All For Dreams

All For Dreams
HUT menyebalkan



"Dan itulah peserta terakhir kita, berikan tepuk tangan yang meriah, yeeeeee!!!"


Plok!!!


Plok!!!


Plokk!!!


Riuh tepuk tangan mengantarkan sang juri yang begitu ceria membawakan acara.


Sementara itu di sudut ruang perpus.


"Gak bisa, gua ngancurin semuanya. Gua penghancur..... Gua beban tim.... Gua perusak barisan.... Gua badut" Racau Feron dengan aura gelap melingkupi dirinya yang tengah pundung di bawah pohon besar nan rindang di belakang ruang perpustakaan.


"Udahlah Ron, lu kayak laki kehilangan bini. Pake acara penyesalan diri segala. Kalah menang biasa kok" Tegur Nanda mencoba menyemangati.


"Tapi Nan.... Gua merusak semuanya gua merasa seperti pria culun yang tak bisa melakukan apapun, bahkan Buk Rini aja ampe pukul-pukul meja juri sanking ketawanya liat kita jatuh kayak truk molen" Ujar Feron semakin pundung.


"Haish! Memang kalau kawan sebijik ni memang harus di kasih semangat berbeda dari Yang lain" Gumam Nanda langsung berjalan dan menghampiri Feron yang semakin mengapit diri di pohon besar.


"Ayok berdiri!" Geram Nanda melingkarkan tangannya pada perut Feron dan mengangkatnya.


Feron dalam rasa kegundahan hati menolak itikat baik Nanda dengan tangan yang semakin erat memeluk pohon tersebut, enggan untuk berdiri ataupun sekedar menaikkan bokong dari tanah.


"Tidak Nanda! Lepaskan aku, aku hanya akan membuat malu semuanya" Teriak Feron dramatis dengan bahasa bakunya.


"Jijik As*w!" Rutuk Nanda memandang jijik Feron.


Di kejauhan.


"Kenapa tu orang?" Tanya seorang siswi pada temannya.


"Gak tau, mungkin KDRT" Jawab temannya santai seraya menjilat es krim rasa Mangganya.


Kembali ke Feron dan Nanda.


"Gak usah drama dah lu Fer, kita jadi pusat perhatian ni" Ucap Nanda menatap sekitar penuh khawatir.


"Ish! Cepatlah lu ah!" Geram Nanda kembali berusaha mengangkat Feron yang setia menempel di pohon layaknya tumbuhan parasit.


Tap


Tap


Tap


"Loh, kenapa Nan?"


"Eh, pak Ryou. Ini ni pak, si Feron malah ber-drama di saat yang tidak tepat" Ujar Nanda menunjuk Feron yang masih asyik menempel pada batang pohon.


Ryou hanya dapat menggeleng kepala melihat kelakuan satu anaknya yang begitu absurb ini, dan memilih untuk memutar bola matanya malas, sedikit menghela nafas dan mengangkat kedua lengan bajunya bergantian.


"Bapak tidak akan basa basi, Minggir sebentar Nan" Ucap Ryou mendekati Feron dan langsung membopongnya layaknya karung beras.


"HWAAAAAAA!!!!" Feron berteriak nyaring di atas pundak Ryou yang hanya dapat berekspresi kecut mendengar teriakan sang murid nan memekakkan telinganya.


Bodo, anggap aja lagi latian nyanyi


Isi hati Ryou mencoba tegar dan membawa Feron untuk kembali ke kerumunan untuk mengikuti kegiatan HUT selanjutnya.


"Udah, duduk yang rapi disini" Ujar Ryou duduk di sebelah kiri Feron yang hanya dapat megap-megap seperti ikan kekurangan air.


"Jangan lebay ah Ron" Tegur Nanda ikut duduk di sebelah Kanan Feron, kini Ryou dan Nanda resmi mengapit Feron agar tak kabur dari tempat ini.


Ini semua aku/gua lakukan karna perintah kepsek yang menyuruh untuk mengawasi Feron agar tidak lepas dari pandangan.


Isi hati Ryou dan Nanda kompak menatap kearah berlawanan dari Feron yang menatap lurus ke depan.


"Berikutnya adalah penilaian hasil fotografi beserta video singkat mengenai 'Jiwa muda yang berprestasi', untuk sesi video singkat telah di nilai dua hari yang lalu karna video yang harus di upload ke youtube serta memberikan hastage SMK BISA SMK HEBAT 1,telah secara sungguh-sungguh di lihat dan di perbincangkan secara musyawarah mufakat, serta penilaian ini akan menjadi dua tahap, pertama adalah pemilihan juara untuk fotografi dan yang kedua adalah juara untuk video singkat. Baiklah tanpa berlama-lama mari kita menuju ke sesi penilaian fotografi yang akan dimulai dari kelompok MM 1" Ucap sang host menunjuk kelompok MM 1 yang terdiri dari 3 adik kelas Alfi.


Mereka bertiga melambai tangan ceria ke hadapan semua penonton, baik yang mendukung maupun yang hanya sekedar ingin menonton.


"Berikutnya adalah kelompok TKJ 2" Lanjut host.


"Theo, ngapain tu orang sok-sokan ikut lomba begini?" Gumam Feron meremehkan Theo yang langsung melambai ceria pada Feron yang sudah berekspresi absrub.


"cukup ber-irama" Ujar pak Jimi memperhatikan gambar yang di suguhkan TKJ 1.


"Tunggu, tapi kenapa terlihat seperti potongan gambar?" Gumam Feron bertanya.


"Hmmm... Hmmmm...." Gumam pak Ibram mangut-mangut, antara paham dengan makna foto dan tidak.


"Cukup tidak di pahami" Ucap pak Ibram lanjut berjalan ke peserta berikutnya.


Sontak saja ucapan pak Ibram berhasil membuat senyum ceria Theo langsung pecah dan tergantikan aura gelap.


"The sabar The, penilaian tak selamanya indah" Ucap tim Theo memberikan semangat.


Penilaian trus berlanjut, dan aura pertarungan antar tim juga semakin terasa. Sementara untuk kelompok terakhir, kelompok Alfi sepertinya mengalami kendala, karena.....


"Dimana Alfi???" Tanya Dina kalang kabut.


"Gua gak tau Din, udah gua telfon berkali-kali tapi selalu di riject. Gua jadi ikut cemas ni" Jawab Radit terus berusaha menelfon Alfi yang tak kunjung menjawab bahkan sudah beratus chat Radit dan Dina kirimkan namun hanya ceklis dua yang terpapar di layar kedua smartphone siswa tersebut, bahkan Radit sampai berfikir apakah Alfi sengaja mematikan notif centang biru agar menjadi surprise bagi mereka berdua yang sudah kelimpungan menanti ajal ini?


Dua gambar telah secara rapi Dina dan Radit keluarkan, namun gambar yang mereka gadang-gadang dari Alfi belum juga datang bersama orangnya.


Dina dan Radit khawatir jika Alfi tidak akan hadir karna ia yang masuk rumah sakit itu.


"Ron, Alfi beneran gak bisa pergi ya?" Tanya Nanda melihat kepanikan teman se tim Alfi.


"Lu liat aja" Jawab Feron tersenyum bangga seraya bersedekap dada.


"Gua juga udah ngeliat dari tadi b*go! Lama-lama nyebelin juga ngomong ama lu" Butuk Nanda merajuk.


"Hmmm!!" Gumam Feron tak memperdulikan Nanda yang sudah kesal dengan jawaban anehnya.


"Berikutnya adalah peserta terakhir kita, kelompok MM 2!!!!! Adeeeehh!!? Kenapa terlihat ganjil" Ucap sang host memperhatikan Dina dan Radit yang hanya dapat tersenyum canggung.


"Itu, anu?? Nghhhh... Buk Fera, mohon tunggu sebentar kami ingin nelfon dulu ya hehehehe...." Ucap Dina tersenyum kikuk dengan tangan yang cepat memukul Radit mengisyaratkan untuk segera menelfon Alfi.


"Iya iya, jangan pukul ah!" Jawab Radit berlalu ke belakang panggung.


Drrrrttt...


Drrrtt....


"Angkat dong Fi, kita sekarat ni" Gumam Radit cemas dan ketakutan. Hatinya sudah ketar-ketir takut di diskualifikasi karna kekurangan peserta.


Drrrrttt....


Drrrrttt...


Tap!!


Tap!!!!


Treeeeeenngggggggg!!!!!!!


Treeeenggggg!!!


"Ha?!" Radit langsung berbalik mendengar notifikasi ringstons yang sangat ia kenal itu.


Tak!


"Sorry gaes, ada sedikit kendala selama gua kesini. Hehehehe" Ucap Alfi meletakkan foto ketiga mereka di antara foto Dina dan Radit.


"Here we go" Sambung Alfi memberikan senyum bangganya dalam muka yang berbalut perban sana sini.


...TBC ...