
Pagi yang cerah bagi Alfi yang terlambat bangun. Setidaknya ucapan itu lebih baik daripada melihat nuansa Alfi yang sedang tidak bersahaja di WC guru bersama pak Puad.
"Hmmm! Tumben sekali kamu main tunggal Alfi" Ujar Pak Puad mondar mandir di belakang Alfi yang tengah menyikat lantai WC guru.
"Pengen main solo aja pak, bosan main berame trus" Jawab Alfi seadanya seraya tangannya aktif menyikat permukaan lantai yang kotor.
Srekk
Srekk
Srekk
*10 menit kemudian*
"Bosan juga lama-lama disini" Gumam Pak Puad menatap langit dengan pandangan hampa.
Zrassshhh
Ia mengalihkan atensinya pada Alfi yang tengah berjalan keluar dari WC dengan membawa dua ember air kotor bekas ke selokan terdekat.
"Akhirnya selesai juga" Ucap Alfi menatap selokan dengan binar senang, sementara pak Puad hanya menatap penuh bosan.
"Baiklah, sekarang kembali kekelasmu dan belajarlah" Perintah pak Puad berlalu pergi begitu saja.
"Hahh... Selamat kembali ke pelajaran yang membosankan Alfi" Gumam Alfi menyemangati diri walau dengan helaan nafas gusar.
.... ...
.... ...
.... ...
Sudah hampir satu jam Nanda memperhatikan Feron yang selalu menghela nafas dan mengumpat tidak jelas. Buku tulisnya juga hampir semua tertulis coretan kalimat hinaan entah untuk siapa dan Nanda yang sudah jengah berakhir menampar Feron hingga kepalanya hampir saja oleng 270° kalau saja tidak ditahan oleh bunga.
"Ouch" Reflek Bunga berucap memandang Feron dan Nanda.
"Lu kenapa si? Dikit-dikit garuk kepala, dikit-dikit senyum dikit-dikit nangis, kayak kerasukan lo nying" Judes Nanda.
"Adududududuh.. Sakit an*ying" Umpat Feron berusaha kembali ke posisi awal.
"Rasain" Ucap Nanda nyolot.
"Dasar kejam, kalau lo bersikap kayak gini gua yakin lo bakal jadi perawan tua seumur hidup, gak bakal ada lelaki yang mau deketin apalagi memper-istri lo kalau lu kasar gini, au au au au sakit banget dah" Petuah Feron mengusap-usap pipinya yang sudah bengkak sebelah.
"Kan masih ada lo sama Alfi" Balas Nanda berkacak pinggang.
"Sorry Nan, gua udah punya Andin di hati gua dan gak bakal tergantikan oleh pinyik manapun" Imbuh Alfi tiba-tiba sudah duduk nyaman didepan Feron yang hanya menatap Alfi datar sementara Nanda sudah terjungkal dari kursinya.
"Anjai lu Alfi, astaga untung gua gak pingsan" Ucap Nanda memegang dada.
Feron dan Alfi hanya saling memandang, agak heran melihat Nanda yang bersikap aneh ini.
"Lu ada masalah ya?" Tiba-tiba satu suara lainnya muncul dibelakang Nanda dan mengusap kening Nanda pelan.
"Huaaaaaaa!!!" Teriak Nanda langsung berbalik badan.
"Elu!? Ngapain dimari?" Tanya Nanda.
"Serah gua lah, orang juga mau ketemu temen sendiri masa laporan dulu ama lu" Balas suara itu, Regas mengambil duduk didepan meja Nanda tanpa permisi.
"Anjai bener ada tamu yang gak diundang tiba-tiba nongki di mari" Sewot Nanda melipat tangan di dada.
"Urusan gua cuma ama Feron ama Alfi" Lanjut Regas melirik Feron serius.
"Apa?" Tanya Feron ikut menatap Regas serius.
"Lu kontakan ama Afni ya?" Tanya Regas.
"Bukan urusan lo" Balas Feron membuang muka.
Alfi menatap Regas penuh selidik.
"Gua tau ini dari Bruno" Ucap Regas menatap Alfi memberi jawaban.
"Feron, sebaiknya lo gak usah deketin Afni" Saran suara lainnya datang.
Feron, Regas, dan Alfi langsung memandang tajam ke ambang pintu.
"Santai-santai bang, gua gak pengen kelahi kali ini" Ucap Bruno mengangkat kedua tangannya seraya berjalan mendekat kearah meja Feron.
"Lu ngapain dimari ha?! Mau gua laporin pak Ibram ya lu?!" Bentak Adam menghalangi jalan Bruno.
Bruno menatap Adam tidak suka, namun semua hal yang membuatnya geram ia tahan. Kali ini Bruno hanya ingin main aman saja.
"Maaf menggagu lo, tapi ini urusan kami dan bukan urusan lo jadi gua tegasin buat lu supaya menyingkir dan tutup mulut dulu sampe gua selesai nyampein informasi penting" Ucap Bruno berjalan kembali.
Bruno berdiri, ia memandang sekitar. Semua siswa 11 DPIB memandangnya penuh aura musuh, namun Bruno mencoba acuh dan beralih mengambil kursi guru untuk ia seret ke meja Feron.
Bruno duduk, memandang Feron, Alfi, Regas, dan juga Nanda yang nimbrung ingin mendengarkan.
"Apakah cerita ini baik untuk seorang gadis seperti lo?" Smirk Bruno memandang Nanda dengan tangan yang menopang pipi penuh pesona hingga membuat Nanda merona.
"A-apa maksud lo? Selagi pembicaraannya masih normal kenapa gua ngak boleh mendengar, lagian juga tempat duduk gua disini, di sebelah Feron" Tunjuk Nanda pada Feron yang langsung tersenyum.
"Ya sudahlah, tapi kalau gua cerita bagaimana mimpi basah apa lo masih mau mendengar?" Tanya Bruno.
"S-Se-selagi masih batas normal Bruno! Batas normal!" Kukuh Nanda.
"Woke" Balas Bruno.
Semua mulai mendengar...
"Kau tau tidak, saat gua memimpikan...." Ucap Bruno, semua pria dilingkaran meja sontak mendekat, berusaha mendengar lebih.
"Benar Bruno, gua juga sama waktu itu sewaktu....." Sambung Alfi mulai ikut kedalam pembicaraan.
Hingga 2 menit kemudian..
........
"APA-APAAN PEMBICARAAN KALIAN HA!!? ASTAGA LEBIH BAIK GUA PERGI AJA" Teriak Nanda berlalu.
Mereka berempat langsung memandang kepergian Nanda dengan senyum miring.
"Dadah" Gumam Bruno mulai bermuka serius dan kembali memandang Feron, Alfi, dan Regas.
"Menyebalkan membicarakan ini, namun lo harus tau Fer, kalau Afni itu sakit" Ucap Bruno.
...TBC ...