
"Ck! Apa yang harus gua lakuin supaya Nanda suka ama gua!" Geram Anwar didalam kamarnya yang gelap tanpa adanya cahaya yang menerangi.
"Bang*sat!"
.......
.......
.......
...All For Dreams ...
...Mulai masalah...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
Kriiinnnggg.. Kriiingggg
Klik
"Hallo siapa ini?" Tanya Feron pada panggilan telfon.
^^^[.......]^^^
"Hallo?" Tanya Feron lagi dengan tatapan heran menatap ke layar telfonnya penasaran.
Nomor yang tidak di kenal...
Inner Feron kembali mencoba mendengarkan suara di seberang sana.
"Ck! Sudahlah!" Decak Feron langsung mematikan telfon dan bergegas kesekolah.
.........
........
.......
Diperjalan,
Cciiiiiiittt!!!
"Ini aneh? Gak biasanya disimpang tugu perahu ada polisi?" Gumam Feron menghentikan laju motor sportnya. Ia sengaja berhenti di pinggir jalan yang cukup jauh agar tidak di curigai.
Dalam gumamnya, tiba-tiba Anwar berhenti. Dia melirik ke arah Feron yang masih tak menyadari kehadirannya.
Feron? Serius amat merhatiin polwan. Ck! Dasar playboy cap ayam jago
Padahal isi benak Feron tak seindah isi fikiran Anwar yang sedang julid.
Menyebalkan, malah banyak lagi polisinya. Ini motor baru mati pajak kemaren, gak mungkinkan gua rela motor keren gua di kandangin ?! Harus cari cara supaya gua dapat lewat tapi gak keliatan.
Fikir Feron menatap lamat ke arah para polisi dan 4 polwan yang sedang asyik mantau dan mengamankan jalan.
"Ck! Menyebalkan" Geram Feron mengengkol motornya.
Brrrmmmm... Brrrrmmmmm.....
Feron langsung tancap gas, berbalik arah dan tanpa sadar melirik Anwar yang menatapnya tajam.
Anwar!
.
.
.
Sekolah
"Tumben banget kegiatan pagi ramai lancar? " Tanya Bunga diselingi kebosanannya duduk di lapangan upacara bersama teman-teman lainnya.
Tak luput, Bunga juga sering melirik Nanda yang gelisah memandang ke arah zoning masuk sekolah dan Alfi yang juga sepertinya gelisah berbicara pada Nanda.
"Kenapa si Nanda sama Alfi gelisah banget?" Bisik Bunga bertanya pada Fiona dan Liza yang langsung mendekatkan wajahnya pada Bunga.
Fiona dan Liza langsung melirik ke arah Nanda.
"Eh iye! Kenapa tu anak? Gak biasanya dia segelisah itu? Tapi lain cerita kalau ama siiii"
Liza langsung melirik ke arah siswa laki-laki 11 DPIB. Ia memperhatikan semua teman sekelasnya itu satu persatu. Namun keganjilan terlihat saat ia tak menemukan Feron di antara barisan para pemuda itu.
"Ahhh! Sekarang gua tau apa masalahnya" Ujar Liza kembali menatap Bunga dan Fiona.
"Apaan Liz?" Tanya Bunga dan Fiona kompak.
"Pastinya si Feron lah, tu anak gak ada di barisan cowok kelas kita. Lu berdua perhatiin aja noohh" Ucap Liza menunjuk keseluruhan pemuda kelas 11 DPIB.
"Dan pastinya udah rahasia umum kalau tu cowok udah biasa jadi pusat bulan-bulanan pak Bino dan para guru, jadi kita gak perlu heran dia sekarang dimana" Lanjut Liza mengangkat kedua pundaknya tak perduli.
"Eh! Bener juga ya. Tumben tu anak gak ad- Eh! Tunggu dulu deh Liz, bukannya si Feron udah biasa gak ada di barisan siswa laki-laki kelas kita. Tapi kita gak perlu negatif thinkhing dulu dong, siapa tau dia lagi ada masalah di jalan. Gak mungkin juga dia selalu berurusan ama pak Bino dan guru lainnya. Gua yakin pasti ada masalah lain yang buat si Feron gak ada di sini sekarang" Ujar Fiona menyangkal ucapan Liza yang malah terkejut di cecar dengan pembelaan Fiona yang menggebu.
"Euhhh! Ya santai aja kali Fiong! Lu-nya kok menggebu gitu si?! Santai aja kali, yang kita ghibahin ini Feron loh, Preman SMK 1" Ucap Liza.
"Eh!? Apaan sih lo, mana adanya?! Dan juga, emang kalau dia preman harus gitu kita ghibahin dia yang jelek melulu? Kan ngak harus!" Jawab Fiona langsung membuang muka, enggan untuk memperlihatkan wajahnya yang sudah bersemu merah.
"Tapi beneran Fio, lu ny-"
Fiona langsung menutup mulut Bunga yang ingin mengatakan bahwa ia memang menggebu dalam membela Feron.
"Eits dah! Jadi inget pas lo ngompresin luka tu cowok deh, hehehehe (menyenggol lengan Fiona) iya gak Bung? (melirik Bunga) Waktu itu dia juga ampe kelahi ama Nanda cuma karna sapu tangan dan luka di kening Feron hahahahahahha" Tawa Liza menyindir Fiona dan mengajak Bunga untuk kembali menghibahi Fiona dengan wajahnya yang semakin memerah.
"UDAH CUKUP! GAK USAH BAHAS FERON LAGI!!!!" Emosi Fiona menjerit dan langsung berdiri menunjuk Liza marah.
"Eh?" Gumam pak Yoni selaku ustadz pengisi siraman rohani pada jum'at pagi.
"Ada apa itu ribut-ribut?" Tanya pak Yoni dengan logat Jawanya yang kental.
Fiona yang di perhatikan seluruh siswa siswi termasuk guru sontak langsung malu dan segera jongkok menyembunyikan wajahnya diantara lututnya yang rapat.
Sementara Nanda yang mendengar ucapan Fiona seketika langsung mengeraskan tinjunya dan menggertakkan giginya, entah karna apa dan itu semua tak luput dari pandangan Anwar yang setia memperhatikan Nanda dari barisannya yang hanya berjarak satu siswi.
Nandaaa
Lirih Anwar menatap wajah geram Nanda.
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...TBC ...