
"Sekarang lo bawa apa?" Tanya Feron layaknya security yang mendapati sindikat komplotan ganja.
"Gua bawa rendang" Jawab Ragas menunjukkan rendang hasil buruannya bersama Reyo sang supir.
"Dan kenapa penampilan lo berantakan kayak gitu?" Tanya Feron lagi mengambil sekotak rendang dari tangan Ragas yang sudah penuh cakaran.
"Ceritanya panjang, gak usah di ceritain. Entar durasi ni Chapter jadi bertambah" Balas Ragas berlalu bersama Reyo yang langsung membopongnya, namun sebelum benar-benar beranjak Ragas melirik Regas yang masih betah mengelus pantatnya.
"Lu gak pulang?" Tanya Ragas.
Regas langsung melirik Ragas malas "Gua masih pen disini melihat perkembangan asmara sahabat gua, lu kalau mau pulang duluan aja. Entar bilang sama Bruno kalau motornya udah gua Service dan bakal diantar kerumah sama mas Rais"
"Ok" Balas Ragas datar.
"Gua cabut dulu Ron, moga sukses ama rencananya"
"Ok" Jawab Feron langsung menata rendang ke tempatnya.
"Lul, nasinya udah?" Tanya Feron melirik Lulba.
"Udah" Balas Lulba.
"Makanan yang lain gimana Theo?" Lanjut Feron melirik Theo.
"Aman Ron" Balas Theo.
"Angkut ke meja pejuang asmara kita" Ucap Feron bersmirk.
...*****...
Alfi menatap datar ganknya yang tentu saja masih ada Feron diantaranya.
"Lu semua kenapa selalu ada dimana pun gua berada sih?" Gumam Alfi menatap makanan di hadapannya.
"Mungkin aja ini takdir Fi, udah syukurin aja. Nikmati acara ngedate lu bareng eneng cantik ini" Jawab Theo.
"Hahhh~ ya udah. Lu pergi sono, gua cuma pen berduaan ama Andin" Perintah Alfi mengusir ganknya.
"Daaaa~ Alfi, moga beruntung ye, muach~" Ucap Regas memberi ciuman angin pada Alfi yang langsung bermuka kusut.
Sementara Andin hanya menatap dengan senyuman, ia tidak habis pikir dengan teman-teman Alfi yang mendukung hubungan mereka hingga sejauh ini, sungguh sangat menakjubkan.
Drrrttt.... Drrrttt.....
"Ya, assalamualaikum ayah" Ucap Andin mengawali telfonnya.
"......."
"Baik ayah, Andin pulang" Andin langsung berwajah murung.
"......"
"Iya ayah, Waalaikumsalam" Ujar Andin menutup telfon dan menatap Alfi penuh penyesalan.
Andin langsung berkemas, ia terlihat panik beridiri dan langsung berucap "Aku minta maaf Fi, kayaknya aku harus pulang sebelum ayah marah, aku pamit ya Assala-"
Alfi langsung meraih tangan Andin hingga sang empunya langsung menatap Alfi syok "Gua antar" Ucap Alfi seraya menggenggam tangan Andin untuk mengikutinya keparkiran.
Sementara itu,
"Kasian banget rendangnya dianggurin" Ucap Lulba mengintip dari balik gerobak dagangan, sementara yang lain malah fokus ingin mengejar Alfi.
"Comot bentaran ah, mu bazir kalau gak dimakan" Sambung Lulba hendak beranjak menuju meja Alfi barusan, namun tarikan pada kerah bajunya memaksa Lulba untuk meninggalkan kenikmatan rendang yang hampir ia capai itu.
"Entar lu bisa makan satu restoran padang setelah ni urusan sukses" Tutur Feron menarik kerah Lulba yang sudah ber-drama tak rela meninggalkan rendang yang belum di jamah sama sekali itu.
...****...
Gang rumah Andin.
"Sampai sini aja Fi" Ucap Andin ingin turun dari motor Alfi.
"Tapi ini masih depan gang rumah kamu Ndin, aku antar dikit lagi ya, biar kaki kamu gak sakit kelamaan jalan" Balas Alfi melirik Andin penuh ke-khawatiran.
Andin diam saja dan menatap Alfi ketakutan.
"Sini aja Fi, aku serius" Balas Andin lagi langsung turun dari motor Alfi dan tergesa berjalan.
Teng.
"Ha?" Andin terkejut dengan suara standar motor itu dan sebuah genggaman tangan hangat yang tiba-tiba menyentuh lengannya.
"Gua paksa buat nganterin lu ampe depan rumah" Suara Alfi serius dan setelah sadar bertapa Andin terkejut dengan sentuhan itu, Alfi seketika langsung melepaskan.
"Maaf" Ujar Alfi
"Gua yang mimpin" Lanjutnya setelah jeda beberapa saat.
Astagfirullah, bagaimana ini? Kalau sampai ayah tau kalau Alfi ngantar aku. Ayah bisa marah besar
Inner hati Andin kalut.
"Alfi, aku serius ampe sini aja. Kamu baiknya pulang sekarang deh, hari juga udah mau malam. Gak baik buat kamu pulang telat" Usaha untuk menyuruh Alfi pulang selalu Andin kerahkan, hingga langkah panjang itu berhenti dan berbalik menatap Andin yang tanpa ada persiapan langsung menubruk dada bidang nan kokoh itu.
"Auch" Gumam Andin yang setelah sadar langsung blushing dan kembali membuat jarak.
"M-maaf" Cicitnya merunduk malu.
"Lo kenapa?" Satu pertanyaan langsung Alfi arahkan pada Andin yang seketika langsung mendongakkan kepalanya menatap Alfi yang lebih tinggi darinya itu.
"I-itu" Ucap Andin bingung.
"Jawab gua dengan serius Ndin, kenapa gua gak boleh antar lu ampe depan rumah?" Tanya Alfi lagi dan hanya dijawab dengan kesunyian oleh Andin yang langsung menunduk setelah menatap mata Alfi yang menunjukkan gurat keseriusan.
"A-aku..." Gumam Andin tidak jelas.
"Hahhhhh~ Gua tau Ndin, kalau orang tua lu gak suka kalau ada laki-laki yang ngajak anak gadisnya jalan, apalagi berduaan kayak gini. Tapi asal lo tau satu hal, gua itu bukanlah lelaki pengejut yang kalau nganter ceweknya cuma ampe depan gangnya doang" Ucap Alfi penuh keseriusan dan kembali berjalan.
Andin terdiam, ucapan Alfi sukses menamparnya. Keseriusan yang dilontarkan Alfi untuknya.....
Benar-benar membuat ku.... Hiks....
Andin tidak ingin larut dan terharu, ia kembali memandang kedepan dan sedikit berlari untuk mengejar Alfi.
Di semak-semak.
"Gentle juga si Alfi, hmmm... Bapak bangga padamu nak" Tiba-tiba suara Regas mengisi keheningan Feron, Lulba, dan Theo yang memandangnya aneh.
"Nunduk lu, entar ketahuan" Perintah Feron langsung menurunkan kepala Regas untuk kembali menunduk.
"Ini lagi, kumis palsu dari mana ini?" Lanjut Feron langsung melepas kumis palsu itu cepat dari muka Regas yang langsung ingin mengaduh namun didekap oleh Theo.
"Diam gas, lu bisa menghancurkan rencana yang sudah kita persiapkan matang-matang ini" Komen Theo membekap mulut itu kuat, hampir membuat Regas bertemu tuhan.
"Mmmmppphhhh!" Balas Regas.
"Ok, sekarang lu tenang. Jangan banyak drama, PDKT Alfi harus sukses. Gua pengen tu anak gak deketin janda lagi" Terang Theo berapi.
"Heh!" Cemooh Feron melirik Theo dengan smirk mengejek.
Jdak!
"Sok puitis lu, lagian yang dekatin tu janda bukan Alfi, tapi lu ama Lulba. Ingat itu nying" Sanggah Feron menampar kepala Theo tanpa beban.
"Woy asw, ni kepala di akikah ya, enak aja lu pukul" Protes Theo tak terima kepala tampannya di tampar Feron.
"Diam ae lu kardus, itu si Alfi ama calonnya dah ampe depan rumah, mari kita perdekat area pengintaian kita" Ucap Lulba kembali mengendap dan diikuti yang lain.
...****...
Tok..
Tok....
"Assala-"
Cklek!
Pintu langsung di buka oleh ayah Andin yang menatap Alfi mengintimidasi.
"Andin, masuk kedalam sekarang" Perintah sang ayah tegas melirik ke arah sang anak yang langsung patuh.
"Baik ayah" Jawab Andin menunduk dan masuk.
Setelah Andin pergi, sang ayah langsung menatap Alfi yang kembali menatapnya.
"Silahkan duduk" Perintah ayah Andin duduk terlebih dulu di kursi tamu di teras depan rumah.
Alfi patuh dan mengambil duduk di kursi kosong tepat bersebelahan dengan ayah Andin.
"Jadi sudah berapa lama?" Tanya sang ayah langsung tanpa berbasa basi.
"Sudah apa om?" Tanya Alfi kembali dengan sopan.
"Sudah berapa lama kamu mendekati putri saya?" Ujar sang ayah memperjelas pertanyaannya pada Alfi yang langsung mengepalkan tangan.
"Hmmm... Haaahhhh~" Alfi mencoba mengambil nafas dan langsung menjawab "Sudah hampir 6 tahun saya menyimpan rasa dan baru beberapa bulan ini kembali mendekati anak om untuk saling lebih mengenal karna Andin yang masuk pesantren om. Dan juga baru beberapa waktu ini mendapatkan peluang untuk kembali berjumpa" Jawab Alfi.
"Enam Tahun? Jadi kamu...."
"Saya teman SD anak om. Dan juga saya minta maaf karna tidak sopan" Alfi langsung menjulurkan tangannya.
"Saya Alfin Muhammad hasqi, sesosok lelaki yang akan menjadi imam Andin cahaya kusuma kelak" Ucap Alfi mantap.
Di semak-semak
"Pd sekali dia" Celetuk Feron, Lulba, Regas dan Theo.
"Dan biar gua tebak, pasti si bapak bilang gini 'Punya apa kamu buat membahagiakan anak saya' taruhan 100 ribu pasti dibilang kek gitu" Ucap Lulba yakin.
Kembali ke teras rumah
"Sudah hapal berapa juz al-Qur'an kamu?" Tanya sang ayah menatap tajam Alfi setelah bersalaman.
"?"
Di semak-semak
Semua menatap Lulba yang senyumnya langsung luntur.
"100 Ribu Lul, lu salah tebak" Ucap Regas kembali memandang kearah Alfi.
Kembali pada Alfi.
"Sudah tahukah kamu pondasi agama kita?" Tanya sang ayah kembali sedikit mendekatkan wajahnya pada Alfi yang diam membatu.
"Sholat sudah benar? Panjang pendek ayat Al-qur'an sudah benar? Qolqolahnya gimana? Adabnya? Iman?"
Alfi langsung mengkhayal jauh, kembali mengingat masa-masa ia beribadah bersama Feron dan yang lain, dan isinya kebanyakan bergurau dan tidak serius. Apalagi saat Alfi sholat dan Feron yang menunggunya, saat itu Feron mencoba melucu di ikuti Nanda yang duduk mendengarkan, dan ada satu hal yang berhasil membuat iman Alfi goyah dan malah tertawa terbahak-bahak padahal rakaat sholatnya tinggal satu.
Kembali kekenyataan. Alfi menatap ayah Andin yang sudah berada tepat di depan Alfi.
"Huaaaa!!!!" Teriak Alfi langsung terjatuh dari kursi.
"Hmph! Jawaban sudah terlihat jelas dari ekspresi wajahmu yang pucat itu" Ayah Andin berdiri. "Perbaiki dulu agamamu, dan baru dekati anak saya" Ujar ayah Andin berjalan pergi.
"Oh iya, dalam islam tidak ada yang namanya pacaran. Yang ada hanya taaruf" Akhir Ucapan ayah Andin dan masuk kedalam rumah.
Alfi yang masih terduduk di teras hanya dapat menatap ayah Andin dalam diam.
"Agama, Taaruf?" Gumam Alfi berdiri dan membersihkan pakaiannya dari debu.
"Oh iya, assalamualaikum om, saya pamit. Titip salam untuk tante sama Andin" Ucap Alfi berlalu.
Dari jendela kamar, Andin mengintip dengan gurat khawatir.
"Waalaikumsalam, Alfi" Balas Andin menatap kepergian Alfi hingga tak terlihat lagi.
...****...
Alfi beralih berjalan seraya berpikir menunduk. Dan tanpa ia sadari setelah mencapai motornya, ia melihat Feron, Regas, Theo, dan Lulba yang sudah menunggunya di sana.
Feron yang bersandar pada motor, Regas yang duduk di atas motor, Lulba yang jongkok, dan Theo yang berdiri berkacak pinggang.
"Teman-teman" Ucap Alfi tanpa sadar berlinang air mata.
"Yoo~ pejuang taaruf" Balas Feron bangkit dan langsung merangkul sang sahabat.
"Godain eneng dong bang~" Tiba-tiba suara banci Lulba berhasil membuat emosi Alfi langsung terpancing.
Jdag!
"Auchhhh..." Rintih Lulba dan dibalas tawa oleh yang lainnya.
"Mari kami bantu lo buat mencapai titik itu Fi" Ucap Feron menunjuk dada Alfi bersusaha memberikan rasa semangat.
Dan dijawab Alfi dengan senyum disertai anggukan menatap semuanya yang langsung merangkul satu sama lain.
...TBC...
.......
.......
.......
.......
.......
Dibalik berkumpulnya Feron, Theo, Lulba, Regas.
"Makasih, dah. Cabut lu cepat" Balas Alfi tidak ikhlas mengucapkan terima kasih dan malah mengisyaratkan tangannya untuk menyuruh Feron pergi dari tempat ini.
Awas ae lo, ini cuma karna Andin ada di mari, kalau gak udah tepar lu gua bacok.
Geram hati Feron beranjak pergi dari tempat itu dengan hentakan kaki kesalnya mengiringi.
Setelah cukup jauh dari lokasi.
Feron langsung kembali melirik kebelakang, dan sedikit menyunggingkan senyum.
"Heh, Al-"
"Feron!!!!" Teriak suara Regas yang berhasil membuat atensi Feron ter-arah padanya.
"Regas!?"
"Hmph! Hadir dan selalu tampan" Jawab Regas sok eksis.
"Ngapain lo dimari?" Tanya Feron menyelidik.
"Seharusnya itu kalimat gua Ron, ngapain lo dimari?" Ucap Regas kembali bertanya pada Feron.
"Jawab gua dulu nying" Balas Feron mulai garang.
"Ups... Ok deh. Gua biasa car-"
"Cari kembang baru, biasalah kalau tiga mah masih kurang bagi baginda playboy Regas Brahma" Jawab Lulba dan Theo menghampiri Feron dan Regas yang langsung berwajah jutek.
"Apaan si lo Lul, ngasal aja. Gimana kalau ada cewek yang dengar? Bisa-bisa reputasi gua hancur" Komen Regas tak terima.
"Eleh, sok ngambekan lu" Balas Theo menampar muka masam Regas.
" Mau berantem ya lo!!! " Marah Regas hendak membalas namun ditahan oleh Feron.
" Dari pada lu berantem, mending bantuin gua buat suksesin perbuatan Alfi" Ucap Feron melirik kebelakang.
"APA!?" Tanya mereka bertiga kompak.
"Sorry Ron tapi gua ama Theo cuma pen jalan-jalan sore do-" Ucapan Lulba seketika terputus melihat lirikan tajam Feron yang siap menyayatnya.
"Siap bos!" Ucap Lulba cepat.
Dan itulah rencananya, Regas berpura-pura jadi pengamen, Lulba jadi pelayan, Theo security keadaan, hitung-hitung mengusir pelayan lain yang ingin menawarkan dagangannya pada Alfi dan Andin.
Sementara Feron, duduk melihat keadaan.