All For Dreams

All For Dreams
Regas memang paling romantis



Pertandingan berlangsung sangat meriah, bahkan disepanjang pertandingan Feron dan Alfi sering kali keluar masuk area penonton demi membeli cemilan untuk teman-teman.


Teman-teman yang dimaksud adalah 'ganknya' dan tidak terlupaan.


"Nanda SEMANGAT!!!! Nanda SEMANGAT!!!" Teriak Arman dan Johanes kompak menyemangati Nanda yang langsung memandang ke bangku penonton, sementara teman kelas lainnya hanya terdiam bahagia menyemangati Nanda.


"NAN!!! GUA JUGA DAH SERET ANWAR BUAT DATANG KASIH SEMANGAT NI!!!" Teriak Feron dan Alfi mendorong-dorong Anwar yang hanya pasrah ditempatnya dan tentu saja langsung mendapatkan tatapan kesal dari Nanda karna dengan terang-terangan mengatakan hal sakral.


Sementara di sebelah Anwar, Regas melirik sinis hingga membuat ketiga pacarnya langsung bertanya khawatir.


Yaps, setelah perdebatan dan adegan saling jambak akhirnya mereka berdamai dan sepakat untuk pasrah di madu Regas, memang aneh, tapi nyata.


Bahkan Ragas sampai jeduk-jeduk kepala di tong sampah sanking tidak percayanya dengan tingkah dan sikap ketiga gadis itu yang mau saja di bodohi sang kembaran yang super playboy.


Saingan gua masih standar, awas aja lu Anwar. Nanda bakal jadi milik gua dan bukan elu.


Sungut hati Regas beralih menatap Nanda, mereka saling menatap hingga tanpa sempat mengelak sepatu Nanda sudah sukses memukul muka Regas hingga cetakan tapak sepatu jelas terbuat.


"GAK USAH PANDANG GUA KAYAK GITU, GUA JIJIK AMA LU!!!" Marah Nanda langsung membuang muka dari Regas yang menatap aneh.


"GUA CUMA NATAP AN*YING!!! DASAR LU CEWEK ANEH!!!" Balas Regas memaki Nanda dan mengambil sepatu Nanda, meremasnya dan langsung melempar kembali ke Nanda namun sayang malah mengenai panitia acara.


"PERINGATAN KERAS KALAU LU PERMALUIN GUA LAGI" Teriak Regas garang menunjuk ke panitia yang sudah tumbang tak berdaya, sementara Nanda beralih memandang panitia yang sudah pingsan ditempat.


Keras juga lemparannya


Inner Nanda melirik Regas yang sudah menahan emosi berlebihan.


"EMANG GUA PERDULI, DASAR MADU TIGA!" Teriak Nanda.


"APA LU BILANG!? DASAR SETAN ARAB!" Balas Regas ikut memaki.


Dan perkelahian terus berlanjut hingga suara Regas dan Nanda mencapai akhir dari part ini.


...*****...


"Pertandingan selanjutnya, kita sambut dengan semangat....


NANDA TRIASLA!!!!!" Ucap pembawa acara semangat.


"Dan disebelah saya, sesosok gadis muda pemenang pertandingan silat berturut-turut, kita sambut saja..


REINA SYAKILLA WIDODO!!!!"


Reina dan Nanda sama-sama memasuki area pertandingan, ketegangan mulai terasa disini namun Nanda mencoba fokus untuk melawan gadis tomboy didepannya.


Keduanya mendekat, w


asit mulai bersiap memberikan arahan.


" Hmph! Gadis lemah, mematahkan beberapa tulang leher lo bukanlah masalah bagi gua" Ucap Reina mengangkat dagu dengan senyuman miring penuh remeh.


"Dasar mulut besar, kita buktiin aja ntar" Balas Nanda mengetatkan sabuknya.


" PERTANDINGAN, siap!!!"


Kedua pesilat, Nanda dan Reina mengambil ancang-ancang bersiap.


Wasit memandang kedua belah pihak bergantian.


"Siap, MULA-"


Belum selesai kalimat diucapkan, Reina langsung melayangkan tendangan pada perut Nanda hingga sang empunya hampir keluar dari arena.


Wanjir kekuatannya bukan main


Inner Nanda mengusap air liur yang turun dari sudut bibirnya.


"C'mon girl, kasih gua kesenangan dong" Ucap Reina kembali mengambil kuda-kuda bersiap menyerang.


"Kurang asam!! Wanjir" Melupakan rasa nyeri, Nanda langsung bersiap.


Nanda mencoba memberikan pukulan pada tungkai kaki Reina, namun seolah terbuat dari besi. Kaki Reina enggan untuk bergeser barang sesenti.


Keras bat dah tu tungkai kaki


Isi hati Nanda memandang Reina.


"Hehehe" Tawa Reina mengejek.


Gua coba lagi


Inner Nanda kembali menyerang sisi lain Reina.


Slap!!


"HA?"


"Lamban sekali" Ucap Reina memuntir kaki Nanda hingga ia berputar di udara dan terjatuh kasar di matras.


"Ngh!" Nanda mencoba menahan rasa sakit disekujur tubuhnya dan kembali berdiri.


Disisi penonton, Feron yang tengah fokus memandangi Nanda malah di interupsi oleh Afni yang selalu mengeluh panas padanya.


"Ron, Feron. Keluar aja yuk, panas atuh di sini" Keluh Afni menarik-narik tangan kiri Feron.


Sementara Feron, ia malah tidak menjawab, alih-alih menggubris Afni fokusnya malah teralihkan pada area penonton diseberangnya.


Kayaknya gua kenal


Inner Feron memandang tajam sosok yang menaikkan sebelah bibirnya tersenyum misterius itu.


Senyum itu tidak asing


Ucap hati Feron mengalihkan atensinya kembali ke pertandingan seraya mengingat-ingat siapa gerangan yang memiliki senyum serupa.


"HA!?" Feron langsung kembali memandang kearah seberang, mencoba memastikan orang tersebut, namun sosok tersebut malah sudah hilang.


Krak!!


Feron kembali mengalihkan atensinya pada pertandingan, disana Nanda tengah dalam posisi menggunting lawannya.


" Gak buruk" Ucap Reina tetap tersenyum remeh pada Nanda yang sudah memojokkannya.


"Lo udah berakhir" Sinis Nanda kewalahan.


"Hahahahaha, benarkah?" Tanya Reina mengejek dengan nafas memburu.


"HYAAA!!"


Reina langsung membalikkan keadaan, ia berhasil membatalkan guntingan Nanda dengan cara yang tidak biasa.


Crak!!!


"Sudah gua katakan ini mudah" Remeh Reina berbalik. Ia berpikir pertandingan telah berakhir setelah ia mematahkan tangan kanan Nanda, namun ia salah. Dibelakangnya Nanda kini sudah berdiri dengan aura balas dendam yang besar.


"Ini.... SAKIT BEGO!!!!!" Nanda langsung berlari dan men-sleding Reina hingga sang empunya keluar dari arena dengan bunyi


Bunyi suara itu begitu keras, dinding disekitar Reina sontak retak.


"Serangan andalan Nanda" Ucap Alfi.


"Sleding" Balas Feron tersenyum miring.


Semua penonton hening, bahkan juri dan maha guru juga sama terdiam menyaksikan sang legenda yang kalah hanya dengan satu kali tendangan.


"Aaaaa HOREEEEEEEEEE!!!!!!!!!!!!" Sorak sorai terdengar begitu meriah, mengantarkan Nanda sebagai pemenang dalam pertandingan silat.


Nanda di arena sontak tersenyum haru dan langsung memandang kearah Feron penuh bahagia.


"Feron, gua menang" Gumam Nanda tersenyum senang, tapi tidak lama setelah melihat Afni yang menampilkan wajah tidak sukanya dan langsung menempel pada Feron yang terkejut dengan aksi Afni.


Tatapan Afni benar-benar tidak bersahabat. Bahkan, perlu waktu cukup lama bagi Nanda untuk mengalihkan atensinya melihat Afni yang begitu berani memepet sahabatnya.


Cih, gua jadi heran sama Feron. Apa si yang dia suka dari cewek aneh itu?


Inner Nanda kesal, ia beralih memandang teman-teman lainnya untuk menghindari rasa geramnya melihat Feron yang malah diam saja dipepet Afni yang seperti pelacur murahan itu.


"Hebat sekali tendangannya" Gumam Regas ditempat, air mukanya jelas memperlihatkan ekspresi terkejut.


"Setidaknya dia pantas" Sambung Regas tersenyum bangga.


"NANDA, GUA BANGGA AMA LO BEB" Tiba-tiba suara teriakan Feron terdengar.


"Beb? " Ulang Afni langsung memandang Feron dan Nanda bergantian.


Nanda mengarahkan atensinya kembali pada Feron.


"MAKASIH BEB" Jawab Nanda bahagia dengan tangan melambai semangat.


Sementara itu,


Saat semua orang tengah fokus memberikan selamat, Reina justru sudah kembali berdiri dan berjalan mengambil golok.


Ini adalah sebuah aib baginya, kalah hanya dengan satu tendangan?


"Fu*cker women" Gumam Reina marah dan langsung berlari kearah Nanda dengan golok yang siap menembus dadanya.


"!" Feron terkejut, dan dengan cepat melompati pembatas antara penonton dan area pertandingan.


"Nanda AWAS!!!" Teriak Alfi yang sudah tidak sempat lagi berlari menyelamatkan Nanda.


Sementara Regas dan Anwar hanya bisa ternganga tidak dapat membantu.


Dengan slow motion, Nanda berbalik menghadap ke Reina yang semakin dekat padanya.


"DASAR SAMPAH" Teriak Reina yang sudah siap menghunuskan golok pada Nanda dengan gerakan cepat hampir tak terlihat.


"HA?!" Ucap Nanda terkejut tak dapat mengelak.


Tap!!!


Hap!!


Dengan kecepatan tinggi, Feron berhasil meraih Nanda dan memeluknya begitu erat. Mereka berdua terlempar jauh, sementara Reina yang tidak berhasil menusuk Nanda berakhir terjatuh dengan muka yang terlebih dulu mencium matras dan golok yang terlempar jauh dari genggamannya.


"Lo gak apa-apakan?" Ucap Feron menatap kepala Nanda.


"Gua gak apa-apa, makas-" Nanda sontak terkejut.


Kini Nanda berada di pelukan erat Feron, dengan ia yang berada diatas dada bidang sang sahabat yang rela menjadi matras hidup Nanda.


Nanda yang terkejut dengan adegan tiba-tiba ini langsung memperhatikan wajah Feron. Wajah yang menampilkan ekspresi serius itu tengah melindungi Nanda dari hempasan lantai.


"Feron?" Gumam Nanda, ia dapat menghirup wangi alami dari badan Feron yang selama ini jujur membuatnya sangat nyaman itu. Apalagi sekarang mereka berdua begitu dekat hingga Nanda dapat mendengar suara detak jantung Feron yang berdetak cepat.


Nyaman sekali


Inner Nanda terbuai suasana. Ia mencoba menyamakan diri, namun suara Feron malah mengintrupsi.


"Sekarang lo bisa minggir gak? Ini sumpah sakitnya bukan main" Ucap Feron yang menahan rasa sakit di sekujur badan. Mereka terlempar cukup jauh hingga keluar arena yang sudah tidak dipasang matras lagi.


"Eh astaga, maafin gua Ron" Ucap Nanda segera berdiri.


"Iye, santai aja" Jawab Feron berusaha berdiri dengan tangan kiri yang memegang pinggang penuh rasa encok, ekspresi Feron saat ini persis seperti kakek-kakek usia senja.


"Asw, berani-beraninya dia!" Ucap Reina berusaha mengambil goloknya kembali, namun terhenti kala sebuah kaki panjang malah membuang golok itu semakin jauh.


Reina langsung memandang keatas, merasa marah dengan perbuatan orang itu.


"Kalau lo sudah kalah ya terima aja" Ucap Alfi tersenyum remeh pada Reina yang langsung menggertakkan giginya menahan emosi.


"Cih" Reina langsung membuang muka dari Alfi yang menatapnya geli.


Sementara itu,


"Makasih Fer, udah nyelamatim gua" Ucap Nanda berusaha menahan rasa malunya.


"Gak masalah bestie ku" Balas Feron memukul pelan pinggangnya seraya membuang muka dari Nanda, takut ketahuan kalau ia sedang mengumpat betapa beratnya sang sahabat.


Nanda yang memandang Feron menggeram langsung saja mencoba memegang punggung tegap itu, mencoba memberikan topangan. Bahkan Nanda yang sibuk berpikir hal lainnya malah tidak menyadari gumaman Feron tentangnya.


Tapi Feron cukup merasa lega, kalau sampai Nanda mendengar sudah dipastikan bukan hanya Reina yang terlempar jauh, Feronpun akan mendapatkan nasib serupa, mungkin lebih parah.


"Yok ke ruang istirahat, disana ada salep penghilang rasa nyeri. Entar gua bantu olesin" Ucap Nanda memandang Feron yang malah menatapnya aneh.


"Sebelum lo nyelamatin gua, lebih baik lo selamatin dulu tu tangan" Balas Feron menggendong Nanda bridal style.


"F-Feron, ini berlebihan" Ucap Nanda jadi merasa aneh.


"Bodoh amat, dimana pintu ruang istirahatnya?" Tanya Feron memandang sekitar.


"Disana" Tunjuk Nanda pada satu pintu diujung arena.


Di lain sisi.


"Cih! Teganya Feron ngacangin gua dan malah perduliin gadis aneh itu" Ucap Afni mengepalkan kedua tangannya.


"Awas aja, gua bakal buat perhitungan ama lo Nanda" Geram Afni ingin berlalu namun sebuah tangan langsung mencekal pergerakannya.


"Lepasin tang- HA!" Ucapan Afni terjeda tatkala melihat sosok tersebut.


"Sudah lama ya...


Afni"


Senyuman misterius diarahkannya pada Afni yang mulai bergetar ketakutan.


"Kau..."


...TBC...