Tolong berikan dokumen ini pada pak Will ya, bapak pergi dulu, terima kasih Feron" Ujar Geo melambaikan tangan dan langsung berlalu pergi melewati koridor.
Setelah kepergian Geo, Feron menatap dokumen di genggamannya dalam tanda tanya besar "Aneh" Bisik Feron.
.
.
.
Jam pelajaran dimulai.
Kini Feron hanya duduk seorang diri di kursinya, tanpa ada teman sebangku.
Sebenarnya kejanggalan hilangnya Nanda pernah Feron pertanyakan secara langsung Kepada Layla, namun jawaban Layla langsung membuat persendian Feron lemas seketika.
Ingin mengutuk wanita itu, tapi Feron sadar itu semua percuma. Lebih baik dia fokus mencari info daripada terus larut bersama mereka yang tak faham mengenai dirinya.
"Ron" Panggil satu suara.
"Yups, ada apa ya Fio?" Tanya Feron berusaha tersenyum walau tipis.
Di tengah pelajaran Ryou, seluruh murid di tugaskan untuk menggambar potongan Horizontal dan Vertikal dari denah sebuah rumah yang tertuang dalam kertas A4.
Dalam tugas kali ini, Ryou mengatakan bahwa dia sangat ingin melihat perkembangan Siswanya mengenai ilmu Arsitektur.
Namun bagi Feron sendiri ini sangat mudah, buktinya ia sudah selesai lebih dulu meninggalkan teman-teman lainnya yang masih fokus dengan kertas masing-masing.
Tidak sombong, tapi sebenarnya Feron memang bintang kelas minus akhlaknya saja, bahkan buk Ariani pernah berpesan bahwa ia bisa menjadikan Feron ranking 1 jika saja anak itu mau bersikap baik.
Tapi Feron ogah, baginya dapat bersekolah di sini secara tenang saja sudah suatu prestasi membanggakan baginya yang notabene tidak menyukai sekolah ini dari dulu.
Mengesampingkan beberapa fakta terkait, kini Feron malah di hadapkan dengan Fiona yang malah meletakkan seluruh alat menggambarnya di meja Nanda.
Gadis itu bahkan dengan senyuman yang masih terpatri indah di wajahnya malah mengajak Feron yang sudah kalut untuk berbicara membahas tugas.
Sebenarnya bukan Feron pelit untuk berbagi teknik, tapi tolong. Sekarang Feron tengah sibuk memikirkan Nanda.
Sampai ucapan Fiona berikutnya berhasil membuat Feron tercengang "Seharusnya bukan lo lagi yang cemas akan Nanda Fer, tapi seharusnya itu tugas Anwar. Bukannya dia yang pacar Nanda? Tapi kok elunya yang begitu cemas? Pesan gua si ni ya Fer, baiknya elu gak usah terlalu mikirin pacar orang, nanti yang punya bisa marah" Peringat Fiona memutar matanya ke arah Anwar yang sedang tidak baik-baik saja.
Air muka itu jelas memberikan gekstur cemas dan lelah, kenapa?
Kenapa sama si Anwar?
Inner hati Feron bertanya.
Feron kembali menatap kedepan, ia berpikir.
Benar juga apa yang di sebut si Fiona ini, ngapain gua harus terlalu khawatir, entar si Anwar jadi salah paham ama gua
SMK 2 PKU
Hari ini Vion tidak terlalu ingin untuk sekedar memperhatikan interaksi unfaedah Daffa, selain tidak menarik, juga di penuhi aroma perselingkuhan yang kentara dari sang empunya sendiri.
"Kasian bener si Yuna di khianati, eh tunggu? Bukannya mereka berdua sama-sama pengkhianat? (berpikir sejenak) ah sudahlah, lagian juga bukan urusan gua mau tu dua orang saling berkhianat satu sama lainnya, yang penting mereka gak terlalu jauh aja itu udah cukup" Gumam Vion menatap Daffa yang sedang berpacaran dengan gadis lainnya.
Apa baiknya gua tinggal aja si Daffa? Boleh kali ya, secara gua bosan juga disini, jadi obat nyamuk gak enak bener
Isi hati Vion akhirnya pergi begitu saja meninggalkan Daffa yang sedang romantis-romantisnya.
Di tengah langkah santainya, Vion tak sengaja menatap Yuna yang lari terburu ke arah toilet siswi.
"Kenapa tu anak?" Gumam Vion bertanya dan malah pergi mengikuti langkah Yuna, namun hanya sampai ke ambang pintu masuk toilet saja.
Sepertinya menunggu sebentar akan lebih menarik untuk menghilangkan rasa penasaran Vion yang tanpa sadar melihat ekspresi dan gelagat aneh dari permaisuri Daffa itu.
Mukanya pucat banget, Yuna kenapa? Selain itu tangan dia kenapa di sanggah? Apa Daffa main kasar lagi ama Yuna?
Inner Vion memberikan spekulasinya sendiri.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Yuna keluar. Namun dengan gumaman yang sontak membuat seorang Vion membelalakkan matanya tak percaya.
"Hamil itu gak enak banget sumpah" Gumam Yuna menutup mulut dengan satu tangan seraya berjalan sempoyongan.
Namun saat sampai di ambang pintu, malah suara Vion yang terkejut membuat Yuna seketika khawatir.
"Hamil? Lo? Yuna?" Tanya Vion langsung menggenggam kedua pundak Yuna yang bergetar.
"Anak siapa?" Tanya Vion lagi.
Namun Yuna hanya diam, tubuhnya semakin bergetar hebat. Pandangannya memburam dan satu persatu air mata turun dari mata indah itu.
Yuna langsung memeluk Vion tidak tau apa yang harus di utarakan, mengingat ia yang langsung berganti mood secara drastis itu.
Sepertinya menangis di pelukan Vion akan meredakan rasa gundah di hati Yuna.
"Jadi," Vion menjeda ucapannya, ia sedikit memikirkan bagaimana cara untuk membicarakan perihal hal sensitive ini pada Yuna yang sudah lebih tenang duduk di samping Vion.
Mereka berdua kini saling duduk bersebelahan, tidak saling berhadapan namun memandang satu objek yang sama, pohon beringin di belakang sekolah.
Yuna hanya dapat meremat minuman kemasan yang di beli oleh Vion beberapa menit lalu, dan juga Vion sengaja memilih tempat yang cukup sepi. Ia tidak ingin pembicaraan ini terdengar oleh siapapun, termasuk Daffa.
"Anak siapa?" Tanya Vion menatap Yuna yang langsung bergetar disampingnya.
Yuna masih diam, pandangannya langsung tertunduk dalam. Minuman yang ia genggam tak luput menjadi tempat curahan rasa Yuna.
"A-" Yuna kembali menutup mulutnya.
"Gak usah takut Yun, bilang aja sama gua" Ucap Vion menenangkan. Di satu sisi, Vion tau. Yuna sudah yatim piatu, dapat bersekolah disini saja itu berkat Daffa yang merangkul ekonomi Yuna. Jadi, bagaimana mau menceritakan kegundahan ini dan mencari dukungan suport dan mental, sementara Yuna saja tak punya siapapun disampingnya.
Tapi Vion tidak akan membahas perihal kehidupan Yuna lagi, dia sudah cukup tau. Mengingat dia yang selalu bersama Daffa kemanapun ia pergi sudah cukup untuknya mengetahui asal usul Yuna beserta jalan hidupnya.
Bagi Vion, Yuna ini seperti alat Daffa untuk pemuas segalanya. Mau kasian, tapi Vion bisa apa? Memberikan nasehat kepada Daffa sudah pernah, namun malah berakhir mereka saling adu jotos karna nasehat dari seorang Vion.
Dan harus berakhir begini, astag-
"Ini anak Daffa" Lirih Yuna memotong isi fikiran Vion yang langsung kaget.
"S-sejak kapan?" Tanya Vion. Namun keterkejutannya hanya sebatas pertanyaannya saja. Selebihnya Vion sudah cukup tau, dan ia tidak perlu kaget lagi dengan kelakuan kurang adab sang sahabat bernama Daffa yang suka ke rumah pelacur itu.
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...TBC...