All For Dreams

All For Dreams
Nasib buruk



"Gak mungkinkan gua jadi tumbal proyek" Gumam Alfi mengedarkan pandangannya.


Dalam penglihatannya, semua gelap. Bahkan hanya remang cahaya saja yang dapat dilihat oleh Alfi yang kedua tangan dan kakinya terikat kuat di meja operasi.


"Lama-lama ngeri juga disini, keinget game horor Out*lash deh gua kalau kek gini suasananya. Mana kemaren di jumpscare melulu ama tu game ampe kebawa mimpi. Malah sekarang di kasih cuplikan real life ama tuhan lagiiii, Uuuuu kesal ama bibit ketakutan bapak" Celoteh Alfi merasakan penyesalan karna mau saja di ajak Feron bermain game tersebut hingga ia yang memang penakut makin takut.


Drap


Drap


Drap


Drap


"Adegan ini, mirip adegan tokoh utama mau di operasi ama dokter gilaaaaaa" Takut Alfi mulai mencoba peruntungannya menggoyang kaki dan tangan.


"Astagfirullah hal adzim. Ya allah kalau besok gua masih hidup, gua bakal larang Feron main game itu dan suruh dia tobat ke masjid aja" Rutuk Alfi semakin panik.


Gerakan Alfi kian brutal, namun ia tetap berusaha untuk mengetatkan hati dan iman serta takwa kepada pencipta untuk di kuatkan dalam hal ketakutan yang menggila.


Tap!


Darah Alfi seketika meluncur ke kepala. Orang itu telah sampai di depannya dengan pisau dan muka yang tak dapat Alfi tebak siapa gerangan.


"WOY! AS*W SETAN IBLIS BANG*KE DAJJAL TERANOSAURUS SEM*PAK KEPSEK MALIN KUNDANG TANKUBANG PERAHU CICAK MATI DAN CINTA ABADI! NGAPAIN LO DIMARIIIIIIIII" Ucap Alfi cepat tanpa jeda untuk bernafas.


"Bisa gak lo diam?" Tegur suara itu membekap mulut cerewet Alfi.


"Nghhhhhmmmmm!!!!" Jawab Alfi dalam dekapan tangan orang itu.


"Ok, mantap. Sekarang Alfi, gua pengen lo....."


.


.


.


"Kenapa kita bisa ke toko ponsel?" Tanya Feron menatap datar pamplet toko Ponsel.


"Jangan gentar Ron, mari kita introgasi pemiliknya" Balas Regas sok keras dan berjalan lebih dulu.


Tok!!! Tok!!! Tok!!!


"Assalamualaikum ya ahli kubur, Regas datang membawa sesajean, adakah penunggu sudi kiranya untuk datang dan menikmati sesajean para pemuda tampan yang konon telah hamba persiapkan" Ucap Regas tegas.


PLETAK!!!!


Tanpa rasa ampun Theo langsung menjitak kepala Regas hingga sang empunya menatap ke lantai "Lu ngomong apaan si? Makin kesini omongan lu makin ngawur" Komen Theo bersedekap dada.


"Oh iya, tunggu sebentar ne~" Jawab satu suara dari dalam gerai ponsel.


"Eh?" Jawab mereka semua kompak.


"Lulba mulai merasakan aura yang lebih negatif dari pada sinerbolong merah" Latah Lulba memberi informasi.


"Sepertinya gua pengen pergi aj-"


"Jangan Ragas, jawaban yang sudah berada di depan mata sekeras apapun dan semenjijikkan apapun, demi keselamatan Alfi kita semua harus rela" Ucap Feron menahan tangan Ragas yang hendak kabur.


"Tapi ekspresi muka lo mengatakan hal berbeda Ron" Jawab Ragas ikut bermuka seram.


"Adududududuuhhh....... RIHAAAA!!!!! AISH mimpi apa si kika semalam, di datangi brondong" Ucap pemilik toko berjalan manja ke arah pelanggan berondongnya.


"Astagfirullah!!! Hei.. Hei.. Ngapain lo semua berdiri di belakang gua, Oi FERON! MANA TANGGUNG JAWAB LO SEBAGAI KETUA GANK HA!? TUNJUKKAN WIBAWAMU KAWAN" Teriak Regas yang di jadikan tameng oleh rekan se-ganknya.


"Untuk episode kali ini, biar kan mas Regas yang jadi heroik pembasmi kejahatan. Hamba sebagai tokoh utama dengan sukarela menyerahkan jabatan dan berganti profesi menjadi tokoh figuran" Jawab Feron semakin menyembunyikan diri di balik punggung tegap Regas yang sudah bergetar di dekati banci jejadian.


"Eh! Mana bisa gitu oi, Ragas! Lo sebagai adek harus ikut berkorban dong" Racau Regas berharap pertolongan.


"Ogah, anggap aja ini sebagai hukuman ke-ganjenan lo ama para cewek" Balas Ragas ketus bersembunyi di balik punggung Feron.


"Memang biadab, The-" Ucapan Regas terpotong.


"Silahkan kanjeng Regas mengambil tempat" Ucap Theo mengatup kedua tangannya.


"Lul- woy mana LULBA"


'Jika mencari gua, gua berada di dimensi lain. Bancinya terlalu over power untuk gua lihat'


Isi kutipan surat Lulba.


"Se-" Umpatan Regas kembali di potong.


"Adududududuuhhh, ada gerangan apa kesini mas GUANTETETETEEEEENNNNGGGGGG" Ujar sang banci menaik turunkan nada suaranya, dengan bulu mata anti badai yang senantiasa ia kedipkan di depan wajah Regas yang sudah membiru.


"BUWHUEKKKKK!!!!!!"


"Iiiiiiiiiiiiih! REGAS JOROK!" Teriak Theo menatap Regas yang langsung muntah di depan sang banci.


...***...


Kembali ke Alfi.


"Ck... Kenapa lu melakukan semua ini Reyo!? Kenapa?" Tanya Alfi emosi.


"Maafin gua Alfi, tapi gua mohon pengertiannya" Balas Reyo menyuntikkan cairan pada leher Alfi yang terbuka.


"KE*PARAAAAAAATTTT!!!!" Desis Alfi.


Cairan berhasil di suntikan Reyo, dan seketika wajah tegang Alfi langsung tergantikan dengan air muka yang sayu.


"Tenang aja Fi, obat ini gak bakal menyebabkan efek negatif. Lo cuma akan mengikuti keinginan gua untuk beberapa kali, setelah itu biarkan Feron yang mengambil penawarnya buat lo" Suara Reyo memberi tau Alfi yang kesadarannya semakin memudar.


"Kenapa harus Fer.... Onnnn ngh" Ucap Alfi dan akhirnya pingsan di meja operasi.


"Maafin gua sekali lagi Fi, tapi gua terpaksa. Gua yakin suatu saat lo bakal paham"


...***...


Di ruang yang lebih intim berlapis sutra dan warna merah menyala sebagai latar cat ruang tamu sang banci trulala menerima tamu.


Terduduklah sang banci di kursi single, sementara Feron dan Gank rela berhimpit di sofa tiga seater di seberang meja demi menghindari duduk di kursi yang sangat berdekatan dengan sang banci.


"Akika juga gak tau neeee~, kemaren pas Akika lagi bermenung cwantik Akika di datangi oleh seekor berondong tampan nan misterius. Outfitsnya memakai baju serba hitam neeee~ seperti ingin melayat, Akika jadi twakut tapi Akika mencoba berani" Terang Banci tersebut seraya menatap Regas ganjen, ia juga turut menggerling manja Regas yang semakin ingin muntah.


Sementara yang lain, baik Feron dan kawan-kawan malah memakai masker dan kaca mata hitam sebagai alat pembasmi kutu banci. Untuk Regas, ia malah di jadikan tumbal misi, enggan di berikan alat penawar karna sang banci yang keduluan kepincut dengan muka Regas, sampai rela membawa mereka kemari asalkan Regas di dudukkan di antara mereka ( di tengah, sang banci di kiri dan teman-teman gank di kanan, hampir membuat Regas serasa menjadi hakim dadakan dengan perasaan yang bercampur aduk)


"Oh,jadi begitu ya bang-"


BRAK!!!!!!!


"ADEK CANTIIIIIIKKKKKKK!!!!!" Geram sang banci langsung bersuara LAKIK! Menggebrak meja dengan kakinya yang sudah berdiri kokoh di depan wajah Feron yang langsung panas dingin menatap bertapa lebatnya bulu kaki sang banci.


"I-iya Adek cantik, saya salah ngomong tadi. Jadi begitu ya ha- hahahahahahha" Tawa renyah Feron berikan seraya menggaruk kepala yang tak gatal.


"BAGUS" Ucap sang banci kembali duduk.


"Begitulah mas Hiks.... Sebenarnya Akika takut neeee, tapi brondong Twampannya maksa Akika buat beli hp ini" Sambung sang banci menangis palsu dan meletakkan smartphone Alfi yang masih utuh di hadapan Semua gank.


"Smartphone Alfi!" Pekik Theo terkejut.


...***...


"Sekarang tinggal menunggu Feron datang dan memberinya kejutan" Ucap Reyo memandang langit dengan sendu.


.


.


.


"Tuan, silahkan Tehnya" Ucap sang pelayan memberikan secangkir teh pada sang tuan yang duduk tegap memandang langit yang mendung.


"Sepertinya akan hujan" Gumamnya datar seraya menyeruput pelan teh di dalam cangkir porselen nan mahal.


"Kuharap Reyo dapat memanfaatkan kesempatan yang ku berikan dengan baik" Lanjutnya meletakkan kembali cangkir.


Sementara sang pelayan hanya menatap dalam hormat, enggan untuk berkomentar ataupun menyela.


...TBC...