All For Dreams

All For Dreams
Theo Story end (Tawuran pertama)



Di bengkel TP.


"Meskipun ini terdengar gak masuk akal, tapi gua pengen lo semua mulai dari sekarang belajar masalah ilmu ekonomi" Tegas Bang Darjot mengasah pedang buatannya.


"Hah? Kenap bang?" Tanya gua ngak paham sama sekali.


"Hadeuh~ lu waktu di rumah ngapain si? Gak baca berita terkini ya?" Tanya bang Darjot menghentikan asahannya dan menatap gua serius.


"Emang ada apa bang?" Tanya gua bingung.


Bang Darjot langsung menyatukan kedua alisnya kesal "Ck! Farmasi SMA 2, satu bulan yang lalu saat di adakan HUT SMK, kita mengalami bentrok dengan SMA 2," Terang bang Darjot mulai bercerita.


Ia kemudian melabuhkan pandangannya pada plafond "Insiden ini di picu hanya karna hal sepele namun berujung anarkis" Lanjutnya.


"Anarkis kenapa bang?" Kini Ragas bertanya.


"Awalnya saling ejek karna kita yang pawai untuk menyemarakkan hari jadi SMK, yang di mulai dengan jalan santai ke lapangan pelajar yang melewati SMA 2. Saat itu pula mereka tengah mengadakan kegiatan belajar di luar ruangan, dan terjadilah-"


"Aksi itu, aksi dimana mereka membuang sisa makanan dan minuman pada arak-arahkan SMK 1 yang melintas. Oh~ gua masih ingat bekas benjolan di keningku itu. Bahkan masih gua rasakan bekas ya hingga saat ini" Potong bang Tomi menjelaskan.


"Ekhem!" Bang Iwan langsung berdehem memberikan isyarat pada bang Tomi untuk berhenti mengintrupsi Darjot.


"Sudah tau temannya tensi, masih saja di serobot ucapannya" Gumam bang Tomi merutuk.


"Ya, jadi intinya perang gank kali ini di sponsori oleh dendam baku hantam karna Darjot berhasil menendang masa depan sang ketua gank itu, heh!" Bang Jamet langsung melirik Darjot yang hanya menatapnya datar.


"Dan satu hal lagi, apakah kalian mendengar isu kalau kaca kelas SMA 2 pecah? Itu semua perbuatan abang lo" Ucap bang Jimi bangga.


"Gak ada yang tertarik sama cerita lu Jimi" Ucap bang Iwan memukul punggung bang Jimi.


"Berikutnya kita bakar SMA 2 yang telah berani mengatakan SMK 1 adalah sekolah buangan" Perintah bang Darjot dendam.


"Siapkan diri kalian, bawa peralatan yang sekiranya berguna. Kita akan mengadakan serangan kejutan" Ucap bang Darjot memberi arahan.


Di sudut ruangan.


"Harus saya adukan pada kepala sekolah"


Someone POV


SMA 2


"Lu semua tau kan kalau tawuran kali ini akan membawa nama baik sekolah kita sebagai musuh utama SMK 1 nan terbuang itu. Jadi gua tegasin sama kalian bawa peralatan, kalau perlu senjata rakitan. Kita akan memulainya sebelum mereka sadar" Smirk pemuda itu memberikan arahan.


"Bruno, lu bawa apa?" Tanya teman di samping pemuda itu.


"Pisau lipat aja dah cukup" Balas Bruno menunjukkan pisau lipat.


"Wow! Keren sekali, bahkan ada ukiran ularnya" Kagum pemuda di sebelah Bruno, meraba pisau lipat.


"Hmph! Benarkah sekeren itu?"


Someone POV End


"Untuk hari ini, pelajaran akan di alihkan ke Bengkel, semua siswa/i tidak boleh keluar ataupun izin dari SMK 1. Pagar ditutup, penjagaan di perketat" Perintah kepala sekolah pada seluruh guru/staff/i.


"BAIK PAK!!!" Jawab semua guru dan staff/i patuh.


"Dan kamu Ibram, tetap awasi mereka"


"Baik pak"


Lusa, Hari tawuran.


Bengkel TP.


"Ada apa ini?" Tanya bang Darjot mengedarkan pandangan.


"Jamet"


"Gua gak tau Jot, sepertinya ada yang ngak beres" Balas bang Jamet melirik pak Tono selaku Kajur TP.


"Baiklah, untuk hari ini bapak akan mengambil alih pelajaran, semua harus serius dan kumpulkan semua smartphone kalian di wadah yang telah bapak sediakan di meja bapak" Tunjuk Pak Tono pada sebuah keranjang di atas meja guru.


Jamet langsung melirik bang Darjot begitupun sebaliknya.


"Sepertinya siasat kita tercium" Gumam bang Darjot menatap tajam Pak Tono yang mencoba bersikap tenang di perhatikan dengan tatapan membunuh oleh sang murid berandalan.


Tenang Tono, bersikap natural saja.


Inner pak Tono sudah ketar ketir.


Someone POV


14.59 WIB.


SMA 2, Aula.


"Apa jangan-jangan mereka menyerah dan mengaku kalah?" Tanya seorang bawahan.


"Entahlah, tapi ini aneh. Padahal gua udah gak sabar buat adu jotos ama Darjot lagi" Balas pemuda itu melihat kepalan tangannya nan berurat.


Someone POV End


SMK 1


"Ada apa ini?" Gumam bang Darjot menatap pintu keluar yang berdiri 5 anggota Passus beserta Agung yang menatapnya serius.


"Biar gua coba keluar Jot" Ucap bang Jamet berdiri dari bangkunya.


"Pak, saya izin" Ucap Jamet yang langsung di setujui pak Tono.


Tap.. Tap...


Tap!Tap!tap!


Gua di buntuti.


Inner bang Jamet melirik arah belakang.


"Sepertinya permainan kucing-kucingan akan seru" Gumam Bang Jamet menampilkan senyum licik.


"Hadeuhhhh, kapan si kita di panggil. Udah jam 3 masih aja di mari" Gumam gua berceloteh.


Pelajarannya juga ngebosenin.


Inner gua menatap malas ke jendela luar dan langsung menangkap siluet seseorang yang juga menjadi isi pikiran gua.


Bang Jamet! Ngapain lari?


Gua langsung berdiri dari kursi hingga membuat semua teman-teman beserta guru memperhatikan gua.


"Eng... Maaf buk, saya izin keluar" Ucap gua cepat dan berlalu begitu saja.


"Bang Jamet, lo di ma-"


Bruk!!!


Seketika gua dan orang itu tersungkur ke lantai, kepala gua pusing karna berbenturan cukup keras.


"Uuuu... Sakit bat dah" Rengek suara itu.


"Eh, Theo. Ngapain lo di lorong TGB?"


Gua yang sadar langsung menatap orang tersebut.


"Eh, Feron. Ini gua lagi buntuti bang Jamet, kayaknya dia dalam masalah" Ujar gua berdiri.


"Masalah? Apa ada hubungannya dengan perintah tawuran?" Tanya Feron lagi.


"Kayaknya iya deh Ron, baik kita susul sebelum jejak bang Jamet hilang" Ucap gua kembali mengejar bang Jamet.


"HAH!!! Hah!!! Mother fuch*er, rupanya bener. Mereka pen ngehalangi kami buat tawuran" Gumam bang Jamet bersembunyi di balik dinding kelas TKJ 1.


"Bede*bah! Awas aja kalian, sebelum kesana gua bakal pemanasan pake samsak hidup" Lanjut bang Jamet melirik keluar.


Disana ia dapat melihat anggota Passus yang sibuk mencari keberadaannya.


Timing yang tepat.


"Dimana dia!?" Tanya anggota Passus melirik kiri kanan, hingga saat ia mencoba untuk melirik ke belakang.


Bugh!


"Satu beres" Gumam bang Jamet langsung berlari pergi.


"Radit, cepat kumpulkan tugas kamu kedepan" Perintah pak Tono dari mejanya.


"Baik pak" Balas bang Darjot berjalan kedepan dengan kertas jawabannya dan bang Jamet yang sudah ia isi sebelumnya.


"Terima kasih" Balas pak Tono menerima kertas jawaban bang Darjot.


Saat berbalik, tak sengaja Darjot melihat Jamet yang melambai dari luar, mengisyaratkan bang Darjot untuk keluar.


Bang Darjot menatap pak Tono yang sedang asyik memeriksa tugas, dan beberapa teman se-gank yang menatapnya.


Bang Darjot langsung mengambil kesempatan, mengisyaratkan anggota yang bersamanya untuk mengendap keluar.


Sesampainya di luar.


"Jot, rencana kita rupanya sudah di ketahui. Pak Tono sengaja masuk supaya membuat kita sibuk dan gak jadi tawuran" Terang bang Jamet pada bang Darjot yang langsung bermuka kesal.


"Ck! Apa mereka tidak tau konsekuensinya jika menahan kita disini" Sinis bang Darjot menatap bengkel TP.


"Tidak bis-"


"HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!"


"Apa itu?" Tanya bang Jamet langsung menatap ke arah pagar.


Brugh!!!


Trank!!!


Prank!!!


"?"


"Bang Jamet, bang Darjot. Tunggu sebentar bang!!!"


Bang Darjot dan bang Jamet yang hendak berlalu langsung menatap ke arah suara.


"Theo, Feron. Ada apa?" Tanya bang Darjot menatap serius.


"Ki-hahahahah ta!!!" Ucap Gua tersendat.


"Kita apa?" Tanya bang Jamet meninggikan suaranya.


"KETUA!!! KITA DISERANG!!! MEREKA DISINI!!!!" Teriak Tomi dan semua gank berlari ke arah kami.


"Apa?!" Teriak bang Darjot dan bang Jamet tak percaya.


"Ini di luar ekspetasi Jot, mereka langsung menghampiri kita" Imbuh suara Iwan menghisap rokoknya frustasi.


"Mana persiapan kita belum matang gara-gara guru menahan kita lagi!" Ucap bang Tomi bermuka kesal.


"Ini sudah kacau" Lirih bang Darjot mengepalkan tangannya.


"Oiiiiiiiiii DARJOT, KELUAR LU. GUA GAK TERIMA LU LANGSUNG KALAH GITU AJA. SETIDAKNYA LU HARUS CIUM SEPATU GUA SEBELUM NGAKU KALAH!!!!" Teriak suara toa menyapa indra pendengaran kami semua.


"KELUAR LU SEBELUM GUA ANCURIN SEKOLAH INI!!!" Lanjut suara itu di sertai teriakan suara lainnya.


Prank!!!


Prank!!!


BUGH!!!


"SEMUANYA LARI KETEMPAT YANG AMAN! ADA TAWURAN CEPAT CARI TEMPAT AMAN!!!" Teriak pak Ibram berlari melewati bang Darjot yang terdiam kaku di tempat.


"HWAAAAAAAAAA!!!!!" Teriak suara siswa/i berlari keluar.


Suasana benar-benar kacau.


"SEMUANYA!!!!" Semua menatap bang Darjot dengan ekspresi tegang.


"BERSIAP TAWURAN!!!!!!!!!!!!" Teriaknya dengan air muka keruh.


Kenapa? Kenapa ini semua harus terjadi?


Zrashhhhh!!!


"Hahahahahahahahahhahahahah!!!! Bagus BRUNO BAGUS, TIKAMAN YANG TEPAT" Teriak suara itu bangga pada hasil kerja keras anak buahnya.


"Uhuk!!" Bang Darjot sudah terkulai lemas, bahkan ia sudah memuntahkan banyak darah sedari tadi.


Slapppp!!!


"Dada bang Darjooootttt.... Aaaaaaaaa" Gumam gua tidak ingin menganggap ini nyata.


Bruk!!!


KRAAAKKK!!!


Zlap!!!


Dan disana lah gua baru sadar kalau dunia gank itu gelap


"Bang DARJOT!!!!!!" Teriak gua lagi seraya menggapai bang Darjot, namun yang gua bisa gapai hanyalah angin kosong.


"Kenapa abang tidak lari?" Lirih Feron mencoba menahan darah yang hampir keluar dari mulutnya.


"Karna gua tau hidup gua setelah ini gak bakal ada masa depan" Jawab bang Darjot menatap tangan kanannya yang telah terpisah dari tubuh tegap itu.


"Tapi kenapa milih nyelamatin gua kalau bang Darjot bisa pergi" Ucap Feron melirik bang Darjot yang ikut terlentang di sampingnya.


Bang Darjot memiringkan pandangannya pada Feron.


Bang Darjot hanya diam, pandangannya mulai mengabur tak jelas namun air muka itu masih mencoba untuk tetap mengambil rasa kewibaan seorang ketua gank "Gua titip gank ini sama lo" Ucap bang Darjot tersenyum melirik Feron.


Feron sontak terkejut, namun seketika ekspresi wajahnya tergantikan oleh tawa kering dan tercekat setelah ia melihat ekspresi serius dari bang Darjot "Stevan, dia lebih pantas"Jawab Feron akhirnya, ia mulai melemah.


"Ck! Di tawarin malah nolak, aneh. Gua bilang kek gini karna gua tau lo bisa membimbing yang lain jadi lebih baik. Terima aja apa salahnya sih? Uhuk!" Maki bang Darjot begitu bersemangat hingga ia kembali memuntahkan darah segar.


"Udah mau mati masih juga maksain kasih wasiat " Gumam gua yang sudah berada di samping bang Darjot.


"Hehehehe..... Sorry, gua tau lu Theo, lu orang yang pintar, lu bisa membawa gank ini jadi lebih baik. Abang percaya dan generasi baru juga. Jadi abang titipkan gank ini di pundak kalian semua, para anggota baru. Maaf ba... nget.... G.. Ak.. B-i.. Sa.... Nyebut maaf sama Ja- uhuk... ymin.. " Lirih bang Darjot semakin kehilangan suara.


" Bang Darjot, jangan di paksain! " Teriak gua menyentuh pundak bang Darjot.


" Da.. Nn.. Juga sama B...apak... Kar... na a-naknya gak bi.... sa me-njadi.... panutan bagi sekolah ini" Tutur bang Darjot untuk terakhir kalinya.


Apa? Apa maksud bang Darjot?


Tapi suara teriakan anggota lainnya berhasil menyadarkan gua kembali bahwa tubuh yang kini tengah gua sentuh sudah mendingin.


"BANG DARJOTTTTT!!!!!!"


Dan gua juga baru sadar, kalau bang Darjot itu anak Pak Binosti kusumo, kepala sekolah SMK 1 setelah hari kematiannya.


"Padahal aku sudah berusaha keras agar Radit tidak tawuran, tapi....." Gumam pak Bino menatap batu nisan sang putra.


"Bruno. Dan SMA 2. kita akan menuntut balas" Lirih Feron bersuara pelan.


"Ragas......" Gumam Regas di sebelah Gua.


"Kita bakal balas dendam" Ucap keduanya kompak.


Dan sekarang kalian tau kenapa bukan?