
...Selamat membaca...
...Berhati-hati dengan adegan tidak senonoh yang terjadi...
******
Langkah mantap dari sepatu pantofel bergema nyaring di lobi sekolah SMK 1.
Langkah keras itu langsung berhenti dan tanpa permisi langsung membuka pintu kantor kepala sekolah dengan sombongnya.
"Binosti Kusumo, " Ucap suara itu menggetarkan perasaan Bino sang kepala sekolah yang langsung berkeringat jagung.
"Aku tidak tau kalau kau masih setenang ini setelah ku berikan surat terbuka itu" Ucapnya lagi berjalan masuk tanpa memperdulikan batas sepatu yang tertulis di keset pintu, ia memilih memakai sepatu mahalnya enggan melepaskan dan mengambil duduk didepan meja Bino yang tidak dapat berkata apapun namun masih mencoba bersikap tenang.
"Aku menolaknya" Ucap Bino tiba-tiba menjawab tegas.
Pria itu seketika berhenti melangkahkan kakinya mendekat dan hanya menampilkan smirk, sudah menyadari dengan pernyataan yang akan diberikan oleh Bino sang kepala sekolah.
Ia memilih merogoh saku celana mahalnya, mengeluarkan cerutu dan menyelipkan diantara kedua belah bibir tipis seraya menyalakan benda itu dengan pelan, tak perduli dengan tulisan dilarang merokok yang jelas-jelas terpampang disebelah Bino.
"Fyuuuuuhhhh....." Pria itu dengan sengaja membuang asap rokoknya tepat kearah AC yang menyala.
"Kau masih kuberi waktu Bino, dan juga" Kalimatnya terjeda, Pria itu mengeluarkan sebuah surat yang sudah dipenuhi cap pemerintah dan satu tanda tangan yang berhasil membuat poker Face Bino runtuh seketika. Surat itu diletakkan di meja Bino.
"Kutunggu sampai seminggu untuk kau menanda tangani surat ini" Tunjuknya pada KERTAS F4 itu.
Pria itu berdiri dan berjalan pelan keluar, namun sepertinya belum benar-benar pergi, ia berhenti di ambang pintu dan sedikit melirik Bino seraya berkata
"Meskipun kau menolak untuk memanda tangani ataupun merobeknya, apa yang tertulis tetap akan dilaksanakan. Tangan kanan ku akan datang dua hari lagi untuk menerima kabar baik darimu, " Ujarnya pongah dengan senyum ramah sejuta rahasia.
"Bino" Lanjutnya keluar dari ruang kepala sekolah.
...********...
Di koridor Nan sepi.
Drrttt... Drrttt...
"Hallo" Ucapnya memanggil.
"......"
"Kau pantau terus Gundur, sepertinya dia mulai mencurigakan" Ucap pria itu memberi perintah dengan kaki yang setia berjalan membelah kesunyian lorong sekolah yang sepi.
"....."
"Da-" Kalimatnya terhenti tatkala mendengar suara mencurigakan di salah satu ruangan yang sunyi.
"Pak, apa ini sudah enak?" Tanya satu suara itu yang berhasil membuat sang pria melirik tajam ke sumber suara.
"Apa?" Gumamnya mulai mengintip dari sela jendela.
"Itu enak sekali Ki, teruskan" Ujarnya dengan wajah merah menahan rasa keenakan.
Sepuluh murid itu, memegang seluruh tubuh sang guru, dimulai dari ujung rambut hingga ujung kaki
"Mereka semua seperti Gig*olo" Gumam pria itu menatap tajam.
I
"Ah! Bukan padamu, kau tetap lanjutkan tugasmu, aku memiliki sesuatu yang menarik. Hmm..." telfon diputuskan, pria itu menatap sejenak smartphone mahalnya dan kembali memandang sang guru yang semakin terpicu hasratnya oleh murid-murid itu.
"Kalau saya memijit bapak, bapak janji bakal kasih nilai ulangan saya seratuskan?" Ucap Siswa A semakin mengarahkan tangannya pada organ intim sang guru.
"Tentu saja *****, kalau kamu makin serius mijitnya bahkan saya bisa membuat kamu jadi juara kelas" Jawab sang guru tersenyum layaknya pelacur murahan pada sang murid.
"Hmph, begitu senonoh. Mereka merusak tanahku dengan kegiatan cabul mereka, sangat disayangkan sekali Bino mempekerjakan guru bermasalah sepertinya"Gumam pria itu memotret bukti.
" Atau dia bisa menjadi pion ku? "Smirk pria itu kembali" Sepertinya menarik "Lanjutnya kembali berjalan meninggalkan area itu.
...*****...
"Pak Ryou, " Sapa Oskar, membuat atensi Ryou langsung ter-arah padanya.
"Tumben sekali datangnya pagi" Lanjutnya tersenyum ramah.
"Ah iya pak Oskar, saya sengaja datang pagi karna ada barang yang tertinggal di kantor, " Jawab Ryou membalas senyum Oskar ramah.
"Saya lanjut dulu pak" Sambung Ryou berjalan terburu meninggalkan Oskar yang hanya bisa menggeleng memaklumi.
"Orang luar memang ganjil jika berada di kerumunan orang sejenis" Gumam Oskar melanjutkan kegiatan menyapunya.
......***'......
"Ha? Feron? Cepat sekali datangnya?" Gumam Ryou bertanya. Ia tanpa sengaja melewati kelas sebelas DPIB dan melihat Feron sudah anteng di kursinya dengan tatapan serius memperhatikan sebuah surat digenggamannya yang longgar.
Ryou agak sedikit curiga namun ia lebih memilih berjalan lebih jauh, ia sedang tidak punya waktu untuk menyapa atau sekedar beracanda gurau dengan sang murid, karna dokumen yang tanpa sengaja ia tinggalkan lebih penting.
.
.
.
Tuk...
"Tidak ada, disini juga tidak ada, dimana ya?" Ujar Ryouichi menggaruk dahinya yang sudah mengkerut.
"Tidak mungkin suratnya hilang" Sambung Ryou kembali membongkar semua laci dan rak buku ruang guru di Bengkel DPIB.
"Bapak mencari ini?" Tiba-tiba satu suara berhasil membuat atensi Ryou teralihkan.
Ia memandang Feron yang tengah memegang surat yang dari tadi ia cari dengan guratan panik dan cemas.
"Syukurlah" Gumam Ryou bersyukur seraya mengambil surat yang disodorkan Feron.
"Surat kepindahan Reyo entah kenapa bisa tercecer di bengkel saat saya tak sengaja masuk tadi pak" Ucap Feron memberikan surat itu.
"Oh ya ampun, aku hampir mati. Untung sekali Feron, kamu langsung mengambilnya sebelum benar-benar hilang. Saya tertolong" Balas Ryou memeluk surat itu.
"Hehehehe, untung saya memungutnya tepat waktu, kalau tidak mungkin mang Oskar malah mengira itu sampah dan langsung membakarnya" Balas Feron memberikan senyum lima jarinya pada Ryou yang sudah berbunga-bunga menemukan apa yang ia cari.
"Saya pamit dulu ya pak, sampai jumpa. Assalamualaikum" Ucap Feron berlalu pergi.
"Waalaikumsalam, hati-hati anakku" Jawab Ryou membalas Ucapan Feron dengan begitu semangat.
Setelah pintu dikunci, senyum ramah dan terkesan berlebihan dari Ryou luntur dalam sekejap, pandangan bersahabatnya hilang tergantikan pandangan tajam bak elang yang sedang mencari mangsa.
"Baiklah, mari kita periksa" Ucap Ryou meletakkan kertas itu di meja dan memeriksanya satu-persatu.
"Ck! Dimana dokumen yang lain" Gumam Ryou menatap keluar jendela.
Lama berpikir akhirnya Ryou menemukan satu jawaban pasti "Feron" Gumamnya dingin menusuk.
"Apa maksudnya dengan surat perjanjian tanah? Dan... Dan.... Sekolah?" Tanya Feron pada dirinya sendiri seraya berjalan cepat menuju kelasnya, enggan berbalik ataupun melirik bengkel DPIB yang kini sedang berada Ryou yang mulai mencurigakan bagi Feron.
"Walasku kenapa?" Tanya Feron memperhatikan surat dengan bubuhan cap tangan Gubernur.
"Ini patut diselidiki lebih jauh" Ucap Feron mantap.
Namun Feron tidak tau kalau Reyo sudah memperhatikannya sedari keluar Bengkel DPIB.
"Heh.... Rupanya sudah dimulai ya" Gumamnya tersenyum miring melihat punggung Feron yang kian menjauh.
...****...
"Tumben sekali buk mayang telat" Adam berujar suntuk.
"Justru alhamdulillah dong Dam, kita jadi gak sport jantung trus tiap hari jum'at" Seru Arman berlari disekitar bangku teman-temannya yang juga ikut senang dengan Keterlambatan Mayang.
"Hiippiii!!!! Gak belajar Matematika-"
Gubrak!
"Maaf saya terlambat" Seru suara itu memasuki kelas.
Arman yang terjatuh sontak langsung bangkit seraya mengelus kepalanya yang lebih dulu mencium lantai "?" Arman mulai bertanya-tanya, mengapa bapak ini seenaknya saja masuk ke-kelas yang seharusnya diisi oleh buk Mayang pagi ini.
"Semuanya silahkan duduk ditempat kalian, karna pelajaran matematika mulai dari detik ini dan seterusnya akan digantikan oleh saya Ardi Ahmad, karna buk Mayang yang biasa mengajar kalian harus mengambil cuti kehamilan" Ucap Ardi memulai kelas pagi.
Sesuai dengan isi surat
Inner Feron menatap nanar Ardi yang hanya menampilkan senyum simpul kehadapan semua murid.
Sementara Reyo yang duduk di sudut belakang masih setia menonton setiap detik dan menit kejadian yang sebentar lagi akan semakin menarik ini.
Sebentar lagi lo juga bakal mengambil peran dari rencana ini Feron, khikhikhikhi.
...TBC ...